Showing posts with label Soekarno. Show all posts
Showing posts with label Soekarno. Show all posts

Puisi Chairil Anwar untuk Bung Karno

ROSO DARAS

Mengapa Bung Karno Berani ‘Ganyang Malaysia’?

Ahluwalia
INILAH.COM, Jakarta - Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengesankan posisi lemah Indonesia menghadapi Malaysia memunculkan kekecewaan banyak kalangan. Hal itu berbeda dengan Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi dan proklamator Republik Indonesia. Mengapa keduanya berbeda?
Di era SBY, kata pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi, kekuatan militer yang dimiliki Indonesia masih lemah. Ini berbeda dengan China dan Korea Utara sehingga mereka berani berlatih perang di Selat Malaka.
“Contoh kekuatan militer yang tangguh adalah seperti yang ditunjukkan China dan Korea Utara sehingga berani melakukan latihan di Selat Malaka,” paparnya. Lalu bagaimana Indonesia? “Dibawah SBY, masih lemah,” katanya.
Ini berbeda ketika Presiden Soekarno dengan jantan menyerukan ‘Ganyang Malaysia’, kekuatan militer Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Setidaknya di Asia Tenggara, saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia.
Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$2,5 miliar. Saat itu, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di belahan bumi selatan.
Kekuatan utama Indonesia saat Trikora itu adalah salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak 1.270 orang termasuk 60 perwira.
Soviet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. Bandingkan dengan kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1.600 ton. Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal dengan ‘Ganyang Malaysia’ pun berkobar !
Konfrontasi era Bung Karno itu adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada era 1962-1966.
Indonesia perkasa di laut dan di udara. Selain kekuatan laut, RI punya pesawat MiG-21 Fishbed yang merupakan salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger.
Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Sehingga Indonesia menjadi salah-satu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.
Lalu, bagaimana akhirnya? Karena Bung Karno dijatuhkan oleh Orde Baru dan Amerika Serikat di 1966, maka konfrontasi itu dibatalkan. Sejak itu pula hubungan RI-Soviet diputus, dan angkatan bersenjata RI merosot drastis karena dalam rentang kendali AS.
RI masuk orbit AS (Blok Barat) dan menjadi jinak secara militer. Inilah awal kekalahan menghadapi gertakan Malaysia! [mdr]

Inilah Beda Presiden Soekarno dan SBY


INILAH.COM


INILAH.COM, Jakarta - Tak seperti Soekarno yang memilih 'Ganyang Malaysia', Presiden SBY menolak berperang dengan negeri Jiran itu. Inilah bedanya SBY dengan Soekarno.
Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 September 1963, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Perdana Menteri Malaysia saat itu Tunku Abdul Rahman dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia meledak.
Soekarno murka. Sang Proklamator itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia.
Gerakan "Ganyang Malaysia" sebenarnya disebabkan karena Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia. Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia. Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris. Konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia.
Menurut Sejarawan Universitas Indonesia Mohammad Iskandar, pidato Soekarno yang menyerukan rakyat untuk bersatu melawan penghinaan dari Malaysia telah membuat bangga rakyat Indonesia. Pidato Soekarno yang berapi-api itu semakin membuat Indonesia diakui dunia sebagai negara terpandang.
"Di mata dunia ketiga, terutama di Asia-Afrika nama Indonesia saat itu menjadi semakin tinggi," katanya saat berbincang dengan INILAH.COM di Jakarta, Kamis (2/9).
Berbeda dengan Soekarno, Presiden SBY tidak murka ketika ribuan TKI menjadi korban kekerasan Malaysia, ketika ikan-ikan di laut Indonesia dicuri Malaysia, ketika petugas Kementeria Kelautan dan Perikanan Indonesia ditangkap polisi Malaysia di perairan Indonesia. SBY memilih melanjutkan tali persaudaraan.
Dalam pidatonya, ia mengungkapkan alasan tidak mau perang karena Indonesia dan Malaysia mempunyai hubungan sejarah, budaya, dan kekerabatan yang sangat erat, dan mungkin yang paling erat dibanding negara-negara lain, dan sudah terjalin selama ratusan tahun.
SBY juga memaparkan data-data statistik jumlah pertukaran mahasiswa Indonesia dan Malaysia, jumlah wisatawan dan jumlah investasi kedua negara. Ironisnya, data yang disampaikan SBY malah memperlihatkan kekalahan Indonesia atas Malaysia.
"Jiwa Nasionalisme SBY lebih lemah dibandingkan dengan Bung Karno, ada unsur hitungan untung rugi dari apa yang disampaikan SBY," ujar Iskandar.
Menurutnya, perbedaan mendasar dari dua sikap pemimpin negara ini atas masalah yang sama yakni, Pidato "Ganyang Malaysia" Bung Karno mampu membuat rakyat Indonesia melupakan kemiskinannya dan bersatu padu melawan kehinaan. Sedang SBY, malah membuat rakyat Indonesia merasa miskin dan tidak punya wibawa.
Pilihan SBY untuk tidak melakukan konfrontasi dengan Malaysia memang pilihan yang terbaik untuk Indonesia. Tapi seharusnya, Presiden SBY dapat membuat bangsa ini punya pride di mata dunia dan tidak dicap lagi sebagai bangsa babu seperti yang sering disuarakan bangsa Malaysia. [nic]

Pidato bung karno "gayang malaysia"

Sejarah Konfrontasi Indonesia VS Malaysia

Sejarah Konfrontasi Indonesia VS Malaysia



Roabaca.com, Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966.

Perang ini berawal dari keinginan Federasi Malaya lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.

Pelanggaran perjanjian internasional konsep THE MACAPAGAL PLAN antara lain melalui perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg tanggal 31 Juli 1963, Manila Declaration Wikisource-logo.svg tanggal 3 Agustus 1963, Joint Statement Wikisource-logo.svg tanggal 5 Agustus 1963[4] mengenai dekolonialisasi Wikisource-logo.svg yang harus mengikut sertakan rakyat Sarawak dan Sabah yang status kedua wilayah tersebut sampai sekarang masih tercatat pada daftar Dewan Keamanan PBB.[5] sebagai wilayah Non-Self-Governing Territories

Latar Belakang
Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.

Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.

Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di daerah yang hendak dilakukan dekolonial memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg yang dilanggar dan sebagai bukti kolonialisme dan imperialisme Inggris.
“ Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda[6], amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak. ”

Demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia[7]an juga kerana serangan pasukan militer tidak resmi Indonesia terhadap Malaysia. Ini berikutan pengumuman Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase pada 12 April berikutnya.

Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia[8] dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato beliau yang amat bersejarah, berikut ini:

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Soekarno.


Perang

Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya:

* Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia
* Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia

Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia". Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Federasi Malaysia resmi dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.

Ketegangan berkembang di kedua belah pihak Selat Malaka. Dua hari kemudian para kerusuhan membakar kedutaan Britania di Jakarta. Beberapa ratus perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan massa menyerang kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.

Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi peperangan perbatasan; pasukan Indonesia dan pasukan tak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil.
komando aksi sukarelawan

Pada 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Di bulan Mei dibentuk Komando Siaga yang bertugas untuk mengkoordinir kegiatan perang terhadap Malaysia (Operasi Dwikora). Komando ini kemudian berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga dipimpin oleh Laksdya Udara Omar Dani sebagai Pangkolaga. Kolaga sendiri terdiri dari tiga Komando, yaitu Komando Tempur Satu (Kopurtu) berkedudukan di Sumatera yang terdiri dari 12 Batalyon TNI-AD, termasuk tiga Batalyon Para dan satu batalyon KKO. Komando ini sasaran operasinya Semenanjung Malaya dan dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris sebaga Pangkopur-I. Komando Tempur Dua (Kopurda) berkedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat dan terdiri dari 13 Batalyon yang berasal dari unsur KKO, AURI, dan RPKAD. Komando ini dipimpin Brigjen Soepardjo sebagai Pangkopur-II. Komando ketiga adalah Komando Armada Siaga yang terdiri dari unsur TNI-AL dan juga KKO. Komando ini dilengkapi dengan Brigade Pendarat dan beroperasi di perbatasan Riau dan Kalimantan Timur.

Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 200 pasukan khusus Indonesia (Kopassus) tewas dan 2000 pasukan khusus Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).

Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.

Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.

Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.

Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.

Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Pasukan Indonesia mundur dan tidak penah menginjakkan kaki lagi di bumi Malaysia. Peristiwa ini dikenal dengan "Pengepungan 68 Hari" oleh warga Malaysia.

Akhir konfrontasi
Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.

Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.
sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Konfrontasi_Indonesia-Malaysia

Malaysia, Negeri dengan Kutukan sebagai Pelanggar Batas Wilayah

ROSO DARAS



Setiap kali hubungan RI – Malaysia memanas, laksana sekam, bara itu langsung berkobar dan membakar semangat heroisme bangsa kita untuk mengganjang negara tetangga itu. Sekalipun hati ikut terbakar emosi, tetapi blog ini berusaha menyajikan postingan yang adem-adem saja. Misalnya tentang bagaimana cara Bung Karno berdoa, atau riwayat singkat Bung Karno dalam peringatan Nuzulul Qur’an.
Apa daya, satu-dua teman terus saja mengusik dinginnya hati orang berpuasa. Mereka terus dan terus mengajak berdiskusi dengan berapi-api tentang “ulah” negeri tetangga itu. Segan rasanya meladeninya. Selain bicara dengan nada tinggi cukup menguras energi (makin membuat lapar), salah-salah bicara tinggi bisa menggelincirkan kita ke jurang amarah. Dan sejatinya, marah adalah istananya setan.
Pancingan bergunjing soal ketegangan hubungan Indonesia – Malaysia baru bisa saya redam, ketika meluncur sebuah janji, “Begini saja… coba nanti saya buka-buka catatan sejarah, siapa tahu ada informasi yang bisa memuaskan dahaga teman-teman sekalian dalam menyikapi situasi panas ini.”
Alhasil, inilah sepenggal sejarah yang berhasil saya temukan.

… saya pun mulai menuliskannya sebagai berikut:
“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” (Jasmerah), adalah petuah Bung Karno yang everlasting. Saat mengungkap ihwal Jasmerah pada pidato 17 Agustus 1966, Bung Karno bahkan harus berulang-ulang memberi tekanan ihwal pentingnya sejarah. Sampai-sampai Bung Karno menyebut sejarah sebagai hal terpenting yang harus dipelajari segenap anak bangsa.
Tahun ’20-an Bung Karno sudah mengemukakan kapan Indonesia merdeka (dan itu tepat sekali). Ia menolak disebut sebagai manusia yang memiliki kemampuan paranormal. “Itu karena saya belajar sejarah!” sanggahnya.
Lantas apa hubungannya dengan judul posting di atas? Banyak sekali hubungannya. Salah satunya adalah kebenaran ucapan Bung Karno ihwal Jasmerah tadi. Berkat sejarah kita mengetahui bahwa Malaysia, sebagai negara bonekanya Inggris, adalah laksana sebuah negara yang ditakdirkan terlahir membawa kutukan sebagai pelanggar batas wilayah.
Fakta sejarah itu diungkap oleh Oei Tjoe Tat dalam memoarnya. Sebagai pembantu presiden yang pernah mendapat mandat khusus menjalankan “silent mission” saat kita berkonftrontasi dengan Malaysia, Oei menjadi tahu banyak ihwal Malaysia, baik sejarah pembentukannya maupun dalam aksi-aksi pelanggaran batas wilayah yang telah terpatri dalam sejarah.
Deretan panjang pelanggaran batas wilayah Indonesia oleh Inggris dan Malaysia bahkan terbukukan menjadi dokumen sejarah yang disusun oleh Kempen dalam risalah “Why Indonesia opposes Britishmade “Malaysia”, Jakarta, September 1964 halaman 76 – 100. Catatan itu menyebutkan, tTahun 1963, tercatat 20 kali pelanggaran udara dan 21 kali melanggar batas wilayah darat.
Nah, di sini beda dulu dan sekarang. Dulu, si durjana pelanggar batas itu kontan mendapat respon yang semestinya, sehingga tercatat dua pesawat mereka berhasil ditembak jatuh di sekitar Lundi dan Apeng, Kalimantan Barat. Pasukan kita di lapangan, tahu bahwa untuk menembak pelanggar kedaulatan negara tidak harus lapor atasan dulu….
Masih berdasar dokumen Kempen, tahun 1964 Inggris dengan boneka Malaysia-nya melakukan pelanggaran batas wilayah sebanyak 56 kali, sementara pelanggaran di darat 14 kali. Dan itu berbuntut terjadinya pertempuran sporadis dan mengakibatkan jatuh korban di kedua belah pihak. Bahkan atas insiden ini, Menhan Inggris, James Remsden melansir informasi kepada pers pada 22 April 1964. Ia mengatakan, sejak Desember 1963 pasukan Inggris dan Gurkha yang tewas 99 orang, dan pasukan Malaysia 50 orang.
Itu artinya, soal melanggar batas wilayah, “Britishmade Malaysia” memang ahlinya. Dari dulu sampai sekarang, tidak berubah, benar-benar seperti sebuah kutukan. Yang membedakan adalah sikap (pemerintah) kita! (roso daras)

Bung Karno - Hajar Cecunguk Malayan itu!

ROSO DARAS

Untuk urusan mengganyang Malaysia, memang baru Bung Karno ahlinya…. Semua dokumen yang ada di seputar tahun 1964 – 1966, pasca Bung Karno mengobarkan Dwikora (dua komando rakyat), menunjukkan bahwa satu langkah lagi, Malaysia hancur lebur oleh gempuran Indonesia yang didukung angkatan bersenjata dan para relawan. Relawan bukan saja yang datang dari rakyat Indonesia sendiri, tetapi juga dari rakyat Malaysia yang tidak sudi dengan taktik Inggris melanggengkan penjajahannya di negeri jiran itu.
Kobaran Dwikora, diteriakkan Bung Karno pada tanggal 27 Juli 1963. Sejak itu pula, semua elemen bangsa melakukan persiapan untuk berkonfrontasi dengan Malaysia. Malaysia di sini harus kita baca sebagai boneka Inggris. Artinya, yang hendak kita lawan adalah Inggris dan semua pasukan sepersemakmuran, seperti Australia, Selandia Baru, bahkan Gurkha, pasukan dengan anggota bangsa India yang dilatih oleh Inggris.
Pasukan Malaysia sendiri sama sekali tidak masuk dalam hitungan Bung Karno. Terlebih bahwa mereka tak lebih dari “bayi” prematur yang masih harus mencari kehangatan di balik ketiak Inggris, sang bidan yang melahirkannya melalui cara-cara licik, dan mengingkari kesepakatan Maphilindo dan PBB. Simak sebagian isi pidato Bung Karno sebagai berikut:
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
Terbayangkah kita suasana heroik ketika itu? Siapa orangnya yang tidak terbakar hatinya. Siapa orangnya yang tidak ingin berbondong-bondong dengan semangat baja merata-tanahkan negeri boneka bernama Malaysia itu. (roso daras)

Inilah Pidato Bung Karno untuk Malaysia

Senin, 30 Agustus 2010 - 14:03 wib
TB Ardi Januar - Okezone

blogspot (ilustrasi)
JAKARTA – Perseteruan antara Indonesia dan Malaysia kembali mencuat. Ketegagan negeri serumpun kali ini dipicu dari ditangkap dan disiksanya tiga petugas kelautan Indonesia oleh kepolisian Malaysia.

