Showing posts with label sultan. Show all posts
Showing posts with label sultan. Show all posts

Gerakan Mendukung Sultan HB X Dideklarasikan

05/12/2008 06:17 - Pemilu 2009
Gerakan Mendukung Sultan HB X Dideklarasikan

Liputan6.com, Jakarta: Sebuah gerakan untuk mendukung pencalonan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai calon presiden 2009 dideklarasikan di Jakarta, Kamis (4/12). Gerakan bernama Tim Pelangi Perubahan ini didukung penyanyi Franky Sahilatua.

Sejak mendeklarasikan diri sebagai Capres 2009, Sultan gencar menggelar berbagai kegiatan politik. Mulai dari road show politik ke sejumlah daerah di Tanah Air hingga mendekati sejumlah partai politik. Salah satu yang sedang didekati adalah Gerakan Kebangkitan Rakyat yang dideklarasikan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Namun, berbagai kegiatan politik Sultan ini dikritik pengamat politik Lingkar Madani, Ray Rangkuti. Menurut Ray, Tim Pelangi Perubahan tak akan bermakna bila tidak mempunyai dukungan partai besar. Jadi bila tak mendapat tambahan dukungan dari partai lain, berat bagi Sultan berlaga di arena pemilihan presiden 2009.

Kecuali, kata Ray, Mahkamah Konstitusi merevisi Undang-undang Pilpres. Yaitu pasal tentang capres hanya bisa diajukan partai atau gabungan partai yang meraih 25 persen suara pemilih atau 20 persen kursi DPR.(BOG/Bimo Cahyo)


Sultan: Nggak Penting Dianggap SBY

clipped from www.inilah.com
Sultan: Nggak Penting Dianggap SBY
INILAH.COM, Jakarta - Raja-raja di Nusantara dikumpulkan Presiden SBY di Istana pada 29 November 2008. Namun Sultan HB X tidak diundang. Lantas apakah Sultan merasa tidak dianggap SBY? Rupayanya Sultan tak berkecil hati.

Nggak penting. Saya nggak tahu apakah saya masuk menjadi anggota raja atau nggak. Atau saya mungkin bukan seorang raja. Saya kan hanya sultan," cetus Sultan usai silaturahmi Dewan Integritas Bangsa di Gedung Juang, Jakarta, Kamis (4/12).

Ditanya apakah peristiwa itu menunjukkan SBY menganggap Sultan sebagai rival, Sultan hanya memberikan jawaban diplomatis. "Yang jelas saya memihak demokrasi dan menolak feodal," kata pria yang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai capres ini.

Mengenai kenapa tidak mendapatkan undangan, Sultan mengangkat bahunya. "Yah, kok tanya saya, tanya panitia dong. Tidak diundang, tidak ada reaksi, ya nggak apa-apa," pungkas Gubernur DIY ini.[sss]

blog it

Sultan Jadi Capres

clipped from www.inilah.com
Sultan Jadi Capres
28/10/2008 22:35
 blog it

KERATON MATARAM KARTA

Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

KERATON MATARAM KARTA

Karta, Kerta, atau Charta adalah nama sebuah dusun di wilayah Kalurahan Plered, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul, Yogyakarta (kurang lebih 4 kilometer arah selatan dari Kotagede). Karta dulunya adalah sebuah nama kompleks Keraton Mataram (setelah Mataram Kotagede). Keraton Mataram Karta dibangun oleh Sultan Agung. Waktu pembangunan keraton ini tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi mengingat Sultan Agung naik tahta sekitar tahun 1614-an, maka pada abad itulah kira-kira Karta dibangun. Ketika pembangunan Keraton Kerta dilakukan, Sultan Agung untuk sementara masih tinggal di dalam keraton ayah dan neneknya, yaitu di Kotagede.

Peninggalan-peninggalan Keraton Kerta dapat dikatakan sangat minim. Peninggalan yang minim itu pun tidak begitu banyak membantu untuk memperkirakan bagaimanakah kira-kira bentuk Keraton Kerta pada zamannya. Benda peninggalan yang dapat ditemukan di sana hanya berupa dua buah umpak/alas tiang yang terbuat dari batu andesit, sisa batuan berbentuk persegi yang diduga merupakan salah satu komponen batur. Umpak tersebut berbentuk prisma terpancung. Jumlah umpak tersebut semula adalah empat buah. Satu buah dibawa ke Taman Sari Yogyakarta dan digunakan sebagai alas tiang/umpak Masjid Saka Tunggal yang ada di kompleks Taman Sari Yogyakarta. Sedangkan umpak yang satu lagi berada di Desa Trayeman, Bantul.

