Showing posts with label Bung Karno. Show all posts
Showing posts with label Bung Karno. Show all posts

TransTV : Pembawa Acara Peringatan Detik2 Pengibaran Bendera yang Sangat Menjengkelkan

Barusan ngikutin Milis Mediacare, ada yang protes tentang penayangan acara 17 Agustus,.. saya jadi ikutan mangkel membacanya.

Semoga anda bisa memahami kemangkelan tersebut.


-----------------------------------------

Menonton penayangan acara peringatan 17 Agustus, pengibaran bendera merah putih, di Istana Merdeka di statiun televisi TransTV saya merasa sangat terganggu dengan pembawa acara TV tsb.

Saat menyebutkan nama para undangan kehormatan, yang salah satunya yaitu mantan ibu negara, pembawa acara menyebutkan nama MADAME D. SYUGA dan bukannya Ibu Dewi Soekarno!

Penyebutan tersebut yang diucapkan secara berulang2 terasa sangat menyakitkan dan menjengkelkan. Betapapun, Dewi merupakan salah seorang istri bekas Presiden NKRI, Soekarno!

Penyebutan tersebut secara langsung memperlihatkan kedangkalan pengetahuan si pembawa acara akan sejarah bangsanya, dalam hal ini nama istri mantan presidennya dengan Dewi sebagai profil perempuan bebas pasca kematian sang suami yang kemudian memamerkan lukisan di tubuhnya lewat buku berjudul 'Madame D. Syuga'.

Pelafalan singkatan nama depan orang Belanda saat menyeritakan sejarah Istana Merdeka yang semula bernama Istana Gambir. Dalam bahasa Belanda huruf 'G' dan huruf 'W' tidak dibaca seperti dalam bahasa Inggris, seperti yang dilafalkan oleh pembawa acara.

Duh, TransTV, mohon deh kali lain kala menempatkan pembawa acara searas peringatan 17 Agustus tidak sekedar bermodalkan tampang tapi lebih pada isi kepala.

Evi Douren

Bedanya TPS Capres dan TPS Rakyat Biasa

Kompas.Com - Bedanya TPS Capres dan TPS Rakyat Biasa


Ini TPS Rakyat Jelata


Ini TPS Juragane

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak bermaksud membandingkan. Pelaksanaan hak pilih rakyat toh tak ditentukan bagaimana tampilan tempat pemungutan suara (TPS). Ini hanya catatan ringan dari lapangan.

Hajatan demokrasi di Indonesia biasanya diwarnai juga oleh kreativitas anak bangsa dalam membangun TPS. Ada TPS yang dibangun unik dengan beragam pernak-pernik. Ada pula TPS yang mewajibkan para petugasnya mengenakan pakaian daerah supaya pesta demokrasi berjalan lebih meriah.

Di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, Rabu (8/7) di TPS 026, tempat calon presiden Megawati Soekarnoputri menggunakan hak pilihnya, TPS yang dibangun pun terlihat berbeda. Tenda megah berbalut kain berwarna merah marun dan putih lengkap dengan kursi berbalut kain putih, membuat TPS tersebut indah dilihat dan istimewa.

Tidak jauh dari sana, ada TPS 024 yang terletak tepat di sebuah gang di sebelah lapangan yang digunakan untuk membangun TPS 026. Berbeda dengan TPS 26, TPS 024 terbilang sangat sederhana. TPS itu dibuat di halaman kecil rumah warga. Hanya "beratapkan" terpal biru dan di sekelilingnya hanya ditutupi dengan spanduk bekas.

"Ya, kalau di sebelah kan TPS-nya capres. Wajar kalau bagus. Kalau kami, semuanya swadaya warga, jadi seadanya. Yang penting, warga bisa memilih," kata Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 024, Abdul Din Wachid, di lokasi TPS.

Dilihat dari sisi jumlah, TPS 024 memiliki jumlah pemilih dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pemilih di TPS 026. Di TPS 024, tercatat 654 pemilih, sedangkan di TPS 026 387 pemilih. "Iya, jumlah pemilih kami lebih banyak karena terdiri dari 3 RT yaitu RT 9, 11, dan 12," kata dia.

Menurut Abdul, tampilan TPS tidak memengaruhi tingkat partisipasi warga. Hingga menjelang pukul 12, sebanyak 450 warga sudah menggunakan hak pilihnya. Sementara, 7 orang warga mendaftar untuk memilih dengan menggunakan KTP karena tidak tercantum dalam DPT.

"Waktu pemilu legislatif lalu juga hampir semua warga memilih. TPS kami ya sederhana seperti ini," kata Abdul.

