Amin Rais: Indonesia Buktikan Islam Selaras dengan Demokrasi
"Bahkan Indonesia sudah memasuki fase pemilihan untuk gubernur, bupati atau wali kota secara langsung oleh rakyat," ujar Amin Rais dalam kuliah umumnya bertemakan "Islam and Democracy: Indonesian Perspective and Experience" di Bratislava, Slovakia, Selasa.
Sekretaris Satu Bidang Media KBRI Bratislava Wanton Saragih Sid kepada koresponden Antara London, Rabu mengatakan kuliah umum yang diselenggarakan KBRI Bratislava bekerja sama dengan Universitas Ekonomi Bratislava, Slovakia.
Kuliah umum itu dihadiri pula Duta Besar Harsja Joesoef dan diplomat dari perwakilan asing negara sahabat, Friends of Indonesia, pemerhati Islam dan demokrasi serta sekitar 300 mahasiswa dari Universitas Ekonomi dan Universitas Comunius, yang merupakan universitas terkemuka di Slovakia.
Amin Rais mengatakan hal tersebut menjadi fenomena di kalangan pengamat politik, karena secara jelas Indonesia dapat menjadi rujukan untuk menjawab adanya keraguan beberapa kalangan sebelumnya bahwa Islam dapat selaras dengan demokrasi.
Demokrasi di Indonesia saat ini sudah melalui proses dan pengalaman yang panjang dari penerapan demokrasi parlementer pada awal kemerdekaan, demokrasi terpimpin hingga sistem demokrasi saat ini dimana Pancasila merupakan dasar dan ideologi negara.
Demokrasi saat ini sejalan dengan gagasan para pendiri bangsa dan adanya toleransi dari mayoritas muslim pada masa pembentukan Negara Kesatuan RI untuk memilih demokrasi sebagai sistem politik yang cocok bagi Indonesia.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Slovakia, Harsha E. Joesoef menyatakan bahwa dengan kegiatan itu Indonesia ingin berbagi pengalaman dengan negara-negara sahabat mengenai pelaksanaan dan kehidupan demokrasi di Indonesia, yang merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.
Para mahasiswa semakin antusias mengikuti jalannya kuliah umum ketika Duta Besar Harsha menyatakan menyediakan empat souvenir khas Indonesia bagi empat penanya pertama.
Wanton Saragih Sid mengatakan kegiatan kuliah umum Prof. Dr. Amin Rais di Slovakia untuk mengawali rangkaian kunjungan ke beberapa negara Eropa khususnya di Austrian Academy of Sciences dan Vienna University, Wina, Austria dan Jerman.
Usai kuliah umum, KBRI Bratislava menampilkan pagelaran berupa tarian dan presentasi makanan Indonesia seperti bakmi goreng, nasi goreng dan kue-kue jajan pasar sebagai penutup acara, demikian Wanton Saragih Sid.(*)
Sofyan Wanandi dan PDI-P Menolak Label Halal
JAKARTA (Arrahmah.com) - Meski berkali-kali dijelaskan RUU Jaminan Produk Halal yang sedang digodok DPR diperuntukkan untuk kaum Muslim, toh beberapa pihak masih tampak keberatan. Salah satunya adalah pengusaha keturunan Tionghoa, Sofyan Wanandi.
Dalam pernyataannya di acara dialog “Economis Chalanges”, di Metro TV, Senin 21:30 WIB, Sofyan mengaku kecewa dengan RUU ini, yang menurutnya, hanya akan membatasi investasi. “Pengaturan seperti itu bahkan dirasakan sangat mengerikan,” katanya.
Sebagaimana diketahui, dialog bertema “Pro Kontra RUU Jaminan Produk Halal” yang dipandu Suryopratomo itu menghadirkan Ketua Umum Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi, Direktur LPPOM MUI, Dr. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, dan Wakil Ketua Komisi VIII dari Fraksi PDI-P Said Abdullah.
Said Abdullah dari PDI-P bahkan menuduh RUU yang tengah digarap itu sangat berbau sektarian. Lebih jauh, RUU ini menurutnya bertentangan dengan pembukaan UUD 1945, yang melindungi seluruh bangsa Indonesia.
“Yang dilindungi hanya satu golongan saja, “ ujar Said. Menurut Said, dengan memasukkan MUI ke dalam Undang-Undang, sama dengan tidak menghargai perasaan agama yang lain.
Said mengatakan, jika memang pertimbangannya masalah agama, dia menyarankan pemerintah untuk tidak ikut campur terlalu jauh.
“Saya juga heran, kalau maksudnya mau cari duit, kan kita sudah bayar pajak, “ ujar Sofyan Wanandi, bos PT Gemala Container (GC) yang pernah dikabarkan tersangkut kredit macet Rp 89 milyar, agak sinis.
Sementara itu, pihak LPPOM yang diwakili Nadratuzzaman mengelak tuduhan seperti itu. Menurutnya, keberadaan LPPOM-MUI semata-mata hanya untuk melindungi umat Islam. Soal tuduhan ada motif uang, Nadra juga tak membenarkan. Sebab, menurutnya, hingga kini pihaknya bahkan tak memiliki kantor alias nebeng.