Pada sisi selatan umpak-umpak tersebut terdapat struktur batu putih yang membujur ke arah timur-barat (sekarang sudah tidak kelihatan bekas-bekasnya). Selain peninggalan-peninggalan tersebut, ada lagi peninggalan yang lain yang berupa kompleks makam lama dan sisa-sisa masjid agung Kerta.

Situs Pleret

Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Situs Plered

Situs Plered merupakan bekas ibukota Mataram masa pemerintahan Sultan Agung.. Keraton Plered dapat dikatakan sudah tidak bersisa. Kini hanya menjadi nama kalurahan dan kecamatan di wilayah Kabupaten Bantul.

Di Plered ini juga terdapat Segarayasa, berasal dari kata segara (Laut) dan yasa (buatan) atau laut buatan. Secara harafiah diartikan sebagai telaga buatan. Konon dibuat oleh Sultan Agung untuk memenuhi permintaan Sang Permaisuri yang mempunyai keinginan agar dibuatkan laut yang mirip laut selatan. Permintaan ini dipenuhi dengan membuat telaga buatan di dekat Sungai Opak, tidak jauh dari Karaton Mataram yang waktu itu berada di Plered. Kini Segarayasa diabadikan sebagai nama desa di wilayah Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul.

TINGGAL NAMA: Keraton Plered tinggal nama, namun nama itu diabadikan menjadi nama dusun, desa, dan kecamatan di wilayah Kabupaten Bantul. Seperti yang terlihat di foto, Keputren tempat para puteri Mataram bersemanyam kini menjadi nama dusun.

TAMBAK SEGARAYASA: Bekas-bekas tambak/bedheng Segarayasa masih dapat ditemukan di kawasan Segarayasa, Plered, Bantul, Yogyakarta.

SUMUR GUMULING: Merupakan sumur kuno peninggalan kerajaan Mataram di Plered. Sampai sekarang sumur ini ramai dikunjungi peziarah yang meyakini berkah dari air sumur.

Situs Makam Ki Ageng Giring

Situs Makam Ki Ageng Giring

Makam Ki Ageng Giring III merupakan makam pepunden Mataram yang diyakini oleh sementara masyarakat sebagai penerima wahyu Karaton Mataram. Makam kuna itu terletak di Desa Sada, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, atau sekitar 6 kilometer ke arah barat daya dari kota Wanasari.

Menurut Mas Ngabehi Surakso Fajarudin yang menjabat jurukunci makam Giring, disebutkan bahwa Ki Ageng Giring adalah salah seorang keturunan Brawijaya IV dari Retna Mundri, yang hidup pada abad XVI. Dari perkawinannya dengan Nyi Talang Warih melahirkan dua orang anak, yaitu Rara Lembayung dan Ki Ageng Wanakusuma yang nantinya menjadi Ki Ageng Giring IV.

Pencarian wahyu Keraton Mataram itu konon atas petunjuk Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Giring disuruh menanam sepet (sabut kelapa kering), yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa yang menghasilkan degan (buah kelapa muda). Sedangkan Ki Ageng Pemanahan melakukan tirakat di Kembang Semampir (Kembang Lampir), Panggang, Gunung Kidul.

Menurut wisik 'bisikan gaib' yang didapat, air degan milik Ki Ageng Giring itu harus diminum saendhegan (sekaligus habis) agar kelak dapat menurunkan raja. Oleh karenanya Ki Ageng Giring berjalan-jalan ke ladang terlebih dulu agar kehausan sehingga dengan demikian ia bisa menghabiskan air degan tersebut dengan sekali minum (saendhegan). Namun sayang, ketika Ki Ageng Giring sedang di ladang, Ki Ageng Pemanahan yang baru pulang dari bertapa di Kembang Lampir singgah di rumahnya, dalam keadaan haus ia meminum air kelapa muda itu sampai habis dengan sekali minum.

Betapa kecewa dan masygulnya perasaan Ki Ageng Giring melihat kenyataan itu sehingga dia hanya bisa pasrah, namun ia menyampaikan maksud kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram. Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ke tujuh.

