Showing posts with label Cicak. Show all posts
Showing posts with label Cicak. Show all posts

Cicak: Susno Hebat Bisa Menentang Polri

INILAH.COM



INILAH.COM, Jakarta - Mantan Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duadji telah bersaksi untuk terdakwa Mantan Ketua KPK Antasari Azhar. Susno dinilai hebat karena berani menantang Polri.

"Kalau tahu resikonya memberikan keterangan yang bertentangan dengan institusinya, berarti dia orang hebat," kata Ketua Tim Pengacara Pimpinan KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah dalam kasus Cicak Vs Buaya, Bambang Widjojanto, kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (8/1).

Kesaksian Susno dalam sidang kasus pembunuhan bos PT Rajawali Putra Banjaran Nasrudin Zulkarnaen, sepenuhnya bertentangan dengan Polri. Menurut Bambang, Susno dalam kesaksian di Pengadilan, mengklarifikasi keterangan Mantan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Wiliardi Wizard, yang juga menjadi terdakwa kasus pembunuhan tersebut. Wiliardi mengaku ditekan oleh atasannya untuk merubah Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dirinya.

Bambang menilai, apa yang dilakukan Susno dengan menjadi saksi yang meringankan Antasari, merupakan suatu kejanggalan. "Terus terang saja agak janggal, bahwa seorang perwira tinggi di Polri bersaksi yang tidak memberi keuntungan institusi kepolisian. Karena di dalam kepolisian ada sistem komando," katanya.

Susno telah memberikan kesaksian yang tidak menguntungkan institusinya dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 7 Januari kemarin. Susno mengakui adanya perlakuan berbeda, terhadap Wiliardi di dalam tahanan. Menurut pengakuan Susno, jam besuk kepada Wiliardi dikurangi dari jadwal yang telah ditetapkan. [mut]

Blogged with the Flock Browser

Buntut Buaya-Cicak

RakyatMerdeka - Berita Foto : BUNTUT BUAYA-CICAK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diberi waktu selama dua pekan untuk Anggodo Widjaja sebagai tersangka kasus penyuapan. Desakan ini disampaikan Direktur Eksekutif The Indonesia Legal Resouces Center, Uli Parulian Sihombing, aktivis Indonesian Corruption Watch, Ilian Deta Sari dan Febri Diansyah, serta Direktur Pusat Study Hukum dan Kebijakan Indonesia, Ery Nugroho. ANDRI NURDRIANSYAH/RM
Blogged with the Flock Browser

Perempuan Perang Lawan Korupsi, Erry Bentangkan Spanduk di KPK

detikNews



Jakarta - Beberapa aktivis perempuan yang tergabung ke dalam koalisi Cintai Indonesia Cintai KPK (Cicak) siap menyatakan sikapnya melawan korupsi. Mereka akan mendeklarasikan perang melawan musuh masyarakat tersebut sekaligus memperingati Hari Ibu.

"Hari Ibu tidak cukup hanya dengan memakai kebaya dan konde, kita ingin mengajak perempuan bergerak melawan korupsi," ujar salah satu aktivis Cicak Ilian Deta Artasari saat dihubungi pada Selasa (22/12/2009).

Menurut Ilian, kaum perempuan juga harus diingatkan soal pemberantasan korupsi. Pasalnya, koruptor tidak hanya didominasi oleh kaum pria saja.

"Contohnya ada Artalyta (Suryani) dan Darmawati (Dareho)," jelas Ilian.

Menurut rencana, acara akan diadakan di Gedung KPK pukul 09.00 WIB. Ikut hadir juga sejumlah artis seperti Rima Melati, Oppie Andaresta dan Bunda Iffet (Ibunda Kaka Slank). Betty Alisjahbana juga dijadwalkan akan hadir.

Nantinya, Cicak akan membentangkan spanduk raksasa berukuran 20x20 meter dengan berat hampir 200 kg di samping Gedung KPK. Spanduk itu secara khusus didesain oleh seniman kontemporer asal Yogyakarta, Eko Nugroho.

