Showing posts with label imam samudra. Show all posts
Showing posts with label imam samudra. Show all posts

Minat Terhadap Trio Syuhada Masih Tinggi

 clipped from www.arrahmah.com

Minat Terhadap Trio Syuhada Masih Tinggi


Oleh Prince of Jihad pada Sabtu 03 Januari 2009, 08:33 PM




BEKASI (Arrahmah.com) – Ribuan jamaah memadati mesjid Nurul Islam, Islamic Center, Bekasi.  Mereka haus akan informasi mengenai buku trio mujahid yang seharusnya telah terbit di akhir tahun 2008, namun hingga hari ini, buku ketiganya belum juga muncul di pasaran.

Ar Rahmah media bekerjasama dengan Majelis ilmu Ar Royyan, mengadakan Kuliah Umum dan Bedah Buku Trio Syuhada siang ini, dimulai sekitar pukul 12.30 hingga 15.15.  Ribuan masa yang hadir mendengarkan ceramah dari Ust. Abu Jibriel yang dilanjutkan dengan penuturan dari keluarga Trio Mujahid, dengan antusian tinggi.  Terbukti, di sesi tanya jawab, peserta yang hadir mengeluarkan seluruh pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati mereka untuk mendapatkan jawaban pasti dan menghilangkan keraguan.  Bahkan, waktu untuk sesi tanya jawab yang disediakan panitia, tidak mencukupi.

Dalam ceramahnya, Ust. Abu Jibriel menjelaskan dengan rinci syubhat-syubhat seputar jihad yang selama ini beredar di kalangan ummat Islam.  Mereka (segelintir ummat Islam-red) menakwilkan ayat sekehendak hati mereka untuk mendukung sikap mereka yang enggan keluar rumah untuk berjihad menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.
 
Syubhat yang sering kita dengar adalah, orang yang berjihad menegakkan syariah di Negara yang dipimpin oleh orang Islam (Muslim) dianggap sebagai pemberontak dan khawarij, karena mereka menganggap bahwa kepemimpinan Negara sekuler yang dipegang mayoritas muslim sekarang adalah sama dengan pemerintahan khilafah dahulu.  Pemahaman inilah yang memunculkan sekelompok muslimin yang kesibukannya mencerca golongan mujahid sebagai khawarij dan pemberontak kepada amirul mukminin.

Syubhat tersebut dibantah dengan jelas oleh Ust. Abu Jibriel.  Yaitu salah satunya, penguasa yang sah menurut syariat Islam ditinjau dari segala seginya baik dari segi persyaratan maupun system pembuatannya (pelantikannya), dan dalam menjalankan roda pemerintahan, menjalankan tugas sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan syariat serta menerapkan hokum Allah pada negeri dan rakyatnya diseluruh wilayah pemerintahan.  Rakyat wajib memberikan wala' (loyalitas) secara utuh terhadap pemerintahan jenis ini.

Namun penguasa yang ada sekarang ini, apakah mereka pantas disebut amirul mukminin?  Padahal secara fakta, mereka tidak menggunakan hukum Allah dalam melaksanakan pemerintahan dan kehidupan sehari-hari bagi rakyatnya.  Mereka membuat hukum sendiri (demokrasi) yang jelas-jelas berkiblat ke barat (orang-orang kafir).  Maka, apakah salah, jika kita berjihad menegakkan Islam terhadap penguasa macam ini?  Dan masih banyak syubhat lainnya yang dikupas oleh Ust. Abu Jibriel dalam kuliah umum siang ini.

Selain ceramah yang disampaikan oleh Ust. Abu Jibriel, Majelis Ilmu Ar Royyan juga mendatangkan pihak keluarga Trio Mujahid untuk menuturkan perjalanan hidup mereka hingga menemui ajal sebagai syuhada (Insya Allah).  Ust. Ali Fauzi (adik asy-syahid Amrozi) mengatakan, "Bang Rozi (panggilan Amrozi-red) diantara ketiganya, bukanlah apa-apa, beliau tidak pernah nyantri, dulunya beliau adalah pembalap abangan," begitulah Ust. Ali Fauzi mengisahkan mengenai abangnya.  Berbeda dengan asy-syahid Amrozi (Insya Allah) asy-syahid Imam Samudra dikisahkan berbeda oleh Lulu Djamaluddin, adik kandungnya, "Kang Azis (sapaan Imam Samudra-red) adalah orang yang serius, senang membaca dan mencari tahu banyak hal."

Masih banyak penuturan dari pihak keluarga yang mengungkapkan tentang jati diri Trio Mujahid, siapa sebenarnya Trio Mujahid semasa hidupnya hingga bisa terjun ke dunia jihad.  Di akhir cerita, Lulu mengungkapkan, kakak kandungnya, dua jam sebelum dibunuh oleh Pemerintah Indonesia masih sempat menuliskan memo untuk istri, anak dan keluarganya.  Memo itu telah diserahkan ke tangan Ustadzah Zakiyah (istri Imam Samudra).  Dalam salah satu memonya terdapat kalimat, "Jangan anggap ini sebagai suatu kekalahan," begitulah asy-syahid Imam Samudra berujar.

Di akhir acara, panitia mengumumkan Insya Allah tanggal 20 Januari mendatang, buku ketiganya dapat dimiliki oleh khalayak yang tidak sabar mengetahui isi buku tersebut. (Hanin Mazaya/arrahmah.com)

Sent with Clipmarks

Mengapa Buku Trio Syuhada’ Terlambat Terbit?

 clipped from www.arrahmah.com

Mengapa Buku Trio Syuhada' Terlambat Terbit?


Oleh Prince of Jihad pada Jum'at 02 Januari 2009, 02:02 PM




JAKARTA (arrahmah.com) - Beberapa minggu lalu, Ar Rahmah Media mengeluarkan berita akan menerbitkan buku trio mujahid di akhir tahun 2008.  Kami, tim Ar Rahmah media telah mengusahakan sekuat tenaga untuk menerbitkannya.  Namun Qaddarallah, terdapat halangan yang menjadikan buku-buku tersebut telat terbit.

Halangan tersebut tidak menjadikan kami berhenti, Insya Allah sekitar tanggal 20 Januari mendatang, buku ketiga mujahid akan terbit.

Untuk mengetahui apa saja bahasan yang terdapat dalam buku-buku tersebut, kami mengundang pembaca sekalian untuk hadir dalam acara : Kuliah Umum dan Bedah Buku Trio Syuhada bersama Ust. Abu Muhammad Jibriel AR, Ust. ali Fauzi (Adik Amrozi), Lulu Jamaludin (Adik Imam Samudra) dan Agus Setiawan (Tim Pengacara Muslim.  Acara Insya Allah akan berlangsung di Masjid Nurul Islam, Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 22, Islamic Center, Bekasi. CP : M. Fachry (08161625272) atau Irawan (0813806164771).

Berikut Press Rilis yang dikeluarkan Ar Rahmah Media :

Press Rilis Ar Rahmah Media:

UJIAN MENEGAKKAN KEBENARAN
Mengapa Buku Trio Syuhada Terlambat Terbit?

