Showing posts with label terorisme. Show all posts
Showing posts with label terorisme. Show all posts

Terorisme, Perang Melawan Siapa ?

Arrahmah.Com

Istilah terorisme telah mengglobal dan dibicarakan oleh hampir seluruh kalangan. Bahkan istilah atau kata terorisme telah dipergunakan oleh Amerika sebagai instrumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam. Perang melawan terorisme telah menjadi teror baru bagi masyarakat, khususnya kaum Muslimin yang berdakwah dan bercita-cita menjalankan syariat secara kaaffah. Lalu apakah pengertian sebenarnya dari istilah terorisme ini ? Siapakah terorisme yang sebenarnya ?


Definisi Terorisme

Masalah pertama dan utama dalam perdebatan seputar “terorisme” adalah masalah definisi. Tidak ada satu definisi pun yang disepakati oleh semua pihak. Terorisme akhirnya menjadi istilah multitafsir, setiap pihak memahaminya menurut definisi masing-masing, dan sebagai akibatnya aksi dan respon terhadap terorisme pun beragam.

Sebenarnya, istilah terorisme bukan suatu hal yang kompleks, bahkan secara bahasa istilah ini tidak mampu memberikan arti secara menyeluruh. Lalu kenapa orang lambat sekali dalam menempatkan definisi istilah ini?

Dari fakta yang ada, terdapat sebuah kedengkian di balik semua ini, karenanya dibutuhkan definisi yang menyeluruh termasuk variasi komponen-komponennya dan batasan-batasan yang diperlukan dari aspek yang berlawanan dengan komponen tersebut. Dalam fikiran banyak orang sekarang ini justru membutuhkan banyak kalangan untuk mendefinisikan istilah ini supaya tidak menjatuhkan hukuman pada orang yang tidak bersalah atas sejumlah tindak kejahatan dan sejumlah kebenaran yang disimpangkan.

Terorisme menurut Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat adalah “Tindak kekerasan apapun atau tindakan paksaan oleh seseorang untuk tujuan apapun selain apa yang diperbolehkan dalam hukum perang yang meliputi penculikan, pembunuhan, peledakan pesawat, pembajakan pesawat, pelemparan bom ke pasar, toko, dan tempat-tempat hiburan atau yang sejenisnya, tanpa menghiraukan apa pun motivasi mereka.”

Oxford’s Advanced Learner’s Dictionary, 1995 mendefinisikan Terorisme adalah Penggunaan tindak kekerasan untuk tujuan politis atau untuk memaksa sebuah pemerintahan untuk melakukan sesuatu (yang mereka tuntut), khususnya untuk menciptakan ketakutan dalam sebuah masyarakat.

Badan intelejen Amerika CIA mendefinisikan Terorisme Internasional sebagai terorisme yang dilakukan dengan dukungan suatu pemerintahan atau organisasi asing dan atau diarahkan untuk melawan nasional, institusi, atau pemerintahan asing.

Dalam Oxford Dictionary disebutkan : Terrorist : noun person using esp organized violence to secure political ends. (perorangan tertentu yang mempergunakan kekerasan yang terorganisir dalam rangka meraih tujuan politis).

Dalam Encarta Dictionary disebutkan : Terrorism : Violence or the threat of violence carried out for political purposes. (Kekerasan atau ancaman kekerasan yang dilakukan demi tujuan politis).

Terrorist : Somebody using violence for political purposes : somebody who uses violence or the threat of violence, especially bombing, kidnapping, and assassanition, to intimidate, often for political purposes. (Seseorang yang menggunakan kekerasan untuk tujuan politis: seseorang yang menggunakan kekerasan, atau ancaman kekerasan, terkhusus lagi pengeboman, penculikan dan pembunuhan, biasanya untuk tujuan politis).

Dr. F. Budi Hardiman dalam artikel berjudul “Terorisme: Paradigma dan Definisi” menulis: “Teror adalah fenomena yang cukup tua dalam sejarah. Menakut-nakuti, mengancam, memberi kejutan, kekerasan, atau mem­bunuh dengan maksud menyebarkan rasa takut adalah taktik-taktik yang sudah melekat dalam perjuangan kekua­saan, jauh sebelum hal-hal itu dinamai “teror” atau “terorisme”.

