Showing posts with label malaysia. Show all posts
Showing posts with label malaysia. Show all posts

30 Alasan Malaysia Membenci Indonesia ? Mungkin Pendapat ini ada benarnya

menujuhijau.blogspot.com:








I LOVE INDONESIA, FOR SURE!!!
INDONESIAKU PANCEN HUEBAT!!!

Indonesia Adalah Raksasa Dunia Yang Tertidur

menujuhijau.blogspot.com:


Sadarkah kita bahwa pelecehan kedaulatan Indonesia oleh Malaysia adalah strategi lama 'DEVIDE ET IMPERA' yang tak kita sadari..?

Let's Flashback!
Dunia tau, Indonesia adalah raksasa yang tertidur. Ia sempat berdiri tegak dengan kerajaan maritimnya dimasa lampau. Namun sejak kedatangan Belanda, dunia menidurkan sang raksasa dengan devide et impera atau adu domba

Saat itulah Indonesia diadu domba dengan beragam suku yg mulai terpecah belah agar mudah terkalahkan. Namun ternyata perpecahan itu butuh waktu 350 TAHUN bagi Belanda untuk menguasai. Mengapa Indonesia merdeka? KARENA TAK TERKALAHAN JIKA SEMUA SATU (Bhinneka T unggal Ika).

Dimasa modern, devide et impera diterapkan lewat adu domba politik, dunia gempar dengan kecerdasan presiden HABIBIE,
beliau memimpin hanya 512 hari namun mengeluarkan Indonesia dari jurang krisis. beliau turun jabatan dan kecerdasannya dimanfaatkan negara lain. Turunnya jabatan beliau bahkan memberikan selamat datang bagi pemerintahan yang merasa lebih pintar dari sebelumnya.

Dimasa ketiga, mantan menteri keuangan kita Ibu Sri Mulyani dengan prestasinya menghindarkan Indonesia dari krisis finansial 2008 bahkan meraih hasil positif. DUNIA SEKALI LAGI GENTAR Adu domba politik yang terjadi mengharapkan Ibu Sri Mulyani mundur dan dipilihlah bank dunia. Sekarang Apakah kita tidak tersadar? Mengapa Indonesia rela mengusir pejabat terbaiknya?

Lalu mengapa tindakan Malaysia dikatakan devide et impera? Karena sekarang adalah masa - masa yang hebat bagi Indonesia. Terhindar krisis ekonomi finansial 2008 membuat dunia terbelalak Apalagi sekarang pemerintahan menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,5%. Dunia ingin sang raksasa cepat ditidurkan kembali, dengan adu dombanya.

Lantas? Apakah perang? Tidak, negeri ini telah berada di jalur yang tepat, perang hanyalah menguras perhatian dan keuangan negara. Cukup tindakan tegas! Maka dunia terdiam karena adu domba telah gagal/

INDONESIA ADALAH BANGSA YANG CERDAS !! MAJU TERUS INDONESIA !! SADARLAH BAHWA INI SEMUA HANYA SANDIWARA BELAKA !!

Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5244140

Ratusan Relawan 'Ganyang Malaysia' Beraksi -


INILAH.COM

INILAH.COM, Bojonegoro - Ratusan relawan yang sudah tergabung Bledexs Bojonegoro akan melakukan aksi, Kamis (9/9).
Rencananya, para relawan menyuarakan aksi 'Ganyang Malaysia di sekitaran Jl raya Bojonegoro-Babat, tepatnya di Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Bojonegoro.
Peserta aksi akan diberangkatkan dari markas Bledexs Bojonegoro, Jl Masjid Desa Margomulyo, Kecamatan Balen. Relawan yang berasal dari berbagai wilayah di Jawa Timur dan sekitar Bojonegoro tersebut akan melakukan longmarch hingga sekitar Kecamatan Balen.
"Tuntutan kami tetap akan menyuarakan Ganyang Malaysia. Itu yang utama," kata Koordinator Bledexs Bojonegoro, Hariyo Subeki, Rabu (8/9) malam.
Sebagaimana diberitakan, Bledexs Bojonegoro membuka pendaftaran relawan 'Ganyang Malaysia' sampai 22 September 2010. Para relawan yang sudah tergabung melakukan serangkaian agenda persiapan.
Jika tidak ada halangan, relawan Bledexs akan diberangkatkan ke Kalimantan pada 25 September 2010. [beritajatim.com/bar]

Ketika Mendengar Pidato SBY

KOMPAS.com




Hubungan baik Indonesia dengan Singapura tetap terjaga setelah hukuman mati terhadap dua personel KKO dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968. Bahkan, pada tanggal 28 Mei 1973 Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew menaburkan bunga pada makam Usman dan Harun di Jakarta. Usman dan Harun adalah dua personel KKO yang dihukum mati.

