Showing posts with label bom bali. Show all posts
Showing posts with label bom bali. Show all posts

Foto Jenazah Amrozi, Ali Ghufron : Misteri Tanda Syahid Amrozi Cs Terkuak

Misteri Tanda Syahid Amrozi Cs Terkuak

Jum'at, 14-11-2008 | 10:58:12 WIB

Tiada kata yang terucap melainkan kalimat takbir, Allahu Akbar, atas kondisi jenasah ketiga syuhada Bali. Betapa tidak, ketiga syuhada tersebut sangat jelas menampakkan tanda-tanda sebagai syahid seperti yang biasa ditemui di kancah peperangan, meski mereka 'tidak sedang berperang' melawan musuh Islam.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Kantor Berita Islam Muslimdaily.net mendapat ijin dari pihak keluarga, yang diwakili oleh Bp. Ali Fauzi, untuk mempublikasikan photo dua mujahid Bali yakni Amrozi dan Ust. Mukhlas. Bp Ali Fauzi berpesan agar photo ini disebarluaskan untuk memberikan bukti nyata atas misteri dan polemik yang terjadi ke atas Mujahid Bali, terutama Syuhada Tenggulun, terkait status mereka, apakah mati syahid atau tidak. Disamping itu memberikan hikmah nyata kepada seluruh kaum Muslimin bahwa perjuangan Islam yang mereka lakukan benar-benar ikhlas untuk tingginya kalimat Allah, dan bukan sekedar untuk aksi pamer.

Sebagaimana syuhada yang gugur dalam medan jihad, photo kedua syuhada Tenggulun terlihat tersenyum dengan barisan gigi yang terlihat rapi. Apalagi yang terjadi dengan Amrozi. Senyuman khas "The Smiling Bomber" yang seiring dengan kedua mata yang terbuka, terlihat seakan-akan bertemu dengan sesuatu yang membuat kagum. Mungkin sepasang bidadari yang menyambut ramah.

Kondisi tak jauh berbeda terjadi dengan jenasah Ust. Mukhlas. Ulama yang jago berorasi ini memperlihatkan senyuman dengan mata yang juga terbuka. Wajah bersih pun menjadi pertanda yang lain. Wajah bersih yang juga dimiliki oleh sang "Mujahid Hacker," Imam Samudera alias Abdul Azis. Imam memperlihatkan wajah tampan dan bersih, persis dengan kondisi Ust. Mukhlas.

Disamping analisis photo ketiga Mujahid Bali tersebut, keterangan dari lapangan makin memperkuat bukti bahwa ketiga pelaku aksi jihad tersebut adalah para Mujahidin, mereka telah memiliki niat yang tulus dan menemui kematian sebagai seorang syuhada. Berikut adalah bukti dan persaksian dari lapangan.

  1. Salah satu pelayat yang kebetulan ikut hadir di kediaman Hj. Tariyem adalah Ust. Abdul Rachim Ba'asyir. Menyaksikan bahwa ketika keranda jenasah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. Kejadian ini sempat membuat keheranan para pelayat, karena didalam ruangan yang sempit tersebut udara sangat pengap dan pengunjung berjubel dalam satu ruangan. Bila merupakan wangi dari minyak wangi, tak akan mampu mengalahkan bau badan para pengunjung dan tidak akan dapat memberikan aroma dengan kadar wangi yang sama." Allahu Akbar. Itu bukan bau minyak wangi. Bukan. Tapi bau wangi dari asy syahid," kata beliau.
  2. Selain itu, masih menurut Ust, Abdul Rachim, ketika kain penutup wajah dari Ust. Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Ust. Mukhlas merasakan kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat beliau.
  3. Sebagaimana dilansir oleh beberapa media nasional, seperti detik.com, nampak jelas terlihat fenomena datangnya tiga burung hitam di atas kediaman syuhada. Ketiga burung ini jelas bukan burung Gagak seperti yang banyak diberitakan di media, karena memiliki leher yang panjang. Mereka datang begitu saja berputar-putar selama kurang lebih tujuh menit, dan kemudian pergi berpencar. Dua burung hitam terbang ke arah Timur, mereka merepresentasikan diterimanya amalan jihad Ust Mukhlas dan Amrozi, dan satu burung hitam terbang ke Barat, sebagai pertanda syahid atas diri 'Mujahid Hacker' Imam Samudera. Fenomena datangnya burung hitam ini sempat membuat suasana haru dengan teriakan takbir para pelayat.
  4. Seperti penuturan adik kandung Imam Samudera, Lulu Jamaludin, kakaknya menampakkan keanehan ketika akan dimasukkan dalam liang lahat. Bau wangi juga tercium dari jenasah Imam. Selain itu luka bekas tembakan peluru tajam terus menerus mengalirkan darah segar. Aliran darah ini keluar seperti yang terjadi dengan seseorang yang masih hidup ketika terluka. Masih menurut Lulu juga, wajah kakaknya lebih bersih dan tampan dari biasanya.
  5. Kabar terakhir baru saja diterima oleh salah satu kru muslimdaily.net. Beberapa hari yang lalu, tepatnya tiga hari setelah pemakaman Amrozi dan Ust. Mukhlas, keluarga Hj. Tariyem meminta beberapa orang untuk menjaga makam. Hal ini dilakukan untuk menghindari dan menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa diantara mereka yang ikut jaga adalah Sumarno, Baror, Rosyidin, Mashudi dan beberapa santri pondok Al Islam Tenggulun Lamongan. Mereka mengatakan mencium bau wangi keluar dari dalam kubur (makam). Bau wangi yang sama saat mereka pertama kali membuka kain penutup jenasah syuhada. Namun, bau wangi ini bukan seperti bau dari minyak wangi yang biasa mereka pakai atau dipakai oleh orang kebanyakan.