Pada akhir pembicaraan, Sofyan berharap agar UU ini bisa mengawal keberadaan pengusaha dan bukan menyulitkan. “Jangan semua dibatas-batasi sehingga membuat kita tidak efisien, “ ujarnya. (hdytlh/arrahmah.com)
Notes :
Dinegara lain hak muslim makin dihargai, disini (indonesia) atas nama dagang dan investasi, mereka yang phoby dengan islam mulai pasang aksi.
:(
Tingkat Spiritual Ayah Bentuk Pribadi Anak
JAKARTA--Ingatkah anda kisah kerelaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra pertamanya, Ismail, atas perintah Allah s.w.t? Ketika Ibrahim berkata kepada putranya ia memiliki ilham bahwa Allah ingin ia menyembelih Ismail, sang putra patuh tanpa keengganan sedikit pun. Hal yang paling luar biasa dari kisah itu adalah, bagaimana Ismail begitu percaya sepenuhnya pada kebenaran ilham sang ayah.
Beberapa anak lelaki saat ini yang akan bereaksi serupa Ismail ketika orang tua berkata pada mereka, "Tuhan menginginkan aku mengorbankan dirimu?. Mungkin sebagian akan menjawab, "Apa Bapak sudah gila? Mereka mungkin bisa menerima gagasan berkorban untuk Allah, namun sulit meyakini ada hubungan kuat antara ayah dengan Allah, seperti yang dialami Ismail.
Inilah letak peran penting seorang ayah dalam keluarga. Kepercayaan mendalam hanya dapat dihasilkan dari hubungan sangat dekat.
Pun, Sang ayah, Nabi Ibrahim sama sekali tidak was-was dan bingung terhadap rencana masa depan putranya. Ismail pun tak memiliki tujuan besar lain selain mematuhi sang ayah, dan bersedia melakukan apa pun perintah Allah. Tentu saja mereka berdua nabi dan dari segi keutamaan dan kedudukan jauh dari manusia biasa.
Namun ada hal-hal besar yang dapat dipelajari oleh keluarga Muslim saat ini. Pemaparan dari ahli psikologi keluarga, Marria Husain, dari situs keluarga Zawaj berikut layak untuk dijadikan acuan.
Menghormati Kepercayaan Keluarga
Orang tua harus terus menjaga nilai kelayakan dan kepercayaan dalam keluarga dengan selalu mengarahkan tujuan rumah tangga untuk beribadah kepada Allah. Faktor pemimpin keluarga sangat besar di sini, yakni ayah. Kini berapa keluarga yang benar-benar membesarkan anak sebagai semata-mata ibadah dan ikhlas kepada Allah.
Sebaliknya berapa banyak keluarga Musim yang mengguyur anak-anak mereka dengan kencang dalam hal keuangan dan material, atau mendorong mereka untuk meraih sebanyak mungkin gaji, jabatan, kedudukan, ketenaran dan materi lain.
Banyak orang tua yang cenderung mengambil alih mimpi anak. Tentu orang tua ingin melihat anak mereka berhasil, sekolah di tempat baik, mendapat jodoh yang baik, tapi itu bukan segalanya dan belum tentu yang diinginkan orang tua juga diinginkan anak.
Anak-anak saat ini dikorbankan untuk jadwal yang padat, bahkan saat mereka di usia kanak-kanak. Orang tua pun tak bisa melepaskan diri dari harapan tinggi pada anak-anak sekaligus melupakan bahwa anak-anak pun berhak menuntut dari orang tua, yakni waktu, kebersamaan, dan kasih sayang. Dalam tradisi para nabi, bila pria menghabiskan waktu bersama keluarga akan dinilai sebagai ibadah.
Keluarga Butuh Cinta Ayah
Cukup memprihatinkan saat ini, banyak keluarga Muslim dikorbankan karena selip pemahaman sang ayah. Pemahaman itu membuat lelaki berkeluarga meninggalkan keluarga demi aktif di komunitas luar.
Saat ini, menurut Maria Hussein, para lelaki kadang berpikir berlebihan dengan menganggap keluarga akan menghalangi kecintaan terhadap Allah, sehingga mereka berjarak dengan istri dan anak-anak. Yang terjadi, para lelaki tipe ini memang kerap terlibat dalam pelayanan komunitas, berlama-lama dalam masjd, menolong orang lain, sementara di rumah hanya berbincang sekedarnya, melakukan aktifitas seperlunya karena energi telah terkuras di luar sebelum akhirnya tidur kecapaian.
Namun, itu masih lebih baik. Maria menuliskan ada lagi tipe yang lebih parah, yakni tipe yang berjarak dari keluarga karena mengejar material. Persamaan kedua tipe ayah itu, sama-sama tidak memandang keluarga sebagai alat untuk beribadah dan mendapat keikhlasan Allah. Kedua tipe ayah di atas menurut Maria, dapat memberi dampak buruk bagi anggota keluarga lain.
