Showing posts with label capres. Show all posts
Showing posts with label capres. Show all posts

"Dilecehkan" Survei, Golkar Minta Kalla Maju

 clipped from pemilu.antara.co.id

08/01/09 10:00


"Dilecehkan" Survei, Golkar Minta Kalla Maju



Golkar geram karena merasa "dilecehkan" oleh beberapa lembaga survei dan kader-kadernya meminta Jusuf Kalla menyalonkan diri sebagai Capres untuk merespon apa yang mereka sebut sebagai "pelecehan" itu.

Jakarta (ANTARA News) - Merespon atas apa yang disebutnya sebagai "pelecehan" oleh beberapa lembaga survei dan "penghinaan" Partai Demokrat, kader-kader Partai Golkar meminta Jusuf Kalla berani menjadi calon presiden pada Pilpres 2009.

"Istilah dalam komunitas Bugis Makassar, tegakkan kembali `siri` atau kehormatan paling tinggi. Iya, itu harkat dan martabat partai telah benar-benar diinjak-injak oleh hasil polling beberapa lembaga survei yang hanya mendasarkan data 2000-an orang, tetapi seolah-olah telah mewakili 120 jutaan pemilih," kata salah seorang Ketua Departemen di DPP Golkar, Zainal Bintang, di Jakarta, Kamis.

Zainal yang mengungkapkan itu atas nama rekan-rekannya di Golkar menegaskan, hanya ada dua langkah terobosan yang segera harus dilakukan sekarang oleh Partai Golkar selaku partai dengan segudang sejarah bagi eksistensi NKRI.

"Pertama, Jusuf Kalla (JK) harus segera menyatakan dirinya akan maju sebagai calon presiden (Capres) 2009. Ini demi menegakkan `siri` PG," tandasnya.

Kedua, tegasnya lagi, perlu sebuah gebrakan total untuk membangkitkan militansi kader-kader PG untuk berjuang mati-matian guna mengembalikan kejayaan partai.

"Sekali lagi, untuk langkah kedua ini, harus diawali dengan keberanian JK menyatakan diri maju sebagai Capres," katanya meyakinkan.

Jika ini bisa dilakukan segera, ia yakin soliditas keluarga besar PG akan menguat. "Dan lawan-lawan politik PG akan berfikir untuk merendahkan PG," ujar Zainal Bintang lagi.


Baca Juga


Sent with Clipmarks

Sutiyoso: Militer Indonesia Seharusnya Kecil dan Profesional

 clipped from pemilu.antara.co.id

07/01/09 22:24


Sutiyoso: Militer Indonesia Seharusnya Kecil dan Profesional


tagsTag: pemilu


Jakarta (ANTARA News) - Capres dari Partai Indonesia Sejahtera (PIS) Sutiyoso mempunyai obsesi hadirnya sosok militer Indonesia yang jumlahnya kecil tapi memiliki profesionalisme dan mobilitas tinggi serta dilengkapi persenjataan canggih.

"Seharusnya kita punya postur TNI yang kecil saja tapi profesional, punya mobilitas tinggi dan dilengkapi persenjataan yang modern," katanya saat berbicara dalam "Forum PPP Mendengar" di Kantor DPP PPP Jakarta, Rabu malam.

Menurut mantan Gubernur DKI selama dua periode itu, tentara Indonesia saat ini mobilitasnya rendah karena sarana pendukungnya seperti alat angkut personel yang digunakan sudah sangat ketinggalan zaman.

Kerapuhan kekuatan militer itu, ujarnya lagi, sangat diketahui militer negara tetangga sehingga bangsa Indonesia terus dilecehkan.

"Termasuk pula kita sering dilecehkan oleh tetangga kemarin sore, Timor Leste," katanya.

Lebih lanjut Sutiyoso yang juga purnawirawan Letnan Jenderal itu mengatakan bahwa konsekuensi dari sistim pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata) yang dianut Indonesia itu seharusnya merujuk pada postur militer yang jumlahnya kecil, tapi profesional dan terlatih dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi.

Terkait dengan perlengkapan militer yang seharusnya terus dimodernisasi, Sutiyoso menghendaki agar berbagai industri strategis sebagai pendukung utama militer terus dihidupkan.

Pada bagian lain, Sutiyoso menegaskan bahwa negara ini sarat masalah dan karenanya diperlukan nyali yang besar untuk membereskan berbagai masalah itu dengan terobosan baru.

"Kalau hanya langkah yang normatif atau konvensional saja, tidak akan ada perubahan buat bangsa ini," ujarnya.

Soal demokratisasi, Bang Yos berpendapat bahwa gubernur itu sebaiknya dipilih saja oleh DPRD setelah praktik pilkada langsung lebih banyak kerugian dari pada manfaatnya.

Selain itu, dengan kembali pemilihan lewat DPRD juga akan menghemat biaya besar.

Jadi, katanya lagi, DPRD mengajukan lima cagub kepada pemerintah untuk dipilih karena gubernur itu seharusnya adalah wakil pemerintah pusat di daerah-daerah.

"Sekarang ini pemerintah mengundang gubernur atau bupati, tetapi mereka pada tidak datang," katanya.

Sementara itu salah panelis Prof Tjipta Lesmana mengkritik PPP yang seharusnya dengan potensi besar yang dimilikinya, partai berlambang Kabah itu seharusnya tampil dengan capresnya sendiri.

PPP, ujarnya, mempunyai modal yang cukup bagus. "Tetapi Suryadharma tampaknya sudah menggembok pintu PPP dengan hanya mendengar capres dari partai-partai lain," katanya.(*)

Baca Juga


Sent with Clipmarks

Zainal Bintang Desak JK Nyatakan Diri Sebagai Capres

 clipped from pemilu.antara.co.id

07/01/09 23:32


Zainal Bintang Desak JK Nyatakan Diri Sebagai Capres



Jakarta (ANTARA News) - Ketua Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi DPP Partai Golkar Zainal Bintang mendesak ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar M Jusuf Kalla segera menyatakan diri maju sebagai calon Presiden (Capres) 2009 untuk menegakkan harkat dan martabah Partai Golkar.