Kejadian ini mengingatkan kita akan sejarah. Dimana, pada tahun 1962-1966 Indonesia juga sempat terlibat cekcok dengan Negri Jiran. Kala itu, persoalan dipicu ulah Malaysia yang dahulu dikenal dengan Persekutuan Tanah Melayu ingin menggabungkan Brunei, Sabah, dan Serawak menjadi Federasi Malaysia.

Tindakan tersebut, sontak saja dikecam oleh Presiden Indonesia yang kala itu dijabat Soekarno. Bung Karno menilai, Malaysia adalah boneka Inggris, dan langkah tersebut akan mengganggu keamanan di Indonesia. Bung Karno memproklamirkan gerakan ”Ganyang Malaysia” melalui pidato bersejarah pada 12 April 1963. Berikut kutipan pidato Sang Proklamator Indonesia tersebut;

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu.

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo... ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia...
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!


Menyikapi pidato Bung Karno, Malaysia pun murka. Mereka mendemo Kedubes RI di Kualalumpur dan merobek-robek foto Soekarno. Bahkan, demonstran juga sempat membawa lambang burung garuda kepada Tunku Abdul Rahman dan meminta agar dia menginjaknya.

Namun, polemik tersebut mereda setelah posisi Soekarno digantikan Soeharto. Pada 28 Mei 1966, Indonesia dan Malaysia pun sepakat untuk berdamai, dan penandatanganan perdamaian dilakukan pada 11 Agustus.

http://multiply.com/gi/sudarjanto:journal:17066

Bung Karno - Singa Podium

Sumber : http://rosodaras.wordpress.com/2009/10/18/singa-podium/

Ekspresi Bung Karno
Ekspresi Bung Karno2
Ekspresi Bung Karno3
Ekspresi Bung Karno4
Ekspresi Bung Karno5
Ekspresi Bung Karno6
Fotografer majalah Life (Amerika) berhasil mengabadikan Bung Karno yang tengah berpidato. Ekspresi Bung Karno sebagai sang singa podium, begitu menonjol, hasil bidikan seorang fotografer senior. Hampir dapat dipastikan, si fotografer tidak akan bekerja keras menanti momen-momen penting buat melempar shoot demi shoot sehingga didapat aneka gambar yang ekspresif.
Mengapa begitu mudah menangkap gambar yang eye catching dari seorang Sukarno? Karena Bung Karno memang orator yang sadar posisi, sadar bentuk, sadar ekspresi. Ia menggunakan tangan, mimik, body language, dan properti apa saja yang bisa menunjang performanya sebagai sang orator.
Anda tentu masih ingat. Ketika ia masih sekolah di HBS Surabaya, tinggal kos di rumah HOS Cokroaminoto, hampir setiap hari ia tenggelam dalam berbagai literatur kelas dunia. Setelah menyerap intisarinya, ia suarakan dalam bentuk pidato yang berapi-api. Di mana ia berpidato? Di kamarnya yang pengap, lembab tak berjendela.
Ia berpidato di hadapan cermin. Ia mengulangi kata demi kata manakala dirasa ekspresi wajahnya tidak pas denga kalimat yang dilontarkan. Begitulah Bung Karno berlatih dan berlatih. Jangan dikira, kepiawaian berpidato Bung Karno hanya gift semata. Selain bakat dan anugerah Tuhan, Bung Karno adalah manusia yang sadar dengan kelebihannya, lalu mengasahnya menjadi lebih bermakna. (roso daras)

Merekam Rahasia Negara

ROSO DARAS

Subagyo PR

Bung Karno dan Darmo Sugondo. Darmo Sugondo dan Subagyo Pr. Nah, apa keterkaitan mereka? Ini berkait erat dengan peristiwa “sowan” saya ke senior Subagyo Pr, Senin, 14 September 2009 di lantai dua, gedung Suara Pembaruan, Jl. Dewi Sartika, Jakarta Timur.
Kembali ke deretan nama di atas. Alkisah, Bung Karno memiliki sejumlah wartawan yang dekat dengannya. Saking dekatnya, tidak jarang seorang wartawan merasa sebagai “wartawan kesayangan” Bung Karno. Nah, ihwal kedekatan Bung Karno dengan Darmo Sugondo, nyaris tak ada yang bisa menyangkal. Semua wartawan senior yang tahu dan hidup pada zamannya, setuju pernyataan itu.
Bahkan, ekstrimnya, Bung Karno tidak akan memulai sebuah acara, kalau Darmo Sugondo belum kelihatan batang hidungnya. Tapi sesungguhnya dapat dimaklumi. Darmo Sugondo adalah penyiar, komentator, sekaligus reporter RRI (Radio Republik Indonesia). Tugas dia, selain melaporkan, menyiarkan, dan meliput kegiatan Presiden, juga membuat pendokumentasian secara audio semua aktivitas kepresidenan.
Itu artinya, tanpa harus ada embel-embel “kesayangan”, Bung Karno memang harus menunggu Darmo Sugondo sebelum memulai acara. Sebab, kalau Bung Karno memulai acara tanpa kehadiran Darmo Sugondo, sudah barang tentu, negara ini tidak akan memiliki dokumentasi rekaman suara Bung Karno dalam berbagai kegiatan kenegaraan.
OK. Lantas, bagaimana kaitan Darmo Sugondo dengan Subagyo Pr? Darmo Sugondo adalah penyiar sekaligus reporter senior RRI, sedangkan Subagyo Pr adalah wartawan junior RRI yang lebih banyak bertugas sebagai asisten Darmo Sugondo. Keduanya sama-sama bertugas meliput di pos Sekretariat Negara, alias meliput kegiatan kepresidenan, baik di dalam maupun luar negeri. Di Jakarta maupun di pelosok negeri.
“Pak Bagyo, ceritakan pengalaman-pengalaman personal bersama Bung Karno. Saya perlu untuk mewarnai konten blog saya…,” begitu saya memohon kepada Subagyo. Jawab dia spontan, “Banyak negatifnya…,” sambil terkekeh. Saya yakinkan, “Bagus itu Pak! Dia kan manusia juga… selain yang positif, pasti banyak negatifnya.” Subagyo lantas terkekeh lagi sambil berkata, “Soal perempuan… he…he…he….”
Kemudian dia seperti teringat sesuatu, lantas berseru, “Oh… ada! Saya sering merekam rahasia negara!” Ia kemudian menuturkan, sebagai asisten Darmo Sugondo, dia yang sering “dipantek” di ruang rapat Istana, merekam kegiatan Presiden Sukarno.  “Jadi, banyak sekali rahasia negara yang saya ketahui, di saat orang-orang kebanyakan belum mengetahui,” ujar Subagyo pula.
Sebagai staf RRI, Subagyo memang memiliki pas khusus, sehingga tidak satu pun orang, pengawal, ajudan, bisa mengusir dia dari ruang rapat Presiden, sekalipun rapat itu benar-benar rapat terutup dan bersifat rahasia. Tugas Subagyo Pr adalah merekam semua yang terungkap dalam ruang rapat tadi, khususnya merekam semua “petunjuk” Bung Karno.
“Itulah kesan yang paling berkesan. Sebab, memang ada banyak wartawan yang bertugas di Istana, tapi tidak ada yang bisa berada di ruang rapat tertutup dan rahasia, plus merekam pula… ha…ha…ha….”
Kesan-kesan yang lain? “Ah, umum saja, seperti yang banyak dirasakan wartawan-wartawan lain yang bertugas di Istana. Bahwa Bung Karno sangat perhatian kepada para wartawan. Setiap jam makan, dia selalu menyempatkan diri mendatangi ruang wartawan dan melakukan obrolan-obrolan ringan. Dalam hal itu, Subagyo Pr memuji Bung Karno sebagai pribadi yang sangat hangat.
Perjalanan karier Subagyo Pr selanjutnya berpijak di tahun 1961. Ia, dalam kapasitas masih menjadi wartawan RRI, bersama-sama H.G. Rorimpandey dan JCT Simorangkir mendirikan suratkabar Sinar Harapan. Rorimpandey sebagai Pemimpin Umum, Subagyo Pr sebagai Pemimpin Redaksi, dan JCT Simorangkir sebagai Wakil Pemimpin Redaksi. (roso daras)

TransTV : Pembawa Acara Peringatan Detik2 Pengibaran Bendera yang Sangat Menjengkelkan

Barusan ngikutin Milis Mediacare, ada yang protes tentang penayangan acara 17 Agustus,.. saya jadi ikutan mangkel membacanya.