Sang istri mungkin, yang awalnya sukarela mendampingi suami dalam pernikahan dan membebaskan suami melakukan 'hal lebih penting' untuk Allah, akan mengubah pandangan. Istri bisa jadi merasa diabaikan dan ditolak. Itu pun sangat mungkin terjadi pada anak. Apalagi bila anak mulai merasakan tanda-tanda bila ibu jengkel terhadap ayah.
Dampak kemudian akan lebih buruk. Bila beberapa bulan atau tahun, anak-anak terbiasa tinggal tanpa ayah itu sangat beresiko. Akan muncul perasaan tidak lagi butuh sosok ayah dan akhirnya hilang perasaan kedekatan. Artinya si ayah sebenarnya telah 'kehilangan' anak mereka. Dalam kehidupan saat ini, tidak cukup bagi seorang ayah hanya datang dan membawa uang lalu merasa pekerjaan sudah beres.
Baik anak lelaki dan perempuan membutuhkan waktu bersama ayah. Anak lelaki yang terabaikan oleh ayah secara psikologi cenderung mengembangkan perilaku kasar, melanggar norma dan hukum dan selip secara seksual saat remaja.
Sementara anak perempuan yang tak mendapat cukup penghargaan, perhatian dan cinta kasih ayah akan lebih rentan dari serangan predator seksual. Hal itu karena, menurut Maria, dibawah sadar, mereka mencari kasih sayang atau peran pengganti ayah. Kebutuhan didorong perasaan putus asa untuk cinta kasih dan pengakuan kerap membuat remaja melakukan perilaku terlarang dan merusak.
Sementara anak-anak berbahagia yang mendapat kesempatan bersama sang ayah untuk bersenang-senang, beraktivitas bersama cenderung sedikit memiliki masalah sosial. Mereka bahkan akan mengembangkan pribadi lebih sehat, stabil dan memenuhi kewajiban pernikahan dengan baik pada tahun-tahun kemudian. itz
Walikota London Ajak Non-Muslim Berpuasa
LONDON--Walikota London, Boris Johnson, secara mengejutkan, mendorong warganya yang tidak menganut Islam untuk menjalankan puasa. Menurut sang walikota, dengan ikut berpuasa, warga non-Muslim dapat memahami tetangga Muslim mereka lebih baik.
Saat berbicara dalam kunjungan ke Masjid London Timur dan Pusat Muslim London, ia mengatakan Muslim di ibu kota menghadapi tantangan stereotip tradisional, dalam upaya membaur dengan golongan masyarakat lebih besar.
"Apakah itu di dalam teater, komedi, olah raga, musik atau politik, Muslim mengalami tantangan seputar setereotip tradisional, menampilkan diri apa adanya dan keinginan menjadi bagian dari komunitas lebih luas," ujar Boris seperti yang dikutip oleh Telegraph, akhir pekan lalu (4/9).
"Itulah mengapa saya anjurkan orang-orang, terutama saat Ramadan, untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam. Tingkatkan pemahaman dan belajarlah, bahkan jika perlu berpuasa sehari bersama tetangga Muslim anda dan berbuka di masjid setempat," seru Boris. "Saya akan terkejut bila anda tidak berbagi hal-hal serupa dengan mereka dibanding yang anda pikirkan selama ini,"
Boris menekankan Muslim berada di jantung setiap aspek kemasyarakatan. "Kontribusi mereka telah dirasakan semua warga London. petugas kepolisian Muslim, dokter, ilmuwan dan guru-guru Muslim sangat berperan penting dalam jaringan masyarakat London,"
Tak ketinggalan ia menyoal pula sistem keuangan Islami yang dia anggap berjasa besar. "Keuangan Islami berkontribusi pada ekonomi dengan mengubah cara warga London berinvestasi, meminjam, menyimpan da membelanjakan uang," papar Boris
"Ada banyak pelajaran berharga yakni orang-orang dari semua latar belakang dapat belajar dari Islam seperti pentingnya semangat kebersamaan dalam komunitas, ikatan kekeluargaan, kasih sayang dan membantu mereka yang kurang beruntung," kata Boris menambahkan. "Semua itu terletak pada ajaran Ramadhan,". itz
---------------
Notes:
Reaksi masyarakat seperti apa ya?
.
Shalat Jumat yang Mengubah Sejarah AS
Insiden peledakan menara kembar World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 memang telah membuat Muslim AS sering mendapat perlakuan diskriminatif. Bahkan, mereka sering menerima pelecehan hak sipil atas identitas mereka sebagai Muslim di era pemerintahan George W Bush.
Namun, situasi itu tampaknya mulai mengalami perubahan. Obama sepertinya memberi harapan bagi warga Muslim AS untuk kembali menunjukkan harga dirinya. Bahkan, Presiden AS ke-44 itu seolah memberi angin. Contohnya, 2 September lalu dia telah menggelar acara berbuka puasa bersama para duta besar negara berpenduduk Muslim di Gedung Putih, Washington, DC.
Dalam acara yang juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi AS, seperti Menteri Pertahanan Robert Gates dan Jaksa Agung Eric Holder itu, Obama menyampaikan pidato singkat. Intinya menyampaian penghargaan kepada umat Muslim di AS yang menurutnya banyak memberikan kontribusi kemasyarakatan.