Jelas sudah keterangan yang diberikan Allah s.w.t. lewat kebesaran-Nya. Meski banyak pihak yang membantah, memberikan suara sumbang, dan menggalang opini massa untuk memojokkan status para Mujahid Bali, serta membuat makar melalui kaki tangan aparat pemerintah, namun Allah berkehendak lain. Dan siapakah sebaik-baik pembuat makar ? (far/MD)

DETIK Sewot? Soal Penayangan Foto Jenazah Imam Samudra oleh Arrahmah.com


Saya terus terang heran dengan Judul berita mereka serta isinya.
Ada dua artikel Detik yang terbit yang terkait dengan hal penayangan foto Jenazah Imam Samudra oleh situs Arrahmah.Com.

Berikut salinan beritanya. Dan DETIK sudah menjadi DETEKTIF pula :)

------------------------------------------------------
Senin, 10/11/2008 12:40 WIB
Situs Umbar Foto Imam Samudra Berkafan
Wicak Hidayat - detikinet

Jakarta - Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra mewasiatkan agar foto-foto kematian mereka tidak dipublikasikan. Namun sebuah situs justru menampilkan foto Imam Samudera berkafan.

Informasi yang diterima detikINET, Senin (10/11/2008), menyebutkan sebuah situs yang bernama Arrahmah. Situs dengan jargon 'Filter Your Mind, Get The Truth' itu menampilkan berita-berita seputar eksekusi mati tiga terpidana bom bali.

Satu hal yang membedakan situs itu dibandingkan media lain adalah adanya foto close-up wajah Imam Samudra dalam kondisi dikafani. Foto itu dimuat dalam berita berjudul "As Syahid Imam Samudra Bergabung Dengan Kafilah Syuhada" yang tertanggal 9 November 2008 pukul 02:43 malam.

Tak cukup di situ, foto itu juga dilabeli tulisan 'Exclusive Arrahmah.com'. Ini mengindikasikan pengelola situs tersebut memang sengaja memotret jenazah Imam. Padahal media massa, polisi ataupun jaksa tidak diperbolehkan mengambil --apalagi sampai mempublikasikan-- wajah terakhir tiga terpidana mati tersebut.
( wsh / wsh )



-----------------------------------------------------------

Senin, 10/11/2008 17:47 WIB


Server Arrahmah di New York?
Wicak Hidayat - detikinet

Jakarta - Server situs penampil foto Imam Samudra berkafan agaknya berlokasi di New York. Nama domainnya dibeli dari penyedia asal Indonesia.

Informasi dari piranti lunak Tracert yang dilakukan detikINET, Senin (10/11/2008) mengarahkan domain Arrahmah.com pada alamat Internet Protocols (IP) 67.228.80.218. Jika ditelusuri, alamat itu merujuk pada lokasi di New York, Amerika Serikat.

Nama domain tersebut tercatat telah terdaftar sejak 14 Agustus 2005 melalui penyedia layanan ImediaBiz.com. ImediaBiz merupakan penyedia layanan pembelian nama domain dan webhosting asal Indonesia.

ImediaBiz memang menyediakan server yang berlokasi di Indonesia dan di Amerika Serikat. Tercatat ada 1.663 domain lain yang menggunakan nameserver yang sama dengan Arrahmah.com.

Sedangkan untuk server yang digunakan Arrahmah.com, menurut data DomainTools, merupakan milik SoftLayer Technologies Inc di Amerika Serikat. SoftLayer adalah perusahaan asal Dallas, Amerika Serikat, yang menyewakan server untuk keperluan hosting. ( wsh / dwn )



-----------------------------------------------------------------------

Senin, 10/11/2008 14:38 WIB

Umbar Foto Imam Samudra, Arrahmah Punya Siapa?
Wicak Hidayat - detikinet

Jakarta - Meski dilarang oleh pihak keluarga, situs Arrahmah.com mempublikasikan wajah Imam Samudra berkain kafan. Siapakah sosok di balik situs tersebut?

Pada Senin (10/11/2008), detikINET menerima informasi mengenai situs Arrahmah.com yang menampilkan foto close-up wajah Imam Samudera dalam kondisi dikafani. Penelusuran pada database Whois menunjukkan nama pemilik situs itu disembunyikan lewat layanan ContactPrivacy.org.

Namun jika ditelusuri lebih lanjut, muncul sebuah alamat e-mail yang terkait situs itu. Alamat e-mail itu pun bisa dikaitkan dengan sebuah profil di situs pertemanan Friendster.

Adalah Daniel Shah yang namanya kemudian terkait dengan alamat e-mail di situs Arrahmah.com. Belum pasti apakah benar Daniel pengelola situs tersebut atau sekadar alamat e-mailnya yang digunakan.

Situs Arrahmah.com hinga pukul 13:30 WIB tak bisa dikunjungi. Pesan yang muncul mengindikasikan situs sedang kelebihan pengunjung sehingga harus dimatikan sementara.
( wsh / ash )



--

Foto Jenazah Imam Samudra Muncul di Dunia Maya


Foto Jenazah Imam Samudra Muncul di Dunia Maya

Senin, 10 November 2008 - 11:12 wib
JAKARTA - Sehari setelah pemakaman 3 pelaku bom Bali I Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron, beredar sebuah foto yang menampilkan Imam Samudra dalam kondisi meninggal dan telah dikafankan.