"Salah satu langkah Ketua Umum Jusuf Kalla untuk menegakkan "siri" Partai Golkar adalah segera menyatakan diri akan maju sebagai calon presiden 2009," katanya di Jakarta, Rabu.

Menurut Zainal, selama ini harkat dan martabat Partai Golkar sebagai sebuah partai besar diduga telah dilecehkan oleh beberapa lembaga survei. Menurut Zainal beberapa lembaga survei yang selalu merendahkan posisi Ketua Umum Partai Golkar tersebut dinilai telah keterlaluan dan merendahkan Partai Golkar.

"Sesuai nilai_nilai budaya Bugis Makassar tindakan-tindakan tersebut sudah menyangkut soal "siri" (kehormatan tertinggi)," kata Zainal dengan tegas.

Oleh karena itu, tambah Zinal, sebagai orang Bugis Makassar, JK wajib menegakkan "siri" Partai Golkar tersebut.

Zainal menjelaskan bahwa dalam sejarahnya Partai Golkar bukan partai peminta-minta jabatan. Partai Golkar telah berjasa ikut membangun bangsa dan negara ini. Oleh karena itu, tambahnya parpol lain tidak punya hak untuk ikut mengatur posisi politik Ketua Umum Partai Golkar, apakah harus posisi Wapres atau yang lainnya.

"JK dan tokoh-tokoh Partai Golkar lainnya jangan diam saja," kata Zainal.

Dalam pandangan Zainal, jika JK selaku Ketua Umum DPP partai Golkar telah menyatakan diri maju sebagai capres 2009 maka langkah tersebut akan membangkitkan militansi kader-kader partai di bawah.

Para kader partai, tambahnya akan berjuang mati-matian mengembalikan kejayaan Partai Golkar. Dengan demikian, tambahnya solidaritas keluarga besar partai Golkar akan menguat dan lawan-lawan politik justru akan berfikir ulang untuk menrendahkan martabah Partai Golkar.(*)

Baca Juga


Sent with Clipmarks

Megawati: Cawapres dari Figur Pria

Tak ada kesempatan buat putri bung Hatta untuk bersanding dong.

 clipped from www.antara.co.id

07/01/09 08:25

Megawati: Cawapres dari Figur Pria



Manado,  (ANTARA News) - Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarno Putri, mengatakan, Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang akan diusung partai tersebut pada Pilpres 2009, dipastikan bukan dari unsur perempuan, melainkan figur pria yang berterima bagi publik.

Siapa pun Cawapresnya akan dikonkretkan nanti, agar benar-benar teruji, kata Megawati, saat memberikan sambutan pada perayaan Natal bersama umat Kristiani di Manado, Sulawesi Utara, Selasa malam (6/1).

Menurutnya, dirinya sebagai Capres yang diusung PDIP diibaratkan sebagai bunga yang memancarkan keharuman, sehingga tergantung kumbang yang menciumnya dengan keinginan bunga.

Mengenai siapa figur Cawapres bagi Megawati,  PDIP akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Solo, Jawa Tengah.

Pada kegiatan ibadan Natal tersebut, Megawati mengajak umat Kristiani untuk selalu merenungi perayaan kesakralan itu dengan penuh hikmat agar memancarkan kedamaian, kasih dan persaudaraan.

Hadir pada perayaan Natal tersebut, Gubernur Sulut, SH Sarundajang, Sekjen DPP Pramono Anung, Ketua DPD PDIP Sulut, Freddy Sualang, anggota DPR RI, Olly Dondokambey, serta sejumlah masyarakat dan simpatisan PDIP.

Pada rangkaian kunjungan politik ke Manado, Megawati menyempatkan diri untuk meresmikan Kantor Sekretariat DPD PDIP Sulut di Jalan Rike 17 Agustus Manado, serta melakukan penanaman padi "MSP" di Kabupaten Minahasa Utara.(*)

Baca Juga


Sent with Clipmarks

Paranormal Jember Gelar Ritual Untuk Mengetahui Capres

"Ritual itu juga menunjukkan nama Sri Sultan menjadi calon terkuat dibandingkan Megawati, SBY, JK, Prabowo, Wiranto, " kata Gus Lilik. (*)

 clipped from pemilu.antara.co.id

05/01/09 14:53


Paranormal Jember Gelar Ritual Untuk Mengetahui Capres



Jember (ANTARA News) - Sejumlah paranormal Jember, Jatim, menggelar ritual "Bedah Nowo Songo" untuk mengetahui calon Presiden 2009 di kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jember, Senin (5/1). Hasilnya muncul coretan gambar Sri Sultan Hamengkubuwono X di kertas putih.

Ritual tersebut diawali dengan pembakaran sejumlah kemenyan yang diiringi dengan doa-doa. Kemudian paranormal itu menebar bunga di sejumlah sudut kantor KPU Jember yang berlokasi di jalan Kalimantan dan puncak ritual di tempatkan di ruangan Ketua KPU Jember, Sudarisman.

Seorang paranormal Jember, Joko Lodang atau dikenal dengan Gus Lilik, Senin, mengatakan, ritual itu digelar untuk menentukan sesuatu dan khusus ritual ini ditujukan untuk mengetahui siapa calon Presiden pada Pemilu 2009 mendatang. Ada enam nama yang disebut dalam ritual itu, antara lain Sri Sultan, Megawati, SBY, JK, Prabowo dan Wiranto.

"Kita gelar ritual untuk mengetahui calon Presiden 2009," katanya.

Menurut Gus Lilik, ritual tersebut di gelar di KPUD karena seluruh surat suara akan dihitung di KPUD pada pemilu mendatang dan KPUD merupakan penyelenggara pemilu sehingga kantor KPUD lebih menjadi lokasi yang tepat untuk menggelar ritual tersebut.