Versi lain menyebutkan bahwa Ki Ageng Giring ketika tirakat memperoleh Wahyu Mataram di Kali Gowang. Istilah gowang konon berasal dari suasana batin yang kecewa (gowang) karena gagal meminum air degan oleh karena telah kedahuluan Ki Ageng Pemanahan. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa kesempatan menjadi raja Mataram pupus sudah, tinggal harapan panjang yang barangkali bisa dinikmati pada generasi ke tujuh.

Hal itu berarti setelah keturunan Ki Ageng Pemanahan yang ke-6, atau menginjak yang ke-7, ada kemungkinan bagi keturunan Ki Ageng Giring untuk menjadi raja. Apakah Pangeran Puger menjadi raja setelah 6 keturunan dari Pemanahan ? Kita lihat silsilah di bawah ini.

Puger menjadi raja Mataram setelah mengalahkan Amangkurat III. Jika angka 6 dianggap perhitungan kurang wajar, yang wajar adalah 7, maka dapat dihitung Raden Mas Martapura yang bertahta sekejap sebelum tahtanya diserahkan ke Raden Mas Rangsang (Sultan Agung). Jadi pergantian keluarga berlangsung setelah 7 raja keturunan Ki Ageng Pemanahan.

Bukti bahwa Puger memang keturunan Giring dapat dilihat dalam Babad Nitik Sultan Agung. Babad ini menceritakan bahwa pada suatu ketika parameswari Amangkurat I, Ratu Labuhan, melahirkan seorang bayi yang cacat. Bersamaan dengan itu isteri Pangeran Arya Wiramanggala, keturunan Kajoran, yang merupakan keturunan Giring, melahirkan seorang bayi yang sehat dan tampan. Amangkurat mengenal Panembahan Kajoran sebagai seorang pendeta yang sakti dan dapat menyembuhkan orang sakit. Oleh karena itu puteranya yang cacat dibawa ke Kajoran untuk dimintakan penyembuhannya. Kajoran merasa bahwa inilah kesempatan yang baik untuk merajakan keturunannya. Dengan cerdiknya bayi anak Wiramanggala-lah yang dikembalikan ke Amangkurat I (ditukar) dengan menyatakan bahwa upaya penyembuhannya berhasil.

Sudah ditakdirkan bahwa Amangkurat III, putera pengganti Amangkuat II berwatak dan bernasib jelek Terbukalah jalan bagi Pangran Puger untuk merebut tahta. Sumber lain menceritakan silsilah Puger sebagai berikut:

Dengan demikian, benarlah bahwa pada urutan keturunan yang ke-7 keturunan Ki Ageng Giring-lah yang menjadi raja, meskipun silsilah itu diambil dari garis perempuan. Namun ini cukup menjadi dalih bahwa Puger alias Paku Buwana I adalah raja yang berdarah Giring.


PINTU GERBANG:
Inilah pintu gerbang kompleks makam Ki Ageng Giring III
di Desa Sada, Paliyan, Gunung Kidul.
Makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah pada malam Jumat,
khususnya malam Jumat Kliwon.


PINTU MASUK KEDUA:
Setelah para peziarah memasuki pintu gerbang,
mereka akan melewati makam para pengikut Ki Ageng Giring
yang berada di luar tembok.
Makam Ki Ageng Giring sendiri berada di dalam tembok
yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana IX.
Para peziarah dilarang memakai alas kaki jika memasuki kompleks ini.


BATU NISAN:
Di sinilah Ki Ageng Giring III dimakamkan.
Para peziarah dilarang mendekati batu nisan,
mereka hanya diperbolehkan berdoa di luar ruangan cungkup.
Pada umumnya para peziarah memohon agar diberi pangkat dan derajat.


KOMPLEKS MAKAM KI AGENG SUKADANA:
Sekitar 2 kilometer arah tenggara Makam Ki Ageng Giring III
terdapat kompleks makam Ki Ageng Sukadana.
Oleh sebagian penduduk, Ki Ageng Sukadana diyakini sebagai
nama lain dari Ki Ageng Giring II atau ayah dari Ki Ageng Giring III.
Berbeda dengan makam Ki Ageng Giring III, makam ini terlihat tidak terawat.
Cungkup Ki Sukadana terletak paling ujung.