Obama juga mengingatkan bahwa berbagai agama pada intinya sama-sama membawa kebenaran. Dia menggambarkannya seperti sungai atau danau, yang kesemuanya sama-sama merupakan tempat yang terdiri dari air.
Kata-kata itu tentu saja menimbulkan rasa sejuk warga Muslim setempat. Namun, itu belum seberapa. Setelah Ramadhan usai pun, tampaknya warga Muslim akan mendapati sebuah peristiwa penting. Untuk pertama kalinya, Capitol Hill, yang selama ini dikenal sebagai gedung parlemen AS akan dipakai sebagai tempat peribadatan kaum Muslim.
Sekitar 50 ribu warga Muslim diperkirakan akan hadir di acara shalat Jumat yang akan digelar pada 25 September mendatang alias pekan pertama setelah Idul Fitri 1430 Hijriyah. Kegiatan itu, seperti dilansir Canada Press, dirancang jemaah Masjid Darul Islam di Elizabeth.
Ketua jemaah Darul Islam, Hassen Abdellah, berjanji bahwa kegiatan itu tidak akan melibatkan ceramah yang bersifat politik. Izin telah diperoleh dari kepolisian Capitol Hill sejak 28 Juli lalu. Jemaah akan diberi akses ke area barat gedung mulai pukul 04.00-19.00. Walaupun shalat sendiri akan dimulai pukul 13.00.
"Kami juga warga Amerika. Kami perlu mengubah wajah Islam yang selama ini diidentikkan sebagai orang yang menganggap Amerika sebagai setan. Sebab, kami mencintai Amerika," papar Abdellah.
Shalat berjamaah itu akan dilakukan di lokasi tempat semua presiden AS diinagurasi sejak 1981. Abdellah mengatakan, non-Muslim juga diperbolehkan untuk hadir di ritual itu. Jemaah telah bekerja sejak Juli untuk mengorganisasi acara ini, baik melalui email, telepon, ataupun kunjungan ke setiap masjid dan asosiasi pelajar Muslim.
Untuk mempromosikan acara ini pun, penyelenggara telah membuat sebuah situs bernama islamoncapitolhill.com. Situs itu memiliki logo dua tangan berjabat tangan dengan latar belakang kata-kata dari pembukaan konstitusi dan satu halaman teks berbahasa Arab.
Situs itu antara lain berisi informasi akan digelarnya ritual itu serta kendaraan yang dapat digunakan menuju lokasi. Juga mengajak mencari sponsor dan bergabung dengan mereka untuk sejumlah fasilitas yang akan diadakan selama ritual berlangsung. Darul Islam memperkirakan jumlah biaya yang akan dikeluarkan mencapai lebih dari US$ 200 ribu.
Di antara mereka yang berpartisipasi adalah komunitas Islam Jersey Tengah, di Brunswick Selatan, yang menyumbangkan dana sebesar US$ 10 ribu. Mereka akan mengirimkan jemaahnya dalam sebuah bus.
Namun, jemaah belum memutuskan siapa yang akan menjadi imam dan khatib di acara tersebut. Kemungkinan bukan berasal dari figur besar dalam dunia Muslim AS. "Acara ini tidak menampilkan ketokohan. Sehingga, kami tidak ingin ada tokoh yang terlibat. Tokoh utama dalam acara ini adalah Nabi Muhammad SAW," papar Abdellah.
Apakah acara ini akan menandai babak baru hubungan Barat dengan dunia Islam? Setidaknya, bagi Obama yang sejak dilantik kerap menekankan keharmonisan dengan dunia Islam, tentu akan mengubah citra AS di mata dunia Islam.
Obama memang ingin lepas dari bayang-bayang pendahulunya, terutama George W Bush, yang kerap diasosiasikan tidak ramah kepada Islam. Pakar keamanan National Defense University, Douglas Streusand, sepakat bahwa mengaitkan terorisme dengan Islam hanya akan mengasingkan Muslim, namun tidak menyelesaikan masalah terorisme.
Melalui sikap Obama yang ramah terhadap Muslim, maka diharapkan dapat mendorong terciptanya fase baru kerja sama AS-Muslim. "Untuk itu, Obama harus seperti Uni Eropa yang melarang ungkapan yang menghubungkan Islam dengan terorisme. Juga ungkapan tak sensitif, seperti Islamofasime, jihadis, dan Islamis, yang dibuat oleh rezim sebelumnya," paparnya. [P1]
Apakah puasa seseorang yang tidak salat akan diterima Allah?
Apakah puasa seseorang yang tidak salat akan diterima Allah? Sebagian ulama mengatakan tidak, namun ada pula yang menyebut mungkin diterima.
Walikota Clarksville Foward Email Anti Islam
Tennesse, BERITAJITU.com -- Johny Piper, Walikota wilayah Clarksville, Amerika Serikat, menuai kritik tajam. Pasalnya, ia mem-forward e-mail yang memprotes penerbitan perangko peringatan libur hari besar umat muslim di Amerika.
