Showing posts with label polri. Show all posts
Showing posts with label polri. Show all posts

Presiden SBY Minta Polri Introspeksi Diri

tvOne: Presiden SBY Minta Polri Introspeksi Diri - Kabar 15
Jakarta, (tvOne)
Presiden SBY meminta segenap keluarga besar Polri untuk tetap tenang menanggapi kritikan yang terus berdatangan belakangan ini. Presiden meminta Polri untuk tetap rasional dan tidak perlu emosional. Presiden juga meminta agar Polri menindak tegas anggotanya yang terbukti melanggar hukum, pemberantasan korupsi yang lebih intensif,dan melakukan refleksi diri untuk menuju arah yang lebih baik.

Kompolnas: Anggota Polri Boleh Berpoligami Asal Izin Atasan


Chazizah Gusnita - detikNews


Jakarta - Tudingan keluarga Susno terhadap petinggi Polri yang berpoligami dinilai biasa saja. Setiap anggota Polri sebenarnya memang diperbolehkan berpoligami asal dapat izin dari atasannya langsung.
"Itu berlaku UU yang umum. Artinya kalau ada izin ya boleh saja dari atasannya langsung. Didelegasikan," kata anggota Kompolnas Rony Lihawa kepada detikcom, Selasa (11/5/2010).


Menurut Rony, anggota Polri yang ingin menikah lagi harus mendapat izin istri dan atasan langsung. Atasan dari anggota Polri yang ingin berpoligami tentu akan bertanya apa alasan anak buahnya tersebut untuk menikah lagi.
"Atasan itu kan bijaksana. Dia pasti tanya alasan mengapa. Harus ada izin istri juga. Bahkan calon mertua juga bisa ditanya," jelasnya.
Rony mengatakan, aturan larangan berpoligami hanya masuk pelanggaran disipliner. Jika anggota itu menikah tanpa pemberitahuan dan izin atasan, maka akan dikenakan sanksi indisipliner.


"Itu bukan tindak pidana umum. Pelanggaran disiplin saja," ujarnya.
Jika ini soal izin atasan, bagaimana jika yang berpoligami adalah jajaran paling tinggi dikepolisian? Misalkan setingkat Kapolri, apakah harus meminta izin melalui presiden?
"Ya bisa saja izin ke atasan langsung paling tinggi itu (presiden). Ah, tapi kita ini berbicara yang tidak ada," elaknya.

Sebelumnya keluarga Komjen Pol Susno Duadji menuding ada pihak-pihak yang sengaja membuat Susno ditetapkan sebagai tersangka. Keluarga pun mengatakan kalau justru ada sejumlah petinggi Polri yang jelas-jelas melanggar kode etik profesi dengan berpoligami, namun tidak diberi sanksi. (gus/fay)

Reformasi Polri Mandek, BHD Mesti Dicopot

okezone.com


JAKARTA - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) mendesak penggantian Kepala Kepolisian RI Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri (BHD). IMM menilai Bambang gagal melakukan reformasi di tubuh Polri semasa kepemimpinannya.

Sekjen DPP IMM  Ton Abdillah Has dalam keterangan tertulis yang diterima okezone tadi malam, Jumat (8/1/2010) menyebutkan kegagalan BHD membersihkan institusinya salah satunya tergambar dalam penanganan kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

Ton mensinyalir kejanggalan dalam penanganan perkara yang membuat mantan Ketua KPK Antasari Azhar menjadi terdakwa. Kejanggalan itu terkuak ketika mantan Kabareskrim Polri Komjen (Pol) Susno Duadji memberi keterangan bagi Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dua hari yang lalu.
 
"Kesaksian Susno membuka borok konstruksi kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen," ujarnya. Saat bersaksi Susno memaparkan bahwa Wakapolri saat itu Irjen (Pol) Hadiatomoko ditunjuk sebagai ketua tim pengawas penyidikan kasus Antasari. Keterangan Susno bertolak belakang dengan keterangan Hadiatmoko saat dihadirkan di persidangan beberapa waktu lalu. Hadiatmoko pernah membantah tuduhan bila dirinya ikut andil dalam penyidikan Antasari.  

"Seharusnya ini membuka mata para pengambil kebijakan atas buruknya kinerja kepolisian di bawah kapolri Bambang Herdarso Danuri. Presiden dan DPR jangan hanya melihat ini sebagai urusan internal kepolisian semata, melainkan persoalan serius di tubuh aparat penegak hukum itu," tegas Ton.

Kesaksian Susno tersebut, lanjut Ton, merupakan bukti ketidakprofesionalan kepolisian, sehingga agenda reformasi lembaga hukum akan mandek bila posisi Kapolri tidak diganti. "Apapun motif Susno Diaji, kesaksiannya dalam sidang Antasari Azhar kemarin harus menjadi pintu masuk upaya reformasi serius di kepolisian," tandasnya. (frd)
(hri)

Blogged with the Flock Browser

Rela Demo Karena Dibayar 100 Ribu, (Demo = Hati Nurani atau ..?)