BATU NISAN KI SUKADANA:
Sama dengan Ki Ageng Giring III, makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah.
Di tempat ini peziarah diperbolehkan masuk cungkup dan berdoa di sisi batu nisan.


SENDANG PITUTUR:
Sendang ini terdapat di utara (sekitar 3 kilometer) dari makam Ki Ageng Sukadana.
Menurut legenda penduduk setempat, sendang ini sering
dipakai mandi Ki Ageng Sukadana ketika ia masih hidup.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Kontrak politik terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47. Secara resmi pada tahun 1950, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (dan Kadipaten Pakualaman) menjadi bagian dari Indonesia, yaitu sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lambang Ngayogyakarta Hadiningrat


Kadipaten Paku Alaman

Kadipaten Paku Alaman didirikan pada tanggal 17 Maret 1813, ketika Pangeran Notokusumo, putra dari Sultan Hamengku Buwono I dengan Permaisuri Srenggorowati dinobatkan oleh Gubernur-Jenderal Sir Thomas Raffles (Gubernur Jendral Britania Raya yang memerintah saat itu) sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Paku Alam I. Status kerajaan ini mirip dengan status Praja Mangkunagaran di Surakarta.

Lambang Pakualaman

KPU Tangerang Jadi Pusat Pembelajaran Daerah Lain

TIGARAKSA - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tangerang benar-benar menjadi pusat studi banding dari daerah lain yang akan melaksanakan Pilkada.

KPU Kabupaten Tangerang dinilai berhasil melaksanakan Pilkada mengacu dengan UU Nomor 22 Tahun 2007. Jumat (4/1) kemarin, Pemkot dan KPU Kota Pariaman Sumatra Barat bertandang ke KPU Kabupaten Tangerang.
Tujuan dari kunjungan kerja itu untuk menimbang dan mencari pengalaman dari KPU Kabupaten Tangerang dalam rangka persiapan Pemilu Kota Pariaman yang rencananya tahun ini akan dilaksanakan. Hal ini diungkapkan oleh Plt Sekertaris Kota Pariaman Bachtiar Sultan.
“Insya Allah 28 Juli 2008 akan melaksanakan Pilkada, untuk itu kami diberikan saran oleh Pak Walikota Pariaman Mahyudin untuk study banding dan belajar mengenai semua hal ke KPU Kabupaten Tangerang yang sedang melaksanakan proses Pilkada dengan acuan UU No 22 tahun 2007,” ujar Bachtiar.
Bachtiar yang didampingi Asisten II Pariaman Drs Ridwan, Kepala Badan Kependudukan dan Capil Asril Nur, Kepala Satpol PP Drs Syamwir Ali, Kabag Linmas Syah Firman, dan rombongan KPU Kota Pariaman yang diketuai Alwy Ilyas meminta KPU Kabupaten Tangerang bisa memberikan seluruh informasi tentang pelaksanaan Pilkada.
“Kami ingin mengetahui penjelasannya dari mulai perencanaan, alokasi anggaran, dan sensus kependudukan serta pada persoalan teknis lainnya,” ujar pria berkacamata itu.
Ketua KPU Kota Pariaman Alwy Ilyas menambahkan bahwa dirinya masih bingung dengan dasar hukum yang harus digunakan. “Terus terang kami masih meraba-raba apakah kami harus mengacu pada tahapan KPU yang mengacu UU No 32 tahun 2004 atau UU No 22 tahun 2007. Kalau UU No 32 tahun 2004 Pilkada dilaksanakan selama 6 bulan, sementara aturan UU No 22 tahun 2007 selama 8 bulan,” ujarnya.
Ketua KPU Tangerang Jamaludin yang didampingi Sekertaris KPU Ahmad Surya Wijaya dan anggota lainnya mengungkapkan berbagai tahapan di KPU Tangerang.
Acara kunjungan kerja yang berakhir pukul 11.45 itu diakhiri dengan saling tukar cenderamata antara 2 lembaga pelaksana KPU. KPU Kota Pariaman memberikan plakat miniatur Kota Pariaman sementara KPU Tangerang memberikan beberapa buku regulasi dan beberapa majalah suara KPU Kabupaten Tangerang.
Diketahui sebelumnya, KPU Kabupaten Merangin Jambi, KPU Kabupaten Tasikmalaya, dan KPU Kabupaten Bekasi, juga telah mengujungi Tangerang (**/jas)