Gurita Cikeas Dijual di Jalanan
Ketua MK: Silakan Adukan Ulah Ruhut Sitompul
Jakarta, RMOL. Sikap tidak pantas anggota Fraksi Partai Demokrat Ruhut Sitompul yang melontarkan kata "bangsat” kepada pimpinan Pansus Centurygate Gayus Lumbuun bisa diadukan masyarakat ke Badan Kehormatan (BK) DPR.
Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD pun iku menanggapi ulah “Si Poltak”. Saat ditemui usai pelantikan dua hakim konstitusi baru di Istana Negara, Jakarta, Kamis (7/1), ia mengatakan dalam politik ulah politisi seperti Ruhut biasa terjadi.
“Dalam politik itu biasa saja tapi kalau sudah kelewatan begitu, kalau ada yang menganggap itu kelewatan kan ada kode etik. Badan Kehormatan, saya kira itu yang bisa menjelaskan,” jelas Mahfud kepada wartawan.
Bahkan, masyarakat bisa melaporkan hal itu bila merasa dirugikan.
“Itu perlu pengaduan. Saya kira Anda juga bisa mengadukan sebagai orang yang diwakili. Terserah,” katanya.
Menurut Mahfud, jika pengaduan sudah diterima Badan Kehormatan (BK) DPR, maka sanksi yang akan diterapkan sudah menjadi wewenang BK.
“Kasus Ruhut ini tidak tahu sejauh mana sebab bisa juga itu dinilai sebagai hal biasa karena emosi. Dan akan berat karena dia menjabat anggota DPR,” jelasnya.
Buku Tandingan Gurita Cikeas tidak Ilmiah
JAKARTA--MI: Buku berjudul Hanya Fitnah dan Cari Sensasi, George Revisi Buku karya Setyardi Negara tidak dipandang sebagai karya ilmiah. Ini disampaikan oleh pengamat politik UNAS Alfan Alfian dalam peluncuran buku tersebut di Jakarta, Rabu (6/1).
"Sebenarnya buku ini saya baca biasa-biasa saja. Buku ini merupakan respons, tapi bukan buku ilmiah. Tidak ada suatu pretensi apapun untuk menandingi secara ilmiah buku George Aditjondro. Ini semacam resensi yang diperluas," kata Alfan.
Ia menyatakan, penerbitan buku tersebut merupakan wujud dari apresiasi buku Membongkar Gurita Cikeas. Karena setiap orang berhak untuk mengapresiasi buku George Aditjondro, Setyardi juga berhak melakukannya. Hanya, ia menekankan bahwa apapun yang dihasilkan haruslah mampu dipertanggungjawabkan.
"Dalam penerbitan yang paling penting adalah tanggung jawab. Begitu juga George. Dia harus siap mempertanggungjawabkan apa yang ditulis dan bisa mempertahankan apa yang ditulis dalam isi buku itu," tukasnya.
Ia juga mengkritisi buku karya George. Menurutnya, buku tersebut meninggalkan kesan tergesa-gesa dan banyak catatan yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Buku itu juga menurutnya sudah melewati batas penerbitan buku karena sudah menyentuh aspek sosial.
Itu ditandai dengan beragamnya respons masyarakat, termasuk juga tanggapan dari pihak yang disebut-sebut dalam buku tersebut. "Dengan adanya somasi dari LKBN Antara, itu berarti sudah menyentuh aspek sosial yang melebihi buku itu sendiri," ujarnya.
Ia berharap hal tersebut tidak berlarut-larut. Penyelesaian secara hukum, harap dia, tidak menjadi pilihan karena dikhawatirkan akan menimbulkan efek yang berkepanjangan.
Buku Tandingan Gurita Cikeas Terbit
JAKARTA--MI: Buku Gurita Cikeas mengundang perlawanan. Seorang penulis yang mengaku junior George Junus Aditjondro, penulis buku tersebut, segera menerbitkan telaahan atas buku yang dinilai kontroversial oleh sebagian kalangan.