Sepertinya sang walikota termasuk yang dilanda fobia Islam di negeri Paman Sam. Dalam e-mail yang jadi kontroversi itu antara lain disebutkan bahwa penerbitan perangko edisi muslim di negeri itu merupakan tamparan bagi rakyat AS yang jadi korban teroris.
Memang e-mail tersebut bukanlah bikinan Piper. Namun masalahnya, ia mem-forward e-mail tersebut pada banyak orang termasuk sebagian besar bawahannya.
Piper sendiri coba membela diri. Dia menilai e-mail tersebut tidak anti muslim dan ia mengirimnya ulang dengan alasan untuk menyebarkan informasi.
Padahal isi e-mail tersebut banyak yang tidak tepat. Contohnya dikatakan kalau perangko ini dibuat dalam masa pemerintahan Presiden Obama. Padahal perangko itu sudah dibuat sejak tahun 2001 dan sering diterbitkan ulang.
Aksi Pipper pun banyak mengundang kritik. "Saya tertawa ketika membacanya, namun di saat yang sama saya juga menyesal masih ada orang di sekeliling kita yang berpikir seperti itu," tukas Ahmed Joudah, kepala Islamic Center di Clarksville.
Sedangkan kelompok advokasi Islam, CAIR, berniat memberi kopian AL Quran pada Piper. Mereka berharap bisa melakukan dialog karena menilai Piper mengalami salah konsep terhadap ajaran Islam. (detiknews.com/nad)
Terorisme, Perang Melawan Siapa ?
Istilah terorisme telah mengglobal dan dibicarakan oleh hampir seluruh kalangan. Bahkan istilah atau kata terorisme telah dipergunakan oleh Amerika sebagai instrumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam. Perang melawan terorisme telah menjadi teror baru bagi masyarakat, khususnya kaum Muslimin yang berdakwah dan bercita-cita menjalankan syariat secara kaaffah. Lalu apakah pengertian sebenarnya dari istilah terorisme ini ? Siapakah terorisme yang sebenarnya ?
Definisi Terorisme
Masalah pertama dan utama dalam perdebatan seputar “terorisme” adalah masalah definisi. Tidak ada satu definisi pun yang disepakati oleh semua pihak. Terorisme akhirnya menjadi istilah multitafsir, setiap pihak memahaminya menurut definisi masing-masing, dan sebagai akibatnya aksi dan respon terhadap terorisme pun beragam.
Sebenarnya, istilah terorisme bukan suatu hal yang kompleks, bahkan secara bahasa istilah ini tidak mampu memberikan arti secara menyeluruh. Lalu kenapa orang lambat sekali dalam menempatkan definisi istilah ini?
Dari fakta yang ada, terdapat sebuah kedengkian di balik semua ini, karenanya dibutuhkan definisi yang menyeluruh termasuk variasi komponen-komponennya dan batasan-batasan yang diperlukan dari aspek yang berlawanan dengan komponen tersebut. Dalam fikiran banyak orang sekarang ini justru membutuhkan banyak kalangan untuk mendefinisikan istilah ini supaya tidak menjatuhkan hukuman pada orang yang tidak bersalah atas sejumlah tindak kejahatan dan sejumlah kebenaran yang disimpangkan.
Terorisme menurut Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat adalah “Tindak kekerasan apapun atau tindakan paksaan oleh seseorang untuk tujuan apapun selain apa yang diperbolehkan dalam hukum perang yang meliputi penculikan, pembunuhan, peledakan pesawat, pembajakan pesawat, pelemparan bom ke pasar, toko, dan tempat-tempat hiburan atau yang sejenisnya, tanpa menghiraukan apa pun motivasi mereka.”
Oxford’s Advanced Learner’s Dictionary, 1995 mendefinisikan Terorisme adalah Penggunaan tindak kekerasan untuk tujuan politis atau untuk memaksa sebuah pemerintahan untuk melakukan sesuatu (yang mereka tuntut), khususnya untuk menciptakan ketakutan dalam sebuah masyarakat.
Badan intelejen Amerika CIA mendefinisikan Terorisme Internasional sebagai terorisme yang dilakukan dengan dukungan suatu pemerintahan atau organisasi asing dan atau diarahkan untuk melawan nasional, institusi, atau pemerintahan asing.
Dalam Oxford Dictionary disebutkan : Terrorist : noun person using esp organized violence to secure political ends. (perorangan tertentu yang mempergunakan kekerasan yang terorganisir dalam rangka meraih tujuan politis).
Dalam Encarta Dictionary disebutkan : Terrorism : Violence or the threat of violence carried out for political purposes. (Kekerasan atau ancaman kekerasan yang dilakukan demi tujuan politis).
Terrorist : Somebody using violence for political purposes : somebody who uses violence or the threat of violence, especially bombing, kidnapping, and assassanition, to intimidate, often for political purposes. (Seseorang yang menggunakan kekerasan untuk tujuan politis: seseorang yang menggunakan kekerasan, atau ancaman kekerasan, terkhusus lagi pengeboman, penculikan dan pembunuhan, biasanya untuk tujuan politis).