Spanduk tersebut nantinya diturunkan dari ketinggian Gedung KPK hingga terbentang lebar. "Salah satu yang jadi pemanjatnya (pembentang-red) adalah Pak Erry (Riyana Hardjapamekas, mantan wakil ketua KPK)," tandasnya.

Cicak Lawan Buaya - Teten Masduki

Sumber : KAMI CICAK!


Oleh Teten Masduki


Kau seperti bis kota atau truk gandengan
Mentang-mentang paling besar klakson sembarangan
Aku seperti bemo atau sendal jepit
Tubuhku kecil mungil biasa terjepit
Pada siapa ku mengadu?
Pada siapa ku bertanya?
Kau seperti buaya atau dinosaurus
Mentang-mentang menakutkan makan sembarangan
Aku seperti cicak atau kadal buntung
Tubuhku kecil merenghil sulit dapat untung
Pada siapa ku mengadu?
Pada siapa ku bertanya?
Mengapa besar selalu menang?
Bebas berbuat sewenang-wenang
Mengapa kecil s’lalu tersingkir?
Harus mengalah dan menyingkir
Apa bedanya besar dan kecil?
Semua itu hanya sebutan
Ya, walau di dalam kehidupan
Kenyataannya harus ada besar dan kecil


Beredar, Batik Cicak Lawan Korupsi


"Tadinya kita mau buat motif buaya dan cicak besar, tapi banyak yang geli."
Selasa, 17 November 2009, 10:21 WIB Elin Yunita Kristanti

Batik Cicak versus buaya (Kiriman Eko Haryanto)
VIVAnews - Gerakan 'Cinta KPK Cinta Indonesia' atau CICAK jadi inspirasi motif batik.

Di Pekalongan, Jawa Tengah, saat ini sudah diproduksi motif batik cicak dan buaya yang digambar kecil-kecil, salah satunya dibuat dalam bentuk kemeja.

Di saku kemeja itu terdapat simbol cicak bertuliskan "Saya Cicak Lawan Korupsi".

"Cicak itu kan gerakan masyarakat, cinta Indonesia cinta KPK. Momentum ini jangan sampai dilupakan," kata aktivis CICAK Jawa Tengah, Eko Haryanto kepada VIVAnews, Selasa 17 November 2009.

Selain mengkampanyekan CICAK, kata Eko, pembuatan batik tersebut juga untuk menggerakan roda perekonomian pengusaha kecil batik. "Gerakan pemberantasan korupsi juga untuk membantu pengrajin batik," lanjut dia.

Dijelaskan Eko, motif cicak dan buaya dalam batik sengaja dibuat kecil-kecil dan tak terlalu jelas. Sebab, "tadinya kita mau buat motif buaya dan cicak besar, tapi banyak yang geli," kata dia.

Akhirnya, tambah Eko, pengrajin Pekalongan mengusulkan agar motif dibuat lebih halus.

"Kalau gede-gede [motif buaya dan cicak] orang yang mau beli ngeri duluan," kata dia.

Kemeja batik cicak dan buaya ini dilempar dengan harga Rp 60.000 perlembar, awalnya untuk kalangan terbatas. Tapi, kata Eko, batik motif ini akan dilempar ke pasaran.

"Jika lambang di saku kemeja dicopot, batik ini bisa dipasarkan ke mana-mana. Ini motif baru," tambah dia.

Temuan Tim 8 - Ritonga Pasien Pijit Ong Yuliana

Luhur Hertanto - detikNews


Jakarta - Salah seorang tokoh kunci kasus dugaan suap terhadap pimpinan KPK ada Ong Yuliana Gunawan. Uniknya sejauh ini tidak ada kabar adanya upaya aparat penegak hukum terhadap pencatut nama Presiden SBY tersebut.