Mega Pertanyakan Kegembiraan SBY di TV

INILAH.COM - Mega Pertanyakan Kegembiraan SBY di TV



INILAH.COM, Jakarta - Kubu pasangan SBY-Boediono tengah melakukan perayaan terkait kemenangan sementaranya berdasarkan quick count lembaga survei. Kemenangan sementara tersebut justru dipertanyakan capres Megawati Soekarnoputri.

"Saya katakan saya ingin pemilu berjalan jujur, adil, dan langsung umum bebas rahasia. Tapi kalau lihat sekarang seperti ini, kegembiraan hanya lewat TV itu perlu dipertanyakan," cetus Mega di kediamannya Kebagusan, Jakarta, Rabu (8/7).

Demokrasi yang benar, menurut mantan presiden ini, tidak memiliki indikasi kecurangan dimana-mana. "Kalau sudah ada keluhan warga negara tidak mendapat hak pilih itu harus diantisipasi. Masak ada 10 juta yang belum dapat akses memilih," ujar capres nomor PDIP dan Partai Gerindra ini.

Dicontohkan Mega, tidak jauh-jauh, warga di RT dekat kediaman Mega ternyata juga digiring untuk mencontreng ke TPS lain. Jika demikian yang terjadi ini merupakan demokrasi yang tidak mengembirakan.

"Saya melihat akhirnya sebagai tampilan demokrasi yang semu," tandas capres nomor urut satu ini. [jib]

-------------------------------------

Notes :

Ibu satu ini masih merasa SBY itu adalah ex menterinya, jadi dia nggak pernah rela/suka SBY senyum.

Budaya Feodalnya kok masih melekat to bune? Sebaiknya  kelola Pomap Bensin waelah penjenengan.

:(

LRI Resmi Ditutup Akui Kemenangan SBY-Boediono

LRI Resmi Ditutup Akui Kemenangan SBY-Boediono

Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Riset Informasi (LRI) resmi ditutup, setelah gagal dalam merencakan hasil Pilpres 2009 yang memperkirakan bisa dua putaran, ternyata hanya satu putaran sekaligus mengakui kemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Budiono.

Persiden LRI Johan O Silalahi kepada wartawan, Rabu malam, mengatakan, dengan kegagalan itu dia langsung menutup secara resmi lembaga survei tersebut.

"Saya konsisten akan pembicaraan beberapa hari lalu, bahwa bila hasil Pilpres hanya satu putaran, maka lembaga ini akan ditutup," katanya.

Lembaga survei yang dibukanya sejak tiga tahun lalu itu, dengan tulus hati di bubarkan, sedangkan karyawannya tetap dipekerjakan pada usaha lain miliknya.

"Saya minta maaf kepada masyarakat di tanah air, bahwa lembaga yang dipimpinnya gagal memprediksi hasil Pilpres 2009," ujarnya.

Kendatipun lembaga yang sudah berusia tiga tahun dan selalu berhasil dalam bibidangnya selama ini, ternyata gagal apa boleh buat"Kita tutup saja", tegasnya.

Konsekuen seperti ini hendaknya diikuti oleh lembaga lainnya yang selalu gagal dalam perencanaannya, supaya budaya malu dimasyarakatkan di tanah air.

Jangan sudah gagal dalam program, namun tetap ngotot mengaku berhasil, ini adalah cara yang kurang arif dan tak perlu diwariskan pada generasi mendatang,

Dia menjelaskan, kendati data hasil quick count sudah akurat, namun belum menjadi acuan dalam undang-undang."Kita tetap akui data itu mendekati kebenaran di lapangan, namun hasil akhir tetap di Komisi Pemilihan Umum (KPU)," kata Johan.

Berdasarkan hasil survei sementara capres pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto memperoleh 27,10 persen, pasangan SBY-Budiono (61,09 persen) dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (11,81 persen).

Angka itu dalam posisi suara terkumpul dari daerah-daerah sudah mencapai 92 persen, tambahnya,"Selamat untuk pasangan SBY-Budiono", ujarnya.(*)

Sampai Malam, JK & Mega Belum Ucapkan Selamat ke SBY

Sampai Malam, JK & Mega Belum Ucapkan Selamat ke SBY

CIKEAS - Saat jumpa pers yang digelar di kediaman pribadi Presiden SBY, di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, sempat tersebut jika pasangan Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla belum mengucapkan selamat kepada SBY. Ada apa gerangan?

"Memang sampai sekarang, Pak JK dan Ibu Mega belum sempat komunikasi dengan kita," kata calon presiden dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono saat jumpa pers di kediamannya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/7/2009).

Namun demikian, SBY tidak kecewa. Putra asal Pacitan ini justru mengatakan dirinya dan Jusuf Kalla masih harus menyelesaikan pemerintahan hingga Oktober mendatang.

