Showing posts with label abu jibril. Show all posts
Showing posts with label abu jibril. Show all posts

M Jibriel : Saya Menikmati Ujian Ini…!

Arrahmah.Com

Muhammad Jibriel Abdul Rahman
Muhammad Jibriel Abdul Rahman
Alhamdulillah, hari ini, Selasa, 1 September 2009, Akhuna (saudara kita) M Jibriel Abdul Rahman bisa ditemui. Mengenakan kaos putih, celana krem, dengan senyum khasnya, pimpinan Ar Rahmah Media ini menemui rombongan yang dipimpin ayah beliau sendiri, Ustadz Abu Jibriel. Dalam kesempatan singkat tersebut, M Jibriel berpesan agar Arrahmah.com bisa tetap istiqomah memberitakan jihad dan berita dunia Islam. Allahu Akbar!

Dari Mabes Polri Ke Kelapa Dua

Rombongan berangkat dari kediaman Ustadz Abu Jibriel di Komplek Witana Harja, Pamulang sekitar pukul 11 pagi. Dengan dua mobil, rombongan pada awalnya meluncur ke Mabes Polri, Bareskrim, di Jl Trunojoyo No. 3, Kebayoran Baru. Tujuan rombongan sudah pasti ingin bertemu dengan Akhuna, M Jibriel, karena setelah 7 x 24 jam dari ‘penculikan’ beliau pada hari Selasa, 25 Agustus 2009, belum ada kejelasan baik status maupun kondisinya.

Rombongan tiba di Mabes Polri tidak lama setelah adzan zuhur berkumandang. Rombongan mendahulukan untuk sholat berjama’ah dipimpin langsung oleh Ustadz Abu Jibriel, sekaligus menjama’ dan menqoshor sholat. Setelah itu, rombongan ke ruang Bareskrim, dengan puluhan wartawan cetak dan elektronik yang selalu membuntuti. Sayangnya, M Jibriel tidak ada di sana. Ustadz Abu Jibriel tiba-tiba dikontak oleh Kadensus yang memberitahukan bahwa keberadaan M Jibriel ada di Markas Brimob, di Kelapa Dua, Depok. Rombongan pun bergegas menuju ke Kelapa Dua.
Pukul 2 tepat, rombongan berhasil masuk ke Markas Brimob Kelapa Dua yang dijaga sangat ketat, dimana wartawan pun tidak diperkenankan masuk. Setelah ditemui langsung oleh Kadensus di pintu masuk, dan sedikit basa-basi, Ustadz Abu Jibriel beserta istri, dan dua orang lawyer masuk terlebih dahulu untuk menemui Akhuna M Jibriel. Kurang lebih 30 menit kemudian, rombongan kedua menyusul, hingga semua rombongan bisa bertemu dan melihat langsung keadaaan M Jibriel. Alhamdulillah!

Istiqomah, dan Lanjutkan Perjuangan

Rasa haru dan syukur bercampur baur ketika melihat kondisi Akhuna M Jibriel yang sehat wal afiat, tidak kurang suatu apa pun. Wajah beliau cerah dan senyum selalu tersungging di bibirnya. Memang, ketika didekati, di hidung beliau, ada bekas luka, juga di mata sebelah kiri, terlihat lebam. Beliau juga mengiyakan kondisi tersebut dan mengatakan bahwa itu adalah ujian buat dirinya dari Allah SWT. Namun yang mengharukan adalah ucapannya bahwa dia menikmati ujian tersebut, bagaikan menikmati hidangan yang sangat lezat sekali. Itu yang beliau rasakan saat ini, Masya Allah.
Dengan senyum yang khas, beliau juga berpesan kepada Arrahmah.com dan seluruh sahabat-sahabat beliau, agar tetap istiqomah dalam menyuarakan dunia Islam dan jihad, serta tetap berimbang dalam pemberitaan. Dengan wajah ceria, beliau juga masih sempat menanyakan bagaimana kondisi kantor Arrahmah dan para pegawai, serta mendoakan agar mereka baik-baik saja. Setelah 1 jam lebih bersama beliau, rombongan pun harus pamit. Beliau dibawakan Mushaf Al Qur’an dan beberapa keperluan beliau. Ayah dan Ibu beliau berpesan, agar Al Qur’an yang mereka bawakan bisa menemani sepanjang hari, dan menasehati agar beliau selalu menjaga shalat.