"Sesungguhnya kaum kafir menafkahkan uang (harta) mereka untuk menghambat (orang) dari jalan Allah. Mereka akan terus menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan…" (QS Al Anfal : 36)

"Orang-orang kafir itu membuat makar (tipu daya) dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan, Allah sebaik-baiknya pembalas makar." (QS Ali Imran : 54)

Pada hari ini, Sabtu, 3 Januari 2009 rencananya Ar Rahmah Media akan membedah buku karya Trio Syuhada. Ketiga buku itu adalah ;  "Mimpi Suci di Balik Jeruji Besi", karya Assyahid (Insya Allah) Ali Ghufron, "Sekuntum Rosela Pelipur Lara" karya Assyahid (Insya Allah) Imam Samudra, dan "Senyum Terakhir Sang Mujahid", karya Assyahid (Insya Allah) Amrozi.

Pada hari Jum'at, 26 Desember 2008 pihak percetakan yang telah diamanahkan oleh Ar Rahmah Media mengkonfirmasi bahwa buku akan dikirim sore hari ketika seluruhnya selesai dicetak dan menggunakan pesawat penerbangan terakhir. Ar Rahmah Media merasa tenang, mengingat perjanjian selesainya buku paling lambat adalah tanggal 28 Desember 2008. Selain itu, kehadiran buku di saat Bedah Buku (launching) pada tanggal 3 Januari 2009 bisa dipastikan, juga memenuhi janji kepada kaum muslimin yang telah memesan buku itu sejak diberitakan pertama kali.

Ditunggu seharian pada hari Jum'at, 26 Desember 2008 buku tidak kunjung tiba. Penantian dilanjutkan hingga keesokan harinya, Sabtu, 27 Desember 2008, dan juga hari Ahad, 28 Desember 2008. Ar Rahmah Media mulai merasa khawatir, untuk kemudian mencoba kontak ke pihak percetakan. Ironisnya, berkali-kali kontak ke pihak percetakan yang berada di Surabaya, tidak ada satu pun jawaban. Bahkan panggilan telepon dari pihak Ar Rahmah Media tidak satu pun yang diangkat, baik ke nomer telepon kantor maupun pribadi. Pertanyaan-pertanyaan pun mulai berkecamuk di kepala, ada apa gerangan. Berbagai dugaan dan kekhawatiran datang silih berganti, termasuk kondisi penutupan akhir tahun yang mungkin menjadi salah satu penyebab tidak adanya informasi dari pihak percetakan.

Ar Rahmah Media mulai merasa khawatir, terlebih lagi acara Bedah Buku Trio Syuhada semakin mendekati waktunya. Selain itu, Ar Rahmah Media juga sudah menjanjikan kepada kaum Muslimin yang telah memesan buku tersebut sejak jauh-jauh hari. Akhirnya, setelah ditunggu hingga hari Senin, 29 Desember 2008 belum juga ada kabar dari pihak percetakan, maka Ar Rahmah Media mengutus perwakilannya ke Surabaya pada sore hari untuk mencari kejelasan atas kondisi yang tidak menentu ini.

Esok harinya, Selasa, 30 Desember 2008, Ar Rahmah Media, akhirnya mengetahui apa yang sedang terjadi dengan buku Trio Syuhada yang ingin diterbitkan tersebut. Melalui sebuah penjelasan panjang, berikut selembar Kronologis Peristiwa, Marketing perusahaan yang sedianya mencetak buku Trio Syuhada itu dengan terbata-bata menyampaikan mengapa hingga detik itu buku belum naik cetak. Seseorang yang mengaku dari Polda Jatim yang ditugaskan BIN (Badan Intelijen Negara), pada hari Senin, 15 Desember 2008, meminta pihak percetakan untuk menghentikan kerjasama dengan pihak Ar Rahmah Media dalam bentuk apapun dan juga meminta pihak percetakan agar tidak mencetak 3 judul buku yang dikeluarkan oleh Trio Syuhada tersebut.

Keesokan harinya, Selasa, 16 Desember 2008, pihak yang mengaku dari BIN kembali menemui pihak percetakan dan menegaskan kembali mengenai penghentian kerjasama tersebut. Dari pihak percetakan kemudian mengajukan ganti rugi kepada pihak BIN sejumlah uang tertentu yang cukup besar untuk kemudian menyanggupi penghentian kerjasama dengan Ar Rahmah Media.

Demikian, penuturan sekaligus Kronologis Peristiwa yang disampaikan Marketing pihak percetakan yang sedianya mencetak buku Trio Syuhada. Ar Rahmah Media tentu saja merasa kecewa, sedih, dan berbagai perasaan lain yang terkumpul menjadi satu. Kecewa, mengapa amanah yang sudah diterima oleh pihak percetakan tersebut bisa dikhianati oleh pihak percetakan hanya dikarenakan didatangi oleh pihak yang mengaku dari BIN. Sedih, mengapa di saat seperti ini masih ada cara-cara kotor sebagaimana yang ditunjukkan dalam peristiwa tersebut. Namun, Ar Rahmah Media cepat menyadari bahwa inilah sebuah konsekuensi logis yakni ujian dan tantangan akibat menyuarakan kebenaran. Ar Rahmah Media menyakini, bahwa jika mereka berada di jalan yang benar, Insya Allah, dan pasti Allah SWT akan selalu menolong siapa pun yang bersungguh-sungguh dalam menegakkan agamaNya.

Dengan penuh kepasrahan, dibalut keyakinan dan semangat berjuang yang terus ditingkatkan, Ar Rahmah Media akhirnya memutuskan untuk tetap mencetak buku Trio Syuhada, dan menarik amanah dari percetakan yang ada di Surabaya untuk kemudian dilimpahkan ke percetakan yang kami percayai. Ar Rahmah Media juga tetap melangsungkan acara Bedah Buku yang sudah direncanakan, walaupun dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya tidak bisa menghadirkan buku Trio Syuhada tersebut sebagaimana mestinya. Ar Rahmah Media berjanji akan dengan segera menyelesaikan pencetakan buku Trio Syuhada tersebut sebagai sebuah konsekuensi ujian menegakkan kebenaran. Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi langkah yang ditempuh Ar Rahmah Media ini dan menolong semua daya dan upaya yang telah dilakukan. Insya Allah.

Anda wajib memilikinya, karena ketiga buku ini akan menjadi buku paling hot dan spektakuler.  Bila berminat, segera hubungi marketing kami di line (021) 6884 1087 atau 0818 0640 5182, bisa juga mengirimkan email ke info@arrahmah.com.  Buku Dijual Paketan dengan harga Rp 75rb /Paket, Cetakan pertama terbatas!!! (Hanin Mazaya/arrahmah.com)

Sent with Clipmarks

DETIK menulis : Setelah Imam, Giliran Amrozi dan Muklas Nongol di Internet

Jumat, 14/11/2008 16:47 WIB
Setelah Imam, Giliran Amrozi dan Muklas Nongol di Internet

Jakarta - Setelah tak bisa diakses dalam beberapa waktu, situs Arrahmah akhirnya hidup kembali. Dalam kebangkitannya, situs ini langsung tampil sensasional dengan memajang ketiga wajah terpidana mati Bom Bali I.

Wajah Amrozi, Imam Samudera dan Ali Gufron tampak jelas terlihat di halaman depan situs tersebut. Ketiga wajah mereka dihadirkan close up dalam balutan kain kafan beserta kapas di telinga.

Tak banyak pesan yang dihadirkan pengelola situs di tampilan come back-nya. Hanya ada beberapa penggal tulisan Arab yang menghiasi foto ketiga terpidana mati tersebut dan caption foto yang tertulis: "Ar Rahmah present -- Syuhada Gazwatu Bali".