"Saya berharap meski sudah tidak bersama kita masih terus silaturahmi. Ini kontrak saya dan juga para menteri," papar SBY.

Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga, pasangan SBY-Boediono memang unggul dibanding pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. SBY-Boediono unggul lebih dari 50 persen suara.(ahm) (mbs)
-------------------
Notes :
Sabar bang, kan masih belum resmi dari KPU. Tak boleh takabur apalagi tinggi hati!
Bisa kuwalat sama Nyainya lho?
:))
eh makin cepat nyalamin nampaknya makin baik sebenarnya dari pada nanti telat jadi malu ya pak?

Pidato Soekarno (1945-1948)

Pidato Soekarno (1945-1948) (47 photos)

   




... more
View all
47 photos in
this album

 



Pers Release Kasus Prita oleh PDI Perjuangan

Source : Milis Medaicare - Yahoogroups

Pers Release Kasus Prita oleh PDI Perjuangan

Menanggapi kasus yang dialami oleh Prita Mulyasari (32), seorang ibu dua orang anak yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang, Banten, sejak 13 Mei 2009.

Kami, PDI Perjuangan sangat menyesalkan dan memprihatinkan bahwa  kasus  yang menimpa Prita dapat terjadi di negeri ini, dengan alasan:

1.     Prita adalah korban dari pelayanan buruk yang dilakukan oleh sebuah Rumah Sakit berkelas Internasional,  Omni Internasional Alam Sutra, Tangerang. Namun, ironisnya, bukannya keadilan yang ia peroleh,  ia malah ditahan hanya karena curhat melalui email ke beberapa temannya,  mengeluhkan layanan buruk dari Rumah Sakit tersebut. Prita ditahan selama 3 minggu dan diputuskan bersalah atas tuduhan berlapis, pencemaran nama baik  dan dianggap melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik) dengan ancaman hingga 6 tahun penjara.  

2.     Selama menjadi tersangka, Prita yang merupakan ibu dari dua orang anak ini mengalami diskriminasi dan tidak terpenuhi hak-haknya sebagai tersangka, sebagaimana pengakuan Prita ia tidak diizinkan pulang untuk menjenguk anak-anaknya selama di tahan. Tidak ada bantuan hukum sebelumnya bagi Prita untuk bisa menangguhkan penahanan, hal mana harusnya bisa ditawarkan bahkan disediakan oleh pihak berwenang bila tersangka tidak mampu membayar pengacara, seperti dinyatakan dalam pasal 60 dan 61 KUHAP.

3.     Kejadian yang dialami Prita merupakan bukti kasat mata, dampak dari neoliberalisasi dimana kekuatan pasar bebas dengan  lembaga-lembaga multi nasionalnya dapat dengan mudah menggunakan hukum  seperti UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik  yang tampaknya memang dibuat untuk memuluskan kepentingan neolib dengan  mengalahkan kepentingan asasi (kebebasan ekspresi) rakyat kecil yang nampaknya di era pasar bebas ini, sulit menjadi tuan rumah di negeri sendiri.  

4.      Kasus Prita adalah bentuk pelanggaran atas  hak-hak kebebasan informasi, hak untuk menyatakan pendapat,  yang merupakan hak-hak asasi paling mendasar yang dilindungi oleh Konstitusi dan UU HAM dan berbagai ratifikasi Konvensi Internasional seperti Sipol, ECOSOC dan CEDAW.  Kasus Prita adalah preseden buruk atas penegakan HAM dan demokrasi di Indonesia

5.     Peristiwa diatas yang dialami oleh Prita yang  tidak dizinkan menyusui anaknya selama dalam tahanan    juga menjadi bukti  lemahnya  perlindungan negara terhadap perempuan khususnya atas  hak-hak reproduksi perempuan.


Jakarta, 03 Mei 2008

Megawati Soekarnoputri

---------------------------------------------------
Notes :
Hebat sang Ibu cukup perhatian dengan kasus Prita.
Mumpung musim kampanye semoga banyak kasus yang bisa diangkat karena kehadiran dan perhatian para Capres Pilpres 2009


Kartini Connections - re hari Kartini 21 April

Kartini Connections

Sumber : http://yoansoraya.wordpress.com/2007/04/21/ibu-kartini/

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (Jepara, 21 April 1879 - Rembang, 17 September 1904), adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. Sosroingrat dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa.

Kartini

Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Lebih lengkapnya liat disini

http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

kartini2.jpg?et=wvjOWqQ40dPBYrABvGTw1Q&nmid=112965464

Katanya Dulu Lawan kok Sekarang berKawan - Itukah Politik?