Perjuangan & Doa Untuk M Jibriel

Rombongan meninggalkan Markas Brimob Kelapa Dua menjelang sore. Tentu saja, setelah memberi keterangan pers kepada para kuli tinta yang sudah lama menunggu di gerbang Markas Brimob sejak siang. Ustadz Abu Jibriel pun memberikan keterangan pers yang langsung diserbu oleh para wartawan. Ustadz Abu Jibriel menyampaikan apa adanya tentang keadaaan M Jibriel, anaknya, termasuk pemukulan yang dialaminya. Ustadz Abu Jibriel menganggap bahwa itu hak beliau sebagai seorang ayah untuk menyampaikannya.
Status Akhuna M Jibriel juga sudah berubah, menjadi tersangka. Anehnya, kali ini bukan lagi dengan tuduhan terkait dengan aliran dana untuk membiayai terorisme, namun dengan tuduhan lain, yakni tentang menyembunyikan informasi terorisme dan menyembunyikan buronan teroris. Tuduhan lainnya adalah terkait masalah imigrasi atau pemalsuan dokumen perjalanan. Semua tuduhan tersebut tentunya harus dibuktikan, dan bukan asal tuduhan.
Sepanjang perjalanan pulang rombongan tidak pernah lepas dari berdoa dan mempersiapkan perjuangan untuk Akhuna M Jibriel. Meskipun saat ini beliaunya sendiri merasakan ujian tersebut sebagai sesuatu yang ‘lezat’ dan merupakan kesempatan beliau untuk berkhalwat dengan Robbnya, Allah SWT, namun doa dan perjuangan untuk beliau tetap dibutuhkan. Semoga beliau juga tabah dan istiqomah dalam ujian tersebut, tidak bergeming dari jalan dakwah dan jihad, serta tetap dalam lindungan Allah SWT. Amien Ya Robbal Alamien…! (fachry/arrahmah.com)

Selama Ditahan Jibril Diduga Alami Kekerasan

VIVANEWS



VIVAnews - Muhammad Jibril selama menjalani masa tahanan di Markas Besar Brimob, Kelapa Dua, Depok diduga mendapat perlakukan kurang baik dari polisi yang mengintrogasinya. 

"Saya kaget, fisik anak saya seluruhnya mengalami lebam, dimuka, hidung, bibir dan mata kanan kirinya," kata Abu Jibril, dalam keterangan pers usai menjenguk anaknya itu Selasa 1 September 2009.

Menurutnya, Muhammad Jibril ditahan polisi karena masalah keimigrasian, surat-surat dan yang kedua dituduh menyembunyikan orang.
Sementara Juru Bicara Mabes Polri Wakadiv Humas Mabes Polri, Brigjen Sulistyo Ishak kepada VIVAnews membantah ada tindakan kekerasan dalam proses introgasi terhadap Muhammad Jibril.

"Saya belum tahu, belum di cek. Tapi saya rasa tidak menggunakan kekerasan, karen kami tidak menggunakan cara- cara itu kekerasan," kata Brigjen Sulistyo Ishak.

Menurutnya, pemeriksaan yang sekarang dilakukan itu untuk mencocokkan antara bukti dengan saksi saja.