Meski sudah bisa diakses, namun situs Arrahmah belum bisa sepenuhnya beroperasi. Sebab mereka mengatakan bahwa baru akan hadir dengan tampilan baru pada Senin, 17 November 2008.

Langkah Arrahmah terbilang berani. Pasalnya, media massa, polisi ataupun jaksa tidak diperbolehkan mengambil, apalagi sampai mempublikasikan wajah terakhir tiga terpidana mati tersebut.Apakah ini pertanda Senin depan bakal terjadi sesuatu? ( ash / rou )

Foto Jenazah Amrozi, Ali Ghufron : Misteri Tanda Syahid Amrozi Cs Terkuak

Misteri Tanda Syahid Amrozi Cs Terkuak

Jum'at, 14-11-2008 | 10:58:12 WIB

Tiada kata yang terucap melainkan kalimat takbir, Allahu Akbar, atas kondisi jenasah ketiga syuhada Bali. Betapa tidak, ketiga syuhada tersebut sangat jelas menampakkan tanda-tanda sebagai syahid seperti yang biasa ditemui di kancah peperangan, meski mereka 'tidak sedang berperang' melawan musuh Islam.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Kantor Berita Islam Muslimdaily.net mendapat ijin dari pihak keluarga, yang diwakili oleh Bp. Ali Fauzi, untuk mempublikasikan photo dua mujahid Bali yakni Amrozi dan Ust. Mukhlas. Bp Ali Fauzi berpesan agar photo ini disebarluaskan untuk memberikan bukti nyata atas misteri dan polemik yang terjadi ke atas Mujahid Bali, terutama Syuhada Tenggulun, terkait status mereka, apakah mati syahid atau tidak. Disamping itu memberikan hikmah nyata kepada seluruh kaum Muslimin bahwa perjuangan Islam yang mereka lakukan benar-benar ikhlas untuk tingginya kalimat Allah, dan bukan sekedar untuk aksi pamer.

Sebagaimana syuhada yang gugur dalam medan jihad, photo kedua syuhada Tenggulun terlihat tersenyum dengan barisan gigi yang terlihat rapi. Apalagi yang terjadi dengan Amrozi. Senyuman khas "The Smiling Bomber" yang seiring dengan kedua mata yang terbuka, terlihat seakan-akan bertemu dengan sesuatu yang membuat kagum. Mungkin sepasang bidadari yang menyambut ramah.

Kondisi tak jauh berbeda terjadi dengan jenasah Ust. Mukhlas. Ulama yang jago berorasi ini memperlihatkan senyuman dengan mata yang juga terbuka. Wajah bersih pun menjadi pertanda yang lain. Wajah bersih yang juga dimiliki oleh sang "Mujahid Hacker," Imam Samudera alias Abdul Azis. Imam memperlihatkan wajah tampan dan bersih, persis dengan kondisi Ust. Mukhlas.

Disamping analisis photo ketiga Mujahid Bali tersebut, keterangan dari lapangan makin memperkuat bukti bahwa ketiga pelaku aksi jihad tersebut adalah para Mujahidin, mereka telah memiliki niat yang tulus dan menemui kematian sebagai seorang syuhada. Berikut adalah bukti dan persaksian dari lapangan.

  1. Salah satu pelayat yang kebetulan ikut hadir di kediaman Hj. Tariyem adalah Ust. Abdul Rachim Ba'asyir. Menyaksikan bahwa ketika keranda jenasah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. Kejadian ini sempat membuat keheranan para pelayat, karena didalam ruangan yang sempit tersebut udara sangat pengap dan pengunjung berjubel dalam satu ruangan. Bila merupakan wangi dari minyak wangi, tak akan mampu mengalahkan bau badan para pengunjung dan tidak akan dapat memberikan aroma dengan kadar wangi yang sama." Allahu Akbar. Itu bukan bau minyak wangi. Bukan. Tapi bau wangi dari asy syahid," kata beliau.
  2. Selain itu, masih menurut Ust, Abdul Rachim, ketika kain penutup wajah dari Ust. Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Ust. Mukhlas merasakan kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat beliau.
  3. Sebagaimana dilansir oleh beberapa media nasional, seperti detik.com, nampak jelas terlihat fenomena datangnya tiga burung hitam di atas kediaman syuhada. Ketiga burung ini jelas bukan burung Gagak seperti yang banyak diberitakan di media, karena memiliki leher yang panjang. Mereka datang begitu saja berputar-putar selama kurang lebih tujuh menit, dan kemudian pergi berpencar. Dua burung hitam terbang ke arah Timur, mereka merepresentasikan diterimanya amalan jihad Ust Mukhlas dan Amrozi, dan satu burung hitam terbang ke Barat, sebagai pertanda syahid atas diri 'Mujahid Hacker' Imam Samudera. Fenomena datangnya burung hitam ini sempat membuat suasana haru dengan teriakan takbir para pelayat.
  4. Seperti penuturan adik kandung Imam Samudera, Lulu Jamaludin, kakaknya menampakkan keanehan ketika akan dimasukkan dalam liang lahat. Bau wangi juga tercium dari jenasah Imam. Selain itu luka bekas tembakan peluru tajam terus menerus mengalirkan darah segar. Aliran darah ini keluar seperti yang terjadi dengan seseorang yang masih hidup ketika terluka. Masih menurut Lulu juga, wajah kakaknya lebih bersih dan tampan dari biasanya.
  5. Kabar terakhir baru saja diterima oleh salah satu kru muslimdaily.net. Beberapa hari yang lalu, tepatnya tiga hari setelah pemakaman Amrozi dan Ust. Mukhlas, keluarga Hj. Tariyem meminta beberapa orang untuk menjaga makam. Hal ini dilakukan untuk menghindari dan menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa diantara mereka yang ikut jaga adalah Sumarno, Baror, Rosyidin, Mashudi dan beberapa santri pondok Al Islam Tenggulun Lamongan. Mereka mengatakan mencium bau wangi keluar dari dalam kubur (makam). Bau wangi yang sama saat mereka pertama kali membuka kain penutup jenasah syuhada. Namun, bau wangi ini bukan seperti bau dari minyak wangi yang biasa mereka pakai atau dipakai oleh orang kebanyakan.


Jelas sudah keterangan yang diberikan Allah s.w.t. lewat kebesaran-Nya. Meski banyak pihak yang membantah, memberikan suara sumbang, dan menggalang opini massa untuk memojokkan status para Mujahid Bali, serta membuat makar melalui kaki tangan aparat pemerintah, namun Allah berkehendak lain. Dan siapakah sebaik-baik pembuat makar ? (far/MD)

DETIK Sewot? Soal Penayangan Foto Jenazah Imam Samudra oleh Arrahmah.com


Saya terus terang heran dengan Judul berita mereka serta isinya.
Ada dua artikel Detik yang terbit yang terkait dengan hal penayangan foto Jenazah Imam Samudra oleh situs Arrahmah.Com.

Berikut salinan beritanya. Dan DETIK sudah menjadi DETEKTIF pula :)

------------------------------------------------------
Senin, 10/11/2008 12:40 WIB
Situs Umbar Foto Imam Samudra Berkafan
Wicak Hidayat - detikinet

Jakarta - Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra mewasiatkan agar foto-foto kematian mereka tidak dipublikasikan. Namun sebuah situs justru menampilkan foto Imam Samudera berkafan.

