Showing posts with label Surakarta. Show all posts
Showing posts with label Surakarta. Show all posts

DPU tinjau kerusakan Masjid Agung

DPU tinjau kerusakan Masjid Agung: solopos.com
Petugas Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Solo meninjau langsung kondisi Masjid Agung Solo, Senin (19/10). Peninjauan dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan sekaligus perkiraan biaya perbaikan yang diperlukan.

Pelajar kirim pesan ke SBY-Boediono

Pelajar kirim pesan ke SBY-Boediono: solopos.com
Pelajar SMA St Yosef, Solo menempelkan berbagai pesan untuk Presiden dan Wakil Presiden terpilih SBY-Boediono di atas selembar poster berukuran besar di aula sekolah tersebut, Rabu (21/10). Pesan-pesan tersebut rencananya akan dikirimkan kepada Presiden SBY setelah melalui proses seleksi.

Presiden Kembali Tegur Ketua BPKP

Sumber : KORAN TEMPO

Presiden Kembali Tegur Ketua BPKP

Setelah itu, Hatta melapor kepada Presiden bahwa Didi sudah mengerti dan akan mematuhi apa yang telah digariskan tersebut.

SURAKARTA -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin kembali mengingatkan Ketua Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Didi Widayadi soal fungsi lembaga itu. Juru bicara kepresidenan Andi Alfian Mallarangeng kemarin mengatakan, Presiden meminta Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa menelepon Didi Widayadi untuk menyampaikan penegasan itu. Setelah itu, Hatta melapor kepada Presiden bahwa Didi sudah mengerti dan akan mematuhi apa yang telah digariskan tersebut.

"(Mereka itu) sebagai auditor internal pemerintah," kata Andi kemarin malam di Surakarta, di sela acara pertemuan antara Yudhoyono dan para pengusaha.

Karena posisinya sebagai auditor internal, kata Andi, keinginan BPKP untuk melakukan audit operasional terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi tidak sesuai dengan fungsinya. "Sudah jelas bahwa BPKP ikut sistem pemerintahan, sesuai dengan aturan undang-undang, yaitu auditor internal," katanya. Dalam kesempatan itu Andi juga kembali membantah anggapan bahwa rencana audit BPKP terhadap KPK itu merupakan perintah lisan dari Presiden Yudhoyono.

Rencana audit itu pertama kali diungkap oleh Didi saat ia bertandang ke kantor KPK, Kamis pekan lalu. Ketika itu ia menyatakan ada perintah langsung secara lisan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pernyataan Didi itu diprotes sejumlah kalangan. Bahkan berkembang anggapan bahwa audit tersebut merupakan upaya menggembosi kewenangan KPK.

Sehari kemudian, Yudhoyono pun mengeluarkan bantahan. "Saya juga terkejut mendengar laporan dari menteri dan staf, membaca media massa, bahwa seolah-olah ada perintah Presiden agar BPKP mengaudit KPK," kata Yudhoyono dalam jumpa pers di sela peringatan Hari Anti-Narkoba di Gelora Bung Karno. Presiden pun meminta Didi Widayadi menjelaskan kepada publik atas apa yang dilakukannya itu.

Pada hari berikutnya giliran Didi yang memberi penjelasan. "Tidak benar BPKP akan menggembosi KPK," ujarnya melalui siaran pers. UKKY PRIMARTANTYO | NININ DAMAYANTI

-----------------------------------------
Notes :
Isuk Dele sore Tempe. Apa ya klakon Presiden mencla-mencle?
Tak mungkinlah... ini pasti salah prosedur atau salah order.
:)

Kreatifnya Wong Jowo

Sumbere : Jawa Mode On

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya,semuanya adalah singkatan.

Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.

Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek.
Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya ,Sidoarjo, Lamongan),

Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen),

Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri, Wonosari, Bantul, Kulon Progo,Purworejo) ,atau

Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo hahahahaha.....

Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang, Kendal) atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten).

Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura,Delanggu)
atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap)

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang).
Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban. Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris (Parangtritis) ,atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem),bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong?
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.

Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter wakakakakakaa......

Wong Jowo emang ok yee , podo kreatif2 euy!