Keturunan Nabi dan Tiga Sosok Assegaf Yang Menghebohkan

Nahimunkar

BILA ada seseorang atau sekelompok orang mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi, sebenarnya kalau secara umum sah-sah saja dan tidak salah sama sekali. Karena, pada dasarnya semua umat manusia di muka bumi ini merupakan keturunan Nabi Adam Alaihissalam, Nabi pertama. Namun, tidak semua keturunan Nabi Adam Alaihissalam beriman kepada Allah SWT dan mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah. Artinya, secara umum, tidak ada yang ‘istimewa’ dengan status keturunan Nabi. Apalagi, yang sesungguhnya dinilai oleh Allah SWT bukanlah asal-usul keturunan seseorang tetapi tingkat ketaqwaannya kepada Allah.
George Bush mantan Presiden Amerika Serikat juga keturunan Nabi Adam Alaihissalam, begitu juga dengan Osama bin Laden dari Saudi Arabia dan Ariel Sharon dari Israel. Semua nabi yang jumlahnya ribuan, juga keturunan Nabi Adam Alaihissalam, begitu juga dengan para Rasul Allah. Sementara itu, tidak ada satu pun keturunan Nabi Muhamad SAW yang menjadi Nabi atau Rasul, kecuali kalau ada yang mengaku-ngaku, maka bisa jadi nabi dan rasul palsu pembawa kesesatan.
Dalam perspektif antropologis, ada fenomena ‘penghormatan’ terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW yang muncul dari sebuah penafsiran atau penyikapan terhadap sebuah hadits (?) yang berbunyi: “Sesungguhnya keturunanku itu dari Fatimah.”
Maka, tersusunlah sebuah silsilah yang menjuntai hingga belasan abad kemudian dari Hadramaut (Yaman) hingga ke Tanah Abang (Jakarta). Yaitu sebuah silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Fathimah ra yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra.
Maka, muncullah sebuah penyebutan khusus bagi keturunan Fathimah ra ini, yaitu Habib (yang tercinta), Sayid (tuan), Syarif (yang mulia), dan sebagainya. Di Jakarta, sebutan yang paling populer untuk ‘menghormati’ para keturunan Nabi Muhammad dari jalur Fathimah ra ini adalah habib atau habaib (jamak).
Tidak semua keturunan Arab bisa disebut habib. Misalnya, Abu Bakar Ba’asyir mantan Amir Mujahidin MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) yang kini memimpin Jama’ah Ansharut Tauhid meski merupakan keturunan Arab dari Yaman, bukanlah tergolong habib, dan tidak pernah mau dipanggil habib atau diperlakukan sebagai habib. Ba’asyir memang bukan keturunan Fathimah ra, maka tidak disebut habib, berbeda dengan Riziek Shihab Ketua FPI (Front Pembela Islam).
Dari sejumlah komunitas keturunan Fathimah ra ini, mereka terkelompokkan ke dalam sejumlah fam (nama keluarga) seperti Syihab, Shahab, Assegaf, dan sebagainya. Dari sejumlah fam komunitas keturunan Fathimah ra ini, salah satu yang menonjol adalah Assegaf. Bahkan tiga sosok yang cukup menghebohkan ‘dunia persilatan’ di Indonesia, menyandang nama Assegaf. Siapa saja mereka?

Mahmud bin Ahmad Assegaf
Nama yang menghebohkan ini pasti tidak begitu mudah dikenali bila tidak disebut nama aslinya. Nama Mahmud bin Ahmad Assegaf adalah nama alias dari sosok bernama Omar Al-Farouq, kelahiran Kuwait 24 Mei 1971.
Menurut catatan majalah Tempo edisi 25 November - 1 Desember 2002, Al-Farouq merupakan tokoh kunci Al-Qaidah di Asia Tenggara yang berperan membekingi dana gerakan Jamaah Islamiyah (JI), dan merupakan tangan kanan Osama bin Laden yang oleh Geroge Bush disebut teroris. Al-Farouq juga diduga terlibat pada sejumlah aksi peledakan gereja di Indonesia pada malam Natal 2000, kerusuhan di Poso dan Ambon.
Di Indonesia, Al-Farouq punya beberapa buah KTP. Bahkan ia sempat menikahi Mira Agustina pada 26 Juli 1999, dan punya dua orang anak. Menurut Mira, suaminya itu meski sering dipanggil Abu Faruq, namun bernama asli Mahmud bin Ahmad Assegaf, keturunan Arab yang lahir di Ambon pada tanggal 24 Mei 1971 dan fasih berbahasa Indonesia dengan logat Ambon. Begitu pengakuan Mira.
Pada tanggal 5 Juni 2002, Al-Farouq ditangkap aparat di Masjid Raya Bogor, dan langsung dideportasi ke Amerika Serikat, karena diidentifikasi sebagai warga negara asing yang menjadikan Indonesia sebagai arena menebar teror. Dari Bogor, Al Farouq langsung dibawa ke Halim Perdana Kusumah. Di Halim, sudah menunggu pesawat militer AS yang membawa Al-Farouq ke tempat tujuan selanjutnya (penjara AS di Baghram, Afghanistan). Hal itu dimungkinkan karena adanya kerja sama antara intelijen Indonesia dan Amerika dalam perang melawan teror.
Beberapa bulan kemudian, September 2002, muncul wawancara antara majalah Time dengan Al-Farouq. Antara lain berisi pengakuan Al-Farouq bahwa ia merupakan wakil senior Al-Qaida di Asia Tenggara dengan tugas merencanakan sejumlah serangan terhadap kepentingan AS di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam dan Kamboja.
Menurut Manullang (mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Nasional), Al-Farouq adalah agen binaan badan intelejen Amerika Serikat (CIA), yang ditugaskan menyusup dan merekrut agen lokal melalui kelompok-kelompok Islam radikal. Karena tugasnya sudah selesai, dibuat skenario tertangkap. Hal tersebut dikatakan Manullang kepada Tempo News Room pada hari Kamis sore (19 Sep 2002).
Pada 12 Juli 2005, Al Farouq dikabarkan berhasil kabur dari penjara Baghram yang super ketat itu. Namun kasusnya baru terpublikasikan pada November 2005. Hampir satu tahun kemudian, pada hari Senin tanggal 25 September 2006, Al-Farouq dikabarkan tewas akibat ditembak tentara Inggris di Irak. Menurut Mayor Charlie Burbridge juru bicara militer Inggris, Al-Farouq ditembak mati setelah terlibat baku tembak dengan 250 tentara Inggris di sebuah rumah tempat dia bersembunyi di Kota Basra, Irak. (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=156466)