Reaksi Tokoh Parpol

Sejumlah tokoh partai politik menggelar pertemuan di rumah Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Selasa (14/4). Pertemuan tersebut menghasilkan 3 butir kesepakatan. Mereka menilai Pemilu Legislatif 2009 sebagai pemilu terburuk, banyak kecurangan, serta desakan agar semua laporan kecurangan ditindaklanjuti.







Siapa Melawan Siapa - Persaingan Capres

Siapa Melawan Siapa
Penjual menjajakan koran yang memasang visualisasi Presiden SBY, Megawati Soekarnoputri, Prabowo, dan Wiranto sebagai headline di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (14/4). Kemenangan Partai Demokrat dalam perolehan suara Pemilu Legislatif pada perhitungan sementara membuat peta persaingan memanas. Berbagai cara dilakukan parpolyang tak memiliki perolehan suara signifikan, termasuk menjajaki kemungkinan koalisi agar dapat bersaing dalam pilpres nanti.





Situ Gintung yang Saya Kenal (Tulisan dari warga Asli Situ GIntung)

 
Senin, 06/04/2009 | 08:06 (GMT+9)

Situ Gintung yang Saya Kenal

Oleh : Sukemi 

MINIMAL, sudah dua kali Situ Gintung menjadi pusat perhatian dan pemberitaan secara nasional. Pada 1987, danau alamiah tersebut menjadi pusat perhatian, bukan hanya masyarakat awam, tapi juga para ilmuwan. Itu berkait dengan peristiwa terlepasnya satu gugus tanah di pinggir sebelah barat, yang di bagian atasnya sudah berdiri satu rumah penduduk setempat, pepohonan, dan juga satu sumur.

Kontan saja waktu itu semua orang bertanya-tanya. Ilmuwan pun berdatangan, baik dari LIPI maupun BPPT, untuk melihat dan meneliti kenapa sebidang tanah bisa begitu saja berpindah atau tercerabut dari dasar bumi. Orang pun berdatangan dalam peristiwa ''tanah pindah" tersebut. Saat itu tidak ada korban jiwa.  Kali ini, Jumat dini hari, 27 Maret 2009 lalu, peristiwa memilukan dan menelan puluhan korban jiwa terjadi di Situ Gintung akibat tanggul di bagian tengah -masyarakat di sana menyebutnya pelimpasan- ambrol tidak kuat menahan tekanan air danau.

Sebagian masyarakat di sana memang masih ada yang memitoskan keberadaan Situ Gintung. Berbagai kejadian misterius sering menjadi bahan cerita jatuhnya korban jiwa di sana. Situ yang diyakini berbentuk seperti orang sedang tidur telentang itu bukanlah danau buatan, tapi danau alamiah, yang kemudian untuk kepentingan irigasi dan pengairan, dibangunlah tanggul dengan dua anak sungai di bagian timur dan barat, sedangkan di bagian tengahnya dibuat pelimpasan dengan konstruksi amat sederhana.

Bentuk seperti orang sedang tidur telentang digambarkan di bagian selatan dengan pulaunya disebut sebagai bagian kepala dan tangan. Sedangkan di bagian utara dengan dua anak sungainya yang dahulu digunakan sebagai saluran irigasi, adalah bagian kaki ditambah dengan tanggul (yang kini jebol) yang dimanfaatkan orang dan kendaraan roda dua sebagai akses jalan dari Kampung Gunung ke poros Jl Ir H Juanda. Minggu pagi, 22 Maret 2009 (lima hari sebelum peristiwa jebolnya tanggul pelimpasan), saya menyempatkan diri berjalan di atas tanggul itu untuk menikmati udara yang masih bersih sambil bernostalgia masa-masa kecil saya bermain, memancing, dan memandikan ternak kerbau di sana tiap sore hari.

Pemandangannya cukup menarik. Di atas situ, dua-tiga orang hilir-mudik dengan menggunakan rakit menjala ikan. Sedangkan di tepian situ, beberapa orang melempar dan menunggu pancingnya dimakan ikan. Pemandangan itu bak lukisan di mana di bagian selatan menyembulkan pemandangan siluet biru Gunung Salak di Bogor.

Keindahan dan keelokan itulah yang menyebabkan beberapa insan film dan pemusik era 1970-an kerap menggunakan tepian situ itu untuk lokasi pengambilan gambar. Sekadar menyebutkan contoh, film-film seperti Si Pincang, Si Manis Jembatan Ancol, Panji Tengkorak, Si Jampang, serta Romie dan Juliet, pengambilan gambarnya sebagian besar dilakukan di Situ Gintung. Aktor-aktor besar di masa itu, seperti Sophan Sophiaan, Widyawati, Muchsin Alatas, Titik Sandhora, Soekarno M. Noer, Rano Karno, Yessi Gusman, Nanin Sudiar, Koes Plus, dan lainnya adalah orang-orang yang kerap melakukan pengambilan gambar di sekitar Situ Gintung.