------------------------------------------

Notes : Ada yang bisa nambahin? :)

 

Keraton Yogyakarta Rayakan Idul Adha dengan Gunungan

10/12/2008 06:19 - Tradisi
Keraton Yogyakarta Rayakan Idul Adha dengan Gunungan

Liputan6.com, Yogyakarta: Berbeda dengan Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kesultanan Yogyakarta baru memperingati Hari Raya Iduladha pada Selasa (9/12). Peringatan grebeg besar ini ditandai dengan dikeluarkannya dua pasang gunungan dari dalam keraton yang berisi sayur mayur dan hasil bumi sebagai sedekah yang diberikan raja kepada rakyatnya.

Diiringi tembakan salvo dari prajurit keraton, dua pasang gunungan lanang dan gunungan wadon keluar dari halanan keraton dengan ditandu para abdi dalem keraton. Gunungan kemudian dibawa melintasi alun-alun utara keraton menuju halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Setelah dilakukan doa bersama yang dipimpin imam masjid, warga pun berhamburan berebut isi gunungan. Warga yang tidak kuat untuk ikut berebut rela mengambili isi gunungan yang jatuh ke tanah. Mereka masih percaya isi gunungan yang mereka dapat akan mendatangkan berkah dari yang Maha Kuasa.(ADO/Ferry Aditri)


Kadipaten Paku Alaman

Kadipaten Paku Alaman didirikan pada tanggal 17 Maret 1813, ketika Pangeran Notokusumo, putra dari Sultan Hamengku Buwono I dengan Permaisuri Srenggorowati dinobatkan oleh Gubernur-Jenderal Sir Thomas Raffles (Gubernur Jendral Britania Raya yang memerintah saat itu) sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Paku Alam I. Status kerajaan ini mirip dengan status Praja Mangkunagaran di Surakarta.

Lambang Pakualaman

Kasunanan Surakarta

Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri sebagai suatu kerajaan pecahan dari Kesultanan Mataram pada 13 Februari 1755, yaitu sebagai akibat dari ditanda-tanganinya Perjanjian Giyanti. Pemerintah Hindia Belanda dalam perjanjian tersebut juga mengakui Sunan Pakubuwana III sebagai raja yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri. Di awal masa kemerdekaan (1945-1946), bersama Praja Mangkunegaran sempat menjadi Daerah Istimewa Surakarta. Akan tetapi karena kerusuhan dan agitasi politik saat itu, maka pada tanggal 16 Juni 1946 oleh Pemerintah Indonesia statusnya diubah menjadi Karesidenan Surakarta, menyatu dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lambang Surakarta Hadiningrat

Masjid Agung Surakarta

Tokoh Antagonis Darmo Gandhul

Tokoh Antagonis Darmo Gandhul Tragedi Sosial Historis dan Keagamaan di Penghujung Kekusaan Majapahit”, ditulis oleh Nurul Huda didasarkan pada Gancaran basa Jawa ngoko. Babon asli tinggalane KRT Tandhangara, Surakarta. Cap-capan ingkang kaping sekawan 1959 Toko Buku “Sadu-Budi” Sala.
-------------------------------------------------
(draft) Link



R. Ng. Ronggowarsito : Sejarah

Pada hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15 Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang lahirlah seorang bayi dirumah kakek yang bernama R. Ng. Yosodipuro I, seorang Pujangga Keraton yang terkenal dijamannya. Bayi yang baru lahir itu diberi nama Bagus Burham. Sejak umur 2 tahun sampai 12 tahun Bagus Burham ikut kakeknya.Ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkan anaknya dikelak kemudian hari menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Maka oleh sang ayah, Bagus Burham dikirim ketempat pendidikan yang memungkinkan dapat mendidik anaknya lebih baik dari dirinya sendiri.Waktu itu pondok Pesantren di kawasan Ponorogo yang dipimpin oleh Kyai Imam Besari terkanal sampai dipusat Kerajaan Surakarta. Kesanalah Bagus Burham dikirim untuk mendapatkan tambahan ilmu lahir batin serta keagamaan. Pondok Tegalsari yang dipimpin Kyai Imam Besari ini mempunyai murid yang banyak dan memiliki kepandaian yang pilih tanding.