Di dalam dokumen Laporan dan Rekomendasi Tim 8, diketahui bahwa Ong Yuliana berprofesi sebagai tukang pijit. Eks Jampidum Abdul Hakim Ritonga mengakui perkenalan wanita beraksen Surabaya itu berawal dari keluhan penyakit yang dia dideritanya. Berikut ini petikan laporan Tim 8 di halaman 14 :

"Ritonga memberikan keterangan antara lain tentang hubungan perkenalannya dengan Yuliana; seputar penyakit yang dialaminya sehingga dikenalkan pada Yuliana sebagai tukang pijat. Tim 8 mempertanyakan kepada Ritonga tentang rekaman pembicaraan KPK terkait dengan pernyataan Yuliana bahwa dirinya didukung oleh RI 1; posisi Jampidum dalam kasus Chandra dan Bibit; maksud ‘kata duren’, dan pijat yang dilakukan oleh Yuliana kepada Ritonga."

Namun tampaknya hubungan antara pasien dengan pemijit itu berkembang lebih dalam dan menjurus ke arah kerja sama makelar kasus. Paling tidak hal ini terungkap dari rekaman pembicaraan telepon antara Ong Yuliana dengan Anggodo Widjojo yang disadap KPK yang diperdengarkan dalam sidang di MK.

Di dalam rekaman tersebut Ong Yuliana menyatakan kepada Anggodo bahwa Ritonga didukung oleh Presiden SBY dalam proses hukum kasus Bibit-Chandra.

Ikhwal perkenalan antara Ong Yuliana dengan Anggodo kurang lebih sama dengan Ritonga. Yaitu hubungan antara pemijit urat syaraf dengan pasiennya. Belum diketahui apakah Ritonga atau Anggodo yang lebih dahulu mengenal Ong Yuliana, mengingat ketiga orang ini pernah menetap di Surabaya.

Sejak diperdengarkannya rekaman pembicaraan telepon dengan Anggodo 3 November lalu, hingga kini Ong Juliana belum diketahui kebedaraannya. Anggodo menyebut Yuliana ada di Brunei.

Laporan dan Rekomendasi Tim 8



Cicak - Kesimpulan dan Rekomendasi Tim 8



Silakan disebarluaskan melalui media apapun. Tim Pembela Bibit-Chandra mendapat dokumen ini dari Denny Indrayana, Sekretaris Tim 8. Menurut Denny, Presiden telah menyampaikan bahwa laporan ini sudah menjadi dokumen publik, dan untuk menegaskan prinsip transparansi sebagai salah satu pilar good governance, maka laporan ini dibuka untuk masyarakat luas.

SBY Diminta Tunggu Hasil Rapat DPR dengan KPK, Polri, dan Kejagung

Selasa, 17/11/2009 10:34 WIB
Laurencius Simanjuntak - detikNews


Foto: detikcom
Jakarta - Anggota Komisi III DPR dari FPDIP Panda Nababan berharap Presiden SBY menunggu kesimpulan rapat kerja antara Komisi III dengan KPK, Polri, dan Kejagung, sebelum memutuskan akan menerima atau tidak rekomendasi Tim 8. Raker itu digelar Rabu (18/11/2009).

"Besok Komisi III akan mengadakan rapat kerja dengan Kejagung, Polri, dan KPK, ini belum pernah terjadi. Sebaiknya Presiden menunggu kesimpulan kita besok," kata Panda saat ditemui wartawan di sela-sela rapat Paripurna DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (17/11/2009).

Menurut Panda, DPR juga memiliki hak untuk memberikan masukan kepada Presiden. DPR juga memiliki fungsi kontrol terhadap ketiga lembaga penegak hukum tersebut.

"Secara konstitusi DPR punya tugas untuk melakukan pengawasan terhadap KPK, Polri, dan Kejagung. Ini bisa jadi second opinion buat Presiden," ujar politisi PDIP ini.

Terlebih, Panda menambahkan, dalam rapat kerja besok Komisi III akan melakukan kroscek data terkait perbedaan pandangan antara ketiga institusi hukum tersebut.