Minggu, 29/11/2009 09:48 WIB
Ngaku Dibayar 100 Ribu, Massa Pro Kapolri Minta Nasi Padang
Reza Yunanto - detikNews



Jakarta - Alasan apa saja dapat membuat seseorang ikut berunjuk rasa. Seperti halnya massa pendukung Kapolri ini. Massa yang mengaku dari Masyarakat Indonesia Timur ini mengaku dibayar Rp 100 ribu untuk menuntut pembubaran KPK dan mendukung Kapolri Jendral Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD).

"Ada Rp 100 Ribu (per 1 orang)," ujar salah seorang massa pro Kapolri yang enggan menyebutkan namanya pada wartawan di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Minggu (29/11/2009).

Pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans ini mengaku disuruh oleh pihak tertentu. "Ya, adalah..." katanya tidak mau menyebutkan nama penyuruhnya lebih lanjut.

Massa yang juga kebanyakan bertopi dan beranting ini menyatakan mendukung Kapolri agar tidak mundur. Mereka juga meminta agar KPK dibubarkan. Akan tetapi mereka mengaku tidak tahu siapa nama Kapolri.
"Saya nggak tahu, pokoknya Jenderal," ucap salah seorang di antaranya.

Pantauan detikcom di lokasi, 30 orang yang berteriak-teriak itu tetap bertahan sambil sebagian di antaranya mengisi jalur Busway. Seseorang di antaranya ada yang berteriak meminta makanan nasi padang.

"Nasi padangnya mana nih? Kita lapar dari pukul 06.00 WIB belum pada makan. Kita lapar," teriak salah seorang massa seraya disahut teriakan serupa oleh beberapa orang lainnya.

Frans H Winarta : Kinerja Buruk, Wajar kapolri Dicopot

Kinerja_Buruk_Wajar_kapolri_Dicopot

JAKARTA--MI:
Kinerja Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Bambang Hendarso Danuri dinilai buruk. Tanpa rekomendasi Tim 8, ia wajar dicopot dari jabatan Kapolri.

"Pencopotan Bambang dari jabatan Kapolri bukan soal rekomendasi Tim 8, tapi karena kinerjanya buruk," kata praktisi hukum Frans H Winarta di Jakarta, Senin (23/11).

Frans mencatat beberapa kesalahan fatal yang dilakukan Kapolri. "Yang parah Kapolri memberi bukti yang sifatnya projustisia ke DPR dan mengumumkan bukti yang tidak valid dengan mengaitkan keluarga Nurcholis Madjid dengan kasus Wakil Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) nonaktif Chandra M Hamzah. Kesalahan lain termasuk pemanggilan media massa oleh Polri," katanya.

Ia menegaskan, Kapolri dan Kabareskrim Komjen Susno Duadji sebaiknya dicopot atau paling tidak dinonaktifkan. Kasus konflik KPK-Polri, menurut Frans, harus dijadikan momen mengevaluasi kinerja Polri. "Jangan wakil ketua KPK saja yang dinonaktifkan. Kapolri dan Kabareskrim juga dinonaktifkan dulu," ujarnya.

Frans menegaskan, Presiden punya wewenang memberhentikan Kapolri dengan alasan karena kinerjanya buruk. Mengenai kasus hukum dua wakil ketua KPK, kalau menurut Polri tidak cukup bukti, harus dihentikan (SP3). Tapi kalau yakin cukup bukti, jangan dihentikan, melainkan harus diproses terus melalui peradilan. "Kalau tidak cukup bukti, Kapolri minta maaf saja dan nyatakan SP3," katanya. (Ken/OL-01)
Blogged with the Flock Browser

Beri Informasi Ngawur, Kapolri Harus Dicopot

Beri Informasi Ngawur Kapolri Harus Dicopot

JAKARTA--MI:
Kepala Kepolisian Negara RI (Kapolri) Jenderal Bambang Hendarso Danuri tidak cukup meminta maaf atas kesalahannya menyatakan almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) terlibat dalam kasus Wakil Ketua KPK nonaktif Chandra M Hamzah.

"Bambang harus dicopot dari jabatan Kapolri karena ceroboh menggunakan informasi yang diberikan bawahannya tanpa verifikasi," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane di Jakarta, Senin (23/11). Menurutnya, informasi yang diumumkan Kapolri di hadapan Komisi III DPR RI dan disiarkan langsung oleh berbagai stasiun televisi menunjukkan Kapolri tidak profesional.

"Memang Kapolri sudah meminta maaf kepada keluarga Cak Nur. Dia harus dicopot dari jabatan Kapolri karena sudah terlalu banyak kesalahan yang dilakukannya. Termasuk upayanya memaksakan kriminalisasi terhadap dua wakil ketua KPK nonaktif," ujarnya.

Neta menyesalkan tidak adanya budaya mundur termasuk sikap Kapolri yang tidak pernah merasa bersalah. "Karena tak ada budaya mundur, Kapolri harus dicopot," tegas Neta.

Sebelum dicopot, Kapolri harus menindak bawahannya yang ngawur memberikan informasi yang sangat memalukan. "Pembersihan di Badan Reserse Kriminal Mabes Polri harus dilakukan. Polisi yang ngawur itu harus dicopot," katanya.

Kalau ada indikasi sengaja untuk tujuan pembusukan, itu tindakan kriminal. "Yang bersangkutan harus diibawa ke pengadilan," tegasnya. (Ken/OL-04)
Blogged with the Flock Browser