Berubah Total

Sebagai warga yang lahir dan dibesarkan di kawasan itu, saya ingin menyampaikan pandangan berkait dengan tragedi tersebut. Pandangan ini tentu terkait dengan kondisi riil tanggul dan kawasan sekitar yang memag telah mengalami perubahan fungsi sejak lebih dari sepuluh tahun terakhir. Kalau diamati, sudah lebih dari sepuluh tahun, kondisi tanggul dan lingkungan di sana berubah total dengan berubahnya peruntukan di kawasan sekitar. Saya mengetahui benar beberapa perubahan yang terjadi dalam kurun lebih dari sepuluh tahun belakangan ini, mulai kondisi air situ yang sudah tercemar bahan detergen dan sampah domestik dari permukiman di sekitar situ, terjadinya pendangkalan, sampai tumbuhnya gulma air dan eceng gondok.

Menurut saya, faktor terbesar penyebab jebolnya tanggul, selain karena usianya yang sudah tua -dibangun pada zaman Belanda sekitar 1930-an- dan selama ini belum pernah dilakukan perbaikan, juga karena dua anak sungai di bagian timur dan barat tidak lagi difungsikan. Bahkan, pintu air di bagian barat yang dulu digunakan untuk mengatur debit air menuju sungai yang berfungsi untuk irigasi persawahan dan juga cuci serta mandi, yang berada di Rempoa (kini berubah menjadi pabrik tekstil PT Sandatex), sudah lama ditutup. Selokannya sudah diuruk dan sebagian lagi dimanfaatkan untuk permukiman.

Sedangkan selokan atau sungai di sisi timur tanggul, yang juga melalui pintu air pengaturan yang digunakan untuk persawahan di kawasan Poncol, yang kemudian menyatu dengan Kali Pesanggarahan, kini juga berubah. Sebagian untuk perumahan dan permukiman dan sebagian lagi menjadi Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta. Memang, selokan yang berada di sebelah timur tidak sepenuhnya ditutup, tidak seperti pintu air di bagian barat yang telah ditutup total, tapi anak sungai itu sudah jauh lebih kecil dari sebelumnya, sehingga air yang mengalir ke sungai itu pun sangat sedikit. Seandainya dua sungai di sisi timur dan barat itu masih berfungsi, saya yakin benar tekanan air dari situ itu akan terdistribusi di beberapa titik, tidak terfokus di bagian pelimpasan yang kini telah jebol.

Memang faktor tuanya tanggul juga menjadi penyebab. Apalagi -sepengetahuan saya- tidak ada upaya merehabilitasi atau memperbaiki tanggul, terutama di bagian limpasan yang konon dibangun sejak zaman Belanda itu. Kalau pun dilakukan perbaikan, hanya di bagian atas tanggul untuk keperluan pemavingan, agar pengguna jalan dan kendaraan roda dua tidak terlalu direpotkan menghadapi jalan yang becek dan licin saat hujan.

Perbaikan itu justru memperlemah struktur tanggul karena dengan pemavingan, jumlah kendaraan yang berlalu lalang makin banyak dan bebannya makin berat. Sementara itu, akibat pencemaran detergen, kondisi tanggul atau tanah serta batu kali di daerah limpasan tersebut justru strukturnya makin rapuh sehingga dengan tekanan air yang demikian besar, jebollah tanggul itu.

*. Sukemi, warga asli Situ Gintung

PDIP dengan Kontrak Politiknya masuk MURI lho!

http://foto.inilah.com/topik.php?id=6296









Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri didampingi Ketua Dewan Pertimbangan PDIP Taufik Kiemas (kiri) menerima piagam rekor dari Ketua Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana di kediamanan Jalan Teuku Umar, Jakarta, Selasa (10/3). MURI menganugerahkan PDIP sebagai partai pertama yang berani melakukan kontrak politik untuk perubahan secara nasional dengan target dan sanksi yang terukur menjelang pemilu 2009.

--------------------------
Notes :
Hayo Partai yang lainnya mau pada ngikut nggak?
Rakyat tinggal nagih saja janji mereka.


Rapat Akbar Dukung Kalla Itu Sia-sia

 clipped from politik.vivanews.com
Anton Lesiangi :

Rapat Akbar Dukung Kalla Itu Sia-sia

Yang mendukung Kalla dinilai hanya petinggi partai tingkat provinsi.

Rabu, 25 Februari 2009, 08:00 WIB



VIVAnews – Rapat akbar yang akan digelar Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan  Karya Sulawesi Selatan 1 Maret 2009 dinilai tidak memiliki daya apapun untuk menggolkan Jusuf Kalla menjadi calon presiden.