Semoga anda bisa memahami kemangkelan tersebut.


-----------------------------------------

Menonton penayangan acara peringatan 17 Agustus, pengibaran bendera merah putih, di Istana Merdeka di statiun televisi TransTV saya merasa sangat terganggu dengan pembawa acara TV tsb.

Saat menyebutkan nama para undangan kehormatan, yang salah satunya yaitu mantan ibu negara, pembawa acara menyebutkan nama MADAME D. SYUGA dan bukannya Ibu Dewi Soekarno!

Penyebutan tersebut yang diucapkan secara berulang2 terasa sangat menyakitkan dan menjengkelkan. Betapapun, Dewi merupakan salah seorang istri bekas Presiden NKRI, Soekarno!

Penyebutan tersebut secara langsung memperlihatkan kedangkalan pengetahuan si pembawa acara akan sejarah bangsanya, dalam hal ini nama istri mantan presidennya dengan Dewi sebagai profil perempuan bebas pasca kematian sang suami yang kemudian memamerkan lukisan di tubuhnya lewat buku berjudul 'Madame D. Syuga'.

Pelafalan singkatan nama depan orang Belanda saat menyeritakan sejarah Istana Merdeka yang semula bernama Istana Gambir. Dalam bahasa Belanda huruf 'G' dan huruf 'W' tidak dibaca seperti dalam bahasa Inggris, seperti yang dilafalkan oleh pembawa acara.

Duh, TransTV, mohon deh kali lain kala menempatkan pembawa acara searas peringatan 17 Agustus tidak sekedar bermodalkan tampang tapi lebih pada isi kepala.

Evi Douren

Improvisasi "Indonesia Raya" - Jangan diulang cah!!!

Blog Entry Improvisasi "Indonesia Raya" Jul 12, '09 11:09 PM
for everyone
Celaka apa pendapat para senior TNI tentang lagu Indonesia Raya yang dilagukan seperti The Star Spangled Banner, lagu kebangsaan Ammerika Serikat di kampanye SBY-Boediono? Bukankah aransemen Wage Rudolf Soepratman sudah sangat dahsyat? Kenapa harus meniru Amerika? Apakah simbol negara boleh diubah-ubah sesuka hati?"

Pesan singkat tersebut disampaikan Supena, seorang anggota Legium Veteran Indonesia, kepada detikcom. Supena merasa risau ketika lagu kebangsaan, yang pada masa kemerdekaan menjadi pengobar semangat juang, dinyanyikan tidak semestinya.

Supena sendiri mengaku menyaksikan lagu Indonesia Raya yang diimprovisasi oleh Rio Febrian dari televisi. Menurutnya, kesan sakral lagu kebangsaan NKRI itu nyaris tidak ada lagi karena hanya dijadikan hiburan semata.

Pernyataan bernada penyesalan juga banyak beredar di milis-milis. Mereka juga berpendapat improvisasi lagu Indonesia Raya saat kampanye SBY-Boediono di Gelora Bung Karno (GBK), seharusnya tidak dilakukan.

Lagu Indonesia Raya pertama kali diyanyikan pada 28 Oktober 1928 di hadapan para
peserta Sumpah Pemuda. Lagu tersebut kemudian menjadi sangat populer dan dinyanyikan di setiap perjumpaan politik di pelosuk Hindia-Belanda. Lagu ini memberi semangat kemerdekaan yang mendalam di kalangan rakyat di seluruh kepulauan Indonesia.

Namun semangat nasionalisme yang terekam dalam lagu Indonesia Raya, baik syair maupun aransemennya, seakan tiada arti lagi saat Rio Febrian menyanyikan lagu itu tidak dengan aransemennya. Padahal syair dan aransemennya dalam lagu itu sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Lantas apakah improvisasi lagu Indonesia Raya telah melanggar kaidah dalam musik atau berkesenian?  Pengamat musik  Denny Sakrie mengatakan, improvisasi sah-sah saja asal tidak keluar dari notasi serta menghilangkan kekhidmatan lagu tersebut.

Denny mencontohkan rocker asal Amerika Serikat (AS) Jimi Hendrix juga membawakan lagu kebangsaan AS The Star Spangled Banner dalam versi rock. Tapi gubahan tersebut tidak mengurangi kehidmatan lagu tersebut.

Hanya saja, kata Denny, dalam lagu Indonesia Raya rasanya sulit untuk diimprovisasi. "Meski saya tidak menyaksikan, tapi saya membayangkan kalau Rio menyanyikan lagu itu secara R&B. Rasanya kurang pas saja," jelas Denny.

Perasaan sama juga dirasakan budayawan Sujiwo Tedjo. Saat dihubungi detikcom, Sujiwo mengaku sempat melihat Rio melantunkan lagu Indonesia Raya di televisi. Namun setelah itu ia buru-buru mengganti chanel karena tidak suka lagu kebangsaan RI dinyanyikan seperti itu.

"Saya tentu kesal melihat lagu mars Indonesia Raya yang saat dikarang WR Soepratman dalam keadaan agung tapi kemudian diubah dalam suasana kebencong-bencongan," protes Sujiwo.

Masalah lainnya, dalam pengucapan lagu tersebut Rio tidak menggunakan bahasa yang baku. Padahal, kata Sujiwo, dalam menyanyikan lagu kebangsaan intonasi kata per kata harus baku sesuai dengan bahasa indonesia. "Tidak bisa lagu kebangsaan dibawakan dengan bahasa slank," ujarnya.

Sujiwo sendiri tidak terlalu mempersoalkan apakah improvisasi itu  melanggar peraturan pemerintah atau hak cipta. Yang ia persoalkan adalah pelanggaran tata krama terhadap pahlawan, yakni WR Soepratman. Karena nilai tersebut jauh lebih tinggi dari tata tertib.

"Kalau kita sudah tidak bisa menghargai para pahlawan. Bagaimana jadinya bangsa ini ke depan?" jelas Sujiwo dengan nada tercekat.

Sedangkan Ketua Laskar Merah Putih Eddi Hartawan lebih mempersoal sikap saat lagu Indonesia Raya saat dinyanyikan di GBK.  Menurutnya, dalam setiap penyanyian lagu Indonesia seharusnya hadirin berdiri dengan sikap sempurna, tidak menoleh ke sana-sini.

"Di Amerika (AS) saja kalau lagu kebangsaan mereka dinyanyikan, semua yang hadir langsung berdiri dengan sikap sempurna. Kenapa di Indonesia tidak seperti itu?"tanya Eddi.

Selain soal etika, improvisasi lagu Indonesia Raya dianggap Eddi merupakan sebuah pelanggaran. Kata Eddi, harusnya polisi segera menangkap penyanyinya karena pelanggaran tersebut bukan delik aduan.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) 44 tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, pasal 8 (2) PP 44 tahun 1958 tertulis: Lagu Kebangsaan tidak boleh diperdengarkan dan/atau dinyanyikan dengan  nada-nada, irama, iringan, kata-kata dan gubahan-gubahan lain daripada yang tertera dalam lampiran-lampiran Peraturan ini.