Setelah doa-doa dibaca oleh sejumlah paranormal, kata Gus Lilik, muncul, gambar calon Presiden yang memakai "blankon", topi adat Jawa dari kertas putih yang sudah dimantrai doa-doa dan dibawah gambar ada tulisan jawa.

"Calon Presiden yang memakai blankon adalah Sri Sultan HB X, bukan Megawati atau Susilo Bambang Yudhoyono, " katanya menjelaskan.

Untuk itu, kata Gus Lilik, paranormal di Jember mendukung Sri Sultan HB X untuk maju menjadi calon presiden (capres) tahun 2009 karena sudah mendapat restu dari alam gaib.

"Ritual itu juga menunjukkan nama Sri Sultan menjadi calon terkuat dibandingkan Megawati, SBY, JK, Prabowo, Wiranto, " kata Gus Lilik. (*)

Baca Juga


Sent with Clipmarks

Din: Poros Tengah Jilid II untuk Jangka Panjang

 clipped from pemilu.antara.co.id

05/01/09 17:07


Din: Poros Tengah Jilid II untuk Jangka Panjang



Ketua Umum PP Muhammadiyah menyatakan Poros Tengah jilid II yang digagasnya adalah untuk kepentingan bangsa jangka panjang dan ia menyarankan Ormas dan Parpol Islam bersatu agar bisa meraih minimal 40 persen suara.




Yogyakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan bahwa pembentukan koalisi strategis Poros Tengah jilid II yang dibangunnya adalah untuk kepentingan bangsa jangka panjang.

"Ini sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menampilkan ukhuwah islamiah, yaitu duduk bersama berusaha menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan," kata Din usai acara pernyataan sikap PP Muhammadiyah tentang agresi Israel terhadap Pelestina di Jalur Gaza di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, koalisi strategis yang menggandeng berbagai Parpol dan organisasi massa (ormas) Islam tersebut bertujuan untuk membicarakan berbagai masalah-masalah strategis yang sedang dialami bangsa Indonesia, seperti bagaimana mengatasi dampak krisis ekonomi global.

Apalagi, kata dia, saat ini banyak pihak yang mengecam ekonomi kapitalisme, atau untuk menegakkan kedaulatan bangsa demi kemajuan dan kerukunan.

"Apa tawaran politik Islam menyangkut berbagai masalah itu, bagaimana ekonomi alternatif yang harus dibangun untuk mengatasi krisis, dan masalah-masalah lainnya," katanya.

Namun demikian, menurut Din, tidak dapat dipungkiri apabila dalam pertemuan-pertemuan tersebut juga dibicarakan politik jangka pendek mengenai Pilpres.

"Sebagai pimpinan ormas Islam, saya hanya menyarankan, tetapi pelaksanaannya terserah mereka," katanya.

Ia juga mengatakan tujuan lain yang ingin diraih dari koalisi strategis itu adalah menjalin hubungan dengan negara lain atau simpul lain, yang kemudian dia sebut sebagai lingkar simpul kebangsaan.

"Jadi, bukan merupakan gerakan sektarian yang terbatas, tetapi lebih luas, yakni ukhuwah yang lebih luas. Hanya saja, sebelum menjalin hubungan dengan pihak lain, ada baiknya mempererat hubungan dengan ormas terlebih dulu," katanya.

Bersatunya ormas dan juga parpol Islam, menurut dia akan menghilangkan sisi egoisme sektoral yang tidak akan melahirkan konsep bersama untuk menangani masalah strategis bangsa.

Ketika ditanya apakah Din berharap ada kristalisasi dari seluruh ormas dan Parpol yang tergabung dalam koalisi itu, ia hanya mengatakan masalah tersebut sangat tergantung dari ormas dan Parpol Islam.

Sebagai orang dari luar ranah politk Din menyarankan, agar ormas dan Parpol Islam bersatu agar bisa meraih minimal 40 persen suara.

"Jika sendiri-sendiri, mungkin hanya mendapat dua, lima atau 10 persen saja, karena kekuatannya tercecer. Tetapi itu bukan urusan saya, dan saya hanya mendorong," katanya.

Baca Juga


Sent with Clipmarks

Amien Rais Sebaiknya Jadi "Kingmaker"

 clipped from pemilu.antara.co.id

27/12/08 19:11


Amien Rais Sebaiknya Jadi "Kingmaker"



Langkah sebagian kader PAN mendukung Amien Rais menyalonkan presiden dinilai pengamat politik dari Universitas Parahyangan kurang tepat karena Amien lebih baik tetap berperan sebagai kingmaker.

Bandung (ANTARA News) - Langkah Partai Amanat Nasional (PAN) menyalonkan Amien Rais pada Pilpres 2009, dinilai pakar politik Universitas Parahyangan, Asep Warlan, kurang tepat karena sosok Amien sebagai guru bangsa seharusnya tetap berperan sebagai kingmaker (pencetak pemimpin).

Di Bandung, Sabtu, Asep menjelaskan sosok Amien masih sangat dihormati dan diakui berbagai kalangan sehingga dengan dorongannya kepada para capres lainnya diyakini akan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

"Baiknya Amien yang memiliki integritas, visi,misi bangsa ke masa depan ini mendorong Din Syamsudin atau Sutrisno Bachir dan atau bahkan calon lain di luar partai seperti Prabowo, Wiranto," katanya.

Asep melihat peluang Amien dalam pencalonannya tidak akan berbeda dengan Pilpres 2004 dimana pendiri PAN tersebut tidak lolos ke putaran kedua bersanding bersama calon lainnya SBY dan Megawati.

"Dukungan partai yang kurang kuat membuat sosok Amien menjadi kurang laku di masyarakat ditambah sulitnya PAN berkoalisi karena tidak memiliki karakter yang jelas, apakah nasionalis, agamis ataupun koalisi keduanya," ujar Asep.