Lalu bagaimana nasib rekomendasi Tim 8? "Kita menghargai itu karena itu bentukan Presiden, tapi alangkah arifnya Presiden menunggu kesimpulan kami," argumen Panda.

Menurut jadwal, SBY akan menerima Tim 8 pada pukul 14.00 WIB. Banyak kalangan mendesak agar SBY menindaklanjuti rekomendasi Tim 8 apa pun hasilnya.

Video Clip Cicak Nguntal Boyo by Chebolang


Lagu tersebut marak sekali diupload di Youtube dengan beragam slide oleh beragam user Youtube, kini si pembuat lagu membuat video klip sendiri serta merilis RBT lagu tersebut.
Apakah penampilan chebolang semanarik lagunya, silahkan anda nilai sendiri.
Yukkkk nguntal baya....
:)
----------------------------------------
Narasi :
Video klip ini saya produksi untuk mendukung promosi lagu 'Cicak Nguntal Boyo'. Selanjutnya, saya juga memproduksi ring back tone (RBT) yang semua hasil penjualannya akan saya sumbangkan untuk kampanye anti korupsi.

Evan Brimob (Arsip)

Nggak sempat ngikutin cerita ini, akhirnya dapat screenshot postingan yang bersangkutan. Semoga saja cicak kecil tidak jadi ditelan buaya.

Tawaran 10 Buat Sang Jendral



Source : http://tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/11/13/grf,20091113-226,id.html

Banting "Buaya" Berbuntut

Minggu, 15 November 2009 | 02:35 WIB

Kata "buaya" menjadi sensitif di tengah perseteruan KPK vs Polri. Betapa tidak, hanya karena menjadikan "buaya" sebagai mainan, Kepala Sekolah Menengah Pertama Keluarga di Kudus, Jawa Tengah, M Basuki Sugita, Sabtu (7/11), terpaksa membatalkan tidur siang karena dua kali kedatangan tamu dari kepolisian setempat.
"Kami dapat perintah atasan saya di Pati untuk menanyakan kebenaran lomba banting 'buaya' seperti yang muncul di berita siang sebuah tv swasta," kata petugas sambil mengenalkan diri.
Petugas berpakaian preman itu kemudian menyiapkan kertas dan pulpen layaknya pembuatan BAP (berita acara pemeriksaan). Ia menyimak kalimat demi kalimat yang diungkapkan oleh Basuki.
Diakui pagi hari sebelumnya, siswa SMPK Kudus sebanyak 200-an orang pada jam pelajaran pendidikan antikorupsi (PAK) mengadakan acara gelar tanda tangan dukung KPK. Pada akhir acara diadakan lomba banting "buaya" yang diikuti beberapa siswa. Lomba itu hanya bersifat simbolis.
"Buaya" yang dimaksud terbuat dari bahan (sejenis) karet dengan panjang sekitar 10 cm dan dijual seharga Rp 10.000 per buah sekaligus mudah ditemukan di pasar malam Gebyar Raya Kudus 2009 yang tengah digelar di halaman GOR Wergu Wetan, Kudus. Ada "buaya" warna hitam, coklat, dan kuning. Untuk menarik minat pengunjung, pedagang di pasar malam selalu berteriak: "Ayo banting buaya", sambil membanting "buaya" karet ke tengah papan.
Jika dibanting di tempat keras, sang "buaya" akan memanjang—karena pengaruh energi panas—sebelum kemudian kembali mengecil seperti bentuk semula. Karena lucu dan menarik itulah barang mainan ini diikutsertakan dalam acara di SMPK Kudus. Siapa yang mampu membanting "buaya" menjadi panjang melebihi ukuran asli dinyatakan sebagai pemenang.
Kegiatan di SMPK Kudus tertayang di berita siang sebuah tv swasta sehingga terlihat oleh Polwil Pati yang langsung menindaklanjuti dengan permintaan keterangan kepada pihak penyelenggara lewat Polres Kudus.
"Mungkin banting 'buaya' dianggap menyudutkan salah satu instansi. Padahal di depan anak-anak, kami berkata bahwa 'buaya' di sini sebagai simbol pelanggaran penegakan hukum. Siapa saja yang salah perlu 'dibanting' termasuk KPK," kata Basuki menjelaskan.
Keterangan yang ia berikan agaknya cukup memuaskan tamu yang telanjur bertandang ke rumahnya.
Yang pasti, tidur siang Pak Kepala Sekolah jadi terganggu gara-gara "buaya" mainan.... (POM)