Foto ini dimuat oleh sebuah situs bernama arrahmah.com pada hari Minggu 9 November pada ham 02.43 PM.

Foto eksklusif milik arrahmah.com tersebut merupakan gambar dari sebuah berita bertema "As Syahid Imam Samudra Bergabung dengan Kafilah Syuhada".

Berikut awal isi berita tersebut: Hari ini telah dijemput para bidadari para kafilah syuhada, Mujahid Imam Samudera, Mujahid Amrozi dan Mujahid Ali Ghufron. Mereka semua telah menunjukkan pada umat ini bagaimana sikap mujahid sejati yang tetap istiqomah.

Selain itu, berita tersebut juga mendapat 20 lebih komentar dari pembaca yang kebanyakan memuji langkah Imam Samudra dan rekan-rekannya. Berikut komentar-komentar pembaca di situs tersebut:

Kepada para thaghut & pemerintah indonesia .......!!
bahwa kalian telah zalim..!! tunggulah pembalasan kaum muslimin...!!! tunggulah azab allah, kepada kalian semua wahai penyembah berhala AMERIKA ..!!
bagi kalian telah tersedia NERAKA JAHANNAM...!!
Dikirim dari amr_albanjary pada 11/09 04:23 PM.

asslm.as syahid adalah contoh tauladan bagi orang orang yg beriman.Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Dikirim oleh akhyar 1 pada 11/09 04:31 PM.

semoga Alloh menerima taubat mereka dan menempatkan mereka dalam kafilah syuhada. demi Alloh tiada setetespun darah mereka tercurah tanpa pembalasan Allohu Akbar!!! Dikirim oleh Irhaby99 pada 11/09 04:33 PM.

Selamat jalan wahai para syuhada,Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar Dikirim oleh akhyar 1 pada 11/09 04:41 PM.


--










Ribuan Orang Melayat Amrozi & Muklas

Ribuan Orang Melayat Amrozi & Muklas

Ribuan orang berdesakan mengikuti proses pemakaman terpidana mati
bom Bali I Muklas dan Amrozi di Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, Minggu
(9/11/2008). Sebelum dimakamkan, jenazah kakak beradik itu disemayamkan
di Ponpes Al Islam, Lamongan. (Foto: AP)

news

news

news

news

news

news

Pemakaman Imam Samudra

Pemakaman Imam Samudra

Ribuan warga tampak menghadiri pemakaman terpidana mati kasus Bom
Bali I Imam Samudra, di Serang, Banten, Minggu (9/11/2008). Pemakaman
ini sempat timbul kericuhan antara aparat kepolisian dengan warga yang
berdesakan. (Foto: AP)

news

news

news

news

news

news


Santri di Tangerang Gelar Salat Gaib

clipped from www.liputan6.com
09/11/2008 15:07

Santri di Tangerang Gelar Salat Gaib

Liputan6.com, Tangerang: Puluhan santri Yayasan Dharma Indonesia menggelar doa bersama dan salat gaib untuk kematian tiga terpidana mati kasus Bom Bali I, Amrozi, Imam Samudera, dan Ali Gufron. Salat gaib dilaksanakan di Kampung Neroktog, Neroktog, Pinang, Kota Tangerang, Banten, Ahad (9/11).

Sebelumnya, pemerintah mengeksekusi Amrozi Cs sekitar pukul 00.15 WIB, di Bukit Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap. Ketiga jenazah lalu dibawa ke kampung halamannya masing-masing dengan tiga helikopter. Imam Samudera dimakamkan di TPU Keramat Kampung Lopang Gede, Banten. Sedangkan Amrozi dan Ali Gufron dimakamkan di Kampung Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur.(YNI/ANTARA)

 blog it

Inilah Surat Wasiat Imam Samudra

BANTEN- Seorang pria membagi-bagikan semacam brosur yang isinya surat wasiat dari Imam Samudra, terpidana mati kasus Bom Bali I yang telah dieksekusi dini hari tadi. Tak diketahui secara pasti apakah orang tersebut berasal dari keluarga, kerabat Imam Samudra atau dari satu organisasi massa Islam.

Surat tersebut dibagikan kepada siapa saja yang berada di sekitar kediaman Imam Samudra di Kampung Lopang Gede, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Banten, Minggu (9/11/2008).Sementara itu, saat ini jenazah Imam Samudra berada di Masjid Almanar, yang selanjutnya akan dibawa ke rumah duka.

Adapun surat tersebut berbentuk secarik kertas yang berisi wasiat Imam Samudra berisi:
"Saudara, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh umat Islam yang telah mengazzamkan dirinya kepada jihad dan mati syahid untuk terus berjihad dan bertempur melawan setan akbar, Amerika dan Yahudi laknat.

Saudaraku, jagalah selalu amalan wajib dan sunnah harian antum semua. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita semua dari bahaya futur dan malas hati.

Saudaraku, jagalah salat malammu kepada Allah Azza Wajalla. Selalulah isi malam-malammu sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum semua sepenuhnya kepada kekuasaannya. Ingatlah saudaraku, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.

Kepada antum semua yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belum usai. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah di belakang kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir, sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, adalah Islam atau kafir.