Informasi yang diterima detikINET, Senin (10/11/2008), menyebutkan sebuah situs yang bernama Arrahmah. Situs dengan jargon 'Filter Your Mind, Get The Truth' itu menampilkan berita-berita seputar eksekusi mati tiga terpidana bom bali.

Satu hal yang membedakan situs itu dibandingkan media lain adalah adanya foto close-up wajah Imam Samudra dalam kondisi dikafani. Foto itu dimuat dalam berita berjudul "As Syahid Imam Samudra Bergabung Dengan Kafilah Syuhada" yang tertanggal 9 November 2008 pukul 02:43 malam.

Tak cukup di situ, foto itu juga dilabeli tulisan 'Exclusive Arrahmah.com'. Ini mengindikasikan pengelola situs tersebut memang sengaja memotret jenazah Imam. Padahal media massa, polisi ataupun jaksa tidak diperbolehkan mengambil --apalagi sampai mempublikasikan-- wajah terakhir tiga terpidana mati tersebut.
( wsh / wsh )



-----------------------------------------------------------

Senin, 10/11/2008 17:47 WIB


Server Arrahmah di New York?
Wicak Hidayat - detikinet

Jakarta - Server situs penampil foto Imam Samudra berkafan agaknya berlokasi di New York. Nama domainnya dibeli dari penyedia asal Indonesia.

Informasi dari piranti lunak Tracert yang dilakukan detikINET, Senin (10/11/2008) mengarahkan domain Arrahmah.com pada alamat Internet Protocols (IP) 67.228.80.218. Jika ditelusuri, alamat itu merujuk pada lokasi di New York, Amerika Serikat.

Nama domain tersebut tercatat telah terdaftar sejak 14 Agustus 2005 melalui penyedia layanan ImediaBiz.com. ImediaBiz merupakan penyedia layanan pembelian nama domain dan webhosting asal Indonesia.

ImediaBiz memang menyediakan server yang berlokasi di Indonesia dan di Amerika Serikat. Tercatat ada 1.663 domain lain yang menggunakan nameserver yang sama dengan Arrahmah.com.

Sedangkan untuk server yang digunakan Arrahmah.com, menurut data DomainTools, merupakan milik SoftLayer Technologies Inc di Amerika Serikat. SoftLayer adalah perusahaan asal Dallas, Amerika Serikat, yang menyewakan server untuk keperluan hosting. ( wsh / dwn )



-----------------------------------------------------------------------

Senin, 10/11/2008 14:38 WIB

Umbar Foto Imam Samudra, Arrahmah Punya Siapa?
Wicak Hidayat - detikinet

Jakarta - Meski dilarang oleh pihak keluarga, situs Arrahmah.com mempublikasikan wajah Imam Samudra berkain kafan. Siapakah sosok di balik situs tersebut?

Pada Senin (10/11/2008), detikINET menerima informasi mengenai situs Arrahmah.com yang menampilkan foto close-up wajah Imam Samudera dalam kondisi dikafani. Penelusuran pada database Whois menunjukkan nama pemilik situs itu disembunyikan lewat layanan ContactPrivacy.org.

Namun jika ditelusuri lebih lanjut, muncul sebuah alamat e-mail yang terkait situs itu. Alamat e-mail itu pun bisa dikaitkan dengan sebuah profil di situs pertemanan Friendster.

Adalah Daniel Shah yang namanya kemudian terkait dengan alamat e-mail di situs Arrahmah.com. Belum pasti apakah benar Daniel pengelola situs tersebut atau sekadar alamat e-mailnya yang digunakan.

Situs Arrahmah.com hinga pukul 13:30 WIB tak bisa dikunjungi. Pesan yang muncul mengindikasikan situs sedang kelebihan pengunjung sehingga harus dimatikan sementara.
( wsh / ash )



--

Foto Jenazah Imam Samudra Muncul di Dunia Maya


Foto Jenazah Imam Samudra Muncul di Dunia Maya

Senin, 10 November 2008 - 11:12 wib
JAKARTA - Sehari setelah pemakaman 3 pelaku bom Bali I Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron, beredar sebuah foto yang menampilkan Imam Samudra dalam kondisi meninggal dan telah dikafankan.

Foto ini dimuat oleh sebuah situs bernama arrahmah.com pada hari Minggu 9 November pada ham 02.43 PM.

Foto eksklusif milik arrahmah.com tersebut merupakan gambar dari sebuah berita bertema "As Syahid Imam Samudra Bergabung dengan Kafilah Syuhada".

Berikut awal isi berita tersebut: Hari ini telah dijemput para bidadari para kafilah syuhada, Mujahid Imam Samudera, Mujahid Amrozi dan Mujahid Ali Ghufron. Mereka semua telah menunjukkan pada umat ini bagaimana sikap mujahid sejati yang tetap istiqomah.

Selain itu, berita tersebut juga mendapat 20 lebih komentar dari pembaca yang kebanyakan memuji langkah Imam Samudra dan rekan-rekannya. Berikut komentar-komentar pembaca di situs tersebut:

Kepada para thaghut & pemerintah indonesia .......!!
bahwa kalian telah zalim..!! tunggulah pembalasan kaum muslimin...!!! tunggulah azab allah, kepada kalian semua wahai penyembah berhala AMERIKA ..!!
bagi kalian telah tersedia NERAKA JAHANNAM...!!
Dikirim dari amr_albanjary pada 11/09 04:23 PM.

asslm.as syahid adalah contoh tauladan bagi orang orang yg beriman.Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Dikirim oleh akhyar 1 pada 11/09 04:31 PM.

semoga Alloh menerima taubat mereka dan menempatkan mereka dalam kafilah syuhada. demi Alloh tiada setetespun darah mereka tercurah tanpa pembalasan Allohu Akbar!!! Dikirim oleh Irhaby99 pada 11/09 04:33 PM.

Selamat jalan wahai para syuhada,Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar Dikirim oleh akhyar 1 pada 11/09 04:41 PM.


--










Eksekusi Amrozi Dkk Dapat Liputan Luas Media Seluruh Dunia

Jakarta, (tvOne)

Hukuman mati terhadap tiga pelaku bom Bali, Imam Samudra 38 tahun, Ali Ghufron alias Mukhlas 48 tahun dan Amrozi 46 tahun yang dilakukan Sabtu malam di Nusakambangan mendapat liputan luas media-media transnasional.

Kantor berita DPA mengatakan, tak satupun pelaku bom Bali tersebut yang menunjukkan penyesalan atas serangan-serangan yang menewaskan 202 orang dan justru memperingatkan akan adanya pembalasan dari kelompok garis keras Islam lainnya jika mereka dieksekusi.

Di desa Tenggulun, di mana jenazah Amrozi dan Mukhlas dimakamkan disambut ratusan pendukung kelompok garis keras yang meneriakkan `Allahu Akbar` dengan membawa poster-poster yang memuji mereka sebagai `pahlawan`.

Kejadian yang sama juga terlihat di kediaman Imam Samudra di Serang, Jawa Barat. Poster besar `Selamat Datang Martir` dipasang di jalan menuju desanya. Menurut laporan DPA, Indonesia kini dalam waspada tinggi, sejumlah polisi tambahan dikirimkan ke kedutaan-kedutaan, tempat-tempat perbelanjaan dan perkantoran.