Menurutnya, PAN tidak memiliki karakter yang jelas seperti Partai Golkar, PDI Perjuangan, PKS dan PKB sekalipun.

Di dalam tubuh Muhammadiyah sendiri, lanjutnya, kini terpecah karena adanya kabar pencalonan Din dan Sutrisno Bachir. "Semakin sulitlah posisi Amien Rais jika mencalonkan diri," katanya.

Namun dibalik pencalonannya sebagai Capres 2009, kata Asep, hal itu merupakan hak dari Amien Rais sebagai warga negara. "Tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mendulang suara dalam Pilpres mendatang," ujarnya.

Amien harus mampu menggandeng dukungan dari non partai untuk mendulang suara dan menggandeng Din Syamsudin sebagai cawapres, misalnya.
"Pencalonan Amien ini dapat mewarnai persaingan dan pilihan alternatif dalam pemilihan presiden mendatang yang diikuti oleh Prabowo, Wiranto, Sultan Hamengkubuwono X dan Rizal Ramli," katanya.

Asep menilai pencalonan ini sebagai manuver PAN untuk memecah konsentrasi masyarakat yang saat ini dihadapkan dengan berbagai pilihan alternatif untuk menyaingi SBY dan Megawati.

Sabtu ini, DPW PAN Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan deklarasi pencalonan Amien Rais sebagai Calon Presiden 2009.(*)


Baca Juga


Sent with Clipmarks

'Golkar-PDIP Kampanye Bareng? No Way!'

 clipped from pemilu.inilah.com
02/01/2009 09:33

'Golkar-PDIP Kampanye Bareng? No Way!'



INILAH.COM, Jakarta - Usul Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar Surya Paloh agar elite Golkar berkampanye bareng PDIP dinilai para pengurus partai berlambang pohon beringin itu sebagai gagasan yang tak masuk akal. Selain tak punya dasar, kampanye seperti itu mustahil dilakukan.

"Kita belum pernah membahas masalah itu (wacana koalisi bersama). Itu hanya wacana Pak Surya Paloh saja," ujar Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo, saat berbincang dengan INILAH.COM, Jumat (2/1).

Menurut Firman, kampanye bersama antarparpol itu tidak akan mungkin dapat terlaksana. Sebab masing-masing sibuk dengan agenda dan strateginya sendiri agar mendapatkan dukungan atau suara dari rakyat.

"Jangankan antarparpol. Di dalam Partai Golkar misalnya, antarcaleg saja sudah berkompetisi luar biasa. Jadi tidak mungkin kampanye bersama itu," kata Ketua Harian II Badan Pengendali Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar itu.

Namun begitu, lanjut Firman, jika kampanye bersama itu hendak dilakukan, harus memiliki dasar aturannya yang jelas. Apalagi, MK telah menetapkan perolehan suara caleg berdasarkan suara terbanyak. "Saya kok nggak ketemu nalarnya kalau kampanye bersama itu," ucapnya.

Kampanye bersama dapat dilakukan, lanjut Firman, jika parpol sudah berkoalisi dalam mengusung capres.

Wacana kampanye bersama itu dilontarkan Surya, saat menutup pendidikan dan pelatihan juru kampanye calon legislatif Golkar Kalimantan Barat di Pontianak, 24 Desember 2008 lalu.

Ia mengajak Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDIP Taufik Kiemas, untuk mengkampanyekan, memilih Golkar atau PDIP sama saja dalam Pemilu legislatif 2009. [jib/nuz]


BERITA TERKAIT




Sent with Clipmarks

Surya Paloh Persilakan Partai Demokrat Tinggalkan Golkar

Ini strategi Surya Paloh untuk menaikkan dirinya dikursi nomer 2

Memunculkan Capres dan Cawapres dari kubu internal Golkar

 clipped from www.antara.co.id

02/01/09 22:18

Surya Paloh Persilakan Partai Demokrat Tinggalkan Golkar



Jimbaran (ANTARA News) - Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh menegaskan bahwa Partai Demokrat boleh saja meninggalkan atau tidak berhubungan lagi dengan Partai Goolkar mulai 2009, jika merasa sudah tidak layak lagi berhubungan dengan Golkar.

"Saya mempersilakan Partai Demokrat untuk meninggalkan Partai Golkar," kata Surya Paloh kepada pers di Sanur, Bali, Jumat, usai menghadiri pertemuan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dengan para kadernya.

Surya menegaskan, Golkar tidak akan merasa rugi atau kehilangan jika Partai Demokrat meninggalkan partai bernomor 23 pada Pemilu 2009 itu.

Ia mengatakan pula, tanpa Partai Demokrat pun Golkar masih tetap bisa mengabdikan diri kepada bangsa dan negara, misalnya dengan berkoalisi dengan partai-partai lain.

Ia menyebutkan, kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku kader Partai Demokrat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang merupakan kader Golkar pada dasarnya memang sebuah koalisi.

Namun, katanya, jika Partai Demokrat merasa tidak layak lagi berhubungan dengan Golkar maka Golkar akan tetap bisa bekerja dengan siapapun juga.

"Tidak akan timbul masalah besar dari Partai Golkar jika ditinggalkan Partai Demokrat," kata Surya dengan nada tegas.

Sementara itu, ketka menyinggung persiapan kampanye Golkar mulai 5 Januari 2009, ia menyebutkan seluruh kader dan simpatisan partai ini harus bekerja keras.

Ia memberikan contoh di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur, Golkar memang kalah dalam pemilihan gubernur serta wakil gubernur.

"Di Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur, kita betul-betul harus bekerja keras karena ketiga provinsi tersebut merupakan lumbung pemilih," katanya.

Surya mengatakan pula, dengan memiliki kursi 128 di DPR RI, maka posisi ini mencerminkan Golkar masih tetap diperhatikan dan dicintai oleh banyak warga masyarakat.