Sedangkan dalam Pasal 10 tertulis: Barangsiapa melanggar ketentuan-ketentuan tersebut dalam pasal 5, pasal 7 ayat 2 dan ayat 3 dan pasal 8 Peraturan ini, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau dengan denda sebanyak-banyaknya limaratus rupiah.

Tapi bukan aturan tersebut yang membuat banyak kalangan merasa kecewa. Seperti yang dikatakan Sujiwo Tedjo dan Denny Sakrie, nilai penting yang telah dilanggar dengan improviasi lagu Indonesia Raya adalah tata krama. Nilai itu jauh lebih tinggi dari sekadar tata tertib.

-----------------------------------------------
Notes :
Saya termasuk yang nggak sreg lagu tersebut diorak-arik, lagian ngapain kok ya dibuat seperti lagunya wong amrik.
:((
Mestinya dislikidi karepe apa gitu!!!

Bedanya TPS Capres dan TPS Rakyat Biasa

Kompas.Com - Bedanya TPS Capres dan TPS Rakyat Biasa


Ini TPS Rakyat Jelata


Ini TPS Juragane

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak bermaksud membandingkan. Pelaksanaan hak pilih rakyat toh tak ditentukan bagaimana tampilan tempat pemungutan suara (TPS). Ini hanya catatan ringan dari lapangan.

Hajatan demokrasi di Indonesia biasanya diwarnai juga oleh kreativitas anak bangsa dalam membangun TPS. Ada TPS yang dibangun unik dengan beragam pernak-pernik. Ada pula TPS yang mewajibkan para petugasnya mengenakan pakaian daerah supaya pesta demokrasi berjalan lebih meriah.

Di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, Rabu (8/7) di TPS 026, tempat calon presiden Megawati Soekarnoputri menggunakan hak pilihnya, TPS yang dibangun pun terlihat berbeda. Tenda megah berbalut kain berwarna merah marun dan putih lengkap dengan kursi berbalut kain putih, membuat TPS tersebut indah dilihat dan istimewa.

Tidak jauh dari sana, ada TPS 024 yang terletak tepat di sebuah gang di sebelah lapangan yang digunakan untuk membangun TPS 026. Berbeda dengan TPS 26, TPS 024 terbilang sangat sederhana. TPS itu dibuat di halaman kecil rumah warga. Hanya "beratapkan" terpal biru dan di sekelilingnya hanya ditutupi dengan spanduk bekas.

"Ya, kalau di sebelah kan TPS-nya capres. Wajar kalau bagus. Kalau kami, semuanya swadaya warga, jadi seadanya. Yang penting, warga bisa memilih," kata Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 024, Abdul Din Wachid, di lokasi TPS.

Dilihat dari sisi jumlah, TPS 024 memiliki jumlah pemilih dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pemilih di TPS 026. Di TPS 024, tercatat 654 pemilih, sedangkan di TPS 026 387 pemilih. "Iya, jumlah pemilih kami lebih banyak karena terdiri dari 3 RT yaitu RT 9, 11, dan 12," kata dia.

Menurut Abdul, tampilan TPS tidak memengaruhi tingkat partisipasi warga. Hingga menjelang pukul 12, sebanyak 450 warga sudah menggunakan hak pilihnya. Sementara, 7 orang warga mendaftar untuk memilih dengan menggunakan KTP karena tidak tercantum dalam DPT.

"Waktu pemilu legislatif lalu juga hampir semua warga memilih. TPS kami ya sederhana seperti ini," kata Abdul.

Mega Pertanyakan Kegembiraan SBY di TV

INILAH.COM - Mega Pertanyakan Kegembiraan SBY di TV



INILAH.COM, Jakarta - Kubu pasangan SBY-Boediono tengah melakukan perayaan terkait kemenangan sementaranya berdasarkan quick count lembaga survei. Kemenangan sementara tersebut justru dipertanyakan capres Megawati Soekarnoputri.

"Saya katakan saya ingin pemilu berjalan jujur, adil, dan langsung umum bebas rahasia. Tapi kalau lihat sekarang seperti ini, kegembiraan hanya lewat TV itu perlu dipertanyakan," cetus Mega di kediamannya Kebagusan, Jakarta, Rabu (8/7).

Demokrasi yang benar, menurut mantan presiden ini, tidak memiliki indikasi kecurangan dimana-mana. "Kalau sudah ada keluhan warga negara tidak mendapat hak pilih itu harus diantisipasi. Masak ada 10 juta yang belum dapat akses memilih," ujar capres nomor PDIP dan Partai Gerindra ini.

Dicontohkan Mega, tidak jauh-jauh, warga di RT dekat kediaman Mega ternyata juga digiring untuk mencontreng ke TPS lain. Jika demikian yang terjadi ini merupakan demokrasi yang tidak mengembirakan.

"Saya melihat akhirnya sebagai tampilan demokrasi yang semu," tandas capres nomor urut satu ini. [jib]

-------------------------------------

Notes :

Ibu satu ini masih merasa SBY itu adalah ex menterinya, jadi dia nggak pernah rela/suka SBY senyum.

Budaya Feodalnya kok masih melekat to bune? Sebaiknya  kelola Pomap Bensin waelah penjenengan.

:(

LRI Resmi Ditutup Akui Kemenangan SBY-Boediono

LRI Resmi Ditutup Akui Kemenangan SBY-Boediono

Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Riset Informasi (LRI) resmi ditutup, setelah gagal dalam merencakan hasil Pilpres 2009 yang memperkirakan bisa dua putaran, ternyata hanya satu putaran sekaligus mengakui kemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Budiono.

Persiden LRI Johan O Silalahi kepada wartawan, Rabu malam, mengatakan, dengan kegagalan itu dia langsung menutup secara resmi lembaga survei tersebut.

"Saya konsisten akan pembicaraan beberapa hari lalu, bahwa bila hasil Pilpres hanya satu putaran, maka lembaga ini akan ditutup," katanya.

Lembaga survei yang dibukanya sejak tiga tahun lalu itu, dengan tulus hati di bubarkan, sedangkan karyawannya tetap dipekerjakan pada usaha lain miliknya.

"Saya minta maaf kepada masyarakat di tanah air, bahwa lembaga yang dipimpinnya gagal memprediksi hasil Pilpres 2009," ujarnya.

Kendatipun lembaga yang sudah berusia tiga tahun dan selalu berhasil dalam bibidangnya selama ini, ternyata gagal apa boleh buat"Kita tutup saja", tegasnya.

Konsekuen seperti ini hendaknya diikuti oleh lembaga lainnya yang selalu gagal dalam perencanaannya, supaya budaya malu dimasyarakatkan di tanah air.

Jangan sudah gagal dalam program, namun tetap ngotot mengaku berhasil, ini adalah cara yang kurang arif dan tak perlu diwariskan pada generasi mendatang,

Dia menjelaskan, kendati data hasil quick count sudah akurat, namun belum menjadi acuan dalam undang-undang."Kita tetap akui data itu mendekati kebenaran di lapangan, namun hasil akhir tetap di Komisi Pemilihan Umum (KPU)," kata Johan.

Berdasarkan hasil survei sementara capres pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto memperoleh 27,10 persen, pasangan SBY-Budiono (61,09 persen) dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (11,81 persen).