Istilah “terorisme” sendiri pada 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Beberapa pemerintah bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai “teroris” dan aksi-aksi mereka disebut “terorisme”. Istilah “terorisme” jelas berko­notasi peyoratif, seperti juga istilah “genosida” atau “tirani”. Karena itu istilah ini juga rentan dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan. Namun pendefinisian juga tak lepas dari keputusan politis.”

Mengutip dari Juliet Lodge dalam The Threat of Terrorism (Westview Press, Colorado, 1988), “teror” itu sendiri sesungguhnya merupakan pengalaman subjektif, karena setiap orang memiliki “ambang ketakutannya” masing-masing. Ada orang yang bertahan, meski lama dianiaya. Ada yang cepat panik hanya karena ketidaktahuan. Di dalam dimensi subjektif inilah terdapat peluang untuk “kesewenangan” stigmatisasi atas pelaku terorisme.


Amerika Memanfaatkan Terorisme Untuk Melawan Islam

Noam Chomsky, ahli linguistik terkemuka dari Massachussetts Institute of Technology, AS, telah menyebutkan kebijakan Amerika dan Barat terhadap Dunia Islam dengan isu “terorisme” ini sudah begitu kuat terasa sejak awal 1990–an. Tahun 1991, ia menulis buku “Pirates and Emperor: International Terrorism in The Real World.”

Dalam artikelnya yang dimuat oleh harian The Jakarta Post (3 Agustus 1993), dan dimuat ulang terjemahannya oleh harian Republika dengan judul “Amerika Memanfaatkan Terorisme Sebagai Instrumen Kebijakan”, ia menulis bahwa Amerika memanfaatkan terorisme sebagai instrumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam.

Jadi, kebijakan Amerika dan Barat untuk memerangi dunia Islam dengan menggunakan isu “perang melawan terorisme internasional” sudah digulirkan sejak awal 1990-an, jauh sebelum kemunculan Taliban, apalagi Al-Qaeda, tragedi WTC maupun berbagai pemboman di sejumlah kawasan di dunia Islam.

Demikianlah, perang melawan terorisme yang digalang oleh Amerika, Barat dan antek-anteknya, sejatinya adalah perang malawan Islam dan kaum Muslimin. Targetnya adalah umat Islam, sampai kepada titik mengganti kurikulum pendidikan agama agar sesuai dengan nilai-nilai dan keinginan Barat. Upaya apapun untuk mengkaburkan hakekat ini, justru kontra produktif dan menguntungkan mereka-mereka yang membenci Islam.


Bagaimana Dengan Islam ?

Dalam Islam, istilah terorisme sendiri tidak pernah dikenal. Jikapun dicari padanan kata terorisme, maka yang dikenal adalah istilah Al Irhab, yang menurut Imam Ibnu Manzhur dalam ensiklopedi bahasanya mengatakan : Rohiba-Yarhabu-Rohbatan wa Ruhban wa Rohaban : Khoofa (takut). Rohiba al-Syai-a Rohban wa Rohbatan : Khoofahu (takut kepadanya).

Bisa difahami bahwa kata Al-Irhab (teror) berarti (menimbulkan) rasa takut. Irhabi (teroris) artinya orang yang membuat orang lain ketakutan, orang yang menakut-nakuti orang lain. Dus, setiap orang yang membuat orang yang ia inginkan berada dalam keadaan ketakutan adalah seorang teroris. Ia telah meneror mereka, dan sifat “teror” melekat pada dirinya, baik ia disebut sebagai seorang teroris maupun tidak; baik ia mengakui dirinya seorang teroris maupun tidak.