Menurut laporan AFP dari desa Tenggulun, tempat tinggal kakak beradik Amrozi dan Mukhlas, eksekusi terhadap mereka memicu bentrokan antara polisi dan para pendukung ketiga terhukum mati yang diliputi emosi.

Ratusan pendukung bentrok dengan polisi saat jenazah Mukhlas dan Amrozi, yang disebut sebagai `pembunuh yang banyak senyum` tiba dengan helikopter ke desa mereka, Tenggulun di Jawa Timur. Bentrokan pecah dan polisi meninggalkan jalan saat mereka meneriakkan `jihad` dan `keluar`. Para wartawan Barat di kedua desa mengakui dikata-katai sebagai `kafir`.

Kantor berita ini juga mencatat diperketatnya keamanan di sekitar daerah-daerah sensitif seperti kedutaan-kedutaan, tempat-tempat tujuan wisata, perbelanjaan, dan pelabuhan-pelabuhan. Di Bali sendiri, yang mayoritas penduduknya memeluk Hindu, dikerahkan 3.500 polisi di jalan-jalan untuk memperkuat keamanan.

Australia menyerukan warganya mempertimbangkan kembali untuk berkunjung ke Indonesia dan AS - yang kehilangan tujuh warganya dalam serangan tersebut - mengingatkan warga Amerika untuk bersikap rendah-hati dan menghindari demonstrasi-demonstrasi.

Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, yang pemerintahnya menentang hukuman mati, mengatakan bahwa hal itu saat untuk mengenang kembali para korban dan mereka yang selamat dari serangan berdarah itu.

Sementara itu Reuters melaporkan dari Serang Jawa Barat, bahwa jenazah Imam Samudra di bawah pengawalan ketat dibawa ke satu mesjid untuk disembahyangkan, dan beberapa di antara pelayat berusaha menyentuh jenazah atau berebut membantu mengusung kerandanya.

Pada saat itu, sekitar seratus orang Bali, termasuk beberapa yang selamat dari serangan itu, melakukan persembahyangan di dekat memorial tempat ledakan itu di Kuta. Satuan anti teroris Indonesia, Detasemen 88, menurut laporan kantor berita ini, turut terlibat dalam serangkaian serangan mengepung pimpinan JI dan sayap bersenjatanya.

Polisi saat ini masih mencari Noordin Top, berkebangsaan Malaysia yang dipandang sebagai tokoh utama di balik serangkaian pemboman tersebut, termasuk ledakan-ledakan di Bali pada 2005 yang menewaskan lebih dari 20 orang.
clipped from www.tvone.co.id
Eksekusi Amrozi Dkk Dapat Liputan Luas Media Seluruh Dunia
November 09,2008
 blog it

Amrozi cs, Terpidana Teroris Pertama Dihukum Mati



JAKARTA - Hingga kini belum pernah ada terpidana kasus terorisme di dunia ini yang dijatuhi hukuman mati. Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas adalah yang pertama.

"Sampai detik ini pun belum ada tersangka teroris di dunia yang dihukum mati melalui pengadilan. Jadi bila eksekusi ini terjadi, maka inilah kali pertama terpidana terorisme dihukum mati," kata Fauzan Al-Anshari, Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam (LKSI), dalam surat elektronik yang ditujukan kepada okezone, Minggu (9/11/2008).

Fauzan lalu membandingkan pidana mati ketiganya dengan peledakan yang dilakukan oleh Syekh Omar Abdurrahman di Oklahoma sekira tahun 1995. Oleh otoritas Amerika Serikat, Syekh Omar hanya dihukum seumur hidup.

Fauzan mengatakan, saat dirinya membesuk Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas pada 17 Oktober lalu dan menanyakan peran mereka terhadap kasus Bom Bali I, Amrozi menjelaskan bahwa peran utamanya adalah membeli bahan bom berupa karbit sebanyak satu ton.

"Dia membeli dari toko Tidar di Surabaya," kata dia.

Sementara Muklas merupakan seorang ustad yang memberi semangat untuk melakukan aksi pengeboman tersebut. Imam Samudera melakukan survei dan konsep penyerangan yang ia lakukan tiga bulan sebelum bom diledakkan. Secara khusus Imam membuat website bertitel istimata.com yang isinya mengklaim bertanggung jawab atas peledakan bom tersebut.

Namun yang menjadi pertanyaan, menurut Fauzan, mengapa Ali Imron, adik Muklas dan Amrozi, yang memiliki peran lebih banyak, justru tidak dijatuhi hukuman mati. Padahal, menurut penuturan Muklas kepada Fauzan, Ali Imron adalah ahli merakit bom dan perannya dalam bom Bali jauh lebih besar dari dirinya.

"Semestinya Muklas, Amrozi, dan Imam Samudra tidak sampai dihukum mati," kata Fauzan.

"Mengapa Ale cuma dihukum seumur hidup? Apakah karena dia dianggap kooperatif dengan Komjen Gories Mere sehingga diajak 'dugem' di kafe Starbucks? Atau karena telah memberi info penting tentang anggota JI sehingga diundang buka bersama di rumah Komandan Densus 88 Brigjen Surya Dharma?" tanya Fauzan. (jri)
clipped from news.okezone.com

Amrozi cs, Terpidana Teroris Pertama Dihukum Mati

Minggu, 9 November 2008 - 14:00 wib
 blog it

Imam Samodra (38)

SERANG, INDONESIA - NOVEMBER 9:  Supporters chant in front of Imam Samudra's home after it was reported that the execution of the Bali bombers had been carried out, on November 9, 2008 in Serang, Banten, Indonesia. It was reported that the Indonesian government has executed three Muslim militants sentenced to death by firing squad on the prison island of Nusakambangan for their part in the 2002 Bali bombing which killed 202 people. The attorney general office will officially announce the execution later on Sunday. From Getty Images.A worker monitors prints of posters of Bali bomber Imam Samudra at a printing shop owned by Samudra's relative in Banten, West Java November 6, 2008. The attorney general's office has said the three militants-- Imam Samudra, Mukhlas and Amrozi--would be executed in early November for their role in the 2002 nightclub bombings on the resort island in which 202 people died. The headline on the posters read, "Free Imam Samudra". From Reuters Pictures by REUTERS.Convicted Bali bomber Imam Samudra alias Abdul Aziz talks to his daughter during his last family visit in Batu prison, Nusa Kambangan Island in this October 29, 2007 file photo. Indonesia has executed three Muslim militants sentenced to death for the 2002 Bali nightclub bombings that killed 202 people, the television network TvOne said on November 9, 2008 citing an unidentified source. The TV station said Samudra, Mukhlas and Amrozi were executed on Nusakambangan island in central Java after midnight. The executions could not immediately be confirmed by officials. From Reuters Pictures by REUTERS.Convicted Bali bomber Imam Samudera is seen during his last family visit at Batu prison, Nusa Kambangan Island in this October 29, 2007 file photograph. Indonesia has executed three Muslim militants sentenced to death for the 2002 Bali nightclub bombings that killed 202 people, the television network TvOne said on November 9, 2008 citing an unidentified source. The TV station said Samudra, Mukhlas and Amrozi were executed on Nusakambangan island in central Java after midnight. The executions could not immediately be confirmed by officials. From Reuters Pictures by REUTERS.Kindergarten school children look at a poster of Bali bomber Imam Samudra, during their visit to Samudra's mother, Embay Badriyah, in Banten province November 8, 2008. The children visited Badriyah in a show of support in light of her son's impending execution. The attorney general's office has said the three militants, Imam Samudra, Mukhlas and Amrozi would be executed in early November for their role in the 2002 nightclub bombings on the resort island in which 202 people died. From Reuters Pictures by REUTERS.Salsabila, daughter of Bali bomber Imam Samudra, rests her head on her father's shoulder during a family visit ahead of Ramadan fasting month at Batu prison, in Indonesia's Nusa Kambangan Island, August 30, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Embay Badriah, mother of Bali bomber Imam Samudra (R), is seen next to her son during a family visit ahead of Ramadan fasting month at Batu prison, in Indonesia's Nusa Kambangan Island August 30, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Embay Badriah, mother of Bali bomber Imam Samudra (C), is seen next to her son and his daughter Salsabila during a family visit ahead of Ramadan fasting month at Batu prison, in Indonesia's Nusa Kambangan Island August 30, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Imam Samudra walks past Mukhlas and Amrozi (sitting) after attending Eid al-Fitr prayers, marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.(L-R) Imam Samudra talks with Mukhlas, also known as Ali Gufron, and Amrozi after Eid al-Fitr prayers marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Indonesian cleric Said Sungkar talks to journalists during a press conference in support the convicted Bali bombers Amrozi, Mukhlas and Imam samudera in Tenggulun on November 7, 2008. The families of the Indonesian Islamists on death row for the 2002 Bali bombings have been told to "get ready" for the executions, a prosecutor said. Prosecutors and police visited the family of brothers Amrozi, 47, and Mukhlas, 48, in this east Java village and warned them to prepare for bad news. From Getty Images by AFP/Getty Images.