"Untuk tetap mempertahankan atau meningkatkan kursi Golkar di DPR, DPRD Provinsi serta DPRD Kabupaten/Kota maka seluruh kader serta simpatisan partai ini harus bekerja keras misalnya dengan melakukan kerja kongkrit untuk menarik jutaan calon pemilih tersebut.(*)
Sent with Clipmarks

Fadel Sayangkan Teguran Jusuf Kalla

 clipped from pemilu.antara.co.id

29/12/08 19:29


Fadel Sayangkan Teguran Jusuf Kalla



Makassar (ANTARA News) - Ketua DPD Golkar Provinsi Gorontalo, Fadel Muhammad, menyayangkan teguran Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK) soal larangan pembicaraan capres dari Partai Golkar sebelum Pemilu Legislatif.

"Awal Januari 2009 mendatang, saya akan jadwalkan meminta waktu Jusuf Kalla untuk mengklarifikasi soal larangan tersebut," kata Gubernur Gorontalo itu di Makassar, Senin.

Hal ini diungkapkannya di depan wartawan saat transit penerbangan di Makassar, sebelum bertolak ke Bali untuk menemui tim suksesnya dalam rangka membicarakan agenda pencalonan dirinya sebagai presiden pada Pemilu 2009 mendatang.

Menurutnya, ia akan minta JK mengklarifikasi pernyataan yang dikeluarkannya Sabtu (27/12) lalu itu.

Dikatakannya, setelah mendapat penjelasan ia akan menentukan sikap apakah akan maju dari Partai Golkar atau melalui partai lain, pada bulan Februari 2009 mendatang.

Lebih lanjut Fadel menjelaskan, kalau misalnya nanti JK selaku Ketua Umum Partai Golkar memberi restu untuk maju mencalonkan diri sebagai capres tahun 2009 mendatang, maka bagi Fadel, hal tersebut adalah satu hal yang menarik. Dengan demikian akan ada peluang untuk berkiprah serta membentuk tim.

"Tapi jika misalnya ternyata tidak diizinkan maka apa daya," katanya.

Meski begitu, ia berharap dirinya masih dicalonkan melalui Partai Golkar yang saat ini diketuainya di Gorontalo dan tempatnya berkiprah selama ini.

Fadel Muhammad memberikan apresiasi pada Pemilu Presiden 2004 lalu, ketika Partai Golkar membuka peluang kepada para kader-kadernya untuk ikut mencalonkan diri sebagai Capres melalui konvensi.

"Tapi kali ini tidak ada lagi konvensi lalu keluar teguran JK dan teman-teman DPP Partai Golkar soal pencalonan itu," ujarnya menutup pembicaraan.(*)
Sent with Clipmarks

Apa Jadinya Kalau Demokrat Mendepak Golkar dan Megawati Mundur?

 clipped from www.berpolitik.com
Senin, 22 Desemberß 2008

Apa Jadinya Kalau Demokrat Mendepak Golkar dan Megawati Mundur?

Dalam politik konon berlaku adigium: tidak ada yang tak mungkin. Inilah yang barangkali mendorong berkembangnya dua isu yang mulai menjadi bahan perbincangan di kalangan terbatas.

Isu yang pertama menyangkut kemungkinan Demokrat menendang Golkar. Di atas kertas, yang diyakini publik adalah sebaliknya. Sebab postur dan kekuatan Golkar dianggap terlalu besar untuk diabaikan Demokrat. Terlebih mengingat persyaratan pengajuan pilpres yang terbilang tinggi.

Tapi, rupanya perkembangan mutakhir menunjukkan adanya kemungkinan tersebut. Dari survei-survei terlihat, pergerakan Demokrat yang makin moncer. Menurut Saeful Mudjani, Direktur Eksekutif LSI, Demokrat sudah mulai merambah basis-basis suara Golkar di Sumatera, Jawa Barat dan juga Indonesia Timur.

Pada saat yang sama, faksionalisasi di tubuh Golkar malah meruncing karena berbagai sebab. Gontok-gontokan itu tak hanya terjadi di tingkat elit, tetapi juga menyebar hingga tingkat wilayah. Untuk sebagian pertikaian itu merupakan imbas pilkada yang tak tertuntaskan. Sebagian lagi bersumber dari penetapan caleg.

Sebuah sumber mengkonfirmasi bahwa Kalla semakin mendapat pertentangan di dalam tubuh Golkar. Para penentangnya berupaya keras memisahkan SBY dan Jusuf Kalla. Salah satu modusnya adalah dengan melansir permintaan jatah menteri yang besar. Di lain waktu, mereka mendorong Kalla untuk menjadi capres.

Kalla sendiri justru berupaya mati-matian menjadi wakil yang baik di mata SBY. Ini terlihat dari ucapan dan tindakannya akhir-akhir ini yang sangat terjaga. Dalam beberapa isu krusial, Kalla bahkan berani tampil di depan sebagai "sasaran tembak" publik. Ini, misalnya, terlihat dari kasus kelangkaan gas tabung 3 kg dan 12 kg.

Menurut sejumlah kalangan, kemungkinan Demokrat menedang Golkar akan sangat terbuka jika perolehan partai ini tak meleset terlalu jauh dari prediksi survei hari ini. Yakni di kisaran 13% - 16%. Dengan perolehan suara sebesar itu, Demokrat lebih leluasa bermanuver. Problemnya, peraihan suara partai ini sangat ditentukan oleh elektibilitas SBY.

Jadi, jika tingkat kepuasan publik terhadap SBY minimal terpelihara seperti sekarang, Demokrat besar kemungkinan akan terbang tinggi. Ironinya, kepuasan publik sedikit banyak juga ditentukan oleh kinerja Jusuf Kalla dan departemen-departemen yang sebagian diisi oleh kader-kader partai lain.

Mundur?
Yang kedua terkait spekulasi mundurnya Megawati. Ada sementara kalangan yang meyakini Megawati akan mengundurkan diri. Isu ini sejatinya sudah pernah beredar sekitar 8-9 bulan silam. Setelah sempat menghilang, wacana ini kembali dihembuskan.