Saudaraku, jadilah hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap dengan orang-orang kafir. Bukanlah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya. Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum semua menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh saudaraku, predikat itu lebih baik bagi kita daripada predikat seorang muslim, tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia daripada gelar ulama. Namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran."

(Bayu Adi Wicaksono/Global/)
clipped from news.okezone.com

Inilah Surat Wasiat Imam Samudra

Minggu, 9 November 2008 - 09:21 wib
 blog it

Imam Samudra Telah Dimakamkan di TPU Lopang Gede

clipped from news.okezone.com

Imam Samudra Telah Dimakamkan di TPU Lopang Gede

Minggu, 9 November 2008 - 10:42 wib
SERANG - Setelah disalatkan di Masjid Al Manar, jenazah terpidana mati bom Bali I Imam Samudra akhirnya dimakamkan di TPU Lopang Gede, Serang, Banten, Minggu (9/11/2008).

Imam Samudra dimakamkan di samping kanan makam ayahnya, dengan dihantarkan oleh ibundanya Mbay Badriyah dan adiknya Lulu Jamaludin. Namun, saat pemakaman istri Imam Samudra tidak tampak di lokasi pemakaman.

Sementara, ribuan orang dari berbagai ormas islam juga ikut mengantarkan jenazah Amrozi hingga ke TPU Lopang Gede ini.

Saat keranda dibawa, sesekali teriakan Allahu Akbar menyeruak disambut dengan massa lainnya.

Selain itu, beberapa pengacara dari Tim Pembela Muslim juga tampak hadir seperti Mahendra Datta dan Agus Setiawan.(uky)
 blog it

Amrozi (46), Mukhlas (48), Imam Samodra (38)

Bali bombers Amrozi (L), Imam Samudra (C) and Mukhlas, also known as Ali Ghufron are seen in this combination photograph. Indonesia has executed three Muslim militants sentenced to death for the 2002 Bali nightclub bombings that killed 202 people, the television network TvOne said on November 9, 2008 citing an unidentified source. The TV station said Imam Samudra, Mukhlas and Amrozi were executed on Nusakambangan island in central Java after midnight. The executions could not immediately be confirmed by officials. From Reuters Pictures by REUTERS.This combo picture taken on March 26, 2008 shows convicted Bali bombers (L to R) Amrozi, Imam Samudra alias Abdul Aziz and Ali Ghufron alias Mukhlas at Batu prison on the Indonesian island of Nusa Kambangan. The three men, sentenced to death for the Bali bombings which killed 202 people, were executed by firing squad at midnight on the night of November 8, 2008 local television reported. Amrozi, 47, his brother Mukhlas, 48, and ringleader Imam Samudra, 38, were killed with shots to the heart on the island prison of Nusakambangan off southern Java, TV One television reported quoting an official source. From Getty Images by AFP/Getty Images.This combo picture shows file photos taken on March 26, 2008, of (L to R) Ali Ghufron, Imam Samudra and Amrozi inside the Batu prison on Nusa Kambangan island. The three convicted Bali bombers have filed a petition against firing squads in Indonesia's constitutional court on August 6, 2008, in a last-ditch bid to stave off their executions, lawyers said. The members of the Islamist Jemaah Islamiyah network -- Amrozi, Imam Samudra and Ali Ghufron -- are awaiting execution over the 2002 bombings on the resort island that killed more than 200 people, most of them foreign tourists. From Getty Images by AFP/Getty Images.This is a combination of Oct. 1, 2008 file photos of from left to right, Ali Ghufron, Imam Samudra, and Amrozi Nurhasyim. Ali Ghufron, Amrozi Nurhasyim, and Imam Samudra were executed early Sunday Nov. 9, 2008 on the Nusakambangen prison Island for planning and carrying out the 2002 Bali bombings which killed more than 200 people, mostly foreign tourists including 88 Australians, as well as 38 Indonesians. From AP Photo by Dita Alangkara.Bali bombers Amrozi (L), Imam Samudra (C) and Mukhlas, also known as Ali Ghufron, are seen in Nusakambangan prison in this October 1, 2008 combination photograph. The three Muslim militants involved in the 2002 Bali bombings were executed on early November 9, 2008, according to reports from Indonesian television station TV ONE. From Reuters Pictures by REUTERS.Convicted Bali bombers Ali Ghufron alias Mukhlas (L), Amrozi (C) and Imam Samudera talk to journalists after meeting their relatives in Batu prison, Nusakambangan Island in this October 29, 2007 file photograph. Indonesia has executed three Muslim militants sentenced to death for the 2002 Bali nightclub bombings that killed 202 people, the television network TvOne said on November 9, 2008 citing an unidentified source. The TV station said Samudra, Mukhlas and Amrozi were executed on Nusakambangan island in central Java after midnight. The executions could not immediately be confirmed by officials. From Reuters Pictures by REUTERS.Muslim men gather around a poster of convicted Bali bombers Imam Samudra, from left, Amrozi Nurhasyim and Ali Ghufron at an Islamic boarding school in Tenggulun, Lamongan, East Java, Indonesia, Saturday, Nov. 8, 2008. The three Indonesian militants on death row for the 2002 Bali bombings have exhausted legal options and could be executed within days. From AP Photo by Dita Alangkara.Imam Samudra (L), Mukhlas (2nd R) and Amrozi (R) attend Eid al-Fitr prayers, marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Imam Samudra (L), Mukhlas (2nd R) and Amrozi (R) attend Eid al-Fitr prayers, marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Imam Samudra (L), Mukhlas (2nd R), also known as Ali Gufron, and Amrozi (R) attend Eid al-Fitr prayers marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.Imam Samudra (L), Mukhlas (2nd R) and Amrozi (R) attend Eid al-Fitr prayers, marking the end of the Muslim fasting month of Ramadan, in Nusakambangan prison in Cilacap, Central Java, October 1, 2008. Samudra, Amrozi and Mukhlas, also known as Ali Gufron, have been on death row since 2003, when a Bali court sentenced them to death for their roles in the 2002 Bali bombings that killed 202 people. From Reuters Pictures by REUTERS.
Convicted Bali bombers Ali Ghufron alias Mukhlas (2nd L), Imam Samudra and Amrozi (R) walk to meet their family in Batu prison, Nusa Kambangan Island in this November 22, 2007 file photograph. Indonesia has executed three Muslim militants sentenced to death for the 2002 Bali nightclub bombings that killed 202 people, the television network TvOne said on November 9, 2008 citing an unidentified source. The TV station said Imam Samudra, Mukhlas and Amrozi were executed on Nusakambangan island in central Java after midnight. The executions could not immediately be confirmed by officials. From Reuters Pictures by REUTERS.