Dalam Islam, tidak diperbolehkan untuk melanggar kesucian kehidupan seseorang, baik secara lisan, fisik, maupun finansial, tanpa ijin atau hak dari Sang Pencipta, Allah SWT. Setiap Muslim memiliki kesucian jiwa, harta, dan kehormatan, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :

“Barangsiapa membantu orang untuk membunuh kaum Muslimin bahkan dengan sebuah ucapan atau kurma, maka dia kafir.”

Kalau demikian adanya, maka apa namanya ketika tentara Amerika datang dari jauh ke Irak untuk membunuh dan menawan kaum Muslimin, seraya mengklaim bahwa mereka memerangi teroris, yang diartikan (menurut) mereka dengan menghancurkan masjid-masjid, menawan para Muslimah, menginjak-injak Al-Qur’an sebagaimana mereka melakukannya juga di negeri-negeri kaum Muslimin lainnya ? Tindakan inilah yang merupakan akar permasalahan terorisme yang hingga saat ini terus berlanjut.


Amerika, The Real Terrorist

Ungkapan di atas adalah fakta yang tidak terbantahkan. Terlalu banyak dan panjang catatan peristiwa sejarah Amerika yang dapat membuktikan bahwa Amerika adalah teroris sejati. Amerika dengan dukungan sekutunya NATO, berhasil menekan PBB untuk mengembargo Irak, pasca Perang Teluk Kedua (1991). Kaum Muslimin menjadi korban, tidak kurang 1,5 juta orang meninggal. Belum lagi mereka yang cacat dibombardir tentara Multinasional dalam Perang Teluk Kedua ini.

Setelah lebih dari 12 tahun embargo, tahun 2003 Amerika dengan sekutu-sekutunya menginvasi Irak, menggulingkan pemerintahan, dan membentuk pemerintahan boneka. Dalam aksinya ini, Amerika telah membunuh ribuan kaum Muslimin, baik anak-anak, orang tua, maupun wanita. Semuanya demi kepentingan Amerika dan sekutunya. Apakah aksi-aksi brutal ini bukan sebuah bentuk teror, bahkan puncak dari teror ? Dus, Amerika dan sekutunya adalah teroris bahkan teroris sejati? Sayangnya media massa menyebut warga Irak yang mempertahankan negaranya dari agresi Amerika itulah yang teroris, fundamentalis, ataupun pemberontak.

Contoh serupa terjadi di negeri-negeri kaum Muslimin lainnya, seperti Afghanistan, dan Pakistan. Bahkan contoh kasus negeri Muslim Palestina yang dijajah sejak tahun 1948 oleh Israel atas restu Amerika dan sekutunya, lebih menunjukkan lagi bahwa Amerika benar-benar teroris sejati. Serangkaian teror yang dilakukan agresor Israel atas kaum Muslimin Palestina tidak pernah mendapatkan sanksi. Tentu saja karena Israel dibesarkan dan dibela oleh Amerika. Setiap tahun, Amerika memberikan bantuan ekonomi kepada Israel tak kurang dari 3 miliar dolar USA. Ini belum terhitung bantuan militer yang dipergunakan untuk melakukan politik terornya kepada bangsa muslim Palestina yang tak bersenjata.

Jadi, semuanya sangat tergantung kepada definisi teror dan terorisme yang saat ini didominasi oleh definisi yang dibuat Amerika dan sekutu-sekutunya. Seandainya mereka membuat definisi standar “teror dan terorisme” yang dapat diterima semua pihak, mereka (Amerika) adalah pihak pertama dan teratas yang menempati daftar teror dan terorisme.

Jika definisi teror adalah membunuh rakyat sipil yang tak berdosa; anak-anak, wanita dan orang tua, maka mereka adalah teroris paling pertama, teratas dan terjahat yang dikenal oleh sejarah umat manusia. Mereka telah membantai jutaan rakyat sipil tak berdosa di seluruh dunia; Jepang, Vietnam, Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Indonesia dan banyak negara lainnya.

Jika definisi teror adalah membom tempat-tempat dan kepentingan-kepentingan umum, mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang mengajarkan, memulai dan menekuni hal itu.