Habib Abdurrahman Assegaf

Nama Habib Abdurahman Assegaf menjulang ketika terjadi pengerahan sejumlah massa ke markas Ahmadiyah di Parung pada hari Jum’at tanggal 15 Juli 2005, sekitar pukul 16:00 wib. Begitu juga ketika mencuat kasus aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah, sosok Habib Abdurrahman Assegaf kembali menonjol dalam rangkaian aksi menghancurkan dan membakar gubuk tempat pertapaan Ahmad Mushaddeq (pemimpin Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang mengaku sebagai nabi) yang berlokasi di lereng kaki Gunung Salak Endah, Desa Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Selasa 30 Oktober 2007. Habib Abdurrahman Assegaf pada saat itu merupakan pemimpin atau koordinator GUII (Gerakan Umat Islam Indonesia). Sebelumnya, Al-Qiyadah Al-Islamiyah telah dinyatakan sesat oleh MUI pada 4 Oktober 2007.
Menurut Arrahmah.com, Abdurrahman Assegaf adalah seorang habib palsu yang bernama (asli) Abdul Haris Umarella bin Ismail Umarella. Namun ada juga yang mengatakan nama aslinya adalah Amsari Umarella. Ayahnya asal Makassar dan ibunya berasal dari Ambon.
Amsari alias Abdul Haris yang kini menjelma menjadi Habib Abdurrahman Asegaf, pernah menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 yang terletak di jalan Mardani Raya, Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Setelah lulus dari SMPN 2, Amsari melanjutkan ke SMA Negeri 68 jurusan IPS. Selama bersekolah di SMAN 68, Amsari tidak tertarik bergiat di rohis (rohani Islam, sebuah lembaga ekstra yang bergerak di bidang pembinaan rohani atau keagamaan). Bahkan saat itu ia termasuk yang tidak mendukung jilbab. Setelah lulus dari SMAN 68, Amsari melanjutkan pendidikan di Unkris Pondok Gede, Jakarta. (http://www.arrahmah.com/index.php /news/read/5459/ iapa-habib-palsu-abdurrahman-assegaf)