Dr. F. Budi Hardiman dalam artikel berjudul “Terorisme: Paradigma dan Definisi” menulis: “Teror adalah fenomena yang cukup tua dalam sejarah. Menakut-nakuti, mengancam, memberi kejutan, kekerasan, atau membunuh dengan maksud menyebarkan rasa takut adalah taktik-taktik yang sudah melekat dalam perjuangan kekuasaan, jauh sebelum hal-hal itu dinamai “teror” atau “terorisme”.
Istilah “terorisme” sendiri pada 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Beberapa pemerintah bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai “teroris” dan aksi-aksi mereka disebut “terorisme”. Istilah “terorisme” jelas berkonotasi peyoratif, seperti juga istilah “genosida” atau “tirani”. Karena itu istilah ini juga rentan dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan. Namun pendefinisian juga tak lepas dari keputusan politis.”
Mengutip dari Juliet Lodge dalam The Threat of Terrorism (Westview Press, Colorado, 1988), “teror” itu sendiri sesungguhnya merupakan pengalaman subjektif, karena setiap orang memiliki “ambang ketakutannya” masing-masing. Ada orang yang bertahan, meski lama dianiaya. Ada yang cepat panik hanya karena ketidaktahuan. Di dalam dimensi subjektif inilah terdapat peluang untuk “kesewenangan” stigmatisasi atas pelaku terorisme.
Amerika Memanfaatkan Terorisme Untuk Melawan Islam
Noam Chomsky, ahli linguistik terkemuka dari Massachussetts Institute of Technology, AS, telah menyebutkan kebijakan Amerika dan Barat terhadap Dunia Islam dengan isu “terorisme” ini sudah begitu kuat terasa sejak awal 1990–an. Tahun 1991, ia menulis buku “Pirates and Emperor: International Terrorism in The Real World.”
Dalam artikelnya yang dimuat oleh harian The Jakarta Post (3 Agustus 1993), dan dimuat ulang terjemahannya oleh harian Republika dengan judul “Amerika Memanfaatkan Terorisme Sebagai Instrumen Kebijakan”, ia menulis bahwa Amerika memanfaatkan terorisme sebagai instrumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam.
Jadi, kebijakan Amerika dan Barat untuk memerangi dunia Islam dengan menggunakan isu “perang melawan terorisme internasional” sudah digulirkan sejak awal 1990-an, jauh sebelum kemunculan Taliban, apalagi Al-Qaeda, tragedi WTC maupun berbagai pemboman di sejumlah kawasan di dunia Islam.
Demikianlah, perang melawan terorisme yang digalang oleh Amerika, Barat dan antek-anteknya, sejatinya adalah perang malawan Islam dan kaum Muslimin. Targetnya adalah umat Islam, sampai kepada titik mengganti kurikulum pendidikan agama agar sesuai dengan nilai-nilai dan keinginan Barat. Upaya apapun untuk mengkaburkan hakekat ini, justru kontra produktif dan menguntungkan mereka-mereka yang membenci Islam.
Bagaimana Dengan Islam ?
Dalam Islam, istilah terorisme sendiri tidak pernah dikenal. Jikapun dicari padanan kata terorisme, maka yang dikenal adalah istilah Al Irhab, yang menurut Imam Ibnu Manzhur dalam ensiklopedi bahasanya mengatakan : Rohiba-Yarhabu-Rohbatan wa Ruhban wa Rohaban : Khoofa (takut). Rohiba al-Syai-a Rohban wa Rohbatan : Khoofahu (takut kepadanya).
Bisa difahami bahwa kata Al-Irhab (teror) berarti (menimbulkan) rasa takut. Irhabi (teroris) artinya orang yang membuat orang lain ketakutan, orang yang menakut-nakuti orang lain. Dus, setiap orang yang membuat orang yang ia inginkan berada dalam keadaan ketakutan adalah seorang teroris. Ia telah meneror mereka, dan sifat “teror” melekat pada dirinya, baik ia disebut sebagai seorang teroris maupun tidak; baik ia mengakui dirinya seorang teroris maupun tidak.
Dalam Islam, tidak diperbolehkan untuk melanggar kesucian kehidupan seseorang, baik secara lisan, fisik, maupun finansial, tanpa ijin atau hak dari Sang Pencipta, Allah SWT. Setiap Muslim memiliki kesucian jiwa, harta, dan kehormatan, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
“Barangsiapa membantu orang untuk membunuh kaum Muslimin bahkan dengan sebuah ucapan atau kurma, maka dia kafir.”
Kalau demikian adanya, maka apa namanya ketika tentara Amerika datang dari jauh ke Irak untuk membunuh dan menawan kaum Muslimin, seraya mengklaim bahwa mereka memerangi teroris, yang diartikan (menurut) mereka dengan menghancurkan masjid-masjid, menawan para Muslimah, menginjak-injak Al-Qur’an sebagaimana mereka melakukannya juga di negeri-negeri kaum Muslimin lainnya ? Tindakan inilah yang merupakan akar permasalahan terorisme yang hingga saat ini terus berlanjut.