Ada Kasus, Juga Rekayasa



Source : http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/11/11/grf,20091111-224,id.html

Operasi Khusus Membungkam Cicak!


Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/11/12/grf,20091112-225,id.html

Rekayasa Buaya Terhadap Cicak versi Tempo



Source : http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/09/28/grf,20090928-210,id.html

Polri Diminta Putar Utuh Video Antasari

Polri Diminta Putar Utuh Video Antasari
"Ini yang kita lihat lebih pada pencitraan. Pasti, nggak mungkin diungkapkan tanpa tujuan.
Jum'at, 13 November 2009, 07:28 WIB
Elin Yunita Kristanti
Rekaman pemeriksaan Antasari Azhar milik Mabes Polri (ANTARA/Fanny Octaviani)
VIVAnews - Kepolisian RI menjawab tudingan kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan cara memutar dua rekaman Antasari Azhar.

Salah satu video memperlihatkan gambar Antasari Azhar dalam balutan baju tahanan sedang duduk di tengah penyidik kepolisian. Antasari mengatakan, "dan saya pribadi akan katakan, cepat atau lambat, saya akan keluar. Selesai maksudnya. Mungkin saya orang pertama yang akan mengatakan, tidak diperlukan lagi KPK. Saya akan bicara itu."

Kuasa hukum Antksasari, Maqdir Ismail mengaku berada bersama Antasari ketika cuplikan video tersebut dibuat.

"Saya tidak ingat apakah dalam proses pemeriksaan atau sebelum pemeriksaan," kata Maqdir dalam perbincangan di tvOne, Jumat 13 November 2009.

Kata dia, konteks pernyataan Antasari bukan seperti yang diungkap polisi, bahwa Antasari ingin membubarkan KPK.

"Konteksnya kita bicara bahwa andaikata polisi dan kejaksaan melaksanakan tugas dengan baik dan dipercaya, lembaga ad hoc seperti KPK mestinya tidak ada lagi," ungkap Maqdir.

Menurut Maqdir, pasti ada tujuan polisi mengungkap cuplikan video tersebut. "Ini yang kita lihat lebih pada pencitraan. Pasti [ada tujuan], nggak mungkin diungkapkan hanya itu saja tanpa tujuan,"jelas dia.

Sementara, pakar telematika yang kini jadi anggota DPR RI, Roy Suryo mengatakan sebaiknya Polri memutar utuh rekaman Antasari tersebut di persidangan. "Hati-hati dengan konteks," kata dia.

Namun, jelas dia, apa yang dilakukan Polri tidak salah. "Mungkin sebagai trigger [pemicu], kemudian akan diputar utuh dalam sidang," tambah dia.

Video itu ditunjukkan Polri kepada publik untuk menjawab reaksi publik yang menyudutkan kepolisian tengah berupaya melakukan kriminalisasi terhadap KPK. Hal itu mencuat setelah polisi menetapkan tiga pimpinan KPK sebagai tersangka.

Tiga pimpinan itu adalah Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah yang menjadi tersangka kasus penyuapan, serta Antasari Azhar yang menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan.

"Sekarang lihat, siapa sebenarnya yang ingin mengucilkan, mengerdilkan KPK," kata Juru Bicara Polri, Inspektur Jenderal Nanan Soekarna.

Istri Wiliardi, Nova Wiliardi - "Dia ada di dalam kamar mandi membawa handuk kecil. Saya dengar dia menangis."