Nur Hidayat Assegaf
Februari 1989, terjadi peristiwa berdarah-darah di Lampung, yang dikenal dengan nama Kasus Talangsari. Sebuah komunitas pengajian pimpinan Warsidi yang merupakan serpihan Darul Islam (NII), disapu bersih aparat, karena telah dengan terang-terangan mempersiapkan sebuah perlawanan terhadap pemerintahan, dan membunuh Kapten Soetiman (yang waktu itu menjabat sebagai Danramil Way Jepara).
Salah satu tokoh pencetus kasus Talangsari ini adalah Nur Hidayat, mantan Karateka Nasional yang pernah menjadi bagian dari kelompok pengajian usroh Abdullah Sungkar. Sosok Abdullah Sungkar adalah salah satu tokoh DI/TII atau NII yang kemudian melepaskan diri dari NII dan membentuk Al-Jama’ah Al-Islamiyah (JI).
Dalam kasus Talangsari (Lampung, 1989), Nur Hidayat merupakan tokoh penting. Antara lain, ia menjadi Amir Musafir dan penentu bagi orang-orang yang akan ‘hijrah’ ke Talangsari. Bahkan setelah kasus Talangsari pecah, Nur Hidayat merencanakan sejumlah aksi teror lanjutan, sebagai perlawanan atau balasan terhadap penyerbuan aparat ke Talangsari. Yaitu, mengacaukan Jakarta dengan jalan membakar sejumlah pom bensin, membakar Pasar Pagi, Glodok dan Tanjung Priok. Hanya saja, rencana itu berhasil digagalkan aparat.
Beberapa tahun belakangan, Nur Hidayat melengkapi namanya dengan membubuhi nama fam Assegaf, dan berprofesi sebagai rohaniwan (ustadz, penceramah agama). Hal ini setidaknya bisa dilihat pada harian Republika edisi 30 Januari 2001 dalam serial tulisan bertajuk Melacak Bom di Malam Natal. Pada tulisan serial itu, Republika menuliskan nama Nur Hidayat dengan tambahan Assegaf. Padahal, menurut mantan isteri pertamanya, Nur Hidayat bukan keturunan Arab, apalagi bermarga Assegaf yang tergolong ahlul bait atau keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Fathimah ra.
Berkenaan dengan Bom Malam Natal yang terjadi 24 Desember 2000, Nur Hidayat memang pernah berkoar-koar bahwa ia tahu siapa pelaku di balik kasus yang menghebohkan itu. Ketika diwawancarai oleh Rakyat Merdeka pada tanggal 29 Januari 2001, Nur Hidayat menyatakan bahwa ia tahu akan terjadinya peledakan Bom Malam Natal 2000 dari seorang kawannya asal Bandung, bahkan sang kawan itu berusaha mengajaknya terlibat, namun Nur Hidayat menolak. Meski sudah secara terbuka mengatakan hal itu, namun Nur Hidayat tidak ikut diciduk aparat dalam kasus Bom Malam Natal 2000.
Dari data-data di atas, nampaknya fam Assegaf dibanding fam ahlul bait lainya, sering ‘dimanfaatkan’ oleh orang-orang yang mengerti adanya benefit di balik penggunaan nama keluarga keturunan Fathimah ra tersebut. (haji/tede)

DITUDING TERORIS ABU JIBRIL LAPOR DENSUS 88

tvOne Memang Beda

Jumat, 28 August 2009 21:02 WIB
Tangerang, (tvOne)

Abu Jibril ayah dari Muhammad Jibril merasa tersingung atas pemasangan spanduk "Waspadalah Teroris di Sekitar Kita" di gerbang Komplek Witanaharja, Pamulang, Kota Tangerang Selatan Banten, dan melaporkannya ke Densus 88.

"Saya sudah melaporkan pihak-pihak yang memasang spanduk tersebut ke Densus 88 karena di sini saya dianggap seperti itu (teroris -red) oleh mereka," ujar Abu di Tangerang, Jum`at.

Abu menjelaskan, dirinya kecewa dengan langkah yang dilakukan oleh sejumlah warga Kompleks Witanaharja III Blok C, RT 3 RW 16 dengan memasang spanduk tersebut di gerbang kompleks perumahan.

Ia berpikir bahwa apa yang dilakukan warga terhadap dirinya karena anaknya Muhammad Jibril dijadikan tersangka oleh Mabes Polri karena diduga terlibat peledakan bom Mega Kuningan, 17 Juli lalu.

"Ini jelas fitnah terhadap saya, seharusnya warga tidak boleh melakukan hal tersebut dengan sewenang-wenang," kata warga Witanaharja III Blok C, RT 3 RW 16 No 137 itu.

Abu mengaku, apa yang dilakukan warga Kompleks Witanaharja dengan memasang spanduk tersebut karena ada pemaknaan berbeda dari apa yang dipahami masyarakat tentang jihad yang dikaitkan dengan terorisme.

"Seharusnya masyarakat kita diberikan pemahaman lebih dalam seperti apa itu jihad dan seperti apa itu terorisme, jadi jangan digabung-gabungkan," ungkap Abu.

Pantauan di lokasi, gerbang Perumahan Komplek Witanaharja, terpampang sebuah spanduk sepanjang tujuh meter berwarna kuning dengan warna merah bertuliskan `Waspadailah Teroris di Sekitar Kita`.

