Susno Mau Geser Isu Century?
Mantan anggota Pansus Hak Angket Skandal Bank Century dari FPDIP, Eva Kusuma Sundari menilai, kasus Susno ini sulit untuk tidak dipolitisir.
Meski begitu, Eva melihat bahwa potensi pengalihan isu Century dari kasus Susno tidak terlalu besar.
"Potensi dari pengalihan isu bukan dari sini, tapi dari kasus Agus Condro. Saya menilai itu yang bisa membuat pemberitaan penuntasan skandal Century tertutup dan membuat perhatian juga bergeser," jelas Eva kepada INILAH.COM, Minggu (21/3).
Saat ditanya apakah kasus Susno Duadji ini bisa membuat penangganan kasus skandal Century terganggu, Eva K Sundari mengatakan tidak.
"Kan usulan di Pansus adalah membentuk tim gabungan, bukan cuma satu institusi saja. Jadi saya pikir tidak akan terganggu, kan masih ada KPK yang harus didorong untuk menyelesaikan skandal Bank Century ini,"
ujarnya.
Namun dirinya sepakat jika perseteruan antara Polri dan Komjen Susno segera diselesaikan.
"Kuncinya di Kapolri dan Presiden, yang bisa turut menyelesaikan ini," ujarnya.[bay/ims]
SBY: Saya Bertanggung Jawab
VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menanggapi pandangan akhir fraksi di DPR yang dibacakan dalam Pansus Hak Angket Century secara khusus. Yang pasti SBY mengaku siap bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di Tanah Air.
"Saya kepala negara, tentu yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di negara ini, di bidang pembangunan dan di bidang kehidupan yang lain," tegas SBY sebelum sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Kamis 25 Februari 2010.
SBY menegaskan, dalam waktu dekat dia akan menyampaikan pernyataan resmi soal kemelut kasus Bank Century. SBY mengaku memang tidak bisa langsung merespons, karena ia tidak terbiasa bersikap reaktif setiap hari terhadap isu yang berkembang.
"Kalau itu saya lakukan pastilah yang terjadi gonjang-ganjing dan bisa saja saya tertarik ke situ untuk menanggapi isu-isu harian meskipun saya ikuti, meskipun saya berpikir, semua itu penting bagi saya dalam pengambilan keputusan, dalam pengambilan kebijakan dan langkah tindak apapun dalam memimpin negara dan pemerintahan ini," kata dia.
Yang pasti, kata dia, dalam waktu dekat ia akan menyampaikan pidato berkaitan dengan kemelut kasus Bank Century. Ia akan merancang pidato khusus yang akan disampaikan langsung ke hadapan rakyat sebagai tanggung jawabnya.
Sehubungan dengan ini, ia mengatakan, kalau ada isu-isu terus bergerak dan berkembang, ia telah melimpahkannya epada menteri terkait. Menkoplolhukam dengan jajarannya akan mengatur untuk memberikan respon dari sisi pemerintah.
"Silakan saja, ini demokrasi, setiap orang berhak memberikan statemen dan pikirannya dengan tentu dilandasi dan niat dan tujuan yang baik. Itulah pengantar saya sebelum kita mulai sidang kabinet pada hari ini," kata dia.
Gayatri Mau Belikan Pesawat untuk Presiden
Rabu, 10 Februari 2010
JAKARTA, KOMPAS.com — Nasabah Bank Century, Sri Gayatri, memberikan janji pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau persoalan nasabah selesai, ia akan mengajak para nasabah menyisihkan 10 persen dari uangnya untuk membelikan pesawat kepresidenan bagi SBY.
"Biar enggak pada ribut lagi soal pesawat. Kami nasabah Century yang akan membelikan pesawat untuk Presiden. Sepuluh persen dari uang kami akan belikan pesawat," katanya dengan suara keras, seusai mediasi nasabah dengan Bank Mutiara dan LPS, Rabu (10/2/2010) dalam sidang Pansus Angket Kasus Bank Century, Gedung DPR, Jakarta.
Teriakan Gayatri itu sontak mengundang perhatian dan tepuk tangan dari para nasabah reksadana yang lainnya. "Ayo dukung...ayo dukung Gayatri, belikan pesawat untuk Presiden," ujar nasabah Bank Century cabang Surabaya ini.