Angka itu dalam posisi suara terkumpul dari daerah-daerah sudah mencapai 92 persen, tambahnya,"Selamat untuk pasangan SBY-Budiono", ujarnya.(*)

Sampai Malam, JK & Mega Belum Ucapkan Selamat ke SBY

Sampai Malam, JK & Mega Belum Ucapkan Selamat ke SBY

CIKEAS - Saat jumpa pers yang digelar di kediaman pribadi Presiden SBY, di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, sempat tersebut jika pasangan Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla belum mengucapkan selamat kepada SBY. Ada apa gerangan?

"Memang sampai sekarang, Pak JK dan Ibu Mega belum sempat komunikasi dengan kita," kata calon presiden dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono saat jumpa pers di kediamannya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/7/2009).

Namun demikian, SBY tidak kecewa. Putra asal Pacitan ini justru mengatakan dirinya dan Jusuf Kalla masih harus menyelesaikan pemerintahan hingga Oktober mendatang.

"Saya berharap meski sudah tidak bersama kita masih terus silaturahmi. Ini kontrak saya dan juga para menteri," papar SBY.

Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga, pasangan SBY-Boediono memang unggul dibanding pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. SBY-Boediono unggul lebih dari 50 persen suara.(ahm) (mbs)
-------------------
Notes :
Sabar bang, kan masih belum resmi dari KPU. Tak boleh takabur apalagi tinggi hati!
Bisa kuwalat sama Nyainya lho?
:))
eh makin cepat nyalamin nampaknya makin baik sebenarnya dari pada nanti telat jadi malu ya pak?

“Pating Greges,” kata Bung Karno di Pagi 17 Agustus 1945

“Pating Greges,” kata Bung Karno di Pagi 17 Agustus 1945

1960pegangsaantimur56


Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945, langit di atas kota Jakarta biru cerah. Suasana di kediaman Bung Karno, Jl Pegangsaan Tmur 56, Menteng, Jakarta Pusat sudah ramai. Di halaman depan, di ruang pendapa, hingga di halaman belakang, dipadati para patriot dengan raut antusias, menyongsong detik-detik yang menentukan nasib bangsa ke depan.

foto_3_proklamasi_indonesia


Sementara itu, Bung Karno sendiri masih lelap. Maklum, ia baru masuk kamar menjelang shubuh, setelah semalam padat aktivitas menjelang proklamasi kemerdekaan. Di antaranya, rapat intensif di kediaman Laksamana Maeda, tokoh militer Jepang yang disebut-sebut menjanjikan bantuan bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jam dinding menunjuk angka 8 ketika dr R. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno, menyelinap masuk ke kamar Bung Karno. Ia memandang Putra Sang Fajar masih pulas. Didekatinya tempat tidur Bung Karno, dan diusapnya tangan Bung Karno… mata pun terbuka. Sorot kelelahan memancar dari kedua bola mata Bung Karno. Kalimat pertama di pagi hari tanggal 17 Agustus 1945 yang keluar dari mulut Bung Karno kepada dr. R. Soeharto adalah, “Pating greges”.

foto_2_proklamasi_indonesia


Ungkapan dalam bahasa Jawa yang bisa diartikan sebagai “kondisi badan yang pegal-linu karena gelaja demam.” Apalagi, ketika dr Soeharto meraba badan Bung Karno, panas. Sebagai dokter pribadinya, dia langsung melakukan pemeriksaan, dan atas persetujuan Bung Karno, dr Soeharto memberinya suntikan chinine-urethan intramusculair, dan meminta Bung Karno meminum broom chinine.

Setelah disuntik dan minum obat,  tak lama kemudian Bung Karno tertidur lagi. Dr Soeharto keluar kamar, dan berpapasan dengan Fatmawati. Kepada Bu Fat, dijelaskan ihwal sakitnya Bung Karno. Bu Fat sempat berujar, “Saya sendiri sebetulnya juga capek sekali setelah kembali dari Rengasdengklok dan menyelesaikan pembuatan bendera yang akan dikibarkan hari ini.”

pembacaanproklamasi


Detik demi detik bergulir…. waktu menunjuk pukul 09.30 ketika dr Soeharto melihat Bung Karno terbangun dengan kondisi badan yang lebih sehat. Panasnya sudah reda. Ia segera beranjak dari tempat tidur demi mendengar kata-kata Soeharto, “sudah jam setengah sepuluh mas…”. Setelah itu, Bung Karno berkata, “Minta Hatta segera datang.”

Selagi dr Soeharto meneruskan perintah Bung Karno kepada Latief Hendraningrat, Bung Karno mempersiapkan diri demi momentum paling bersejarah bagi bangsa kita. Ia berpakaian rapi, mengenakan busana serba putih: celana lena putih dan kemeja putih dengan potongan yang populer disebut “kemeja pimpinan”. Lengannya panjang, bersaku empat, dengan band pinggang di belakang. Ia begitu gagah, penuh percaya diri.

Sebelum membacakan teks proklamasi, Bung Karno memberi kata pengantar dengan intonasi yang begitu gamblang, dan suara yang tenang:

berdoa


Saudara-saudara sekalian

Saya telah minta Saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan Tanah Air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.

Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti. Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakikatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendir.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib Tanah Air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh Indonesia. Permusyawaratanitu seia sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami nyatakan kebupatan tekad itu. Dengarlah proklamasi kami:

Dan… Bung Karno pun membacakan teks proklamasi dengah khidmat.

Begitulah sekelumit kisah, beberapa saat sebelum detik-detik bersejarah, berlangsungnya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. (roso daras)

Blog Tentang Bung Karno oleh ROSO DARAS

www.ROSODARAS.wordpress.com

Ini blog yang menarik tentang Bung Karno, sebaiknya dibookmark untuk menambah wawasan.
Ditulis dengan ringan dan singkat namun cukuplah menjadi obat haus tentang kisah seorang bung Karno.

Berikut ini latar belakang penulisan blog termaksud.
Silahkan disimak... semoga ada yang suka
:)

------------------------

About this Blog

bung-karno

Digagas bukan sebagai blog komersial, tetapi ini blog spesial. Bukan karena merah marun background-nya, tetapi karena nama besar Sukarno-nya. Nama besar yang bahkan telah diakui seluruh dunia. Rasanya tidak aneh kalau kita pun meng-amin-inya. Lepas dari kontroversi yang menyelimuti perjalanan hidup Bung Karno, dia tetaplah orang besar. Besar cita-citanya, besar ide dan gagasannya, besar pula kecintaannya terhadap Tanah Air.

Saya bertekad, harus mewarisi segenap ajaran dan kebaikan yang melekat pada dirinya. Sekalipun begitu, saya tidak harus memuji, karena dia bukan Nabi. Tapi saya pun tak harus menghina, karena dia bukan durjana. Bung Karno tidak akan lebih agung meski aku junjung-junjung. Bung Karno tidak akan jadi kecil meski kusamakan dia dengan upil. Sukarno adalah Sukarno. Titik. Terima saja dia apa adanya. Jangan ditambahi. Jangan dikurangi.

Begitu niat blog ini di-create dengan asma Allah. Bismillah, atas nama Tuhan, blog ini aku persembahkan bagi dunia, atas nama rasa yang jumawa, atas nama cinta Tanah Air, atas nama hormat pada Pahlawan Proklamator.

Tekad terakhir perlu saya nyatakan, bahwa semua tulisan yang saya sajikan, adalah sepenuhnya tulisan saya (kecuali yang saya kutip dari sumber lain). Kami persilakan mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan saya, tentu saja, dengan menyebut sumbernya (rosodaras.wordpress.com), fair enaugh bukan?.

MERDEKA!!!

Sekilas Saya

Roso Daras kcl

Saya, Roso Daras…

Bukan siapa-siapa, hanya orang yang menggandrungi Bung Karno. Gandrung akan kecintaannya terhadap Tanah Air. Gandrung akan pemikiran-pemikirannya, dan terutama gandrung akan rasa nasionalismeya. Atas alasan itu pula, saya berusaha terus dan terus menggali pemikiran-pemikiran Bung Karno.  Setidaknya, untuk memuaskan nafsu keingintahuan saya lebih jauh tentang sosok Putra Sang Fajar.