Jika Megawati mundur, maka peluang pesaing-pesaing SBY yang lain memang membesar. Hal ini terutama akan menjadikan mereka sebagai pilihan alternatif terhadap SBY.

Sejauh ini ada tiga kandidat presiden yang diuntungkan jika Megawati benar-benar keluar dari gelanggang: Sultan HB X, Hidayat Nur Wahid dan juga Prabowo. Secara kebetulan, ketiga-tiganya disebut sebagai cawapres yang paling serius dipertimbangkan kubu presiden RI ke 5 ini.

Mungkinkah Megawati mengundurkan diri?

Beberapa kalangan yang dimintai pendapatnya soal ini umumnya meragukan kemungkinan tersebut. Menurut salah satu dari mereka, Megawati baru benar-benar mempertimbangkan akan mengundurkan diri jika perolehan suara PDIP anjlok secara drastis, katakanlah menjadi di bawah 10%.

Jika Demokrat menggempur PDIP dan Megawati secara massif di berbagai lini, bukan tak mungkin peraihan suara si moncong putih ini memang melorot habis. Apalagi jika di internal PDIP juga berkembang konflik sebagai imbas pencalegan.Maka lengkaplah sudah "penderitaan" partai bernomor urut 28 ini.

Sebagai akibatnya, Megawati sangat besar peluangnya untuk mengibarkan bendera putih. Nah, mundurnya Megawati akan memberi ruang bagi kandidat presiden alternatif untuk tampil lebih mencorong merengkuh hati publik. Mereka diprediksi mempunyai peluang yang besar untuk mengalahkan SBY ketimbang jika Megawati kembali behadap-hadapan dengan SBY.

Jadi, mundur tidaknya Megawati untuk sebagian ditentukan oleh seberapa besar manuver Demokrat. Semakin besar intensitas serangan balik mereka, semakin mungkin Megawati keluar dari bursa. Tapi, persis bersamaan dengan itu, bakal hadir kandidat alternatif yang bisa menumbangkan SBY.

Menarik bukan?
Sent with Clipmarks

PKS: Megawati Sulit Dijual

 clipped from www.berpolitik.com
PKS: Megawati Sulit Dijual



Sumbawa - Otak-atik masalah pasangan kandidat capres dan cawapres pendampingnya terus bergulir di internal parpol. Tapi sejauh ini hanya PKS yang belum melontarkan siapa pasangan yang akan didukungnya.

"Kita belum melihat nama capres yang layak untuk didukung. Tapi sejumlah nama sedang digodok di DPP," jelas Wakil Sekjen PKS Fahri Hamzah kepada detikcom saat melakukan pertemuan dengan sejumlah anggota DPD PKS di Sumbawa Besar, NTB, Senin  (29/12/2008).

Sejauh ini PKS dikabarkan tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah parpol, terutama PDIP, Golkar dan Hanura. Namun penjajakan koalisi tersebut, kata Fahri, belum ada titik temu karena semua masih ngotot dengan capresnya masing-masing.

"PKS akan serius melakukan penjajakan koalisi di pilpres kalau masing-masing
punya zero option. Sebab penentuan capres PKS akan diputuskan setelah pemilu
legislatif. Bukan saat ini," ujar politisi asal NTB tersebut.

Terkait wacana pasangan Mega-Hidayat Nur Wahid atau Jusuf Kalla- Hidayat, imbuh Fahri, duet tersebut tidak akan menguntungkan PKS. Sebab kedua kandidat capres tersebut kurang mendapat dukungan yang signifikan.

"Megawati sulit untuk dijual karena pernah memimpin dan punya catatan yang
kurang bagus saat itu. Sedangkan JK kurang diterima di pulau Jawa, " pungkasnya. (ddg/lh)

Deden Gunawan - detikNews
Sent with Clipmarks

Akbar: JK lebih Mendahulukan Kepentingan Pribadi Daripada Kepentingan Partai

 clipped from beritabaru.com

Akbar: JK lebih Mendahulukan Kepentingan Pribadi Daripada Kepentingan Partai


Jumat, 26/12/2008 16:41 WIB



Jakarta, beritabaru.com - Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Akbar Tanjung menilai Ketua Umum DPP Golkar Jusuf Kalla lebih mendahulukan perspektif kepentingan pribadinya ketimbang kepentingan Partai Golkar.

"Ya saya kira dia lebih punya hitung-hitungan politis lebih banyak ke perspektif pribadinya, bukan perspektif partai," cetusnya kepada beritabaru.com saat dihubungi per telepon di Jakarta, Jumat (26/12).

Pernyataan tersebut dikeluarkan Akbar, menanggapi pernyataan pengamat politik, Tjipta Lesmana, dalam diskusi di DPP Partai Golkar, Selasa (23/12) yang mengatakan bahwa Jusuf Kalla sebagai ganjalan bagi Partai Golkar dalam pemilihan presiden 2009.

Menurut Akbar, indikasi atas hal tersebut dapat dilihat dari belum adanya sikap yang jelas dari Partai Golkar dalam menghadapi Pilpres 2009 sehingga menimbulkan kesan bahwa Jusuf Kalla tidak menginginkan Partai Golkar mempunyai seorang calon presiden.

Akbar menegaskan, jika mengacu dari perspektif partai, maka seharusnya Partai Golkar sebagai partai besar dan partai pemenang pemilu 2009 sudah sepantasnya memiliki seorang calon presiden sendiri.

"Jangan-jangan dia (JK) tidak setuju Partai Golkar punya capres, atau kita jadi cawapres saja. Nah sedangkan cawapres itu adalah dia sendiri," sindirnya.

Oleh karena itu Akbar menyarankan agar JK lebih mendahulukan perspektif partai ketimbang perspektif kepentingan politik pribadi. Akbar berpandangan bagaimanapun Partai Golkar harus sudah mempersiapkan diri dari sekarang dalam menghadapi pemilu 2009 dengan melakukan proses rekrutmen terhadap calon presiden.