KOMPAS.com - Ketika mendengar pidato yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9), banyak kalangan yang kecewa. Selain agak terlambat, Presiden pun dianggap bersikap terlalu lembek terhadap Malaysia.

Dalam pidatonya, Presiden mengatakan, ia turut merasakan keprihatinan, kepedulian, bahkan emosi yang dirasakan oleh rakyat Indonesia. Dan, apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang dan ke depan ini sesungguhnya juga cerminan dari keprihatinan kita.

Presiden, dalam kesempatan itu, juga mengajak masyarakat untuk menjauhi tindakan berlebihan, termasuk aksi kekerasan yang hanya akan menambah masalah yang ada.

Menurut Presiden, kedaulatan negara dan keutuhan wilayah adalah kepentingan nasional yang sangat vital. Ditekankan oleh Presiden bahwa pemerintah sangat memahami kepentingan itu dan bekerja sungguh-sungguh untuk menjaga serta menegakkannya.

”Namun, tidak semua permasalahan yang muncul dalam hubungan dengan negara sahabat selalu terkait dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah,” ujarnya.

Presiden juga menyinggung banyak hal lain dalam pidatonya. Akan tetapi, apa pun alasan yang dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono dalam pidatonya, pada intinya adalah ia menegaskan bahwa ia menempatkan hubungan baik dengan Malaysia sebagai hal yang penting.

Oleh karena itu, persoalan yang terjadi dengan Malaysia pada saat ini harus dijaga agar tidak sampai mengganggu hubungan baik kedua negara.

Situasi yang hampir sama


Situasi yang dialami oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada saat ini, hampir sama dengan apa yang dihadapi oleh Presiden Soeharto dengan Singapura pada tahun 1968 atau 42 tahun silam. Pada saat itu Singapura memutuskan akan menghukum mati dua personel Korps Komando (KKO), yakni Usman bin Moh Ali dan Harun bin Said, yang tertangkap di negara itu.

Berbagai kalangan di Indonesia, terutama KKO (kini Korps Marinir), langsung bereaksi dengan sangat keras. Namun, Presiden Soeharto langsung maju ke depan dan mengambil kendali.

Soeharto secara terbuka meminta kepada Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew untuk memberikan keringanan hukuman kepada kedua personel KKO itu. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Singapura. Menurut pemerintah negara pulau itu, kedua personel KKO tersebut melakukan kegiatan mata-mata serta subversi, dan ancaman hukumannya adalah hukuman mati dengan cara digantung.

Penolakan Singapura itu membuat berbagai kalangan di Indonesia geram dan mendorong pemerintah untuk menyerang Singapura. Dan, dorongan itu menjadi semakin besar ketika pada 17 Oktober 1968 pukul 06.00 Singapura akhirnya melaksanakan hukuman mati tersebut.

Kepulangan jenazah kedua personel KKO itu ke Tanah Air disambut secara besar-besaran dan menjadikan kegeraman terhadap Singapura seperti mendapatkan amunisi, bagai api disiram dengan bensin.

Ketegangan hubungan antara Indonesia dan Singapura meningkat hingga ke titik yang terburuk. Kedutaan Besar Singapura di Jakarta yang terletak di Jalan Indramayu Nomor 28 (waktu itu) diserbu dan dirusak oleh massa mahasiswa dan pemuda. Demikian juga tempat tinggal staf Kedutaan Besar Singapura di Jalan Maluku Nomor 27 dan Jalan Jambu Nomor 15.

Akan tetapi, pada saat itu, Presiden Soeharto tetap menanggapi hukuman mati terhadap dua personel KKO itu dengan kepala dingin dan memilih untuk tidak memenuhi dorongan dari berbagai kalangan untuk menyerang Singapura.

ASEAN, Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara, baru didirikan satu tahun sebelumnya, 8 Agustus 1967. Dan, salah satu tujuan pembentukan ASEAN adalah untuk mewujudkan kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, makmur, dan bebas dari campur tangan kekuatan asing dari luar kawasan.