Bagus Burham berangkat ke Pesantren Tegalsari disertai embannya yang bernama Ki Tanujoyo. Ditempat yang baru itu Bagus Burham sangat malas. Ditambah lagi lebih suka menjalankan maksiat dari pada mengaji. Berjudi adalah merupakan pekerjaannya setiap hari. Juga pekerjaan maksiat yang lainnya. Adu ayam termasuk kesukaan yang tidak perbah diluangkan. Dari pada mengaji hari-harinya dihabiskan dimeja-meja judi dari satu desa ke desa lainnya. Sehingga terkenallah Bagus Burham bukan sebagai santri yang soleh tetapi sebagai penjudi ulung dikalangan orang-orang di daerah Ponorogo. Dasar seorang anak Tumenggung, uang banyak dan biasanya dimanja oleh orang tua atau kakeknya. Karena kegemarannya bermain judi, adu ayam dan perbuatan-perbuatan maksiat yang lain Bagus Burham banyak berkenalan dengan warok-warok Ponorogo yang satu kegemaran. Perbuatan putra Tumenggung ini sangat merepotkan hari Kyai Imam Besari. Diharapkan seorang putra priyayi keraton ini akan memberi suri teladan bagi murid-murid (santri-santri) yang lein tetapi ternyata sebaliknya.Seringkali Bagus Burham mendapat teguran dan marah dari Kyai Besari. Namun hal itu tidak merubah sifatnya. Dia tetap penjudi, tetap penyabung ayam, tetap gemar pada tindakan-tindakan yang menjurus ke maksiat. Karena merasa bosan setiap hari mendapat dampratan dari gurunya maka Bagus Burham perni meninggalkan pondok Tegalsari diikuti oleh Ki Tanujoyo.

(Versi lain mengatakan bahwa kepergian Bagus Burham karena KyaiImam Besari merasa jengkel akan ulah Bagus Burham. Kemudian pimpinan pondok Tegalsari itu memanggil abdi kinasih Ki Tanujoyo dan menseyogyakan Bagus Burham tidak usah belajar mengaji di pondok Tegalsari).

Meninggalkan pondok Tegalsari Bagus Burham tidak mau pulang ke Solo. Dengan diiring oleh oleh abdinya yang bernama Ki Tanujoyo. Bagus Burham bertualang sampai di Madiun. Ditempat itu uang sakunya habis. Ki Tanujoyo kemudian berdagang barang loakan. Sedangkan Bagus Burham tetap pada kegemarannya semula. Betapa bingungnya Raden Tumenggung Sastronegoro tatkala mendapat laporan Kyai Imam Besari bahwa puteranya pergi dari Tegalsari. Kemudian dipanggillah di Josono agar mencari Bagus Burham sampai ketemu. Bila ketemu agar diajal kembali ke Tegalsari. Kyai Imam Besari kembali dari Keraton Solo mendapat laporan dari penduduk Tegalsari bahwa sekarang daerah Tegalsari tidak aman. Banyak pencuri serta tanaman diserang hama. Kyai Imam Besari memohon petunjuak dari Tuhan. Mendapatkan ilham bahwa keadaan daerahnya akan kembali aman damai apabila Bagus Burham kembali ke Tegalsari lagi. Oleh karena itu Kyai Imam Besari segera mengutus ki Kromoleyo agar supaya berangkat mencari kemana gerangan perginya Bagus Burham. Bagi Ki Kromoleyo bukan pekerjaan yang sulit mencari Bagus Burham. Sebab dia tahu kehidupun macam apa yang digemari Bagus Burham. Tempat judi, tempat adu ayam. Itulah sasaran Ki Kromoleyo. Pada penjudi dan pengadu ayam ditanyakan apakah kenal dengan pemuda yang bernama Bagus Burham. Orangnya tampan. Jejak Bagus Burham akhirnya terbau juga. Ki Kromoleyo dapat menemukan Bagus Burham dan mengajak kembali ke Tegalsari. Namun Bagus Burham tidak mau. Karena bujukan Ki Josono utusan orang tuanya yang kebetulan juga sudah menemukan tempat Bagus Burham maka kembalilah Bagus Burham ke Tegalsari. Kyai Imam Besari menghadapi Bagus Burham dengan cari lain. Sebab ternyata sekembalinya dari petualangannya Bagus Burham bukan semakin rajin mengaji tetapi semakin boglok dan bodoh. Tampaknya. Menghadapi murid yang demikian Kyai yang sudah berpengalaman itu lalu mengambil jalan lain. Bagus Burham tidak langsung tidak langsung diajar mengaji seperti santri-santri yang lain. Dia bukan keturunang orang biasa tetapi masuk memiliki darah satriya. Maka tidak mengherankan kalau dia juga memiliki/mewarisi sifat-sifat leluhurnya. Gemar sekali kepada hal-hal yang memperlihatkan kejantanan seperti adu ayam dan lain sebagainya.