"Sepertinya beliau dilematis, padahal pemilu presiden kan bulan Juli, Kalau April ini baru diputuskan ya hanya ada waktu dua bulan saja untuk mensosilisaikan capres," imbuhnya.

Ditambahkan oleh Akbar, para kader Golkar sebenarnya sudah menyadari adanya dominasi kepentingan politik pribadi sang ketua umum di tubuh partai, tetapi mereka masih melihat perkembangan untuk menyampaikan aspirasinya.

"Mereka masih melihat perkembangan beberapa bulan, atau dua bulan kedepan, nah disitulah akan muncul barang kali, ya kita tunggu saja," pungkas mantan Ketua DPR tersebut.(Kur/Nda)

Sent with Clipmarks

Amin Rais Siap Maju Konvensi Capres 2009 Oleh PAN

 clipped from beritabaru.com

Amin Rais Siap Maju Konvensi Capres 2009 Oleh PAN


Minggu, 28/12/2008 14:32 WIB



Jakarta, beritabaru.com - Setelah namanya masuk dalam konvensi sembilan calon presiden 2009 yang diusungkan partainya, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, memastikan dirinya akan ikut konvensi pencalonan calon presiden (capres) yang akan dilakukan oleh PAN.

"Wong jelas, ya konvensi saya ikut," tegasnya di sela-sela acara pembekalan para calon legislatif DPR RI Partai Amanat Nasional (PAN), di Hotel Sultan, Jakarta,Minggu (28/12).

Oleh karena itu Amien meminta PAN untuk tidak meniru partai yang tidak
melakukan konvensi dalam menentukan seorang calon presiden 2009.

"Nah jadi kita tidak mau meniru partai yang tidak mau konvensi," imbuhnya.

Menurutnya PAN sebagai partai yang demokratis dan bukan partai milik segelintir elit atau kelompok tertentu sudah sepatutnya dalam menentukan capresnya melalui mekanisme konvensi. Oleh karena itu Amien berharap PAN mau melakukan konvensi dalam menjaring kader-kadernya untuk dicalonkan sebagai calon presiden 2009.

"Biasa partai-partai demokrasi di negara maju itu mesti lewat konvensi,"
ungkapnya.

Mengenai metode konvensi, dia menjelaskan, cukup mengumpulkan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dengan mendengarkan visi-misi calon dan kemudian dilakukan mekanisme voting.

"Jadi saya kira tidak usah seperti di Amerika yang berbulan-bulan,"jelasnya.

Namun demikian dia menyatakan akan menerima apapun hasil dari konvensi nanti.

"Jadi misalkan saya kalah alhamdulillah berarti ada yang lebih dipercaya,"
kilahnya. (Kur/dyo)

Sent with Clipmarks

PAN Umumkan Sembilan Capres 2009

 clipped from beritabaru.com

PAN Umumkan Sembilan Capres 2009


Minggu, 28/12/2008 13:40 WIB



Jakarta, beritabaru.com - Ketua umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN), Sutrisno Bachir mengumumkan sembilan nama calon presiden yang akan diusung oleh PAN.

Hal itu disampaikan Sutrisno Bachir di sela-sela rapat tentang pemantapan calon legislatif DPR RI PAN , di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (28/12).

Ia menyebutkan kesembilan nama tersebut adalah, dirinya sendiri atau Sutrisno Bachir (Ketua Umum DPP PAN), M. Amien Rais (Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PAN), Bambang Sudibyo (Mendiknas), Hatta Rajasa (Mensesneg), Zulkifli Hassan (Ketua Fraksi PAN), Zulkifli Nurdin (Gubernur Jambi), Yahya Muhaimin (Majelis Pertimbangan Pusat PAN), Nur Alam (Gubernur Sulawesi Utara) dan Dede Yusuf Effendi (Wakil Gubernur Jawa Barat).

"Itulah aspirasi dari daerah maupun calon legislatif itu, yang mereka
mengusulkan," ucapnya.

Namun demikian dia menyatakan tidak menutup kemungkinan akan ada perubahan terhadap nama-nama tersebut. Menurutnya kedepan masih akan ada perkembangan seputar nama-nama yang akan dicalonkan sebagai Capres 2009 oleh PAN.

"Inikan baru usulan namanya politik itu bisa berkembang," jelasnya.

Dia juga menyatakan bahwa partainya dalam melakukan koalisi pada Pilpres 2009 nanti, tidak menutup kemungkinan PAN hanya mengajukan seorang calon Wakil Presiden. Tetapi PAN akan tetap berupaya untuk mengajukan salah satu diantara sembilan nama tersebut untuk dijadikan capres dalam koalisi yang dibangun secara bersama dengan partai lainnya.

"Tapi kita akan upayakan untuk apakah capresnya atau cawapresnya," kilahnya.

Sementara itu, dia juga mengumumkan sembilan program yang akan dilakukan PAN kedepannya, yakni menciptakan lapangan pekerjaan, menciptakan sembako murah, menciptakan pendidikan dan kesehatan yang murah, menciptakan pasar rakyat dan kewirausahaan, memenuhi kebutuhan energi seperti listrik, minyak dan seagainya.

Mewujudkan lingkungan hidup yang bersih dengan mengatasi permasalahan banjir, menciptakan kesejahteraan sosial bagi anak-anak dan manula, serta menciptakan tempat wisata serta pembangunan perumahan untuk rakyat.

"Kita sebutkan sembilan langkah untuk memakmurkan rakyat," ungkapnya. (Kur/Dyo)

Sent with Clipmarks

Kursi Capres PPP Harganya 300 Miliar

Rabu, 24 Desember 2008, 01:41:44
Kursi Capres PPP Harganya 300 Miliar

Beredar Berita Di Internet

Partai
Persatuan Pembangunan sedang sibuk pilih-pilih capres. Sudah dua tokoh
diundang ke kantor DPP PPP untuk memaparkan misi dan visi. Tapi,
beberapa hari terakhir tersebar isu tak sedap. Katanya, kalau seorang
capres mau didukung PPP, harus ada uang mahar. Besarnya 200-300 miliar
rupiah. Wow...