"Pertemuan itu tidak ada artinya apa-apa. Semua pimpinan daerah datang pun tidak berpengaruh. Karena tidak ada dasar hukumnya," kata Anton Lesiangi, fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, kepada VIVAnews.

Bagi teman dekat Sri Sultan Hemengku Buwono X itu, yang menentukan siapa yang layak menjadi kandidat presiden partai beringin bukan forum pertemuan semacam itu, melainkan Rapat Pimpinan Nasional Khusus yang baru digelar usai pemilihan legislatif 2009.

Selain itu, Anton menilai dukungan yang digalang petinggi daerah itu sama sekali tidak kuat. Karena mereka hanya datang dari unsur pimpinan tingkat provinsi. Padahal, kata Anton, yang paling menentukan bagi kemenangan calon presiden adalah dukungan ketua partai tingkat kota dan kabupaten.

Itu sebabnya dukungan kepada Kalla agar siap dicalonkan yang disampaikan para petinggi daerah di rumah kontrakan Kalla di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 19 Februari 2009, dianggap Anton sia-sia.

Rapat akbar itu rencananya dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Forum ini digagas Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar, Sulawesi Selatan, menyusul kesiapan Kalla maju menjadi calon presiden. Salah satu agendanya, menyatukan barisan kader beringin untuk mengusung Kalla sebagai satu-satunya calon presiden beringin. Semua petinggi daerah direncanakan hadir di sana.

Anton mengatakan siapapun calon presiden yang diusung Partai Golkar dia harus lulus uji di Pemilihan Legislatif 9 April. Yaitu berhasil mendongkrak perolehan suara partai mencapai 20 persen. Karena, dengan demikian syarat bagi partai dapat mengusung calon presiden terpenuhi.

Karena itu, Anton mengusulkan Partai Golkar mengesahkan Kalla menjadi calon presiden sebelum 9 April. Sehingga kelayakan Kalla menjadi calon presiden dapat diukur di melalui hasil pemilihan umum. Bila Kalla dikehendaki, kata Anton, dia dapat memenuhi 20 persen itu.

Anton akan mendukung penuh Kalla maju ke pemilihan presiden bila Kalla mampu menaikkan dukungan. Sebaliknya, bila Kalla tidak berhasil, Anton meminta Kalla untuk mundur dari bursa calon presiden dan Ketua Umum Partai Golkar.

Partai-partai lain pun, kata Anton, juga mengukur calonnya dengan cara demikian. Yaitu ditetapkan sebelum pemiliihan legislatif. Dia mencontohkan Partai Demokrat telah mengumumkan kembali Susilo Bambang Yudhoyono menjadi calon presiden. Megawati Soekarnoputri juga jauh-jauh hari ditetapkan menjadi calon presiden. Begitu juga dengan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra dan Wiranto dari Partai Hanura.




Sent with Clipmarks

Taufiq Kemas, Seorang Politikus Busuk?

Taufiq Kemas, Seorang Politikus Busuk?


Taufiq Kiemas suka Titip Absen

        Usulan Ketua Fraksi PKB Effendi Choirie, agar keaktifan anggota dewan di DPR diumumkan menjadi topik hangat menjelang pemilu 2009. Sebelumnya, pada September 2008 lalu, Agus Condro  mengkritisi BK DPR yang tidak pernah memberi sanksi pada Taufiq Kiemas (TK), padahal anggota DPR yang terdaftar di komisi I ini  telah melanggar kode etik dewan yakni malas dan tidak pernah hadir secara fisik dalam rapat komisi maupun sidang paripurna.

         Bahkan Agus Condro mengungkapkan bahwa Taufiq Kemas melakukan pelanggaran serius yaitu 'hobi menitip absen".
"Mengapa tidak pernah dipanggil BK atau diberi sanksi begitu. Kalau alasannya sibuk, apa kesibukannya?"
"Kalau tanda tangannya ada di daftar hadir, itu tanda tangan siapa. Itu juga perlu dipertanyakan. Kok jadinya seolah-olah pelanggaran etika pucuk pimpinan partai bisa dimaklumi?" katanya Agus Condro.
        Agus Condro menuntut kepada BK lantaran hanya dia saja yang mendapat sanksi kode etik, padahal Taufiq Kiemas yang menjadi ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP tidak pernah ditegur. Wah….rupanya hierarki di Senayan mirip dengan hukum rimba. Kebobrokan petinggi partai tidak tersentuh oleh kode etik.