Melalui ASEAN, Presiden Soeharto ingin menghapuskan citra ekspansionis yang melekat pada Indonesia sebagai akibat dari kebijakan ”Ganyang Malaysia” yang digagas oleh Presiden Soekarno.

Dengan bergabungnya Indonesia di ASEAN, Presiden Soeharto ingin menunjukkan kepada negara-negara tetangganya bahwa Indonesia adalah negara yang cinta damai.

Ketegangan dengan Singapura itu menjadi ujian bagi Indonesia untuk membuktikan diri kepada negara-negara tetangganya bahwa Indonesia benar-benar sudah berubah.

Pada tahun 1960-an negara-negara tetangga, yang dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk sangat kecil, merasa sangat khawatir dengan Indonesia, tetangga raksasanya. Belum lagi, pada masa itu Indonesia memiliki angkatan bersenjata yang terkuat di Asia Tenggara.

Kekhawatiran terhadap Indonesia membuat negara-negara tetangga meminta perlindungan kepada kekuatan-kekuatan asing dari luar kawasan, yang pada masa itu hadir di kawasan.

Dalam kaitan itulah, cara Indonesia menangani ketegangan dengan Singapura itu akan berpengaruh besar terhadap bagaimana negara-negara tetangga kecil itu melihat (mempersepsikan) Indonesia.

Presiden Soeharto sangat memahami situasi itu. Itulah sebabnya Soeharto memilih untuk menghindari perang dan menyelesaikan persoalan dengan Singapura melalui jalur-jalur diplomatik.

Berkat kebijakan luar negeri yang dijalankan oleh Presiden Soeharto itulah citra Indonesia yang ekspansionis berangsur- angsur hilang tak berbekas.

Dalam 30 tahun terakhir bisa dikatakan bahwa kawasan Asia Tenggara telah berkembang menjadi kawasan yang damai, makmur, dan bebas dari kekuatan asing dari luar kawasan.

Posisi awal


Kini, 42 tahun sesudahnya, Indonesia kembali dihadapkan pada posisi yang sama. Cara Indonesia menangani ketegangan dengan Malaysia akan menentukan bukan hanya pandangan negara tetangga terhadap Indonesia, melainkan juga pandangan dunia internasional.

Negara-negara tetangga yang lain mengikuti dengan saksama bagaimana Indonesia menangani dan menyelesaikan ketegangannya dengan Malaysia. Jika Indonesia tidak dapat mengenda- likan diri dan memilih untuk menggunakan kekerasan terhadap Malaysia, dapat dipastikan Malaysia dan negara-negara tetangga lainnya akan mengundang kekuatan luar kawasan kembali ke kawasan ini.

Dan, jika itu yang terjadi, upaya negara-negara ASEAN, terutama Indonesia, yang selama lebih dari 30 tahun telah menja- dikan kawasan Asia Tenggara bebas dari kekuatan asing, menjadi terancam. Dan, kekuatan asing akan diundang kembali ke kawasan ini.

Apalagi Five Powers Defence Arrangements, yakni Pengaturan Pertahanan Lima Negara antara Malaysia, Singapura, Inggris, Australia, dan Selandia Baru yang ditandatangani pada tahun 1971, belum pernah dicabut.

Setelah kehilangan pangkalan militernya di Filipina pada tahun 1990-an, Armada VII Amerika Serikat seperti kehilangan pijakan di Asia Tenggara. Dalam kaitan itulah, Amerika Serikat mendekati Singapura dan meminta izin untuk menggunakan salah satu pangkalan laut Singapura untuk kepentingan logistik dan perawatan kapal bagi Armada VII. Permintaan Amerika Serikat tersebut segera dipenuhi oleh Singapura.

Jika Singapura merasa keberadaan (eksistensi) negaranya terancam oleh Indonesia, bukan tidak mungkin negara itu akan mengizinkan militer Amerika Serikat untuk hadir lebih dalam.

Sebagai negara yang hidup bertetangga, gesekan mudah sekali timbul. Adalah tugas Indonesia dan setiap negara tetangga untuk menjaga agar gesekan itu tidak berkembang menjadi tidak terkendali dan mengarah kepada perang terbuka.