Jakarta, RM.

Soksi Kecewa Kalau Sultan Jadi Cawapres

 clipped from www.antara.co.id

19/12/08 21:26

Soksi Kecewa Kalau Sultan Jadi Cawapres



Jakarta (ANTARA News) - Ketua Dewan Pendiri Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi) Suhardiman menyatakan sangat kecewa apabila Sri Sultan Hamengku Buwono X hanya bersedia menjadi calon wakil presiden (cawapres) pada pemilihan presiden (pilpres) 2009.

"Soksi mencalonkan Sri Sultan hanya sebagai capres (calon presiden) bukan cawapres," kata Suhardiman, di sela-sela perayaan ulangtahunnya ke-83 di Jakarta, Jumat malam.

Suhardiman menyatakan hal tersebut terkait kemungkinan Sri Sultan menjadi cawapres bagi capres dari PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Pada Jumat siang, saat ditanya usul Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo, yang ingin menyandingkannya sebagai cawapres bagi Megawati Soekarnoputri, Sultan mengatakan,
"Saya tidak bisa komentar apa pun. Nanti kan PDIP menyelenggarakan Rakernas bulan Januari. Nanti lihat, sabarlah, keputusannya nanti," tuturnya.

Suhardiman mengatakan, Soksi sejak awal mempersiapkan Sri Sultan hanya sebagai capres dan keberatan bila Sultan hanya menjadi cawapres. "Kita keberatan kalau Sri Sultan hanya jadi cawapres. Kalau hanya jadi cawapres untuk apa kita calonkan," katanya.

Soksi memang memberi kesempatan kepada Sri Sultan untuk melakukan pendekatan atau menjajagi koalisi dengan partai-partai peserta pemilu. Tapi dalam pendekatan itu Soksi menginginkan Sultan tetap sebagai capres bukan cawapres.

Namun Soksi mengingatkan bahwa koalisi partai dalam rangka pencalonan Sri Sultan tetap harus mengikutsertakan Partai Golkar.

Soksi pada acara halal bihalal Idul Fitri 1429 Hijriah di kediaman Suhardiman mendeklarasikan Gubernur Yogyakarta Sri Sultan sebagai capres pada pilpres 2009.

Sikap politik Soksi tersebut menjadi hal baru di Golkar karena selama ini Soksi sebagai salah satu pendiri Golkar selalu satu sikap dengan DPP Partai Golkar.

Meskipun demikian, sikap politik Soksi ini tidak terlalu menjadi persoalan di DPP Partai Golkar bahkan menjadi salah satu masukan bagi DPP.

Ulang tahun Suhardiman sendiri dihadiri para pengurus DPP Golkar, ormas pendiri Golkar maupun ormas yang didirikan Golkar.

Hadir pada acara tersebut antara lain anggota FPG di DPR Lili Asdjudiredja dan Soeharsoyo, Djojo Kusumo (adik Sri Sultan), serta Bobby Suhardiman (mantan anggota DPR RI yang juga anak Suhardiman).(*)

COPYRIGHT © 2008

Sent with Clipmarks

Demokrat: Cawapres 'Pede', Menyulitkan

 clipped from inilah.com
Demokrat: Cawapres 'Pede', Menyulitkan

INILAH.COM, Jakarta - Ketua DPP Partai Demokrat, Darwin Zahedy Saleh, berpendapat calon wakil presiden (cawapres) dengan posisi tawar yang terlalu tinggi justru akan menjadi kendala tersendiri bagi presiden terpilih dalam menentukan langkah di pemerintahan.

Menurut dia, harus diwaspadai apabila cawapres menempati posisi yang dominan, sebab jika hal itu terjadi, maka justru akan mempersulit posisi presiden terpilih dengan hak prerogatifnya untuk memilih posisi menteri-menterinya yang paling mampu dan bertanggung jawab dalam menjalankan pemerintahan.

Saat ini kesibukan calon presiden untuk mencari pasangannya sebagai calon wakil presiden sudah mulai terlihat dengan mulai digagasnya berbagai pertemuan antartokoh partai politik serta melalui jajak pendapat lembaga-lembaga riset.

"Jika cawapresnya dengan bargainingnya yang terlalu berlebih dan dominan, maka itu justru akan menjadi kendala presiden terpilih dalam menentukan langkah di pemerintahannya," kata Darwin.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa posisi calon wakil presiden itu seharusnya melengkapi calon presiden dan yang pasti pula posisi calon wakil presiden harus mampu menaikkan citra capres yang diusung parpol.

"Cawapres harus mampu memperbesar hasil polling capres dan tidak malah menurunkan hasil polling," kata Darwin.

Selain itu, cawapres tersebut juga harus berkompeten, memiliki rekam jejak yang baik dan bagus bagi perkembangan bangsa Indonesia tidak saja untuk saat ini, tapi juga periode-periode selanjutnya.

Mengenai partai politik yang mulai gencar mencari figur capres/cawapres, Darwin mengatakan bahwa hal itu masih dapat difahami, khususnya bagi parpol yang hasil pollingnya relatif anjlok maka proses pasang memasang capres/cawapres menjadi bagian integral yang seolah-olah untuk mempercantik parpol mereka.

"Mengutip gagasan besar The Governing Dynamic katya John Nash, Professor Princeton University yang dianugerahi Nobel, jika ada 3-5 gadis menarik dan pemuda-pemuda hanya mendekati satu-satunya gadis yang tercantik, maka gadis-gadis lainnya akan gusar dan gadis tercantik harganya pun melonjak," katanya.

Hasil akhir dari kompetisi itu pun, ia menambahkan, menjadi tidak lagi sehat dan tidak maksimal untuk sistem secara keseluruhan. [*/P1]

Sent with Clipmarks