Amerika, The Real Terrorist
Ungkapan di atas adalah fakta yang tidak terbantahkan. Terlalu banyak dan panjang catatan peristiwa sejarah Amerika yang dapat membuktikan bahwa Amerika adalah teroris sejati. Amerika dengan dukungan sekutunya NATO, berhasil menekan PBB untuk mengembargo Irak, pasca Perang Teluk Kedua (1991). Kaum Muslimin menjadi korban, tidak kurang 1,5 juta orang meninggal. Belum lagi mereka yang cacat dibombardir tentara Multinasional dalam Perang Teluk Kedua ini.
Setelah lebih dari 12 tahun embargo, tahun 2003 Amerika dengan sekutu-sekutunya menginvasi Irak, menggulingkan pemerintahan, dan membentuk pemerintahan boneka. Dalam aksinya ini, Amerika telah membunuh ribuan kaum Muslimin, baik anak-anak, orang tua, maupun wanita. Semuanya demi kepentingan Amerika dan sekutunya. Apakah aksi-aksi brutal ini bukan sebuah bentuk teror, bahkan puncak dari teror ? Dus, Amerika dan sekutunya adalah teroris bahkan teroris sejati? Sayangnya media massa menyebut warga Irak yang mempertahankan negaranya dari agresi Amerika itulah yang teroris, fundamentalis, ataupun pemberontak.
Contoh serupa terjadi di negeri-negeri kaum Muslimin lainnya, seperti Afghanistan, dan Pakistan. Bahkan contoh kasus negeri Muslim Palestina yang dijajah sejak tahun 1948 oleh Israel atas restu Amerika dan sekutunya, lebih menunjukkan lagi bahwa Amerika benar-benar teroris sejati. Serangkaian teror yang dilakukan agresor Israel atas kaum Muslimin Palestina tidak pernah mendapatkan sanksi. Tentu saja karena Israel dibesarkan dan dibela oleh Amerika. Setiap tahun, Amerika memberikan bantuan ekonomi kepada Israel tak kurang dari 3 miliar dolar USA. Ini belum terhitung bantuan militer yang dipergunakan untuk melakukan politik terornya kepada bangsa muslim Palestina yang tak bersenjata.
Jadi, semuanya sangat tergantung kepada definisi teror dan terorisme yang saat ini didominasi oleh definisi yang dibuat Amerika dan sekutu-sekutunya. Seandainya mereka membuat definisi standar “teror dan terorisme” yang dapat diterima semua pihak, mereka (Amerika) adalah pihak pertama dan teratas yang menempati daftar teror dan terorisme.
Jika definisi teror adalah membunuh rakyat sipil yang tak berdosa; anak-anak, wanita dan orang tua, maka mereka adalah teroris paling pertama, teratas dan terjahat yang dikenal oleh sejarah umat manusia. Mereka telah membantai jutaan rakyat sipil tak berdosa di seluruh dunia; Jepang, Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Indonesia dan banyak negara lainnya.
Jika definisi teror adalah membom tempat-tempat dan kepentingan-kepentingan umum, mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang mengajarkan, memulai dan menekuni hal itu.
Jika definisi teror adalah menebarkan ketakutan demi meraih kepentingan politik, maka merekalah yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu di seluruh penjuru dunia.
Jika definisi teror adalah pembunuhan misterius terhadap lawan politik, maka mereka adalah pihak pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu.
Jika definisi mendukung teroris adalah membiayai, melatih dan memberi perlindungan kepada para pelaku kejahatan, maka mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu. Mereka bisa berada di balik berbagai kudeta di seluruh penjuru dunia. Aliansi Utara di Afghanistan, John Garang di Sudan, Israel di bumi Islam Palestina, Serbia dan Kroasia di bekas negara Yugoslavia, dan banyak contoh lainnya merupakan bukti konkrit tak terbantahkan bahwa The Real Terrorist adalah Amerika dan sekutu-sekutunya!
Terorisme, Perang Melawan Siapa?
Kini menjadi jelas siapa sebenarnya teroris sejati. Amerika bersama sekutunya telah melakukan teror kepada Islam dan kaum Muslimin sejak lama, diketahui bahkan direstui oleh dunia internasional. Ini sungguh tidak adil. Dunia diam saja dengan jumlah korban yang mencapai ratusan ribu dari umat Islam, namun berteriak-teriak lantang dan dipublikasikan luas jika dari pihak Amerika dan sekutunya yang terbunuh.
Sekilas realita teror dan terorisme ini cukup memberi contoh bentuk teror yang hari ini wujud di pentas dunia. Perang terhadap terorisme yang dikampanyekan oleh dunia internasional hari ini, di bawah arahan Amerika, tanpa memberi definisi dan batasan yang jelas terhadap “teror dan terorisme” telah menjadi alat efektif kekuatan pembenci Islam, untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin. Melalui kampanye media massa dan elektronik internasional, “teror dan terorisme” telah didistorsikan dan dikaburkan sedemikian rupa; definisi, batasan, substansi, tujuan dan bentuk kongkritnya.