Namun, hal itu jangan diartikan bahwa Indonesia tidak boleh bersikap tegas terhadap negara tetangganya jika gesekan terjadi.

Protes keras dimungkinkan, dan rasa tidak suka juga dapat diperlihatkan asalkan dilakukan melalui jalur-jalur diplomatik. Penarikan duta besar pun dimungkinkan untuk dilakukan asalkan semua tindakan itu dilakukan secara terukur.

Sayangnya, seperti biasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kurang tegas dalam bersikap dan kurang cepat dalam memperlihatkan sikap bahwa ia membela kepentingan rakyat yang dipimpinnya.

Melancarkan perang dengan Malaysia bukanlah tindakan yang bijaksana. Selain memerlukan dana yang sangat besar, juga akan banyak orang yang akan kehilangan nyawanya dengan percuma. Jangan hanya karena merasa lebih besar dan lebih kuat lalu menganggap bahwa perang akan dimenangi dengan mudah.

Bahkan, Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya pun sulit mengalahkan Irak yang dalam hitung-hitungan di atas kertas dapat dikalahkan dengan mudah.

Relakah kita membiarkan putra-putra Indonesia kehilangan nyawa di medan perang untuk sebuah urusan yang sesungguhnya dapat diselesaikan melalui jalur-jalur diplomatik? (James Luhulima)

Wawancara Anwar Ibrahim: "Indonesia Anggap Elit Malaysia Arogan"


VIVAnews -

VIVAnews – Ketegangan Indonesia dan Malaysia makin menjadi. Di Jakarta, demonstrasi menentang Malaysia masih merebak. Benteng Demokrasi Rakyat atau Bendera, misalnya, beraksi di depan Kedutaan Besar Malaysia dengan vulgar. Mereka membakar bendera Malaysia, dan melempari bendera ‘Jalur Gemilang’ dengan kotoran, bahkan mengancam merazia warga Malaysia di Indonesia.
Tentu saja ada warga Malaysia yang berang. “Berapa lama lagi kami harus mentolerir ini?,” kata seseorang yang mengatasnamakan diri sebagai ‘Frustated Malaysian’ seperti dimuat situs berita Malaysia The Star.
Disulut oleh insiden saling tangkap warga antar dua negara di perairan Bintan, 13 Agustus 2010 lalu, ketegangan merambat ke Jakarta dan Kuala Lumpur. Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman mendesak RI bertindak tegas pada massa Bendera. Malaysia akan merilis saran-perjalanan (travel advisory) ke Indonesia.
“Bendera ingin menggunduli warga kami dan mengirim mereka pulang? Ini adalah penghinaan bukan hanya bagi Malaysia tapi juga Indonesia karena banyak masyarakat yang tidak menyetujui tindakan ini,” tegas Anifah.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun ambil tindakan. Dia memberi instruksi khusus kepada Menko Polkam Djoko Suyanto untuk menangani ketegangan ini. Dua negara juga akan duduk satu meja membahas ribut-ribut itu pada 6 September 2010 nanti melalui ajang Joint Ministry Conference.
Apa sebenarnya yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia?
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari sisi Malaysia, VIVAnews.com mewawancarai secara eksklusif mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Anwar menilai ketegangan terjadi saat ini sudah akut. Ini adalah akumulasi dari permasalahan yang berlarut. “Sudah sampai pada tingkat massa, ini sudah tidak sehat,” katanya kepada VIVAnews, Jumat, 27 Agustus 2010. Berikut petikannya:
Hubungan Indonesia-Malaysia makin panas. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Saya berpendapat, bahwa tension (ketegangan) sudah berlarut-larut, dari soal budaya hingga soal TKI. Dan kini soal sempadan (batas wilayah), juga marine (kelautan). Saya mendesak pimpinan dua negara berunding menangani masalah itu, karena ini sudah sampai pada tingkat massa, ini sudah tidak sehat. Karena betapapun ketegangan itu ada, kepentingan negara yang sangat strategis tak boleh dikorbankan.
Sikap Anda soal pelemparan tinja ke kantor Kedutaan Besar Malaysia?

Kedua rakyat Malaysia dan Indonesia tidak mendukung pendirian arogan itu. Pelemparan najis itu tidak wajar. Sekedar mengemukakan pandangan, memprotes, itu ya biasa dalam negara demokrasi.