Setyardi Jayanegara, si penulis buku tandingan tersebut, menyatakan setidaknya dalam dua hari ke depan akan dilansir secara terbuka kepada publik. "Insya Allah dalam minggu ini. Kami akan launching dua-tiga hari lagi," kata dia kepada Media Indonesia di Jakarta, Senin (4/1).
Ia mengaku inisiatif pembuatan buku datang dari dirinya sendiri. Tidak ada pihak yang disebut dalam buku George ikut dalam penulisan ataupun pencetakan buku tersebut. Menurutnya, itu semata bermotif bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang ia kelola. "Saya bukan orang Demokrat. Saya mencoba mencari keuntungan dari buku ini. Saya merasa jika mengeluarkan buku ini lebih bagus sekarang karena sedang hangat-hangatnya," jelasnya.
Ia menolak jika buku yang segera diluncurkannya sebagai buku tandingan. Ia menyatakan, jika bukunya lebih tepat disebut telaah atas buku yang diluncurkan George. Pasalnya, ia menjanjikan konten kritis untuk publik terhadap buku yang ia nilai tak lebih dari kliping media massa. Padahal, kebenaran yang terserak di media massa harus kembali diverifikasi.
"Saya akan mencoba memberikan telaah kritis atas buku itu. Apa kelemahannya dan bagaimana fakta-fakta yang sesungguhnya. Ini alternatif buat publik meski saya tak mengatakan bahwa yang saya tulis yang paling benar. Saya juga mengklarifikasi pada beberapa sumber," tukasnya. (DM/OL-04)
Inilah Profil Lengkap GJA, Pengarang Buku "Membongkar Gurita Cikeas"
Berikut profil GJA yang diperoleh dari berbagai sumber;
Pada tahun 1971 hingga 1979 GJA sempat menjadi wartawan majalah TEMPO dan dalam rentan waktu 1994-2002 ia menghabiskan waktunya mengabdi sebagai tenaga pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Murdoch University, Perth dan Newcastle University, Australia. Pada tahun 2005, GJA juga menjadi staff pengajar di Program Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
GJA memperoleh gelar sarjana elektro dan teknik dari Universitas Hasanuddin Makassar. Lebih lanjut, GJA merampungkan studinya di Universitas Satya Wacana Salatiga dan Akademi Teknik Semarang. Kehausan akan ilmu membuat GJA melanjutan studinya dan meraih gelar Master of Science dari Cornell University, Itacha, New York. GJA menulis tesis dengan judul “ Organization Learning of Executives and Staffs Persons of The Irian Jaya/Papua Community Development Foundation”. Pada tahun1993, GJA merampungkan Ph.D nya (juga I Cornell) dengan disertasi berjudul “ Public Policy Education Concerning The Social and Environtment Impact of The Kedungombo Multiporpose Dam in Central Java.”
Pada sekitar tahun 1994 dan 1995 nama Aditjondro menjadi dikenal luas sebagai pengkritik pemerintahan Soeharto mengenai kasus korupsi dan Timor-Timur. Ia sempat harus meninggalkan Indonesia ke Australia dari tahun 1995 hingga 2002 dan dicekal oleh rezim Soeharto pada Maret 1998.
Saat hendak menghadiri sebuah lokakarya di Thailand pada November 2006, ia dicekal pihak imigrasi Thailand yang ternyata masih menggunakan surat cekal yang dikeluarkan Soeharto pada tahun 1998.
Pada tahun 2007, GJA pernah menjadi konsultan penelitian untuk KOTIB (Koalisi untuk Transparansi Bantuan Bencana) di Medan. KOTIB merupakan organisai non pemerintah yang memusatkan perhatian terhadap pemantauan upaya-upaya rekonstruksi di wilayah bencana alam Aceh dan Nias (Sumatera Utara). Selain itu, GJA juga terlibat sebagai konsultan penelitian dan publikasi pada Yayasan Tanah Merdeka di Palu, Sulawesi Tengah.