Gayatri mengaku memiliki deposito sebesar Rp 2,8 miliar yang tanpa sepengetahuannya dialihkan menjadi reksadana yang dikelola PT Antaboga Sekuritas di Bank Century. Ia berharap, pemerintah memerhatikan hak nasabah yang hingga kini belum terbayarkan.
Jika ditotal, dana nasabah yang menanamkan uangnya di Bank Century mencapai Rp 1,9 triliun. Sebuah lagu pun dinyanyikannya untuk Presiden SBY. "Saya Gayatri, korban Century. Presiden SBY harus melihat keresahan kami, nasabah Century...."
Angket Century:: Rizal Ramli: Kalau Sama Pacar, Baru SMS
VIVAnews - Polemik laporan via pesan singkat (short message service/SMS) yang dilakukan Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla masih menuai kontroversi.
Banyak kalangan beranggapan, pelaporan melalui SMS, tidak etis dilakukan untuk perkara penting. Hal senada diungkapkan mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli dalam diskusi di Jakarta, Sabtu 16 Januari 2010.
"Buat saya aneh (laporan menggunakan SMS), karena saat saya jadi Menko, selalu lapor minimal melalui telepon atau ketemu langsung," kata Rizal.
"Kalau sama pacar, baru boleh SMS," katanya.
Menurut Rizal, ketika Presiden bisa menerima laporan via SMS itu, bisa diartikan ada kedekatan diantara keduanya.
"Tapi JK membantah adanya SMS itu," kata dia.
Kesaksian mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di hadapan Pansus Century pada 14 Januari 2010, menurut Rizal, membantu untuk mulai membuka tabir rekayasa kasus bailout Century.
Karena, saksi-saksi sebelumnya, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani (yang waktu itu menjabat Ketua KSSK) dan Wakil Presiden Boediono (waktu itu menjabat Gubernur BI) dinilai hanya memberi keterangan sepotong-sepotong.
Rizal juga mengaku merasakan keganjilan ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani hanya menyatakan bertanggung jawab atas pengucuran bailout sebesar Rp 623 miliar.
"Dia (Sri Mulyani) sudah tahu kalau ditipu malah tetap memberikan bailout," ujarnya.
Soal Tertipu, Konfrontasi JK & Sri Mulyani
VIVAnews - Salah satu yang ditanyakan oleh anggota Panitia Khusus Hak Angket Kasus Bank Century adalah soal Menteri Keuangan yang mengadu pada Jusuf Kalla, bahwa dia tertipu oleh data Bank Indonesia.
Diceritakan Kalla, curhat Sri Mulyani terjadi dalam pertemuan pada akhir September 2009 di kantor Wakil Presiden. Saat itu 10 bulan setelah bail out dikucurkan pada Bank Century.
Kata Kalla, saat itu dia hanya berdua di ruangan dengan Sri Mulyani. "Dia datang untuk rapat, setelah rapat saya tanya [soal Century], karena sudah hangat kembali. Saya ingin mereview ada apa waktu itu," kata Kalla, menjawab pertanyaan anggota Pansus, Maruarar Siarait.
Secara singkat, kata Kalla, Sri Mulyani mengambil keputusan sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akrena dilapori BI untuk menyelamatkan Bank Century dibutuhkan Rp 632 miliar.
"Karena angka itu jauh lebih kecil apabila ditutup, yang terjadi malah 11 kali lipat, kenyataannya [Rp 6,7 triliun]," kata JK.
Hal itulah yang jadi alasan Sri Mulyani bahwa dia merasa tertipu oleh laporan BI.
Mendengar penegasan Jusuf Kalla yang berbeda dengan Sri Mulyani, Maruarar Sirait meminta keduanya dihadirkan secara bersamaan.
"Kami minta Bapak Jusuf Kalla dan Sri Mulyani diperiksa bersama," kata Maruarar Sirait pada pimpinan Pansus.
****
Sebelumnya, dalam pemeriksaan Pansus kemarin, Sri Mulyani dicecar anggota Pansus soal pernyataan JK bahwa dia tertipu Boediono, yang saat itu Gubernur BI, dan BI.