Jika definisi teror adalah menebarkan ketakutan demi meraih kepentingan politik, maka merekalah yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu di seluruh penjuru dunia.

Jika definisi teror adalah pembunuhan misterius terhadap lawan politik, maka mereka adalah pihak pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu.

Jika definisi mendukung teroris adalah membiayai, melatih dan memberi perlindungan kepada para pelaku kejahatan, maka mereka adalah pihak yang pertama, teratas dan terjahat yang melakukan hal itu. Mereka bisa berada di balik berbagai kudeta di seluruh penjuru dunia. Aliansi Utara di Afghanistan, John Garang di Sudan, Israel di bumi Islam Palestina, Serbia dan Kroasia di bekas negara Yugoslavia, dan banyak contoh lainnya merupakan bukti konkrit tak terbantahkan bahwa The Real Terrorist adalah Amerika dan sekutu-sekutunya!

Terorisme, Perang Melawan Siapa?

Kini menjadi jelas siapa sebenarnya teroris sejati. Amerika bersama sekutunya telah melakukan teror kepada Islam dan kaum Muslimin sejak lama, diketahui bahkan direstui oleh dunia internasional. Ini sungguh tidak adil. Dunia diam saja dengan jumlah korban yang mencapai ratusan ribu dari umat Islam, namun berteriak-teriak lantang dan dipublikasikan luas jika dari pihak Amerika dan sekutunya yang terbunuh.

Sekilas realita teror dan terorisme ini cukup memberi contoh bentuk teror yang hari ini wujud di pentas dunia. Perang terhadap terorisme yang dikampanyekan oleh dunia internasional hari ini, di bawah arahan Amerika, tanpa memberi definisi dan batasan yang jelas terhadap “teror dan terorisme” telah menjadi alat efektif kekuatan pembenci Islam, untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin. Melalui kampanye media massa dan elektronik internasional, “teror dan terorisme” telah didistorsikan dan dikaburkan sedemikian rupa; definisi, batasan, substansi, tujuan dan bentuk kongkritnya.

Adapun jika definisi teror dan terorisme distandarisasi, maka mereka yang akan menjadi pihak yang paling pertama, teratas dan terjahat yang terkena definisi tersebut. Oleh karenanya, mereka enggan memberikan definisi teror dan terosrime. Satu-satunya hal yang bisa dipahami seluruh umat manusia di dunia saat ini, bahwa “teror dan terorismeversi hukum internasional (PBB yang mewakili kepentingan Amerika dan negara-negara adidaya lainnya) adalah Islam dan umat Islam, terutama umat Islam yang ingin hidup di dunia ini dengan merdeka penuh, bertauhid dan membela orang bertauhid, serta  ingin menjalankan Islam secara kaafah.

Wallahu’alam bis Showab!.

By: M. Fachry
Arrahmah.Com International Jihad Analys

Ar Rahmah Media Network
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media
© 2009 Ar Rahmah Media Network

Jamuan Ramadhan Obama Di Gedung Putih

Arrahmah.Com



WASHINGTON (Arrahmah.com) – Presiden kulit hitam pertama AS Barack Obama mengadakan jamuan makan malam di Gedung Putih untuk menghormati bulan suci Ramadhan, tidak lain adalah dalam rangka merebut simpati dari dunia muslim agar mengeratkan hubungannya dengan AS.

Para duta besar, pejabat tinggi pemerintahan, dan anggota Kongres lainnya hadir bersama Obama di Gedung Putih pada Selasa (31/8) untuk ‘menghormati’ pernyataan laki-laki yang memiliki nama tengah ‘Hussein’ ini yang menyebutkan bahwa “Islam adalah agama yang luar biasa” dan komitmennya untuk mewujudkan ‘keadilan dan kemajuan’.

“Sumbangan orang Muslim pada Amerika Serikat tidak bisa diuraikan, terlalu banyak, karena orang Muslim tidak bisa dipisahkan dari berbagai komunitas dan negara kami,” kata Obama pada saat berbuka.

Duta Besar Israel untuk Washington, Michael Oren, juga menghadiri jamuan tersebut.