Sebagai seorang mantan wartawan dan juga akademisi, GJA setidaknya telah mengeluarkan tiga buku kritis yakni; (a) Dari Soeharto ke Habibi, Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari; Kedua Puncak Korupsi, Kolusi dan Nepostisme REzim Orde Baru, (b) Korupsi Kepresidenan: Reproeduksi Oligarki Berkaki Tiga; Istana, Tangsi dan Partai Penguasa dan (c) Membongkar Gurita Cikeas; Di Balik Skandal Bank Century
Dalam pengakuannya, GJA cenderung memfokuskan dirinya pada masalah korupsi kepresidenan. Tidak mengherankan kalau kemudian karya GJA terus merempet Istana. Dapat dipastikan, siapa pun presidennya, GJA akan mengawasinya secara kritis.
Sumber :
http://www.roabaca.com/serba-serbi/inilah-profil-lengkap-gja-pengarang-buku-membongkar-gurita-cikeas.html
Buku George Dinilai Hanya Lelucon Politik
Jakarta (ANTARA News) – Mantan aktivis mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Hendra Ratu Prawira menilai buku berjudul “Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Bank Century” karangan George Junus Aditjondro yang diterbitkan oleh sebuah penerbitan di Yogyakarta hanya sebuah lelucon politik semata.
“Buku ini kalau saya menilai hanya ingin mencari sensai dan menarik perhatian publik. Hal yang sama juga pernah dilakukan George sekitar 17 tahun silam,” katanya di Jakarta, Selasa.
Menurut ia, sekitar 17 tahun lalu saat saya menjadi penyelenggara sebuah seminar di kampus UII Yogyakarta saya dan mahasiswa lainya malah "ketiban apes" atas kelakuan George.
"Saat itu kami mengadakan seminar yang bertema “Urgency pembangunan politik di Indonesia” yang salah satu pembicaranya menghadirkan George Junus Aditjondro. Namun, pada saat itu juga George malah me-launching Buku tentang harta kekayaan mantan Presiden Soeharto yang tidak jelas sumbernya," ujarnya.
“Dengan peristiwa tersebut kami pihak penyelenggara justru berurusan dengan Polda DIY. Karena tidak akurasinya data tersebut kami berulang kali dipanggil ke Polda untuk menjalani pemeriksaan," katanya.
Hendra Prawira menjelaskan, hal yang sama justru malah dilakukan George di penghujung tahun 2009. George malah menulis buku yang tidak jelas sumbernya dan merugikan pihak lain.
Ia sependapat jika sejumlah instansi seperti LBKN ANTARA ingin melakukan somasi kepada George. Karena setiap instansi ataupun peorangan yang merasa dirugikan namanya bisa meminta perlindungan hukum.
Hendra menyatakan, implikasi yang ditimbulkan oleh buku setebal 183 lembar ini banyak menimbulkan mosi tidak percaya masyarakat jika mereka membacanya secara mentah-mentah serta pihaknya juga mendesak agar George mau segera merivisi buku karanganya tersebut sebelum banyak beredar di kalangan masyarakat.
"Tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak tertentu yang ingin memanfaatkan George dengan bukunya ini. Pemerintah diminta bersiap siap saja dengan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan adanya buku karangan George ini," katanya.(*)
Syamsu: Buku Membongkar Gurita Cikeas Harus Diteliti
Jakarta (ANTARA News) - Mantan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel), Mayjen TNI (Purn) Syamsu Djalal, menyatakan buku "Membongkar Gurita Cikeas; Di balik Skandal Bank Century" karangan George Junus Aditjondro, harus diteliti dahulu kebenarannya.
"Seharusnya buku itu diteliti dahulu, baru dikomentari," katanya, di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan jika dari hasil penelitiannya bahwa isinya hanya "ngarang" saja atau tanpa bukti. "Maka itu keterangan palsu," katanya.
Sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) mengaku masih mengkaji buku berjudul "Membongkar Gurita Cikeas; Di balik Skandal Bank Century" karangan George Junus Aditjondro.
"Kejaksaan masih melakukan penelusuran dan pengkajian buku Membongkar Gurita Cikeas," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Didiek Darmanto, di Jakarta, Senin.
Kapuspenkum menyatakan tim "clearing house" atau interdep yang terdiri dari Kejagung, Polri, BIN, Menkominfo dan MUI, akan bekerjaama untuk melakukan kajian terhadap beredarnya buktu tersebut.