Adapun jika definisi teror dan terorisme distandarisasi, maka mereka yang akan menjadi pihak yang paling pertama, teratas dan terjahat yang terkena definisi tersebut. Oleh karenanya, mereka enggan memberikan definisi teror dan terosrime. Satu-satunya hal yang bisa dipahami seluruh umat manusia di dunia saat ini, bahwa “teror dan terorisme” versi hukum internasional (PBB yang mewakili kepentingan Amerika dan negara-negara adidaya lainnya) adalah Islam dan umat Islam, terutama umat Islam yang ingin hidup di dunia ini dengan merdeka penuh, bertauhid dan membela orang bertauhid, serta ingin menjalankan Islam secara kaafah.
Wallahu’alam bis Showab!.
By: M. Fachry
Arrahmah.Com International Jihad Analys
Ar Rahmah Media Network
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media
© 2009 Ar Rahmah Media Network
Jamuan Ramadhan Obama Di Gedung Putih
WASHINGTON (Arrahmah.com) – Presiden kulit hitam pertama AS Barack Obama mengadakan jamuan makan malam di Gedung Putih untuk menghormati bulan suci Ramadhan, tidak lain adalah dalam rangka merebut simpati dari dunia muslim agar mengeratkan hubungannya dengan AS.
Para duta besar, pejabat tinggi pemerintahan, dan anggota Kongres lainnya hadir bersama Obama di Gedung Putih pada Selasa (31/8) untuk ‘menghormati’ pernyataan laki-laki yang memiliki nama tengah ‘Hussein’ ini yang menyebutkan bahwa “Islam adalah agama yang luar biasa” dan komitmennya untuk mewujudkan ‘keadilan dan kemajuan’.
“Sumbangan orang Muslim pada Amerika Serikat tidak bisa diuraikan, terlalu banyak, karena orang Muslim tidak bisa dipisahkan dari berbagai komunitas dan negara kami,” kata Obama pada saat berbuka.
Duta Besar Israel untuk Washington, Michael Oren, juga menghadiri jamuan tersebut.
Obama menarik simpati para petinggi yang hadir saat itu dengan mengutip perkataan petinju terkenal Amerika Muslim, Muhammad Ali Clay.
“Beberapa tahun lalu, dia (Ali) menerangkan cara pandang ini… Ali mengatakan: sungai, kolam, danau dan kali – semuanya mempunyai nama berbeda, tetapi semuanya berisi air. Seperti halnya semua agama, semuanya berisi kebenaran,” kata Obama.
Jamuan Gedung Putih saat Ramadhan ini bukan hal yang baru. Mantan presiden AS sebelumnya, George W. Bush, pun melakukan yang sama. Setiap Ramadhan selama delapan tahun masa jabatannya, Bush melakukan jamuan berbuka di Gedung Putih.
Sejak resmi memasuki kantornya, Januari lalu, Obama mencoba untuk melakukan pendekatan baru terhadap dunia muslim. Ia berusaha untuk ‘merangkul’ dunia muslim, mendamaikan hubungan AS dengan negara-negara Muslim, yang memburuk setelah AS menginvasi Irak tahun 2003.
Jelas sekali upaya Obama untuk menumpulkan kesadaran dunia Muslim atas berbagai macam agenda AS yang sedang dijalaninya. Jamuan makan ini merupakan rangkaian selanjutnya dari kunjungan Obama ke Turki dan Mesir.
“Amerika bukan, dan tidak akan pernah, memerangi Islam.” Itulah salah satu ucapan yang dilontarkan Obama yang riuh ditepuki dan membuat para penguasa muslim merasa nyaman untuk terus tunduk pada kepentingan AS.
Obama pun menerbitkan sebuah rekaman video yang berisi pesan bagi Muslim sebelum Ramadhan baru-baru ini. Ia menyatakan dalam video tersebut bahwa Ramadhan merupakan bulan yang mengingatkan agar Muslim dan Kristian saling berbagi, termasuk bulan yang mengingatkan kita untuk terus menumbuhkan keadilan, kemajuan, toleransi, dan martabat kemanusiaan. (althaf/dbs/arrahmah.com)
--------------------------Notes :
“Amerika bukan, dan tidak akan pernah, memerangi Islam.” Itulah salah satu ucapan yang dilontarkan Obama yang riuh ditepuki dan membuat para penguasa muslim merasa nyaman untuk terus tunduk pada kepentingan AS.
———————–
Dicatet saja dulu pernyataan ini.
Protes Gaza, 10.000 Situs Israel Diacak-acak
Pesan-pesan dari ribuan serangan itu umumnya senada. Berikut beberapa pesan para pelaku yang sempat dibaca detikINET:
- "Stop The War, Stop killing People & Child. Free Gaza Now" (Ashiyane Digital Security Team)
- "Stop attacks u israel and usa ! you cursed nations ! one day muslims will clean the world from you !" (Agd_Scorpio)
- "The resistance against the IDF is the only viable and standing tool to fight against Zionism and aggression" (The Moorish)
- "This Hack iS To DeFend Islam That Has Been Harrased by Denmark and USA and Israel" (FesH4ck3rs Team)
- "Stop WAR israel to pelstine!!!" (Old.Zone)
- "You have weapons, you have technology But We have our ALLAH & Our Faith" (xOOmxOOm)