"Anda mengatakan pada Wapres [Jusuf Kalla], saya ditipu oleh Pak Boediono, oleh BI? terkait uang Rp 632 miliar? Apa artinya?," tanya Akbar Faisal.
Sri Mulyani yang ditanya, mengaku tak tahu. "Saya tidak tahu pertanyaan di mana," kata dia, lalu meminta pansus mengkonfirmasikan hal itu pada Jusuf Kalla.
Menunggu Sidang Century
Para nasabah menunjukan buku kepemilikan nasabah century di gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (11/1). Puluhan nasabah century mendatangi gedung DPR/MPR, mereka akan memantau langsung jalannya sidang pansus century yang rencananya akan memanggil mantan pemegang sebagian saham Bank Century Robert Tantular.
Inilah Nama-nama Penerima Dana Century
INILAH.COM, Jakarta - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah menyerahkan nama-nama nasabah Bank Century yang menarik dana dari bank, ke Pansus Hak Angket DPR untuk kasus Bank Century. Ada beberapa nama yang mirip dengan tokoh penting.
Penyerahan dilakukan Rabu sore (6/1). Menurut Ketua Pansus Hak Angket Century, Idrus Marham, laporan PPATK itu sudah diserahkan ke sekretariat. Idrus sendiri tidak mau mengungkap siapa nama nasabah yang menarik uang dari Bank Century.
Yang jelas, laporan PPATK ini akan disosialisasikan ke seluruh anggota Pansus Angket Bank Century. Pansus juga akan menyediakan waktu sendiri untuk membahas laporan PPATK itu.
Sebenarnya, laporan PPATK ini adalah laporan ketiga yang diberikan kepada Pansus Angket. Dua laporan lainnya sudah diserahkan, yang di dalamnya berisi juga mengenai aliran dana dari Century yang ditarik nasabah.
Saat itu, ada satu temuan PPATK, yang menunjukkan bahwa dana Bank Century mengalir ke sebuah rekening atas nama seseorang yang mirip dengan tokoh penting di republik ini.
Waktu itu, PPATK masih harus melakukan klarifikasi mengenai rekening itu dengan melakukan pengecekan ke bank, mencocokkan data-data nama tersebut, apakah benar-benar dengan tokoh yang dimaksud.
PPATK juga berusaha mencocokkan nama itu dengan data-data lain, seperti tanggal lahir dan nomor kartu tanda penduduk.
Pada laporan ketiga ini, ada beberapa nasabah yang menarik dana di Bank Century, dimana nama nasabah itu sama dengan nama tokoh penting di republik ini. Tidak hanya satu, tapi beberapa.
Menurut sumber INILAH.COM di DPR, dalam laporan PPATK itu, tercantum beberapa nama yang sama dengan nama-nama tokoh penting di republik ini. Hanya saja, alamat dan pekerjaannya berbeda.
Di laporan itu disebutkan, ada seorang wanita, yang namanya sama dengan nama pejabat penting di republik ini. Tapi, pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dan tinggal di Medan.
Ada juga seorang nasabah lelaki, yang namanya sama dengan nama tokoh partai politik di republik ini. Tapi, pekerjaannya wiraswasta dan tinggal di Medan.
Selain itu, ada juga nasabah laki-laki, yang namanya sama dengan nama mantan pejabat penting di republik ini, tapi tinggal di Muara Karang dan pekerjaannya sebagai distributor atau supplier.
Ada juga nama wanita, yang namanya sama dengan nama tokoh penting di republik ini. Tapi, tinggalnya di Pasar Pagi, Bagan Siapi-api.
Saat nama-nama itu dikonfirmasi ke Ketua Pansus Hak Angket, Idrus Marham, dia menolak berkomentar:''Nggak boleh itu, nggak boleh!''
Sementara, Wakil Ketua Pansus Century, Gayus Lumbun mengaku bahwa dia memang sudah mendapatkan laporan PPATK yang di dalamnya ada nama-nama yang sama dengan nama-nama tokoh penting di republik ini.