"Parameter pengkajian apakah buku itu telah mengganggu ketertiban umum dan harus dihubungkan dengan dasar-dasar tata tertib kehidupan rakyat dan negara pada suatu saat seperti merusak kepercayaan masyarakat terhadap pimpinan nasional, merugikan akhlak dan meresahkan masyarakat," katanya.(*)
Gurita Jerat Aditjondro gara-gara Gaplok-gaplokan :) oalah Nasib-nasib
Jurus Apa yang dipakai GJ Aditjondro waktu menggaplok Ramadhan Pohan?
- Menghindari makan GURITA dan sejenisnya seperti Cumi cumi, terutama yang berasal dari wilayah CIKEAS BOGOR.
- Melakukan bedah plastik pada area muka dan sekitarnya, untuk menghilangkan jejak gambar buku tersebut.
- Dirawat inap selama 2 minggu, untuk menghindari adanya pukulan lanjutan dari saudara GJA. atau menunggu emosi GJA sedikit menurun.
- Memakai kumis palsu sebagai kompensasi kerontokan kumis akibat pemukulan tersebut. Disertai dengan pemakaian "Lidah Buaya" secara teratur setiap harinya.
- Melakukan test kekuatan jantung yang masih shock akibat insiden tersebut dengan cara meledakan petasan cabe rawit sebanyak-banyaknya pada rongga hidung dan mulut.
Aditjondro Terancam 5 Thn Kurungan
(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Pemukulan yang dilakukan penulis buku 'Membongkar Gurita Cikeas' George Junus Aditjondro terhadap Pemred Jurnas Ramadhan Pohan dibalas dengan pelaporan. Ia pun diancam 5 tahun penjara.
Pohan melaporkan ke Polda Metro Jaya sekitar pukul 15.30 WIB, Rabu (30/12) dengan No-LP:3757/K/XII/SPK Unit III. Dalam laporan tersebut Aditjondro dikenakan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Ancaman hukumannya adalah lima tahun.
Usai melaporkan anggota Fraksi Partai Demokrat ini, mengaku tidak mempermasalahkan kekerasan fisik yang dialaminya. Menurut Pohan, kekerasan Aditjondro merupakan hal yang biasa. Namun yang dikecewakannya adalah setiap perbedaan pendapat diatasi dengan kekerasan.
"Yang lebih teraniaya itu adalah demokrasi. Kami khawatir kalau ini dibiarkan begitu saja, seolah-olah nanti kalau ada orang berbeda pendapat langsung main tangan, langsung main pukul. Mau dibawa kemana demokrasi kita, kalau setiap perbedaan pendapat diselesaikan dengan kekerasan," terangnya.
Pohan mengaku luka yang dideranya adalah memar dibagian mata kiri. Ia pun berlalu dengan menumpangi mobilnya toyota fortunir hitam B 1998 RP. [jib]
----------------------------
Notes :
Masukkkkkkk....
Pemukulan Aditjondro ke Ramadhan Pohan Saksi: Pohan Dipukul Pakai Kertas
INILAH.COM, Jakarta - Menurut saksi mata, yang juga pengamat politik UI, Boni Hargens, Ramadhan Pohan dipukul dengan mengunakan kumpulan kertas.
Hal ini diungkapkan Boni usai insiden pemukulan di 'Doekoen Coffee', Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (30/12). " George itu tidak memukul, hanya menepis pakai kertas. Justru tidak kena ke Pohan, dan kena ke saya," ujarnya.
Jika dilihat keadaan peluncuran buku Membongkar Gurita Cikeas di Skandal Bank Century, Aditjondro duduk di sebuah sofa panjang. Posisi duduk Aditjondro tidak di samping Pohan. Ada Boni, dan politisi Hanura Akbar Faisal, di tengah-tengah.
Sepertinya emosi Aditjondro menyulut akibat pernyataan Pohan, yang mengatakan Aditjondro berhalusinasi dalam menulis bukunya. "Anda sudah beberapa kali ngomong seperti itu, kalau tidak suka silakan buat bantahan," ujar Boni meniru pernyataan Aditjondro kepada Pohan.