Walaupun di sini (di Malaysia) kurang mengerti, sebab di sini dilarang semua protes-protes. Mereka Yang disenangi pemerintah bisa, yang tidak, dilarang semua. Berbeda.
Sudah diketahui saya punya pandangan yang relatif intim dengan Indonesia. Di sini disinggung seolah saya senang dengan sikap itu (Bendera). Tapi tidak benar. Bagi saya soal hubungan dua negara harus mengatasi kepentingan politik fraksi.
Yang malang, pimpinan negara agak slow menangani. Dibiarkan begitu makanya parah. Ini persoalan yang harus ditangani dengan rujuk fakta. Kepala negara, wakil, atau pimpinan penting utama harus segera menangani. Soal sempadan, TKI, ini soal lama, saya ingat terus. Dalam hubungan dulu dengan Pak Habibie saya direct call. Harus begitu.
Apa persepsi warga Malaysia terhadap konflik ini?

Belum merebak. Cuma media main sentimen soal isu najis sebagai isu besar meski hanya melibatkan sejumlah kecil orang di Indonesia. Saya juga melihat di koran, dari liputan televisi, banyak yang tidak senang dengan itu. Saya sebagai sahabat sejati Indonesia, saya pun berfikir demikian. Sebab, kalau konflik ini diteruskan, hanya menguntungkan buat yang arogan.
Siapa pihak arogan yang dimaksud?

Kalangan yang tidak senang atau yang mengambil suatu penilaian tidak baik, atau tidak senang dengan hubungan baik dua negara.
Konflik sudah lama terjadi, bukan kali ini saja. Apa sebenarnya persoalan dasar antara Indonesia-Malaysia?

Saya tekankan, ini isu panjang, horisontal. Terutama isu soal TKI, itu sentral. Bahwa TKI harus diperlakukan baik, ada political will. Persepsi orang Indonesia saya tahu benar, bahwa pimpinan atau elit Malaysia selalu arogan. Ini terkungkung kenyataan, kondisi di sini tidak juga membantu. Akhirnya timbul reaksi yang memicu ketegangan. Panjang ceritanya, tapi pokoknya, pimpinan harus segera bertindak. Bukan berperang tapi untuk runding.
Untuk media massa, Indonesia yang menganut demokrasi, aturan media bebas. Di sini liputan media dikontrol pemerintah. Jadi, lain. Perbedaan boleh, tapi kali ini yang bisa kita selesaikan, kita selesaikan.
Apa yang harus dilakukan rakyat untuk menyikapi isu sensitif ini?

Pandangan saya tidak sama dengan pemerintah, pandangan saya berbeda dan kritis. Pesan saya kepada rakyat Indonesia, tunduklah pada hukum. Kalau ada pelanggaran, harus konsisten, negara harus menyelesaikannya. Supaya rakyat Indonesia mengerti, ada kalangan (di Malaysia) yang mencintai saudara serumpun. Mereka bisa protes, itu hak demokrasi, tapi kawal tata susila.
Ini pernyataan orang yang simpati dengan Indonesia. Kalau Anda lihat di sini, tiap kali disinggung, baik di parlemen maupun di luar parlemen, Anwar ini tidak nasionalis. Dikatakan pro sana pro sini. Saya tidak peduli, karena pendirian saya konsisten. Di kalangan UMNO dikatakan saya senang jika ada konflik, saya provokator. Buat saya itu politik murahan.
Sikap Anda yang simpati pada Indonesia dipermasalahkan?

Ya, secara terbuka oleh banyak menteri, parlemen, juga masyarakat luas. Saya mewakili pandangan yang mau Indonesia dan Malaysia lebih akrab. Kami dulu amat membutuhkan Indonesia. Saya masih ingat perundingan dengan Pak Harto, "Pak tolong Pak soal ini, kita merayu ke negeri jiran, banyak kawan berikan."
Penghinaan terhadap bendera Malaysia justru akan digunakan oleh pihak lain, yang rugi kan rakyat, termasuk kami yang menghendaki demokrasi di Malaysia. Mereka akan bilang, ”Itu kamu mau demokrasi, demokrasi itu bakar bendera.” Padahal itu tidak benar. Itu digunakan tangan tertentu untuk memukul kami.
Beredar spekulasi ada kepentingan politik menggunakan isu ini sebagai alat, misalnya kekuatan-kekuatan politik di Indonesia atau di Malaysia untuk menaikkan popularitas mereka. Benarkah?