Amrozi (46), Mukhlas (48), Imam Samodra (38)

Bali bombers Amrozi (L), Imam Samudra (C) and Mukhlas, also known as Ali Ghufron are seen in this combination photograph. Indonesia has executed three Muslim militants sentenced to death for the 2002 Bali nightclub bombings that killed 202 people, the television network TvOne said on November 9, 2008 citing an unidentified source. The TV station said Imam Samudra, Mukhlas and Amrozi were executed on Nusakambangan island in central Java after midnight. The executions could not immediately be confirmed by officials. From Reuters Pictures by REUTERS.This combo picture taken on March 26, 2008 shows convicted Bali bombers (L to R) Amrozi, Imam Samudra alias Abdul Aziz and Ali Ghufron alias Mukhlas at Batu prison on the Indonesian island of Nusa Kambangan. The three men, sentenced to death for the Bali bombings which killed 202 people, were executed by firing squad at midnight on the night of November 8, 2008 local television reported. Amrozi, 47, his brother Mukhlas, 48, and ringleader Imam Samudra, 38, were killed with shots to the heart on the island prison of Nusakambangan off southern Java, TV One television reported quoting an official source. From Getty Images by AFP/Getty Images.This combo picture shows file photos taken on March 26, 2008, of (L to R) Ali Ghufron, Imam Samudra and Amrozi inside the Batu prison on Nusa Kambangan island. The three convicted Bali bombers have filed a petition against firing squads in Indonesia's constitutional court on August 6, 2008, in a last-ditch bid to stave off their executions, lawyers said. The members of the Islamist Jemaah Islamiyah network -- Amrozi, Imam Samudra and Ali Ghufron -- are awaiting execution over the 2002 bombings on the resort island that killed more than 200 people, most of them foreign tourists. From Getty Images by AFP/Getty Images.This is a combination of Oct. 1, 2008 file photos of from left to right, Ali Ghufron, Imam Samudra, and Amrozi Nurhasyim. Ali Ghufron, Amrozi Nurhasyim, and Imam Samudra were executed early Sunday Nov. 9, 2008 on the Nusakambangen prison Island for planning and carrying out the 2002 Bali bombings which killed more than 200 people, mostly foreign tourists including 88 Australians, as well as 38 Indonesians. From AP Photo by Dita Alangkara.Bali bombers Amrozi (L), Imam Samudra (C) and Mukhlas, also known as Ali Ghufron, are seen in Nusakambangan prison in this October 1, 2008 combination photograph. The three Muslim militants involved in the 2002 Bali bombings were executed on early November 9, 2008, according to reports from Indonesian television station TV ONE. From Reuters Pictures by REUTERS.Convicted Bali bombers Ali Ghufron alias Mukhlas (L), Amrozi (C) and Imam Samudera talk to journalists after meeting their relatives in Batu prison, Nusakambangan Island in this October 29, 2007 file photograph. Indonesia has executed three Muslim militants sentenced to death for the 2002 Bali nightclub bombings that killed 202 people, the television network TvOne said on November 9, 2008 citing an unidentified source. The TV station said Samudra, Mukhlas and Amrozi were executed on Nusakambangan island in central Java after midnight. The executions could not immediately be confirmed by officials. From Reuters Pictures by REUTERS.Muslim men gather around a poster of convicted Bali bombers Imam Samudra, from left, Amrozi Nurhasyim and Ali Ghufron at an Islamic boarding school in Tenggulun, Lamongan, East Java, Indonesia, Saturday, Nov. 8, 2008. The three Indonesian militants on death row for the 2002 Bali bombings have exhausted legal options and could be executed within days. From AP Photo by Dita Alangkara.Imam Samudra (L), Mukhlas (2nd R) and Amrozi (R) attend Eid al-Fitr prayers, marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Imam Samudra (L), Mukhlas (2nd R) and Amrozi (R) attend Eid al-Fitr prayers, marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Imam Samudra (L), Mukhlas (2nd R), also known as Ali Gufron, and Amrozi (R) attend Eid al-Fitr prayers marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Imam Samudra (L), Mukhlas (2nd R) and Amrozi (R) attend Eid al-Fitr prayers, marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.
Convicted Bali bombers Ali Ghufron alias Mukhlas (2nd L), Imam Samudra and Amrozi (R) walk to meet their family in Batu prison, Nusa Kambangan Island in this November 22, 2007 file photograph. Indonesia has executed three Muslim militants sentenced to death for the 2002 Bali nightclub bombings that killed 202 people, the television network TvOne said on November 9, 2008 citing an unidentified source. The TV station said Imam Samudra, Mukhlas and Amrozi were executed on Nusakambangan island in central Java after midnight. The executions could not immediately be confirmed by officials. From Reuters Pictures by REUTERS.

TPM: Bentuk Tim Pencari Fakta Eksekusi Amrozi Cs

TPM: Bentuk Tim Pencari Fakta Eksekusi Amrozi Cs

Minggu, 9 November 2008 - 06:17 wib

JAKARTA - Tim Pembela Muslim (TPM) mendesak agar pemerintah membentuk tim pencari fakta independen untuk menyelidiki proses eksekusi tiga terpidana mati kasus bom Bali I, Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudera.

"Kami mendesak agar dibentuk Tim Pencari Fakta Independen untuk menyelidiki proses eksekusi klien kami. Kalau perlu, selain berasal dari DPR dan Komnas HAM, tim juga melibatkan ahli Ham internasional," ujar anggota TPM Achmad Michdan dalam pesan singkat yang diterima okezone, Minggu (9/11/2008).

Menurutnya, kejadian dibalik eksekusi ketiga terpidana tersebut harus terbukti. Apakah menjelang eksekusi tidak ada penyiksaan, caci maki, ataupun sikap dendam dari aparat yang terlibat.