Menurut serat "CANDRA KANTHA" buatan Raden Ngabehi Tjondropradoto antara lain menyebutkan bahwa : Raden Patah berputera R. Tejo ( Pangeran Pamekas). Pangeran Pamekas berputra Panembahan Tejowulan di Jogorogo. Panembahan Tejowulan berputra Tumenggung Sujonoputro seorang pujangga keraton Pajang. Kemudian Raden Tumenggung Sujonoputro berputra Tumenggung Tirtowiguno. Sedangkan Tumenggung Tirtowiguno ini mempunyai putra R. Ng. Yosodipuro I pujangga keraton Surakarta. Kemudian sang pujangga berputra R. Ng. Yosodipuro II (Raden Tumenggung Sastronegoro) ayah dari Bagus Burham. (Dari sumber lain menyebutkan bahwa R. Tumenggung Sastronegoro bukan ayah Bagus Burham tetapi kakeknya. Ayahnya bernama Mas Ngebehi Ronggowarsito Panewu Carik Kadipaten Anom). Dari silsilah tersebut diketahui bahwa Bagus Burham masih ada keturunan darah raja. Darah bangsawan yang biasanya sangat suka adu jago tetapi gemar melakukan tapa brata. Kesinilah Imam Kyai Besari mengarahkan. Disamping diberi pelajaran mengaji seperti murid yang lain maka Bagus Burham juga disuruh melakukan "tapa kungkum". Dari sini terbukalah hati Bagus Burham. Dikeheningan malam, dengen gemriciknya suara air, diatasnya bintang-bintang berkelap-kelip seolah-oleh menyadarkan Bagus Burham yang usianya juga sudah semakin dewasa itu.

Setelah menjalani tapa kungkum selama 40 hari lamanya maka Bagus Burham tumbuh menjadi anak yang pandai. Kyai Imam Besari tersenyum lega melihat perkembangan anak asuhnya yang paling bengal itu. Terapinya kena sekali. Padahal terapi itu hanya berdasarkan dongenn yang pernah didengarnya. Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang bengal, nakal, penjudi, pemalas, perampok yang bernama Ken Arok. Namun karena ketekunan seorang pendidik yang bernama Loh Gawe maka akhirnya Ken Arok enjadi raja di Singosari. Menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Dari Mojopahit sampai ke Surakarta semua menurut silsilah masih keturunan langsung dari Ken Arok. Dan R. Patah pun keturunan Ken Arok. Jadi Bagus Burham juga keturunan Ken Arok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akan menjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai. Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuran habis. Tidak ada sisanya lagi. Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuhannya. Dia melimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka Bagus Burham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung ke Demak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada Pangeran Kadilangu.

Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaian rajanya ? Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaian yang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekuni soal kesusastraan Jawa serta peninggalan - peninggalan nenek moyang. Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya.

Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkali mengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burham meninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandung nilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dan tempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalau dianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-malu Bagus Burham berguru para orang tersebut. Tidak peduli dia hanyalah seorang juru kunci atau orang biasa. Pada usia 18 tahun sebagaimana kebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton. Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom. Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir deras ditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka Bagus Burham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembara ingin bertualan menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosok pulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham. Bahkan juga luar jawa sepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yang mengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihat perjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burham menjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapan perasaannya tampak ada karyanya " Serat Kala Tida ".

Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkat menjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri. Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyak peninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdiri kerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo. Waktu sang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damai terbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. Sang Prabu memerintahkan kepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusun ceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku Maha Barata asli dari India. Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyak yang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum raja Joyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya. Smara Dahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Triguna merupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yang seperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupan rontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang. Dengan tekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajari rontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Dari rontal-rontal, pengalaman / pengetahuan selama mengembara dan berguru itulah dia dapat menimba pelbagai ilmu.

Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karya sastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi Kliwon Carik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden Ngabehi Ronggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya juga dipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggap bersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempur benteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830). Akhirnya R.T. Sastronegoro dibuang dan makamnya ada di Jakarta.

Astana Giri Bangun - Jazad Pak Harto Bersemayam

ASTANA GIRI BANGUN : Rumahmu yang Akan Datang

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta, sekolah rendah
dan tahu ada yang tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil Anwar, si binatang jalang yang ekstensialis, sebelumnya keras berseru akan 'hidup seribu tahun lagi'. Enam tahun setelahnya dalam kondisi rapuh, dia menuliskan puisi yang dikutip di atas; menyerah kalah pada suratan nasib. Inilah gambaran betapa bahwa hidup tak dapat dirancang, diukur maupun diprediksi.