Taufiq Kiemas

Taufiq Kiemas

Taufiq Kiemas "Kunjungi' DPR karena Malu dikritik

        Sebulan kemudian, 21 Oktober 2008, suami Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas, akhirnya mengunjungi [sengaja dipilih kata mengunjungi] Senayan setelah sekian lama tidak menginjak kaki di Gedung Penyuara Aspirasi Rakyat. Kedatangannya yang dikawal 3 ajudannya tentu saja mendapat "big surprise". 

        Dikritik dan diberitakan media massa karena kebiasaanya bolos sidang di DPR, selain risih, Taufiq Kiemas pun merasa malu.
"Tumben nih pak, hadir di sidang?" tanya wartawan begitu TK keluar dari ruang sidang paripurna.
"Malu juga saya dikritik adik-adik," kata Taufiq sambil tersenyum ke arah wartawan yang mencegatnya.
"Jadi bukan karena mau dilaporkan jarang hadir oleh Agus Condro ya Pak?" goda wartawan lagi.
"Bukan, bukan karena dia. Kalau dikritik adik-adik saya mau datang," ucap Taufiq.

Taufik Kiemas Tergolong Politisi Busuk

        Menurut Pengamat Politik dan Dosen Fisipol UGM, Sigit Pamungkas, rendahnya tingkat kehadiran anggota DPR termasuk Taufiq Kiemas mengikuti rapat komisi atau  rapat paripurna DPR merupakan cerminan politisi busuk. BK seharusnya bisa melakukan tindakan aktif menindak oknum anggota dewan tersebut.
"Itu penyakit politisi busuk karena tidak menjalankan fungsi dasar lembaga legislatif. Nah sekarang mau berperan dalam kebijakan DPR bagaimana orang hadir saja tidak pernah," 

        Kedisiplinan anggota merupakan sebuah cerminan bagaimana fraksi tersebut komitmen mengemban kepercayaan masyarakat. Anggota dewan yang jarang menghadiri rapat, termasuk Taufiq Kiemas maupun anggota lainnya harus malu jika hanya menikmati gaji bulanan tapi tanpa peran apapun. "Masak hanya menikmati saja tiap bulan tapi tidak pernah hadir," ujar Sigit. Hah….hanya hadir untuk menerima gaji, dan mangkir dari tugas utama : menyuarakan aspirasi rakyat, membuat undang-undang, kreatif dan inovatif dalam budgeting, dan fungsi pengawasan.

DPR Suka Absen, harus Dipublikasikan

        Di akhir tahun 2008 ini, wacana untuk mempublikasikan para anggota DPR yang sering mangkir dari tugasnya di Senayan muncul dan mendapat dukungan luas dari masyarakat. Begitu juga hampir semua fraksi di DPR RI setuju mengenai agenda tersebut. Mulai dari PKB, Golkar hingga Demokrat. Hanya ada satu partai politik yang menolak desakan ICW tersebut, meskipun partai-partai seperti  PKB, PAN, Golkar juga memiliki anggota yang suka bolos ketika rapat paripurna.

Fraksi apakah itu??
        Kita pasti langsung tahu. Tidak lain tidak bukan adalah fraksi tempat Taufik Kiemas bertahta, yakni PDI-P.
        Ketua Fraksi PDI-P Tjahjo Kumolo pun berkilah , "Biarkan itu urusan Badan Kehormatan (BK). Perlu diingat, anggota DPR bukan karyawan DPR. Kami adalah petugas partai, bukan karyawan DPR yang harus absen setiap hari. Ini kan lembaga politik,……Kecuali ada voting, atau pengajuan hak DPR, ya harus hadir," kata Tjahjo (18 Desember).

        Pernyataan politisi PDI-P ini terkesan melindungi "sifat malas" dari tokoh sentral partai yang berkepala banteng tersebut. Padahal dalam tata tertib DPR disebutkan, para anggota yang 3 kali mangkir dari rapat akan diberikan sanksi. Namun, selama ini tak pernah terdengar ada anggota yang mendapatkan sanksi atas 'kemalasannya'. 
        Menurut Tjahjo, tatib DPR jangan dimaknai terlalu kaku. Bagaimanapun, dalam pandangan dia, anggota DPR harus mengutamakan konstituennya. "Kadang-kadang, kami harus menemui konstituen yang jadwalnya berbenturan dengan rapat di DPR. Kan harus mengutamakan konstituen," kata dia.