''Iya, kami sudah dapat nama-nama yang mirip dengan pejabat dari PPATK,'' kata Gayus yang juga tidak mau menyebutkan nama-nama itu.[ims]
Ruhut dan Gayus Kembali Berseteru, Keluar Kata 'Bangsat'
"Diam kau bangsat," ujar Ruhut kepada Gayus yang sedang memimpin sidang Pansus dengan agenda pemeriksaan saksi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/1/2010).
Kejadian berawal saat Ruhut meminta agar Gayus dapat mengatur waktu bertanya anggota pansus dengan baik. Menurut Ruhut, Gayus memberikan waktu yang lebih banyak kepada anggota fraksinya ketimbang fraksi yang lain.
"Pemimpin tegas dong, jangan nanti PDIP sampai dua jam. Masih ada enam fraksi lagi yang belum mendapat giliran," ujar Ruhut.
Interupsi Ruhut dihentikan oleh Gayus dengan alasan ia sudah bisa menangkap maksud artis sinetron tersebut. Ruhut sontak tidak terima, dan keributan akhirnya menyengit.
"Saya sampai jam empat pagi juga sanggup, tapi tolong diatur yang benar. Jangan nanti pimpinan keluar lagi," sindir Ruhut.
"Memang Anda pernah lihat saya keluar," balas Gayus dengan nada tinggi.
Ruhut menilai Gayus terlalu otoriter memimpin rapat. Smentara tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba saja Ruhut menyinggung gelar profesor Gayus. Emosi guru besar Universitas Krisnadwipayana ini pun kian tersulut.
"Anda jangan kurang ajar nyebut-nyebut profesor," kata Gayus meradang.
"Kalau nggak senang lempar palu ke aku," tantang Ruhut.
Gayus menuding Ruhut selalu menggangu jalannya rapat dengan pernyataan-pernyatannya dan meminta partainya menariknya dari keanggotaan pansus.
"Nggak ada hubungan, saya demokrat, Anda PDIP," sambar Ruhut.
Dalam pertengkaran yang semakin menyengit inilah, akhirnya kata-kata kotor keluar dari mulut Ruhut. Kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh anggota Dewan yang katanya terhormat.
(lrn/mok)
Gayus: Ruhut Dikondisikan untuk Tumpulkan Pansus
"Banyak temen-temen yang bilang ini dikondisikan agar tumpulnya suara-suara pansus. Itu yang lebih saya khawatirkan daripada saya harus marah dan mengambil tindakan," kata Gayus Lumbuun.
Hal itu disampaikan Gayus saat jeda rapat pansus dengan agenda pemeriksaan saksi mantan pejabat BI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/1/2010).
Sebelum jeda rapat, Gayus yang sedang memimpin sidang berseteru dengan Ruhut. Politisi nyentrik itu sempat melontarkan kata 'bangsat' kepada Gayus. Namun, atas perlakuan tersebut, Gayus enggan menggunakan kewenangannya sebagai pimpinan untuk mengusir Ruhut dari ruang rapat.
"Saya tidak mau merubah suasana rapat. Sulit kalau menghadapi pemain sinetron," kata Gayus.
Gayus mengaku merasa terganggu dengan sikap Ruhut yang selalu memotong pembicaraan. Ia pun mempersilakan wartawan menanyakan hal itu kepada anggota satu persatu.
"Boleh dicek satu persatu, sangat terganggu," kata politisi PDIP ini.
Dalam rapat pemeriksaan pansus dengan saksi mantan pejabat BI, Sabar Anton Tarihoran, kemarin, Gayus bahkan terang-terangan menyebut kehadiran Ruhut di pansus dilindungi Partai Demokrat.
Buku George Dinilai Hanya Lelucon Politik
Jakarta (ANTARA News) – Mantan aktivis mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Hendra Ratu Prawira menilai buku berjudul “Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Bank Century” karangan George Junus Aditjondro yang diterbitkan oleh sebuah penerbitan di Yogyakarta hanya sebuah lelucon politik semata.
“Buku ini kalau saya menilai hanya ingin mencari sensai dan menarik perhatian publik. Hal yang sama juga pernah dilakukan George sekitar 17 tahun silam,” katanya di Jakarta, Selasa.
Menurut ia, sekitar 17 tahun lalu saat saya menjadi penyelenggara sebuah seminar di kampus UII Yogyakarta saya dan mahasiswa lainya malah "ketiban apes" atas kelakuan George.