Obama menarik simpati para petinggi yang hadir saat itu dengan mengutip perkataan petinju terkenal Amerika Muslim, Muhammad Ali Clay.

“Beberapa tahun lalu, dia (Ali) menerangkan cara pandang ini… Ali mengatakan: sungai, kolam, danau dan kali – semuanya mempunyai nama berbeda, tetapi semuanya berisi air. Seperti halnya semua agama, semuanya berisi kebenaran,” kata Obama.

Jamuan Gedung Putih saat Ramadhan ini bukan hal yang baru. Mantan presiden AS sebelumnya, George W. Bush, pun melakukan yang sama. Setiap Ramadhan selama delapan tahun masa jabatannya, Bush melakukan jamuan berbuka di Gedung Putih.

Sejak resmi memasuki kantornya, Januari lalu, Obama mencoba untuk melakukan pendekatan baru terhadap dunia muslim. Ia berusaha untuk ‘merangkul’ dunia muslim, mendamaikan hubungan AS dengan negara-negara Muslim, yang memburuk setelah AS menginvasi Irak tahun 2003.

Jelas sekali upaya Obama untuk menumpulkan kesadaran dunia Muslim atas berbagai macam agenda AS yang sedang dijalaninya. Jamuan makan ini merupakan rangkaian selanjutnya dari kunjungan Obama ke Turki dan Mesir.

“Amerika bukan, dan tidak akan pernah, memerangi Islam.” Itulah salah satu ucapan yang dilontarkan Obama yang riuh ditepuki dan membuat para penguasa muslim merasa nyaman untuk terus tunduk pada kepentingan AS.

Obama pun menerbitkan sebuah rekaman video yang berisi pesan bagi Muslim sebelum Ramadhan baru-baru ini. Ia menyatakan dalam video tersebut bahwa Ramadhan merupakan bulan yang mengingatkan agar Muslim dan Kristian saling berbagi, termasuk  bulan yang mengingatkan kita untuk terus menumbuhkan keadilan, kemajuan, toleransi, dan martabat kemanusiaan. (althaf/dbs/arrahmah.com)

--------------------------
Notes :
“Amerika bukan, dan tidak akan pernah, memerangi Islam.” Itulah salah satu ucapan yang dilontarkan Obama yang riuh ditepuki dan membuat para penguasa muslim merasa nyaman untuk terus tunduk pada kepentingan AS.
———————–
Dicatet saja dulu pernyataan ini.

Peran Ibrohim Terendus, Inilah Jejaknya

Link

ibrohimTEMPO Interaktif, Jakarta - Jejak keterlibatan Ibrohim dalam jaringan teroris Jamaah Islamiyah yang beroperasi di Indonesia makin terkuak. Penata bunga di Hotel Ritz-Carlton yang dicurigai polisi ikut berperan dalam peledakan bom di dua hotel pada 17 Juli lalu itu diduga direkrut oleh jaringan Bogor, Jawa Barat.

Seorang perwira di kepolisian yang kemarin dihubungi Tempo mengatakan keberadaan Ibrohim mulai terlacak sejak pekan lalu. Sinyal telepon genggamnya sempat terdeteksi di daerah Cilacap, Jawa Tengah. Bahkan, kata dia, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror berharap pria 36 tahun yang biasa dipanggil Boim itu bisa ditangkap dalam waktu dekat. "Mudah-mudahan pekan ini," katanya.

Dia menjelaskan, polisi mulai mengungkap teka-teki jaringan teror ini setelah melakukan olah tempat kejadian ledakan dan mencocokkannya dengan data yang sudah ada. Data itu berkaitan dengan material bom dan para personel kelompok yang terkait dengan gembong teror Noor Din M. Top.

Adapun peran Ibrohim dalam peledakan di Ritz-Carlton diungkapkan oleh para saksi yang diperiksa dan rekaman CCTV di hotel tersebut. Ia diduga membantu meloloskan pelaku dan bom ke dalam hotel.