Pergulatan saya dengan pemikiran Bung Karno, sampailah saya pada momentum yang saya sebut “kebetulan”, yakni ketika saya menulis buku “Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”,  dan langsung disambut baik penerbit Grasindo (Gramedia Group),dan diterbitkan sebagai salah satu “seri pemikiran Bung Karno”, yang terbit tahun 2001, bertepatan dengan seabad Bung Karno. Momentum itu makin memompa semangat saya untuk terus memahami pemikirannya.

Pahamkah saya terhadap pemikiran Bung Karno? Jauh panggang dari api. Makin mencoba mendalami, makin merasa kecil saya. Makin berusaha mempelajari, makin bodoh saja rasanya. Sebaik-baiknya sikap, adalah tidak berhenti. Itu artinya, saya sedang dalam perjalanan memasuki belantara Sukarno.

Ibarat spon basah, semua hal yang saya coba serap, akhirnya menumpulkan otak saya. Karenanya, saya harus segera memeras spon basah tadi, agar kembali kering dan siap menerima hal-hal baru dari seorang Sukarno.

Saat ini, saya sedang menyusun sebuah buku, tidak jauh dari sosok Bung Karno. Insya Allah, tidak lama lagi akan terbit. Itu adalah salah satu upaya saya memeras spon basah. Nah, blog ini sedianya saya siapkan, manakala karena satu dan lain hal, buku tadi tidak jadi terbit. Dan jika itu terjadi, maka di sinilah akan saya tampilkan. Niatnya hanya berbagi.

Saya melihat begitu banyak komunitas pro Sukarno. Barangkali sama banyaknya dengan para pihak yang antiSukarno. Bagi saya, itu tidak masalah. Mengagumi dia adalah hak saya. Sekalipun begitu, kekaguman saya sejauh ini saya anggap normal-normal saja. Artinya, saya kagum terhadap ajaran Bung Karno, tetapi tetap dengan kesadaran bahwa, Bung Karno tidak akan lebih besar kalau saya puji…. Bung Karno tidak akan lebih kecil kalau saya maki. ***

-------------------------------
Notes :
Menarik kan?
:)

Presiden Kembali Tegur Ketua BPKP

Sumber : KORAN TEMPO

Presiden Kembali Tegur Ketua BPKP

Setelah itu, Hatta melapor kepada Presiden bahwa Didi sudah mengerti dan akan mematuhi apa yang telah digariskan tersebut.

SURAKARTA -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin kembali mengingatkan Ketua Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Didi Widayadi soal fungsi lembaga itu. Juru bicara kepresidenan Andi Alfian Mallarangeng kemarin mengatakan, Presiden meminta Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa menelepon Didi Widayadi untuk menyampaikan penegasan itu. Setelah itu, Hatta melapor kepada Presiden bahwa Didi sudah mengerti dan akan mematuhi apa yang telah digariskan tersebut.

"(Mereka itu) sebagai auditor internal pemerintah," kata Andi kemarin malam di Surakarta, di sela acara pertemuan antara Yudhoyono dan para pengusaha.

Karena posisinya sebagai auditor internal, kata Andi, keinginan BPKP untuk melakukan audit operasional terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi tidak sesuai dengan fungsinya. "Sudah jelas bahwa BPKP ikut sistem pemerintahan, sesuai dengan aturan undang-undang, yaitu auditor internal," katanya. Dalam kesempatan itu Andi juga kembali membantah anggapan bahwa rencana audit BPKP terhadap KPK itu merupakan perintah lisan dari Presiden Yudhoyono.

Rencana audit itu pertama kali diungkap oleh Didi saat ia bertandang ke kantor KPK, Kamis pekan lalu. Ketika itu ia menyatakan ada perintah langsung secara lisan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pernyataan Didi itu diprotes sejumlah kalangan. Bahkan berkembang anggapan bahwa audit tersebut merupakan upaya menggembosi kewenangan KPK.

Sehari kemudian, Yudhoyono pun mengeluarkan bantahan. "Saya juga terkejut mendengar laporan dari menteri dan staf, membaca media massa, bahwa seolah-olah ada perintah Presiden agar BPKP mengaudit KPK," kata Yudhoyono dalam jumpa pers di sela peringatan Hari Anti-Narkoba di Gelora Bung Karno. Presiden pun meminta Didi Widayadi menjelaskan kepada publik atas apa yang dilakukannya itu.

Pada hari berikutnya giliran Didi yang memberi penjelasan. "Tidak benar BPKP akan menggembosi KPK," ujarnya melalui siaran pers. UKKY PRIMARTANTYO | NININ DAMAYANTI

-----------------------------------------
Notes :
Isuk Dele sore Tempe. Apa ya klakon Presiden mencla-mencle?
Tak mungkinlah... ini pasti salah prosedur atau salah order.
:)

Daftar panjang Keberhasilan Megawati

Judul Asli : Daftar Panjang Kegagalan Megawati

Dari Kaskus

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan rendahnya harga Liquid Natural Gas Tangguh Papua datang dari permintaan Presiden Megawati saat kontrak dilakukan pada 2002.
http://www.tempointeractive.com/hg/n...132706,id.html

Taufiq Kemas, Seorang Politikus Busuk?
http://nusantaranews.wordpress.com/2...litikus-busuk/

PDI-P menolak Diumumkannya Nama-Nama Tukang Bolos di DPR
http://www.kompas..com/read/xml/2008/...g.bolos.di.dpr

Megawati Perkenalkan Penerusnya Puan Maharani
http://www.antara.co.id/arc/2008/7/1...puan-maharani/

Partai Banting Kursi
http://teknologi.vivanews.com/news/r...cebook_bertemu

PDI-P Berhentikan Agus Condro
http://www.kompas..com/read/xml/2008/...an.agus.condro

Semua Orangnya Taufiq Kiemas
http://majalah.tempointeraktif.com/i...109403.id.html

Kongres PDIP Untungkan PSK
http://www.detiknews..com/index.php/d...176/idkanal/10

Puan Maharani, Renny Sutiyoso dan Caleg DPD Djan Faridz Miliki Buddha Bar
http://nusantaranews.wordpress.com/2...enny-sutiyoso/

"Behind the Scene" (2): Megawati Lebih Antusias Bicara Soal "Shopping"
http://www.kompas..com/read/xml/2008/....soal.shopping

PDI Perjuangan, Sebuah Partai Teater
http://majalah.tempointeraktif.com/i...109365.id.html

Taufik Kiemas mengaku banyak menipu Rakyat
http://www.antara.co.id/arc/2007/12/...yat-indonesia/

Perbincangan dengan Sukowaluyo Mintorahardjo (Ketua DPP PDI 1986-1993)
http://majalah.tempointeraktif.com/i...109403.id.html

Amien Rais : Di masa pemerintahan Megawati Korupsi semakin blak-blakan dan P. Sipadan & P. Ligitan Hilang
http://www.tempointeraktif.com/hg/na...101-16,id.html

Wimar Witoelar : Presiden 2009: Megawati? Orang baik, tapi presiden yang gagal
http://www.perspektif.net/article/ar...article_id=719

Gus Dur: Pemerintahan Mega Lemah Terhadap Korupsi dan Terorisme
http://www.tempointeraktif.com/hg/na...911-12,id.html

Pemerintahan Megawati tidak pernah secara serius menangani masalah di Aceh
http://www2.kompas..com/kompas-cetak/...nal/332303.htm

Rachmawati Soekarnoputri: Pemerintahan Megawati, Pola Orba Jilid Dua
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0203/01/nas03.html