Demikian pula Soeharto. Pada saatnya, siapa yang mengira 'buldozer' Orde Baru itu akan jatuh dan menjadi sedemikian nestapa dan tak pupus dirudung malang di masa rentanya. Sakit-sakitan, dikejar-kejar kasus hukum serta dipaksa keadaan untuk menyaksikan berbagai kasus yang menimpa keluarganya.

Soeharto kini sudah payah. Bahkan menjelang usianya yang ke-85 dia harus rela kehilangan 40 cm ususnya yang dipotong oleh tim dokter yang ingin menyelamatkan nyawanya. Beban yang tentunya tidak mudah bagi Soeharto untuk menjalaninya, apalagi dia kini telah sendiri setelah ditinggal Siti Hartinah, istri yang banyak menyemati hidupnya semenjak muda.

Siti Hartinah yang terkenal dengan panggilan Ibu Tien Soeharto meninggal dunia mendadak pada tahun 1996, dimakamkan di Astana Giribangun, sebuah pemakaman keluarga yang dipersiapkan sendiri oleh Soeharto dan Ibu Tien. Kata astana berarti makam.

Mangadeg di Gunung Lawu
Kompleks Astana Giribangun yang megah dan luas berada di lereng barat Gunung Lawu. Tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Matesih, Karanganyar, sekitar 40 kilometer arah timur kota Solo. Yang sempat diketahui publik, terakhir kali Soeharto ziarah ke makam tersebut adalah menjelang bulan puasa akhir tahun lalu bersama sejumlah anak dan pengawalnya.

Makam itu dibangun di atas sebuah bukit, tepat di bawah Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Jika Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter dpl, Giribangun pada 666 meter dpl.

Pemilihan posisi berada di bawah Mangadeg itu bukan tanpa alasan; untuk tetap menghormat para penguasa Mangkunegaran, mengingat Ibu Tien Soeharto mengaku keturunan Mangkunegoro III. Bahkan Giribangun disebut sebagai makam yang dikhususkan untuk keluarga Mangkunegaran yang keduabelas atau yang paling akhir.

Kompleks makam ini mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan penggunaannya para tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan abu jenazah Soemaharjomo (ayahanda Tien Soharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo, salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota Solo.

Cadangan untuk Soeharto
Makam yang luas itu terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya adalah bagian utama yang disebut Cungkup Argosari yang berada di dalam ruangan tengah seluas 81 meter persegi dengan dilindungi cungkup berupa rumah bentuk joglo gaya Surakarta beratap sirap. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir gaya Surakarta pula.

Di ruangan ini hanya direncanakan untuk lima makam. Saat ini paling barat adalah makam Siti Hartini, di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) dan paling timur adalah makam Ibu Tien. Tepat di sebelah barat makam Ibu Tien terdapat sebuah tempat yang disebut sebagai "cadangan", yang nantinya diperuntukkan bagi Pak Harto.

Masih di bagian Argosari, tepatnya di emperan cungkup seluas 243 meter persegi, terdapat tempat yang direncanakan untuk makam 12 badan. Rencananya di tempat inilah anak-anak dan para menantu Soeharto dimakamkan. Namun ketika sekarang ada anak Soeharto yang memilih hidup sendiri setelah mengalami kegagalan berkeluarga, kurang jelas siapakah nanti yang harus memenuhi areal untuk 12 badan itu.

Di selasar cungkup seluas 405 meter persegi terdapat areal untuk 48 badan. Yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah penasihat, pengurus harian serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg yang mengelola pemakaman tersebut. Termasuk yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono beserta istri.

Bagian yang berada di luar lokasi utama adalah Cungkup Argokembang seluas 567 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 116 badan. Yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang dianggap berjasa kepada yayasan yang mengajukan permohonan untuk dimakamkan di astana tersebut.

Paling luar adalah Cungkup Argotuwuh seluas 729 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 156 badan. Seperti halnya Cungkup Argokembang, yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan.

Pintu utama Astana Giribangun terletak di sisi utara. Sisi selatan berbatasan langsung di jurang yang di bawahnya mengalir Kali Samin yang berkelok-kelok indah dipandang dari areal makam. Terdapat pula pintu di bagian timur kompleks makam yang langsung mengakses ke Astana Mangadeg.