TPM: Bentuk Tim Pencari Fakta Eksekusi Amrozi Cs

TPM: Bentuk Tim Pencari Fakta Eksekusi Amrozi Cs

Minggu, 9 November 2008 - 06:17 wib

JAKARTA - Tim Pembela Muslim (TPM) mendesak agar pemerintah membentuk tim pencari fakta independen untuk menyelidiki proses eksekusi tiga terpidana mati kasus bom Bali I, Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudera.

"Kami mendesak agar dibentuk Tim Pencari Fakta Independen untuk menyelidiki proses eksekusi klien kami. Kalau perlu, selain berasal dari DPR dan Komnas HAM, tim juga melibatkan ahli Ham internasional," ujar anggota TPM Achmad Michdan dalam pesan singkat yang diterima okezone, Minggu (9/11/2008).

Menurutnya, kejadian dibalik eksekusi ketiga terpidana tersebut harus terbukti. Apakah menjelang eksekusi tidak ada penyiksaan, caci maki, ataupun sikap dendam dari aparat yang terlibat.

"Kami sama sekali tidak mempercayai dan menolak semua cerita Kejagung tentang eksekusi. Apakah eksekusi tersebut sesuai prosedur yang ditentukan dalam UU Nomor 2/PNPS/1964 atau tidak," tandasnya.

Sebelumnya, Ketiga terpidana kasus bom Bali I telah menjalani eksekusi mati di Lapangan Nirbaya, Nusakambangan pada pukul 00.15 WIB dengan cara ditembak. Selanjutnya, ketiga jenazah tersebut akan dibawa menuju kampong halamannya masing-masing. (teb)

Antara : Akhir dari Amrozi Cs

09/11/08 05:58

Akhir dari Amrozi Cs


Oleh Budi Setiawanto

Jakarta (ANTARA News) - Dua kakak beradik Amrozi dan Ali Ghufron alias Mukhlas, Abdul Aziz alias Imam Samudra, serta komplotannya membuat kemeriahan suasana dugem (dunia gemerlap) pada Sabtu malam 12 Oktober 2002 pukul 23:05 di kafe Sari Club, Paddy's Pub, dan tempat hiburan di kawasan Legian, Kuta, Bali menjadi duka mendalam.

Atas nama "jihad" yang mereka yakini, mereka menebar teror dengan meledakkan bom di depan kafe Sari Club yang menewaskan 202 orang tewas (38 WNI dan 164 turis asing) pada malam minggu itu.

Isa alias Feri masuk ke Paddy's Pub dan langsung meledakkan bom yang ada di dalam rompinya dan beberapa saat kemudian Arnasan alias Jimi meledakkan bom di mobil Mitsubishi L-300 yang diparkir di depan Sari Club. Dua orang teroris itu tewas dalam aksinya.

Enam tahun kemudian, pada malam yang sama namun dalam keheningan dan suasana mencekam Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra dieksekusi mati masing-masing oleh satu regu tembak pada pukul 23:20 WIB di perbukitan "Nirbaya" yang berada sekitar enam kilometer sebelah selatan Lembaga Pemasyarakatan Batu Nusakambangan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Hingga tulisan ini dibuat hari Minggu (9/11) sekitar pukul 01:30 belum ada keterangan resmi dari Kejaksaan Agung. Sebelumnya Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung Jasman Panjaitan memberikan keterangan pers bahwa Kejaksaan Agung belum menerima informasi apapun perihal eksekusi itu.

Panjaitan menyatakan bahwa satu-satunya sumber resmi terkait pelaksanaan eksekusi tersebut adalah dari Puspenkum Kejaksaan Agung dan dia merencanakan memberikan keterangan lengkap kepada pers pada Minggu pagi.

Panjaitan tidak membantah pemberitaan yang menyebutkan bahwa Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra telah dieksekusi.

Sumber ANTARA di Nusakambangan, Minggu dinihari, menyebutkan, ketiga terpidana mati itu dibawa keluar oleh anggota Gegana dari selnya di LP Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Sabtu malam, sekitar pukul 23.00 WIB.

Mereka dinaikkan ke sebuah mobil dan dibawa ke suatu tempat yang dikenal dengan nama "Nirbaya" yakni berupa perbukitan yang berada sekitar 6 kilometer sebelah selatan LP Batu.