Sementara itu Kepala Satpam Kompleks Witanaharja Tejo mengaku spanduk tersebut dipasang oleh Ketua RW 16 Kompleks Witanaharja bernama Sutopo bersama sejumlah warga lainnya. "Jum`at dini hari tadi sebelum saur yang memasang spanduk teroris itu adalah pak Sutopo," kata Tejo.(ANT)

KAPOLRI : Muhammad Jibril Tersangka Terorist

Kabar Terkini - tvOne Memang Beda

Jumat, 28 August 2009 16:59 WIB
Jakarta, (tvOne)

Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengatakan, Muhamad Jibril yang ditangkap polisi di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, 25 Agustus 2009 adalah tersangka kasus tindak pidana terorisme.

Menurut Kapolri di Jakarta, Jumat, status tersangka itu merupakan kelanjutan dari penyelidikan dan penyidikan ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. "Dari hasil penyelidikan dan penyidikan kita tahu bahwa ada X termasuk Jibril sebagai tersangka," katanya.

Namun Kapolri tidak menyebutkan siapa yang dimaksud dengan X tapi secara implisit bahwa ada beberapa tersangka selain Jibril. Kapolri mengatakan, sebelum diumumkan sebagai tersangka ke publik, 25 Agustus 2009, polisi telah beberapa hari mencarinya namun tidak menemukan keberadaan Jibril.

Karena itulah, Polri memasukkan Jibril dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan tujuan untuk membatas ruang geraknya. Dengan masuk DPO, Polri berharap agar masyarakat dapat membantu mencari keberadaannya.

Untuk menangkap Jibril, katanya, Polri mengerahkan tim yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Detasemen Khusus 88 Anti Teror Badan Reserse Kriminal Polri Kombes Pol Tito Karnavian.

Kapolri juga mengaku siap menghadapi gugatan praperadilan terkait dengan penangkapan Jibril yang kini telah didaftarkan di PN Jakarta Selatan oleh pihak keluarga Jibril. "Silakan saja ada praperadilan. Itu hak dia dalam proses penegakkan hukum agar Polri tidak sewenang-wenang," katanya.

Upaya praperadilan, menurut Kapolri, malah akan menjadi alat untuk mengawasi tindakan Polri. "Sah-sah saja mengajukan praperadilan. Tiap warga negara berhak mengajukannya," ujarnya. Hakim yang menangani praperadilan nantinya yang akan menguji apakah tindakan menangkap Jibril itu salah dan melanggar hukum.

Kapolri berjanji akan menjelaskan keterlibatan Jibril dalam kasus ini secara terbuka kepada masyarakat setelah pemeriksaan selesai yakni menunggu tujuh hari setelah penangkapan.

Proses penangkapan Jibril, katanya, tidak datang dalam waktu sekejap tapi melalui rangkaian panjang. "Nanti, akan kami jelaskan. Biarkan masalah ini kami proses dulu," katanya.

Pada 25 Agustus 2008, Polri mengumumkan bahwa Mohamad Jibril alias Muhammad Ricky Ardhan alias Ricky Ardhan bin Muhammad Iqbal bin Abu Djibril sebagai DPO.

Dalam catatan polisi, Mohamad Jibril lahir di Banjarmasin, 3 Desember 2009. Di dokumen lain, Jibril tercatat lahir di Lombok Timur 28 Mei 1989. Alamat terakhir buronan ini adalah Jl M Saidi RT 10 RW 01 Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Ia menjadi buronan karena diduga menjadi perantara aliran dana dari luar negeri ke Indonesia yang kemudian dipakai untuk biaya peledakan bom. Hanya dua jam setelah polisi merilisnya sebagai buron, Mohamad Jibril ditangkap di Pamulang.

Dalam kasus bom itu, Polri telah menahan tiga tersangka yakni Indra, Aris dan Ahmad Fery. Dua tersangka lain yakni Air Setiawan dan Eko Joko tewas dalam penangkapan di Jatiasih, Bekasi, 8 Agustus. Dua tersangka lain tewas, karena berperan sebagai pelaku bom bunuh diri yakni Nana Ichwan Maulana dan Dani Dwi Permana.

Empat tersangka lain yang dinyatakan sebagai buron adalah Syaifudin Zuhri bin Djaelani Irsyad alias Udin alias Soleh, Ario Sudarso alias Suparjo Dwi Anggoro alias Aji alias Dayat alias Mistam Usamudin, Bagus Budi Pranoto alias Urwah dan Mohamad Syahrir.(ANT)

Abu Jibril Dituduh Sebarkan Ajaran Sesat, MMI Gelar Tabligh Akbar

Taman Bacaan Bastari Samarinda



Jakarta - Abu Jibril dituding telah menyebarkan ajaran sesat di Masjid Al Munawwaroh, Pamulang, Tangerang, Banten. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pun akan menggelar tabligh akbar.