"Kami sama sekali tidak mempercayai dan menolak semua cerita Kejagung tentang eksekusi. Apakah eksekusi tersebut sesuai prosedur yang ditentukan dalam UU Nomor 2/PNPS/1964 atau tidak," tandasnya.

Sebelumnya, Ketiga terpidana kasus bom Bali I telah menjalani eksekusi mati di Lapangan Nirbaya, Nusakambangan pada pukul 00.15 WIB dengan cara ditembak. Selanjutnya, ketiga jenazah tersebut akan dibawa menuju kampong halamannya masing-masing. (teb)

Antara : Amnesti Internasional Sesalkan Eksekusi Amrozi Cs

09/11/08 04:13

Amnesti Internasional Sesalkan Eksekusi Amrozi Cs



London (ANTARA News) - Amnesti Internasional mengatakan Sabtu bahwa eksekusi mati di Indonesia terhadap ketiga pengikut Islam garis keras yang telah dihukum karena Bom Bali 2002 sebaiknya menjadi yang terakhir kali bagi Indonesia.

Amnesti Internasional, kelompok hak asasi manusia internasional yang bermarkas di London, mengutuk kejahatan ketiga orang itu tetapi menyebut eksekusi mati mereka merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Para pembom, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra, telah dieksekusi oleh satu regu tembak pada Minggu sekitar 00.15 WIB (Sabtu 17.15) karena serangan yang ditargetkan pada klab malam di pulau Bali yang menewaskan 160 lebih orang asing dan juga 38 warga Indonesia.

Amnesti mengatakan, eksekusi terhadap tiga orang yang dikenal secara kolektif sebagai pelaku Bom Bali hendaknya menjadi terakhir kali pemerintah Indonesia menggunakan hukuman mati.

Direktur Asia-Pasifik Amnesti Internasion Sam Zarifi, mengatakan ketiga orang itu memang "telah melakukan kekejaman yang mengerikan" tetapi "dengan meneruskan putaran kekerasan melalui pembunuhan yang disetujui negara adalah membalas pelanggaran hak asasi manusia dengan pelanggaran (HAM) lagi.

Amnesti Internasional menyampaikan simpatinya pada korban kekerasan itu dan orang-orang yang mereka cintai yang menderita kehilangan besar.

Organisasi ini mengakui perlunya semua orang yang melakukan kejahatan untuk dibawa ke pengadilan tapi menunjukkan bahwa tidak ada bukti jelas bahwa hukuman mati merupakan alat pencegahan yang efektif. (*)

COPYRIGHT © 2008

Antara : Akhir dari Amrozi Cs

09/11/08 05:58

Akhir dari Amrozi Cs


Oleh Budi Setiawanto

Jakarta (ANTARA News) - Dua kakak beradik Amrozi dan Ali Ghufron alias Mukhlas, Abdul Aziz alias Imam Samudra, serta komplotannya membuat kemeriahan suasana dugem (dunia gemerlap) pada Sabtu malam 12 Oktober 2002 pukul 23:05 di kafe Sari Club, Paddy's Pub, dan tempat hiburan di kawasan Legian, Kuta, Bali menjadi duka mendalam.

Atas nama "jihad" yang mereka yakini, mereka menebar teror dengan meledakkan bom di depan kafe Sari Club yang menewaskan 202 orang tewas (38 WNI dan 164 turis asing) pada malam minggu itu.

Isa alias Feri masuk ke Paddy's Pub dan langsung meledakkan bom yang ada di dalam rompinya dan beberapa saat kemudian Arnasan alias Jimi meledakkan bom di mobil Mitsubishi L-300 yang diparkir di depan Sari Club. Dua orang teroris itu tewas dalam aksinya.

Enam tahun kemudian, pada malam yang sama namun dalam keheningan dan suasana mencekam Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra dieksekusi mati masing-masing oleh satu regu tembak pada pukul 23:20 WIB di perbukitan "Nirbaya" yang berada sekitar enam kilometer sebelah selatan Lembaga Pemasyarakatan Batu Nusakambangan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Hingga tulisan ini dibuat hari Minggu (9/11) sekitar pukul 01:30 belum ada keterangan resmi dari Kejaksaan Agung. Sebelumnya Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung Jasman Panjaitan memberikan keterangan pers bahwa Kejaksaan Agung belum menerima informasi apapun perihal eksekusi itu.

Panjaitan menyatakan bahwa satu-satunya sumber resmi terkait pelaksanaan eksekusi tersebut adalah dari Puspenkum Kejaksaan Agung dan dia merencanakan memberikan keterangan lengkap kepada pers pada Minggu pagi.

Panjaitan tidak membantah pemberitaan yang menyebutkan bahwa Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra telah dieksekusi.

Sumber ANTARA di Nusakambangan, Minggu dinihari, menyebutkan, ketiga terpidana mati itu dibawa keluar oleh anggota Gegana dari selnya di LP Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Sabtu malam, sekitar pukul 23.00 WIB.

Mereka dinaikkan ke sebuah mobil dan dibawa ke suatu tempat yang dikenal dengan nama "Nirbaya" yakni berupa perbukitan yang berada sekitar 6 kilometer sebelah selatan LP Batu.

Nirbaya merupakan sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang telah ditutup sejak 1986. Kini tempat tersebut telah dijadikan tempat eksekusi bagi sejumlah terpidana mati.

Berdasarkan catatan ANTARA, empat peristiwa eksekusi terjadi di sana yakni dua terpidana kasus subversi, Umar (1985) dan Bambang Suswoyo (1987) serta dua terpidana warga negara Nigeria yang kasus narkoba, Samuel Iwuchukwu Okoye dan Hansen Anthony Nwaolisa pada 26 Juni 2008. Bahkan, jenazah para terpidana mati tersebut dimakamkan di tempat ini.

Di kawasan ini, Amrozi dan kawan-kawan menjalani eksekusi di hadapan tiga regu tembak dari Polda Jawa Tengah.

Prosesi eksekusi yang dimulai sekitar pukul 23.10 WIB, diawali dengan siraman rohani oleh rohaniwan yang meminta supaya Amrozi dkk menerima dengan ikhlas apa yang dilakukan oleh negara dan dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Alquran.

Selanjutnya jaksa eksekutor, Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, I.B. Wiswantanu membacakan surat perintah pelaksanaan eksekusi dengan didampingi jaksa eksekutor lainnya, Kasubsi Prapenuntutan Kejaksaan Negeri Denpasar Edy Arta Wijaya dan Aspidum Kejati Jateng Monang Pardede.

Tepat pukul 23.20 WIB, setelah surat perintah dibacakan, tiga regu tembak segera menembakkan peluru ke arah Amrozi dkk yang masing-masing terikat pada sebuah kayu dengan kepala tertutup kain hitam.

Sepuluh menit kemudian, Amrozi dan kawan-kawan dinyatakan meninggal, setelah menjalani autopsi oleh tim dokter forensik Polda Jawa Tengah.

Menurut rencana, jenazah tiga terpidana mati tersebut akan dibawa ke rumah duka di kampung halaman masing-masing pada hari Minggu pukul 05:00 WIB.

Itulah akhir "jihad" ketiga terpidana mati kasus bom Bali I.