Kwik kian gie : Korupsi Tambah Ganas dan Brutal
http://www2.kompas..com/utama/news/0310/03/224402.htm
http://www.accessmylibrary.com/coms2...6-22425520_ITM

Ternyata yang PlinPlan bukan Cuma Megawati
http://majalah.tempointeraktif.com/i...109380.id.html

Megawati lebih memihak konglomerat hitam
http://www.tempointeraktif.com/hg/na...414-01,id.html

Eep Saefulloh Fatah : Megawati Tak Pantas Jadi Presiden Lagi
http://64.203.71.11/kompas-cetak/030...nal/410418.htm

27 Bulan Pemerintahan Megawati Soekarnoputri Ketidakpuasan Naik Kembali
http://www2.kompas..com/kompas-cetak/...nal/634630.htm

Megawati Soekarnoputri sangat lemah dalam komunikasi publik
http://www2.kompas..com/utama/news/0207/24/031804.htm

Rachmawati Minta Megawati Mundur sebagai Presiden
http://www.tempointeraktif.com/hg/na...620-38,id.html

Megawati dan Isu Kegagalan Reformasi
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0201/09/opi01.html

Nurcholish Madjid: Presiden Megawati Tidak Komunikatif
http://www.tempo.co.id/hg/nasional/2...724-33,id.html

Presiden Megawati Gagal Pahami Semangat Pemberantasan Korupsi
http://www.transparansi.or.id/berita...a2_101003.html


Pernyataan Megawati soal Illegal Logging
http://www.infopapua.com/modules.php...ticle&sid=1702

LSM DESAK MEGAWATI PERHATIKAN KOMNAS HAM
http://kontras.org/index.php?hal=dalam_berita&id=738

Pemerintah Megawati Ingin ”Membunuh” Komnas HAM
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0211/07/nas03.html

"Selama Pemerintahan Megawati, Penegakan HAM Mandek"
http://www.tempointeraktif.com/hg/na...315-38,id.html

Negara Susah Presidennya Cuti
http://www.tempointeraktif.com/hg/na...915-06,id.html

Muhibah Megawati: Cermin Sense of Crisis? … kunjungan Megawati selaku presiden selama satu tahun masa pemerintahannya menghabiskan dana sekitar Rp 200 milyar lebih …
http://www.gatra.com/2002-09-18/artikel.php?id=20677

Kepergian Megawati ke Bali Dikritik
http://www2.kompas..com/kompas-cetak/...NAL/kepe06.htm

Belajar Hemat Cara Mega
http://majalah.tempointeraktif.com/i...S76428.id.html

Mega Ancam Pindahkan Makam Bung Karno
http://www.kompas..com/read/xml/2008/...kam.bung.karno

JK: Mega Kalah, Karena Jarang Tampil Debat
http://www.detiknews..com/read/2009/0...g-tampil-debat

Pemerintahan Megawati gagal dalam menjalankan Reformasi Birokrasi
http://www.transparansi.or.id/?pilih=lihatkolom&id=13

Megawati Kurang Peduli Terhadap Nasib Perempuan dan Anak-anak
http://www.tempointeractive.com/hg/n...902-13,id.html

Masalah TKI Ilegal di Nunukan, Presiden Megawati Melempar Tanggung Jawab
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0209/07/nas03.html

Korupsi Ekspor Beras Bulog
http://www.antara.co.id/arc/2007/6/1...r-beras-bulog/

PDI-P Menang di Balik Gagalnya Pansus Bulog II
http://www.suaramerdeka.com/harian/0207/06/kha1.htm

Megawati Jadi Capres, Bukti Kegagalan PDIP
http://news.okezone.com/index.php/Re...kegagalan-pdip

Rapor Merah Megawati
http://swaramuslim.com/more.php?id=A1400_0_1_0_M

Megawati Berat Banget Buat Tandatangani Keppres KPK
http://www2.kompas..com/utama/news/0308/04/061158.htm

Jajak Pendapat CPS: Megawati Kecerdasannya Kurang
http://www.tempointeraktif.com/share...0=&id=Mjk2NTY=

Soal Sukhoi, Pemerintah Dituduh Sengaja Kongkalingkong
http://www.tempointeraktif.com/hg/na...704-16,id.html

Soal Pemerintahan Keranjang Sampah, Amien Nilai Mega Sudah Kebablasan
http://www.tempointeraktif.com/hg/na...213-16,id.html

Melawan Mega, Melawan Sutiyoso
http://teguhtimur.com/2003/06/09/mel...awan-sutiyoso/

Mega Tak Akui Kekalahan 2004
http://www.gatra.com/2009-01-09/artikel.php?id=121870

Mega Ingin Tiru Obama
http://pemilu.detiknews..com/read/200...gin-tiru-obama

Anas: Sebut Pemerintah Jadikan Rakyat Yoyo, Megawati Panik
http://pemilu.detiknews..com/read/200...megawati-panik

Jika Jadi Cawapres Mega, Tim Sukses Sultan Ancam Tarik Dukungan
http://pemilu.detiknews..com/read/200...tarik-dukungan

Mega Ejek SBY Main Yoyo, Agung: Itu Bagian dari Demokrasi
http://pemilu.detiknews..com/read/200...dari-demokrasi

4 Kandidat Kuat Pendamping Mega Berumur di Atas 63 Tahun
http://pemilu.detiknews..com/read/200...-atas-63-tahun

Wawancara Megawati dengan SCTV
http://forum.detik..com/showthread.php?t=94959

dari fb gan .
http://www.facebook.com/topic.php?ui...602&topic=9773


oke lanjutkan

  1. Menjual LNG Uggul ke Cina dengan sangat murah.
  2. Menjual Indosat ke perusahaan Yahudi Singapura.
  3. Membebaskan Akbar Tanjung dari kasus korupsi 45 Miliyar.
  4. Korupsi merajalela. Walau KPK saat itu telah dibentuk, tapi KPK itu tidak ada bedanya dengan kucing berkaki tiga, tidak ada wewenang tidak ada hak tidak ada kuasa, cuma sekedar lambang untuk cari nama, kirain rakyat itu bodoh apa
  5. Merekrut para preman jadi aggota DPR/D dan pejabat2 pemda.
  6. Kemiskinan dan pengangguran meningkat.
  7. Menaikan BBM yg menyengsarakan rakyat.
  8. Menjanjikan rakyat Aceh takkan setetes darahpun tumpah lagi jika jadi Presiden, ternyata pertempuran Aceh makin dahsyat (yang mengakibatkan rakyat aceh trauma berkepanjangan)
  9. Terbunuhya tokoh HAM Munir 7 Sept 2004.
  10. Terjadi BOM Bali, Merriyott/ terrorisme meningkat. Ancaman terorrisme meningkat.
  11. Pada saat setelah BOM Bali meledak, PM Australia John Howard langusng terbang ke Bali. Sedang presiden indonesia pada saat itu, Megawati, hanya mengirim menterinya. John Howard dan media australia menyindir Megawati atas kekurang peduliannya.
  12. Tidak ada teroris yang tertangkap pada saat itu. Sulit ? Begitu SBY naik, salah satu pabrik narkoba terbesar diasia tertangkap, teroris tertangkap, itu adalah corengan besar terhadap Megawati.
  13. MEMBERLAKUKAN SISTEM KERJA KONTRAK
-------------------------------------------------------------
Notes :
Tergantung dari sisi mana kita melihatnya bukan?
Kalau kita pro Mega tentu ini suatu keberhasilan. Kalau tidak Pro Mega tentunya ini prestasi yang luar basa pula bukan?
Jadi? Jadilah rakyat yang cerdas, cerdik dan gemar membaca jangan hanya mau bicara saja atau nurut apa kata mereka.
:)