"Kami akan lakukan tabligh akbar karena di Pamulang ada habib palsu. Sekarang ini ada seseorang yang kabarnya habib palsu menuduh Abu Jibril sebagai pembawa faham sesat," kata Ketua MMI Irfan S Awwas di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis (27/8/2009).

Tabligh akbar itu digelar karena terkait adanya Habib palsu yang memfitnah Abu Jibril. Habib itu pun (diduga habi Abdurrahman Assegaf) akan diberi somasi.

"Kami tantang untuk debat terbuka atau kita bawa ke pengadilan. Insya Allah ini akan kami lanjutkan dalam waktu dekat ini," tegasnya.

Tak hanya itu, MMI akan menuntut siapa saja orang yang menstigma bahwa terorisme itu adalah Islam. MMI akan mengajak orang-orang tersebut debat secara terbuka.

"Kadensus mengatakan dipersilakan siapa saja bagi mantan intel atau polisi yang menstigma terorisme dengan jihad pemahaman Islam, dipersilakan untuk menuntut secara hukum. Kami akan lakukan itu," katanya.

Menurut Irfan, banyak eks intel yang berbicara melalui media massa bahwa akar terorisme adalah pemahaman agama. Orang-orang tersebut seperti Mantan Ketua BIN Hendropriyono, Mantan Kadensus Brigjen (purn) Suryadharma, Kepala Desk Antiteror Menkopolhukam Ansyad Mbai, dan staf ahli Kapolri Anton Tabah.

"MMI akan lakukan tuntutan serta debat terbuka kepada mereka," ujarnya.

Abu Jibril Tolak Tudingan BMB

Situs Resmi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat ::. - Abu Jibril Tolak Tudingan BMB
KESRA-- 27 AGUSTUS:  Majelis Mujahidin mengecam tindakan Habib Assegaf berkenaan dengan tindakan pelecehan, penistaan dan tuduhan yang dilontarkan Habib terhadap Wakil Amir Majelis Mujahiddin Ustadz Abu Jibril.
Abu Jibriel dianggap sebagai penganut paham Wahabi Radikal dan sarang terorisme. Termasuk memprovokasi organisasi Barisan Muda Betawi (BMB) untuk membubarkan pengajian yang dipimpin Abu Jibriel.
"Majelis Mujahidin merasa perlu mengambil tindakan tegas untuk menjernihkan situasi, serta mencari solusi perbedaan paham anatara Abdurahman Assegaf dan jama'ah Masjid Al Munnawarah di Pamulang," urai Abu Jibriel, perwakilan Majelis Mujahidin, sekaligus pihak yang disudutkan.

Guna menyelesaikan masalah, lanjut Abu, Majelis Mujahidin menawarkan tiga buah opsi kepada Habib Abdurahman Assegaf alias Abdul Haris Umarella alias Amsari Umarella.
Pertama, meminta maaf kepada Abu Jibriel dan Majelis Mujahidin di depan publik atas tindakan provokasi negatif. Kedua, melakukan debat terbuka di depan umum, dan opsi terakhir, yakni menyerahkan persoalan ini pada aparat penegak hukum.

Abu Jibril secara lantang mengatakan, publik belum mengetahui jati diri Habib Assegaf yang sebenarnya.
"Ia bukan orang sholeh. Jadi, masyarakat jangan terpancing olehnya. Jangan anggap dirinya orang benar," ia menegaskan.

Tindakan provokasi yang dilakukan Habib Assegaf telah menimbulkan perselisihan sesama muslim. Pendekatan yang dilakukan Habib Assegaf kental mengandung unsur SARA dan meninggalkan pendekatan Syar'i.
"Paham Wahabi Radikal yang ia tuduhkan itu tidak benar. Saya tetap mengacu pada ajaran Al Qur'an, dan menjalankan puasa, zakat dan haji," Abu menandaskan.
Sekitar 20 orang dari Barisan Muda Betawi (BMB) mendatangi tempat Abu saat jumpa pers yang digelar Jibril berlangsung. Namun, Abu Jibril cs tetap melanjutkan acara itu hingga selesai. (dch)