Seperti diketahui, di buku Aditjondro menyatakan sebelum menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Jurnas, Ramadhan Pohan merangkap sebagai Direktur Opini Publik & Studi Partai Politik Blora Center, think tank Partai Demokrat yang mengantar SBY ke kursi presidennya yang pertama [bar]
-----------------------------------------------------------------------
Membaca dua Bab pertama buku Membongkar Gurita Cikeas, kesan pertama yang muncul adalah ketergesa-gesaan.
Fokus sebenarnya dari serial tulisan George Junus Aditjondro yang telah sering muncul di berbagai media adalah kelihaian dia untuk menelusuri Yayasan-yayasan yang ada di sekitar politik kekuasaan.
Dua bab yang diletakkan dimuka terlihat masih dalam bentuk sketsa analisis, penuh dengan hipotesa pemikiran penulis yang masih harus mencari data pembanding untuk memperkuat tulisannya.
Hal ini dapat dimaklumi karena buku ini sangat berkepentingan untuk mampu menarik perhatian masyarakat yang sedang tertuju perhatiannya pada membesarnya isu skandal Bank Century.
Selebihnya adalah proyek "idealis" George yang memang memiliki ketekunan yang lebih dari peneliti yang lain dalam persoalan mencermati keterkaitan antara bisnis dan kekuasaan di Indonesia.
Jika pembaca buku ini sering membaca tabloid tabloid maupun majalah-majalah yang mengibarkan semangat oposisi terhadap pemerintahan SBY tentu kumpulan tulisan George bukanlah tulisan yang baru muncul.
Rentetan tulisan George, kemunculan dia sebagai narasumber, hingga serial investigasi ala tabloid adalah hal-hal yang dirangkum kemudian dalam buku Membongkar Gurita Cikeas.
Kalau kemudian George merasa bahwa bukunya harus direvisi, tentu saja itu merupakan tanggung jawab George yang mempunya reputasi cukup bagus dalam menyajikan tulisan-tulisan yang penuh dengan data-data investigasi sekunder.
Buku ini jelas dicari karena iklan gratis dari reaksi Presiden SBY yang ternyata tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar terhadap kemunculan berbagai suara kritis yang mengiringi langkah awal kekuasaan keduanya.
Tulisan-tulisan penulis muda dalam majalah Pantau yang pernah terbit beberapa waktu lalu jelas-jelas lebih kokoh dalam cara pandang investigatif dibandingkan dua bab pertama tulisan George Junus dalam buku ini.
Rangkuman obrolan warung kopi mungkin lebih tepat untuk menggambarkan dua bab pertama buku ini.
Bedanya yang melakukan obrolan di warung kopi tersebut adalah orang-orang yang selama ini mempunyai kedekatan dengan lingkar-lingkar kekuasaan maupun kroni-kroni politik yang dalam pernah dekat dengan kekuasaan terdahulu tetapi pada saat ini tidak ikut serta dalam rombongan pesta kabinet SBY jilid dua.
Yul Amrozi (amrozi@gmx.net)
Inilah Bukti Hukum Aditjondro Pukul Ramadhan Pohan
(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Dalam foto ini terlihat jelas bahwa George Junus Aditjondro memukul Ramadhan Pohan hingga berdarah.
Peristiwa ini terjadi di sela-sela peluncuran buku Aditjondro di Doekoen Coffee, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (30/12). Sekitar pukul 13.00 WIB, Ramadhan Pohan keluar dari 'Doekoen Coffee'.
"Gua dipukul sama George Aditjondro," katanya singkat kepada INILAH.COM.
Ramadhan Pohan sendiri mengalami luka memar di atas hidung. Namun, pemimpin redaksi Jurnal Nasional, enggan untuk diwawancarai, dan segera meninggalkan 'Doekoen Coffee'.
Terlihat, Ramadhan Pohan berjalan cukup kencang tanpa menghiraukan para wartawan, yang ingin mengambil gambarnya. Ia memberhentikan taksi, dan segera naik.[bar/ims]