Istri Wiliardi, Nova Wiliardi
"Polisi Mungkin Khawatir Wiliardi Bunuh Diri"
"Dia ada di dalam kamar mandi membawa handuk kecil. Saya dengar dia menangis."
Jum'at, 13 November 2009, 08:52 WIB
Elin Yunita Kristanti
Sidang Pembunuhan Nasrudin : Wiliardi Wizard (FOTO ANTARA/Rosa Panggabean)
VIVAnews - Wiliardi Wizar memberikan kesaksian mengejutkan dalam sidang terdakwa Antasari Azhar. Wiliardi mengaku dirinya diarahkan untuk membuat keterangan palsu yang mengarahkan Antasari sebagai pelaku pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Istri Wiliardi, Nova Wiliardi mengaku tak ada tekanan polisi pada suaminya pasca memberikan pernyataan menghebohkan itu. Wiliardi pun merasa lebih lega.

"Mungkin karena yang terpendam selama ini ke luar. Di balik itu [pengakuannya], dia sangat cinta dengan institusinya, yang dia ungkap adalah oknum," kata Nova dalam perbincangan dengan tvOne, Jumat 13 November 2009.

Masalah yang mendera suaminya, jelas Nova, diawali saat pemeriksaan Wiliardi di Propam Polri.

Penyidik, kata dia, meminta suaminya menandatangani sesuatu. "Bahasanya bukan tekanan tapi bujukan, rayuan," kata Nova.

Saat itu, tambah dia, Wiliardi yang dia kenal kuat, runtuh. "Suami saya sangat depresi, pikiran labil, saya berulang-ulang katakan, tolong pikirkan kembali," kata Nova.

"Saya berulang mengatakan ke penyidik, kenapa mesti suami saya. Kenapa harus pengakuan suami saya yang menyatakan ada perintah dari Antasari," tambah perempuan berambut panjang itu.

Nova khawatir suaminya akan dihukum berat. Namun, kata dia, oknum polisi di sana hanya mengatakan, "nggak apa-apa, kami yang atur."

Setelah itu, jelas dia, emosi Wiliardi makin jatuh. "Waktu saya berkunjung ke tahanan, dia ada di dalam kamar mandi membawa handuk kecil. Saya dengar dia menangis," kata Nova.

"Dia tidak pernah menangis, saya kaget melihat dia seperti itu," tambah dia.

Setelah itu, Nova mengaku melaporkan kondisi suaminya pada petugas dan meminta petugas menyingkirkan benda-benda tajam atau pecah-belah. "Petugas takut bunuh diri mungkin, suami saya dipindahkan ke Bareskrim, tidak ada alasan jelas," tambah dia.

Saat ini, kata Nova, dia berharap ada keadilan bagi suaminya. "Jangan ada yang dikorbankan. Apapun risikonya kami siap," tambah dia.

***
Dalam persidangan Antasari, Williardi mengungkap bahwa penyidikan kasus itu diskenariokan untuk menjebak Antasari sebagai otak pembunuhan.

"Demi Allah, saya bersumpah, sasaran kita hanya Antasari," kata Williardi menirukan pernyataan penyidik kepolisian saat memproses Berita Acara Pemeriksaan miliknya. "Saya diperlihatkan BAP Sigit, dibacakan pada saya, kata penyidik kita samakan saja."

Williardi mencabut sejumlah poin kesaksiannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Ia merasa kesaksiannya dalam BAP yang dibuat di hadapan sejumlah petinggi Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya penuh kebohongan. Kontan kesaksian Williardi itu membuat suasana persidangan memanas. Dan, hakim terpaksa menskors sidang.
• VIVAnews

Anda Mau Numpang Tenar? Jadilah Markus Yulianto

INILAH.COM - Karikatur

Don't Cry For Me Indonesia

INILAH.COM - Karikatur

Tukul Love KPK

INILAH.COM - Karikatur