Pengamat intelijen Dynno Chressbon, yang dekat dengan satuan polisi yang memburu kelompok ini, menjelaskan bahwa anggota jaringan seperti Ibrohim biasanya diajak ikut operasi setelah lima tahun aktif dalam organisasi. Ibrohim bergabung dalam jaringan ini karena direkrut seseorang yang tinggal di Bogor.

Orang ini sebelumnya direkrut oleh Nurhadi alias Nurhasbi, anggota jaringan Noor Din yang hingga kini juga masih diburu. "Itu jaringan yang dulu dibina oleh Hambali yang berasal dari Cianjur," kata Dynno. Hambali hingga kini masih ditahan otoritas Amerika Serikat atas tuduhan terlibat terorisme.

Polisi mengenali Nurhadi sebagai rekan seangkatan Asmar Latin Sani dalam jaringan teroris ini. Asmar tewas dalam aksi bom bunuh diri di Hotel JW Marriott pada 2003. Nurhadi dan Asmar yang menyiapkan peledakan itu. "Nurhadi mendampingi Noor Din Moh. Top sejak di Palembang," ujar Dynno.

Asmar juga kakak ipar Rusman Gunawan (Gun Gun), adik kandung Hambali.
Gun Gun alias Abdul Hadi alias Abdul Karim alias Bukhori pernah ditangkap intelijen Pakistan pada September 2003. Setelah dideportasi ke Indonesia, ia diadili dan divonis 4 tahun pada 2004 oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena dinyatakan terbukti membantu aksi terorisme. Gun Gun kini tinggal di Bengkulu.

Penelusuran Tempo di Bengkulu berhasil menemukan toko yang dikelola keluarga Gun Gun. Namun, tak banyak keterangan yang bisa didapat. "Kejadian yang menyangkut adik saya sudah bertahun-tahun yang lalu dan tidak ada hubungannya lagi dengan peledakan JW Marriott yang sekarang," kata seorang perempuan yang menjaga toko tersebut.

Protes Gaza, 10.000 Situs Israel Diacak-acak

 clipped from www.detikinet.com
Rabu, 14/01/2009 11:52 WIB

Protes Gaza, 10.000 Situs Israel Diacak-acak



Jakarta - Serangan di dunia maya demi memprotes agresi Israel di Gaza, Palestina, masih berlanjut. Kurang lebih ada 10.000 situs Israel yang diacak-acak.

Demikian data terbaru dari Zone-H.org, yang dikutip detikINET, Rabu (14/1/2009). Situs yang mencatat aksi web defacement itu menyebutkan ada 10.413 serangan terhadap situs dengan nama domain .il (Israel). Dari 10.413 serangan itu, disebutkan ada 3.485 yang berupa serangan Single IP dan 6.928 serangan massal.

Sumber dari kalangan cyber underground di Indonesia mengatakan serangan-serangan tersebut sebenarnya juga melibatkan pelaku dari Indonesia. Namun beberapa dari Indonesia memilih bergabung dengan bendera internasional dalam melakukan aksinya.

Pesan-pesan dari ribuan serangan itu umumnya senada. Berikut beberapa pesan para pelaku yang sempat dibaca detikINET:
  • "Stop The War, Stop killing People & Child. Free Gaza Now" (Ashiyane Digital Security Team)
  • "Stop attacks u israel and usa ! you cursed nations ! one day muslims will clean the world from you !" (Agd_Scorpio)
  • "The resistance against the IDF is the only viable and standing tool to fight against Zionism and aggression" (The Moorish)
  • "This Hack iS To DeFend Islam That Has Been Harrased by Denmark and USA and Israel" (FesH4ck3rs Team)
  • "Stop WAR israel to pelstine!!!" (Old.Zone)
  • "You have weapons, you have technology But We have our ALLAH & Our Faith" (xOOmxOOm)

Meskipun demikian, tak semua serangan pada situs Israel membawa pesan protes Palestina. Beberapa serangan yang tercatat di Zone-H tak menunjukkan adanya pesan apapun yang disampaikan.
Sent with Clipmarks