Nirbaya merupakan sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang telah ditutup sejak 1986. Kini tempat tersebut telah dijadikan tempat eksekusi bagi sejumlah terpidana mati.

Berdasarkan catatan ANTARA, empat peristiwa eksekusi terjadi di sana yakni dua terpidana kasus subversi, Umar (1985) dan Bambang Suswoyo (1987) serta dua terpidana warga negara Nigeria yang kasus narkoba, Samuel Iwuchukwu Okoye dan Hansen Anthony Nwaolisa pada 26 Juni 2008. Bahkan, jenazah para terpidana mati tersebut dimakamkan di tempat ini.

Di kawasan ini, Amrozi dan kawan-kawan menjalani eksekusi di hadapan tiga regu tembak dari Polda Jawa Tengah.

Prosesi eksekusi yang dimulai sekitar pukul 23.10 WIB, diawali dengan siraman rohani oleh rohaniwan yang meminta supaya Amrozi dkk menerima dengan ikhlas apa yang dilakukan oleh negara dan dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Alquran.

Selanjutnya jaksa eksekutor, Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, I.B. Wiswantanu membacakan surat perintah pelaksanaan eksekusi dengan didampingi jaksa eksekutor lainnya, Kasubsi Prapenuntutan Kejaksaan Negeri Denpasar Edy Arta Wijaya dan Aspidum Kejati Jateng Monang Pardede.

Tepat pukul 23.20 WIB, setelah surat perintah dibacakan, tiga regu tembak segera menembakkan peluru ke arah Amrozi dkk yang masing-masing terikat pada sebuah kayu dengan kepala tertutup kain hitam.

Sepuluh menit kemudian, Amrozi dan kawan-kawan dinyatakan meninggal, setelah menjalani autopsi oleh tim dokter forensik Polda Jawa Tengah.

Menurut rencana, jenazah tiga terpidana mati tersebut akan dibawa ke rumah duka di kampung halaman masing-masing pada hari Minggu pukul 05:00 WIB.

Itulah akhir "jihad" ketiga terpidana mati kasus bom Bali I.


Kelompok teroris

Setelah peristiwa bom Bali I, aparat berhasil membongkar kelompok teroris yang terlibat. Mereka adalah Abdul Goni (didakwa seumur hidup), Abdul Hamid (kelompok Solo), Abdul Rauf (kelompok Serang), Abdul Aziz alias Imam Samudra, Achmad Roichan, Ali Ghufron alias Mukhlas, Ali Imron alias Alik (didakwa seumur hidup), Amrozi bin Nurhasyim alias Amrozi, Andi Hidayat dan Andi Oktavia (kelompok Serang), Arnasan alias Jimi, Bambang Setiono (kelompok Solo), Budi Wibowo (kelompok Solo), Dr Azhari alias Alan (tewas dalam penyergapan oleh polisi di Kota Batu tanggal 9 November 2005)

Dulmatin, Feri alias Isa, Herlambang (kelompok Solo), Hernianto (kelompok Solo), Idris alias Johni Hendrawan, Junaedi (kelompok Serang), Makmuri (kelompok Solo), Mohammad Musafak (kelompok Solo), Mohammad Najib Nawawi (kelompok Solo), Umar Kecil alias Patek, Utomo Pamungkas alias Mubarok (didakwa seumur hidup), dan Zulkarnaen.

Amrozi ditangkap pertama kali pada 7 November 2002. Berturut-turut kemudian ditangkap Imam Samudra pada 21 November 2002, Mukhlas alias Ali Gufron pada 4 Desember 2002 dan terakhir Ali Imron pada 14 Januari 2003). Ali Imron juga merupakan adik Amrozi.

Pada tahun 2003, Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra divonis hukuman mati dalam persidangan di Bali. Upaya banding hingga kasasi, peninjauan kembali ke Mahkamah Agung bahkan upaya grasi ke Presiden ditolak.

Imam Samudra yang bernama asli Abdul Aziz (lahir di Desa Lopang Gede, Serang, Banten tanggal 14 Januari 1970 dari pasangan Sihabuddin dan Embay Badriani) dikenal sebagai teroris anti Amerika Serikat dan sekutunya. Ia pernah melalang ke Malaysia dan Afghanistan untuk berdagang sambil belajar mengenai jihad dan menggunakan senjata api, merangkai bom, serta menggunakan ranjau.

Setelah ditangkap, Imam Samudra tersangkut pula dalam aksi teror sebelumnya seperti pengeboman gereja di Batam pada malam natal 2000, peledakan bom di Plaza Atrium Senen Jakarta 2001, dan pengeboman gereja Santa Anna dan HKBP di Jakarta.

Ali Amrozi bin Nurhasyim (lahir di Lamongan pada 5 Juli 1962) dicap sebagai teroris yang termotivasi ideologi Islam radikal dan anti-Barat yang didukung Jemaah Islamiyah.

Amrozi selalu meyakini bahwa aksinya merupakan jihad dan ia kerap tersenyum saat memberikan keterangan kepada wartawan baik ketika dipenjara di LP Kerobokan Denpasar atau sejak dipindahkan ke LP Nusakambangan bersama Imam Samudra dan Mukhlas pada 11 Oktober 2005.

Bahkan Amrozi di dalam penjara pada 12 Mei 2008 menikah kembali dengan Rahma.

Sementara Huda bin Abdul Haq alias Ali Ghufron alias Mukhlas lahir di Lamongan pada 9 February 1960.