"Saat itu kami mengadakan seminar yang bertema “Urgency pembangunan politik di Indonesia” yang salah satu pembicaranya menghadirkan George Junus Aditjondro. Namun, pada saat itu juga George malah me-launching Buku tentang harta kekayaan mantan Presiden Soeharto yang tidak jelas sumbernya," ujarnya.
“Dengan peristiwa tersebut kami pihak penyelenggara justru berurusan dengan Polda DIY. Karena tidak akurasinya data tersebut kami berulang kali dipanggil ke Polda untuk menjalani pemeriksaan," katanya.
Hendra Prawira menjelaskan, hal yang sama justru malah dilakukan George di penghujung tahun 2009. George malah menulis buku yang tidak jelas sumbernya dan merugikan pihak lain.
Ia sependapat jika sejumlah instansi seperti LBKN ANTARA ingin melakukan somasi kepada George. Karena setiap instansi ataupun peorangan yang merasa dirugikan namanya bisa meminta perlindungan hukum.
Hendra menyatakan, implikasi yang ditimbulkan oleh buku setebal 183 lembar ini banyak menimbulkan mosi tidak percaya masyarakat jika mereka membacanya secara mentah-mentah serta pihaknya juga mendesak agar George mau segera merivisi buku karanganya tersebut sebelum banyak beredar di kalangan masyarakat.
"Tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak tertentu yang ingin memanfaatkan George dengan bukunya ini. Pemerintah diminta bersiap siap saja dengan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan adanya buku karangan George ini," katanya.(*)
Syamsu: Buku Membongkar Gurita Cikeas Harus Diteliti
Jakarta (ANTARA News) - Mantan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel), Mayjen TNI (Purn) Syamsu Djalal, menyatakan buku "Membongkar Gurita Cikeas; Di balik Skandal Bank Century" karangan George Junus Aditjondro, harus diteliti dahulu kebenarannya.
"Seharusnya buku itu diteliti dahulu, baru dikomentari," katanya, di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan jika dari hasil penelitiannya bahwa isinya hanya "ngarang" saja atau tanpa bukti. "Maka itu keterangan palsu," katanya.
Sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) mengaku masih mengkaji buku berjudul "Membongkar Gurita Cikeas; Di balik Skandal Bank Century" karangan George Junus Aditjondro.
"Kejaksaan masih melakukan penelusuran dan pengkajian buku Membongkar Gurita Cikeas," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Didiek Darmanto, di Jakarta, Senin.
Kapuspenkum menyatakan tim "clearing house" atau interdep yang terdiri dari Kejagung, Polri, BIN, Menkominfo dan MUI, akan bekerjaama untuk melakukan kajian terhadap beredarnya buktu tersebut.
"Parameter pengkajian apakah buku itu telah mengganggu ketertiban umum dan harus dihubungkan dengan dasar-dasar tata tertib kehidupan rakyat dan negara pada suatu saat seperti merusak kepercayaan masyarakat terhadap pimpinan nasional, merugikan akhlak dan meresahkan masyarakat," katanya.(*)
Gurita Jerat Aditjondro gara-gara Gaplok-gaplokan :) oalah Nasib-nasib
Jurus Apa yang dipakai GJ Aditjondro waktu menggaplok Ramadhan Pohan?
- Menghindari makan GURITA dan sejenisnya seperti Cumi cumi, terutama yang berasal dari wilayah CIKEAS BOGOR.
- Melakukan bedah plastik pada area muka dan sekitarnya, untuk menghilangkan jejak gambar buku tersebut.
- Dirawat inap selama 2 minggu, untuk menghindari adanya pukulan lanjutan dari saudara GJA. atau menunggu emosi GJA sedikit menurun.
- Memakai kumis palsu sebagai kompensasi kerontokan kumis akibat pemukulan tersebut. Disertai dengan pemakaian "Lidah Buaya" secara teratur setiap harinya.
- Melakukan test kekuatan jantung yang masih shock akibat insiden tersebut dengan cara meledakan petasan cabe rawit sebanyak-banyaknya pada rongga hidung dan mulut.