Anggota DPR harusnya Merakyat

        Para politisi yang memberi alasan-alasan yang inrasional ini harusnya mau mengakui kebobrokan anggota fraksinya. Bagaimana negara Indonesia bisa maju, jika dalam rapat dan sidang sebagian anggota DPR tidak hadir. Dikemanakan gaji di atas 40 juta/bulan ini dipertanggungjawabkan?????
Apa tujuan Anda menjadi anggota dewan, kalau tidak disiplin melaksanakan tugas sebagai dewan?
Kewajiban pribadi saja tidak dilaksanakan (hadir dalam agenda DPR), bagaimana menyampaikan aspirasi rakyat?
Menjijikkan dengan selalu beralasan bahwa jadwal rapat DPR berbenturan dengan acara di luar DPR. Kalau cuma sekali, masih dapat dimaklumi. Kalau ini sering? Dan titip absen lagi?? Dan yang lebih dashyat lagi….semua fraksi di DPR, memiliki track record partisipasi kehadiran anggotanya kurang dari 90%.
Bagaimana menurut Anda?

Sebuah  Lagu dari Iwan Fals (Semoga Dewan Senang Mendengarnya)

Wakil Rakyat

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR **)

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam ***)

Dikantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke

Saudara dipilih bukan di lotere
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he eh juara hahaha

lanjut **)
lanjut ***)

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu "setuju" (2x)

 

**** Soe Hok Gie : Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.
***** Nusantaranews : Lebih baik tidur diwaktu sidang… Daripada mangkir dari tugas dan tanggung jawab menghadiri rapat & sidang.

Sumber Referensi:
www.padangekspress.com
Kompas.com
www.waspada.co.id 
www.inilah.com
Lirik "Wakil Rakyat" by Iwan Fals

Sent with Clipmarks

Rizal Mallarangeng Mundur dari Bursa Capres - sukurlah sadar diri!

19/11/08 23:13

Rizal Mallarangeng Mundur dari Bursa Capres


Jakarta (ANTARA News) - Dr Rizal Mallarangeng menyatakan mundur dari bursa bakal calon presiden (capres) karena menyadari tingkat elektibilitasnya atau kemungkinan terpilih dalam pilpres jauh berada dibawah Susilo Bambang Yudhoyono serta Megawati Soekarnoputri.

"Saya akui bahwa saya belum mampu. Saya tidak malu mengakui kekalahan saya ini," kata Rizal ketika mengumumkan pengunduran dirinya dari bursa capres kepada pers di Jakarta, Rabu malam.

Adik Andi Mallarangeng ini mengatakan selama tiga bulan setengah ini, dirinya bersama tim suksesnya sudah berusaha maksimal mempopulerkan dirinya antara lain melalui kunjungan ke berbagai daerah serta melalui iklan di media massa.

"Tingkat popularitas saya semakin naik. Tapi tingkat elektibilitas belum bertambah secara signifikan," katanya sambil secara jantan mengakui bahwa dirinya masih belum bisa mengalahkan Susilo Bambang Yudhoyono yang masih menjadi Presiden serta mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Rizal kemudian mengatakan" tingkat elektibilitas saya masih jauh dibawah Pak SBY serta Mbak Megawati".

Ia mengatakan pada pilpres tahun 2009, paling-paling ada tiga calon presiden antara lain Yudhoyono serta Megawati. Ia memperkirakan Wiranto bisa menjadi capres ketiga

Ketika ditanya wartawan apakah ia akan maju lagi pada pilpres tahun 2014, sambil tersenyum, ia berkata "Saya lima tahun lagi akan berusaha mencoba".(*)

COPYRIGHT © 2008

MONAS I


MONAS I, originally uploaded by miganu.

This national monument is the main landmark in Jakarta. Building started in 1961, during the reign of President Sukarno (according to my LP guidebook it is refered to as Soekarnos final erection), but was not completed until 1975 when President Suharto officially opened it. According to LP it is supposedly built entirely out of Italian marble and the large flame on top is gilded with 35 kg of gold leaf. The monument houses the National History Museum at its base

Rasa Sayange - Lagu Indonesia loh...

Betul atau betul?

Ditemukan Bukti Lagu ”Rasa Sayange” Asli Indonesia
Selasa, 09 Oktober 2007 | 15:22 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Perusahaan Percetakan Negara Lokananta Solo menemukan arsip rekaman lagu ”Rasa Sayange”. Menurut Kepala PPN Lokananta, Roektiningsih, lagu tersebut direkam pada 15 Agustus 1962. ”Sebagai souvenir Asian Games IV di Jakarta,” katanya kepada wartawan, Selasa.

Diketahuinya rekaman tersebut merupakan cidera mata tampak dari sampulnya yang ada tulisannya ”Souvenir from Indonesia, untuk 'the Fourth Asian Games”. Menurut Roektiningsih, lagu itu direkam dan digandakan atas perintah dari Presiden RI waktu itu Ir. Soekarno kepada Menteri Penerangan R. Maladi.

”Pita reel master rekamannya masih ada,” katanya sembari menunjukkan nomor registernya 253.
 blog it