Sama seperti kakaknya, Mukhlas dikabarkan juga terlibat dalam jaringan Jemaah Islamiyah dan pernah mendapat pelatihan ala tentara di Afghanistan.

Jenazah Amrozi dan Mukhlas dibawa ke kampung halamannya di Tenggulun, Lamongan sedangkan Imam Samudra dibawa ke daerah asalnya di Serang untuk dimakamkan(*)

COPYRIGHT © 2008

Pernyataan Hizbut Tahrir Indonesia Tentang “(Rencana) Eksekusi Mati Amrozi Cs”

Link


Kantor Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Nomor: 144/PU/E/11/08

Jakarta, 06 Dzulqaidah 1429 H/07 November 2008

PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Tentang

“ (RENCANA) EKSEKUSI MATI AMROZI CS ”

Islam adalah agama yang dengan sangat tegas melarang membunuh manusia tanpa hak atau tanpa alasan yang dapat dibenarkan oleh syariah. Siapa yang melanggar larangan ini, maka dia berhak untuk mendapatkan hukuman qishash bila ahli waris korban tidak memaafkan. Dengan cara ini, nyawa manusia secara keseluruhan akan terlindungi dengan sebaik-baiknya.

Demikian juga semestinya terhadap pelalu bom Bali 1 dan bom lainnya yang telah menewaskan ratusan orang, melukai ratusan lagi lainnya dan menghancurkan sejumlah properti. Mereka berhak mendapatkan hukuman yang semestinya. Tapi, siapakah pelaku sesungguhnya dari bom-bom itu? Benarkah Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufran dan kawan-kawannya adalah pelakunya? Memang pengadilan telah memutuskan bahwa mereka adalah para pelaku Bom Bali 1 itu, dan karenanya berhak untuk mendapatkan hukuman mati. Setelah berbagai upaya hukum dilakukan tidak membuahkan hasil, eksekusi hukuman mati terhadap Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufran seolah tinggal menunggu waktu. Meski demikian, pertanyaan tadi tidak serta merta bisa dihilangkan mengingat sejumlah fakta-fakta kontradiktif yang ada.

Berkenaan dengan hal tersebut, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Meragukan bahwa Amrozi cs adalah pelaku utama. Benar, mereka memang mengakui telah menyiapkan bom, tapi benarkah bom sangat besar yang meledak di jalan Legian, yang oleh para ahli bom dinilai masuk dalam kualifikasi micronuke, adalah benar-benar bom yang dibuat oleh Amrozi dan kawan-kawan? Imam Samudera sendiri menyampaikan rasa herannya di depan pengadilan tentang besarnya bom yang meledak, yang itu dikatakan di luar kemampuannya. Imam juga menyatakan rasa kagetnya mendapati mobil yang dipakai dalam aksi itu adalah Mitsubishi L-300 yang dari nomer chassisnya itulah semua terbongkar, padahal katanya dalam rapat terakhir disepakati yang akan digunakan adalah Suzuki Carry.

Bila digunakan analisis hubungan antara motivasi dan aksi, maka semua bom yang meledak sejak dari bom Bali 1 hingga bom Bali 2 sangatlah aneh. Bila itu semua dibuat dalam rangka apa yang sering dikatakan sebagai perang atau perlawanan melawan AS, mengapa tak satupun instalasi penting AS di Indonesia yang terkena?

2. Berdasarkan pada fakta-fakta di atas, maka disinyalir telah terjadi operasi (intelijen) yang melakukan langkah-langkah 5i, yakni inflitrasi (terhadap kelompok Islam yang memiliki semangat perlawanan), radikalisasi (dipompa untuk lebih bersemangat melawan), provokasi (didorong untuk melakukan tindakan), aksi (digerakkan melakukan tindakan kongkrit berupa pengeboman di sejumlah sasaran) dan stigmatisasi (sehingga tercipta stigma bahwa Indonesia adalah sarang teroris, pelakunya kelompok fundamentalis dari kalangan pesantren). Dan stigma semacam itu sekarang telah terjadi.

3. Pemerintah Indonesia tidak boleh terjebak pada apa yang disebut kampanye war on terrrorism yang didengungkan AS karena kampanye ini hanyalah kedok (mask) untuk menutupi maksud sesungguhnya, yakni war on Islam. Mengapa? Bila benar AS dan negara-negara sekutunya sungguh-sungguh berperang melawan terorisme, dan terorisme itu diartikan sebagai setiap orang atau kelompok orang yang dalam mencapai tujuannya menggunakan kekerasan, maka mestinya orang-orang seperti presiden Bush, Ariel Sharon, Tony Blair dan tokoh lainya, dan negara seperti AS, Inggris dan Australia juga negara lain yang jelas-jelas telah menghancurkan Irak dan Afghanistan, juga harus dianggap teroris. Tapi kenyataannya, yang disebut teroris hanyalah orang atau kelompok Islam yang sesungguhnya bertindak melakukan perlawanan terhadap kedzaliman terhadap dunia Islam, sementara negara dan orang-orang yang jelas-jelas memerintahkan melakukan kedzaliman itu justru tidak pernah dipersoalkan.