Selain bangunan untuk pemakaman, terdapat sembilan bangunan pendukung lainnya. Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para wisatawan, rumah jaga dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga.

Di bagian bawah, terdapat ruang parkir yang sangat luas. Di masa Soeharto berkuasa, di arel ini terdapat puluhan kios pedagang yang berjualan souvenir maupun makanan untuk melayani peziarah dan wisatawan. Namun semenjak kini tempat itu menjadi sangat sepi, seiring sepinya pendatang dari kalangan umum.

Petuah untuk Ksatria Utama
Di sudut barat daya bangunan megah Cungkup Argosari, terpampang sebuah tulisan yang dipetik dari Serat Wedatama, sebuah karya sastra Jawa klasik karya Mangkunegoro IV. Bunyi kutipan dalam tembang pucung itu adalah;

lila lamun kelangan nora gegetun
trimah yen ketaman
saserik sameng dumadi
tri legawa nalangsa srahing bathara.

(ikhlas, jika kehilangan tiada 'kan menyesal
menerima dengan lapang jika mendapatkan
kebencian dari sesama
legawa dan menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa)


Bait itu adalah petikan dari sebuah petuah Mangkunegoro IV kepada anak cucunya jika ingin menjadi seorang ksatria utama. Ksatria pilihan harus pantang menghindar dari kewajibannya, menjalankan darma baktinya dan siap menerima resiko apa pun sebagai konsekuensi sebuah pilihan.

Tidak jelas juga, apakah diamnya Soeharto terhadap segala cercaan dan tudingan setidaknya selama delapan tahun terakhir ini adalah bagian dari penerimannya sebagai ksatria seperti yang dianjurkan leluhur istrinya. Namun yang jelas hingga kini dia belum pernah melakukan reaksi terbuka.

Dia tetap memilih diam ketika nasib hukumnya terus menggantung tanpa kejelasan. Dia tetap memilih diam di saat pihak-pihak yang berbeda pandangan beradu pendapat mengenai solusi yang elegan untuk kasus hukum yang mendera.

Ikhlas, jika kehilangan tiada 'kan menyesal. Dia memang, setidaknya secara dejure, telah kehilangan kekuasaan sejak 1998. Mestinya dia telah mematuhi petuah Mangkunegoro IV agar ikhlas jika kehilangan apa pun, karena saat itu mekanisme yang dia pilih adalah mengundurkan diri.

Menerima dengan lapang jika mendapatkan kebencian dari sesama. Dengan tetap diam menyungging senyum khasnya, mestinya orang akan meraba bahwa dia telah lepang dada dan memposisikan dirinya sebagai sasaran tembak bagi para pengkritiknya.

Satu hal yang hingga detik ini masih diperdebatkan adalah apakah dia akan membawa kasus hukum yang menimpanya ke ruang pengadilan atau akan dibawanya hingga nanti istirahat tenang menyusul istrinya di Giribangun, rumahnya yang akan datang.(nrl/sumber : detik.com)

Makam Giri Bangun (Astana Giri Bangun) adalah tempat almarhumah Siti Hartinah (Tien) Soeharto dikebumikan. Makam ini merupakan makam keluarga kerabat trah Mangkunegaran. Kompleks seluas 2,5 hektare ini dipugar tahun 1974, dan diresmikan Soeharto tahun 1976. (sumber : berbagai sumber)

Mantan Presiden Soeharto sedang berbincang lepas dengan keluarganya seusai nyekar mendiang istrinya di makam keluarga, kompleks Astana Giribangun di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah.

Astana Giribangun, terletak 30 kilometer dari kota Solo. Di makam ini terdapat tiga bangunan makam (cungkup) berbentuk joglo dengan masing-masing bernama Argo Tuwuh, Argo Kembang, dan Argo Sari.

Jenazah Ibu Tien dimakamkan di kompleks Argo Sari yang ditopang empat tiang (Sokoguru) dengan ukiran khas Jepara. Di tempat ini telah disemayamkan jasad kedua orangtuanya, KRMTH dan KRay Sumoharyomo, dan KRAy Siti Hartini Odang, kakak perempuan Ibu Tien. Dengan demikian, jenazah Ibu Tien adalah yang keempat dimakamkan di kompleks Argo Sari.