Kelompok teroris

Setelah peristiwa bom Bali I, aparat berhasil membongkar kelompok teroris yang terlibat. Mereka adalah Abdul Goni (didakwa seumur hidup), Abdul Hamid (kelompok Solo), Abdul Rauf (kelompok Serang), Abdul Aziz alias Imam Samudra, Achmad Roichan, Ali Ghufron alias Mukhlas, Ali Imron alias Alik (didakwa seumur hidup), Amrozi bin Nurhasyim alias Amrozi, Andi Hidayat dan Andi Oktavia (kelompok Serang), Arnasan alias Jimi, Bambang Setiono (kelompok Solo), Budi Wibowo (kelompok Solo), Dr Azhari alias Alan (tewas dalam penyergapan oleh polisi di Kota Batu tanggal 9 November 2005)

Dulmatin, Feri alias Isa, Herlambang (kelompok Solo), Hernianto (kelompok Solo), Idris alias Johni Hendrawan, Junaedi (kelompok Serang), Makmuri (kelompok Solo), Mohammad Musafak (kelompok Solo), Mohammad Najib Nawawi (kelompok Solo), Umar Kecil alias Patek, Utomo Pamungkas alias Mubarok (didakwa seumur hidup), dan Zulkarnaen.

Amrozi ditangkap pertama kali pada 7 November 2002. Berturut-turut kemudian ditangkap Imam Samudra pada 21 November 2002, Mukhlas alias Ali Gufron pada 4 Desember 2002 dan terakhir Ali Imron pada 14 Januari 2003). Ali Imron juga merupakan adik Amrozi.

Pada tahun 2003, Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra divonis hukuman mati dalam persidangan di Bali. Upaya banding hingga kasasi, peninjauan kembali ke Mahkamah Agung bahkan upaya grasi ke Presiden ditolak.

Imam Samudra yang bernama asli Abdul Aziz (lahir di Desa Lopang Gede, Serang, Banten tanggal 14 Januari 1970 dari pasangan Sihabuddin dan Embay Badriani) dikenal sebagai teroris anti Amerika Serikat dan sekutunya. Ia pernah melalang ke Malaysia dan Afghanistan untuk berdagang sambil belajar mengenai jihad dan menggunakan senjata api, merangkai bom, serta menggunakan ranjau.

Setelah ditangkap, Imam Samudra tersangkut pula dalam aksi teror sebelumnya seperti pengeboman gereja di Batam pada malam natal 2000, peledakan bom di Plaza Atrium Senen Jakarta 2001, dan pengeboman gereja Santa Anna dan HKBP di Jakarta.

Ali Amrozi bin Nurhasyim (lahir di Lamongan pada 5 Juli 1962) dicap sebagai teroris yang termotivasi ideologi Islam radikal dan anti-Barat yang didukung Jemaah Islamiyah.

Amrozi selalu meyakini bahwa aksinya merupakan jihad dan ia kerap tersenyum saat memberikan keterangan kepada wartawan baik ketika dipenjara di LP Kerobokan Denpasar atau sejak dipindahkan ke LP Nusakambangan bersama Imam Samudra dan Mukhlas pada 11 Oktober 2005.

Bahkan Amrozi di dalam penjara pada 12 Mei 2008 menikah kembali dengan Rahma.

Sementara Huda bin Abdul Haq alias Ali Ghufron alias Mukhlas lahir di Lamongan pada 9 February 1960.

Sama seperti kakaknya, Mukhlas dikabarkan juga terlibat dalam jaringan Jemaah Islamiyah dan pernah mendapat pelatihan ala tentara di Afghanistan.

Jenazah Amrozi dan Mukhlas dibawa ke kampung halamannya di Tenggulun, Lamongan sedangkan Imam Samudra dibawa ke daerah asalnya di Serang untuk dimakamkan(*)

COPYRIGHT © 2008

BBC : Indonesia executes Bali bombers

From left to right: Ali Ghufron, Imam Samudra and Amrozi Nurhasyim during the Eid al-Fitr prayer at Batu prison on 1 October 2008
The bombers said they were keen to be "martyrs"

Three Indonesian Islamic militants condemned to death for the 2002 Bali bombings that killed 202 people have been executed by firing squad.

Imam Samudra, Amrozi Nurhasyim and Ali Ghufron (Mukhlas) were shot at the island prison of Nusakambangan at 0015 (1715 GMT on Saturday), officials said.

They were found guilty of planning twin attacks on nightclubs at the resort of Kuta, popular with Western tourists.

Security forces are on alert across the country amid fears of reprisal attacks.

BALI BOMBINGS
Paddy's Bar and Sari Club in the resort of Kuta targeted
202 killed from 21 countries, including 88 Australians, 38 Indonesians and 28 Britons
Severe damage within a 100m (150-yard) radius of the bombs
Militant group Jemaah Islamiah blamed for the bombings

Members of radical groups have gathered to show their respect in the men's villages, where their bodies will taken by helicopter to be buried.

The BBC's Lucy Williamson, in Cilacap, near the prison, says the execution took place in the darkness surrounded by forest and a handful of witnesses.

Later, a spokesman for the attorney-general's office confirmed that the three men had been shot.

"The autopsy results show that all three are dead," Jasman Panjaitan told a news conference.

"The family members are now bathing the bodies," he added.

Haji Chozin confirmed that his brothers, Amrozi and Mukhlas, had died.

Beheading request

The deaths will not evoke much sympathy in Indonesia, where most people supported the sentence and believed the executions should have been carried out much sooner, our correspondent says.

Cleric Abu Bakar Ba'asyir speaks in Tenggulun, home village of Amrozi and Mukhlas
Supporters of the bombers have been gathering in their home villages

Officials had said the three would be shot in early November but no date had been announced in advance.

The men had apparently requested no autopsy and they had asked not to be buried in state shrouds, but in material brought specially from their family homes.

Since they were sentenced the bombers made several appeals for leniency, and also filed an unsuccessful appeal to be executed by beheading rather that face a firing squad.

They said beheading was a more humane and Islamic form of execution and that being shot amounted to torture.

However, they also said they were keen to be "martyrs" for their dream of creating a South-east Asian caliphate.

The bombings were blamed on the militant group Jemaah Islamiah, widely regarded as a regional affiliate of the al-Qaeda network, but several key suspects have never been caught.

Malaysian Azahari Husin, alleged to be Jemaah Islamiah's top bomb-making expert and to have helped assemble the Bali bombs, was killed by police in eastern Indonesian in November 2005.

Alleged bomb-maker Noordin Mohammad Top and electronics expert Dulmatin, an Indonesian, are still at large.

No remorse

None of the executed men had ever expressed remorse for the attacks, only saying they regretted that Muslims had been killed.

The aftermath of the Bali bomb (13/10/2008)
The two explosions killed 202 people, mostly foreign tourists

A last-minute appeal by relatives of the bombers was rejected by a Supreme Court judge earlier this week.

Some of the victims' families, however, had said they opposed the execution.

Susannah Miller, whose brother was killed, said the deaths would be a "state-sponsored route to martyrdom" which would encourage extremists.

Speaking after the executions, Australian Foreign Minister Stephen Smith said it was "not a day that fills us with any joy or with any celebration".

There were 88 Australians among those who died in the bombings, as well as 38 Indonesians and 28 Britons.

"My first thoughts are for the families of the victims of both the Bali bombings, it's just in my view a terrible reminder of a terrible, horrible event that occurred to family members," Mr Smith said.

Correspondents say that while executing the men has sent a strong message, it could also put the country's hard-won security at risk if it inspires other extremists to carry out similar acts.