4. Oleh karena itu, pihak berwajib harus berusaha sungguh-sungguh untuk mengungkap siapa pelaku utama atau master mind dari rangkaian bom yang terjadi di Indonesia. Hanya dengan cara itu, kegiatan yang disebut terorisme bisa dihentikan. Memaksakan mengeksekusi Amrozi cs hanya akan mengalihkan pandangan bahwa seolah merekalah pelaku utama dan sekaligus menutup terungkapnya sang master mind yang pasti terkait dengan program war on terrorism yang digerakkan oleh AS dan sekutunya tadi. Lagi pula, siapa harus bertanggung jawab bila terjadi kekeliruan akibat menghukum orang yang bukan pelaku sebenarnya?

Wassalam,

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/08/pernyataan-hizbut-tahrir-indonesia-tentang-%E2%80%9Crencana-eksekusi-mati-amrozi-cs%E2%80%9D/

HTI Press : Selamat Jalan Wahai Syuhada (Eksekusi Amrozi CS)

Link

HTI-Press - “Innalillahi wa Inna Ilahi Rajiun, adik kami telah pergi. Semoga arwah adik-adik kami dibawa oleh burung-burung hijau ke syurga,” ujar Chozin, kakak kandung kedua Amrozi dan Ali Gufron kepada wartawan, Minggu (9/11/2008).

Tiga terpidana mati kasus Bom Bali 12 Oktober 2002, Amrozi, Mukhlas alias Ali Ghufron, dan Imam Samudra alias Abdul Azis, menjalani eksekusi pada Sabtu malam (8/11) pukul 23.20 WIB. Menurut beberapa sumber, mereka dinaikkan ke sebuah mobil dan dibawa ke suatu tempat yang dikenal dengan nama “Nirbaya” yakni berupa perbukitan yang berada sekitar 6 kilometer sebelah selatan LP Batu.

Nirbaya merupakan sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang telah ditutup sejak 1986. Kini tempat tersebut telah dijadikan tempat eksekusi bagi sejumlah terpidana mati.

Mereka dinaikkan ke sebuah mobil dan dibawa ke suatu tempat yang dikenal dengan nama “Nirbaya” yakni berupa perbukitan yang berada sekitar 6 kilometer sebelah selatan LP Batu. Saat dibawa, ada suara takbir yang terputus. Amrozi cs dikeluarkan dari ruang isolasi dalam kegelapan malam. Mereka dikawal oleh sangat banyak anggota Brimob.

Saat dibawa ke mobil, terdengar teriakan takbir: Allahu Akbar dari tiga terpidana mati. Namun teriakan takbir itu terputus. Sepertinya mereka dibekap. Amrozi cs dibawa ke lokasi eksekusi di Bukit Nirbaya, sekitar 3 KM dari LP Batu. Saat dibawa, hujan mengguyur Nusakambangan

Di kawasan ini, Amrozi dan kawan-kawan menjalani eksekusi di hadapan tiga regu tembak dari Polda Jawa Tengah. Prosesi eksekusi yang dimulai sekitar pukul 23.10 WIB, diawali dengan siraman rohani oleh rohaniwan yang meminta supaya Amrozi dkk menerima dengan ikhlas apa yang dilakukan oleh negara dan dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Alquran.

Selanjutnya jaksa eksekutor, Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, I.B. Wiswantanu membacakan surat perintah pelaksanaan eksekusi dengan didampingi jaksa eksekutor lainnya, Kasubsi Prapenuntutan Kejaksaan Negeri Denpasar Edy Arta Wijaya dan Aspidum Kejati Jateng Monang Pardede.

Tepat pukul 23.20 WIB, setelah surat perintah dibacakan, tiga regu tembak segera menembakkan peluru ke arah Amrozi dkk yang masing-masing terikat pada sebuah kayu dengan kepala tertutup kain hitam.

Sepuluh menit kemudian, Amrozi dan kawan-kawan dinyatakan meninggal, setelah menjalani autopsi oleh tim dokter forensik Polda Jawa Tengah.

Program War on Terrorism AS Kembali Bergulir

Sementara itu, Hizbut Tahrir Indonesa dalam pernyataan persnya menyatakan, meragukan bahwa Amrozi cs adalah pelaku utama bom Bali I. Menurut Hizbut Tahrir Indonesia, memaksakan mengeksekusi Amrozi cs hanya akan mengalihkan pandangan bahwa seolah merekalah pelaku utama dan sekaligus menutup terungkapnya sang master mind yang pasti terkait dengan program war on terrorism yang digerakkan oleh AS dan sekutunya tadi.

Pemerintah Indonesia tidak boleh terjebak pada apa yang disebut kampanye war on terrrorism yang didengungkan AS karena kampanye ini hanyalah kedok (mask) untuk menutupi maksud sesungguhnya, yakni war on Islam. Mengapa?

Bila benar AS dan negara-negara sekutunya sungguh-sungguh berperang melawan terorisme, dan terorisme itu diartikan sebagai setiap orang atau kelompok orang yang dalam mencapai tujuannya menggunakan kekerasan, maka mestinya orang-orang seperti presiden Bush, Ariel Sharon, Tony Blair dan tokoh lainya, dan negara seperti AS, Inggris dan Australia juga negara lain yang jelas-jelas telah menghancurkan Irak dan Afghanistan, juga harus dianggap teroris.

Tapi kenyataannya, yang disebut teroris hanyalah orang atau kelompok Islam yang sesungguhnya bertindak melakukan perlawanan terhadap kedzaliman terhadap dunia Islam, sementara negara dan orang-orang yang jelas-jelas memerintahkan melakukan kedzaliman itu justru tidak pernah dipersoalkan. (nl/berbagai sumber)

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/09/amrozi-dkk-telah-dieksekusi/