Ada juga tafsiran itu. Ada kesan soal internal--mereka sengaja mengabdikan ini seolah ada serangan, gugat. Saya lihat mainan spirit, survival Melayu yang keterlaluan, rasis. Isu ini dieksploitasi, termasuk isu konflik dengan Indonesia. Tapi saya tidak mendapat keterangan atau informasi yang jelas soal itu. Yang mampu saya katakan, bahwa media UMNO sengaja mengaktifkan isu ini. Namun apapun, yang terpenting, kepentingan dua negara jauh lebih penting. Ini yang saya tekankan. (kd)

Hacker Malaysia Serang Situs Presiden SBY


INILAH.COM, Jakarta - Semenjak hubungan Indonesia dan Malaysia memanas, situs resmi Presiden SBY www.presidenri.go.id diserang tiga juta setiap sehari.

"Dalam kasus ini diplomasi sebaiknya dikedepankan. Cyber war tidak hanya datang dari Malaysia, tapi juga banyak negara. Situs presiden saja diserang tiga juta kali dalam sehari," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring di gedung Kementerian Kominfo, Jakarta, Kamis (2/9).

Tifatul menegaskan Indonesia tidak menginginkan perang cyber memanas dan lebih menginginkan terjadinya diplomasi yang baik untuk menjaga hubungan antarnegara.

"Untungnya kami punya ID-SIRTII (lembaga pengawas internet Indonesia) untuk mengantisipasi serangan terhadap situs-situs di Indonesia. Dari Direktorat Jenderal Aptel (Aplikasi dan Telematika), kami juga menyiapkan UU Tipiti (Tindak Pidana Penyalahgunaan Teknologi Informasi) untuk mengantisipasi," lanjut Tifatul.

Tifatul mengatakan, perang hacker adalah fenomena yang nyata. Dia mencontohkan negara Estonia yang lumpuh karena diserang oleh para hacker Rusia. "Namun kita tetap harus waspada, jangan terprovokasi. Belum tentu dari sana (Malaysia) juga," tegasnya. [mah]

Bos Media Malaysia Hubungi Bendera sebagai Jurnalis


news.okezone.com


JAKARTA - Aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) Adian Napitupulu tidak membantah bahwa organisasinya pernah berkomunikasi dengan Jahabar Sadiq, seorang bos media di Malaysia.

Namun Adian menegaskan bahwa komunikasi itu terjalin dalam kapasitas Jahabar sebagai seorang jurnalis. “Iya pernah beberapa kali. Itu dia sebagai jurnalis di sana,” ungkap Adian kepada okezone, Jumat (3/9/2010).

Adian menyesalkan sikap politisi Malaysia yang melarang wartawan untuk berbincang dengan organisasinya. “Itulah Malaysia, melarang orang untuk berkomunikasi dalam kapasitas profesinya,” tambah Adian.

Lebih lanjut dia menambahkan banyak pihak di Malaysia yang bersimpati dengan aksi Bendera. “Kami tidak bisa sebutkan tapi dari berbagai kalangan ada, termasuk dari pemerintahan,” ujarnya.

Karena itu dia meminta agar Pemerintah Malaysia tidak melarang orang-orang yang bersimpati untuk berkomunikasi dengan Bendera.

Sebelumnya, seorang anggota parlemen Malaysia menuding Jahabar memiliki hubungan dan memberikan masukan untuk beberapa tokoh Bendera. Tudingan itu disampaikan melalui sebuah harian di Malaysia. Namun Jahabar membantah bahwa dirinya punya hubungan dengan Bendera.
(ton)

Bos Media Malaysia Dituding Jadi Mata-Mata Bendera


news.okezone.com

KUALA LUMPUR - CEO The Malaysian Insider Jahabar Sadiq membantah bahwa dirinya memiliki hubungan dengan kelompok anti-Malaysia di Indonesia, Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera).

Tudingan itu disampaikan seorang anggota parlemen Malaysia Zahrain Mohamed Hashim dalam pernyataannya di sebuah harian Malaysia.

“Sejauh ini, saya tidak ada hubungan dengan Benteng Demokrasi Rakyat. Saya akan sampaikan ke pengacara saya untuk merespons tuduhan ini,” ujar Jahabar seperti dikutip The Star, Jumat (3/9/2010).

Zahrain menyebut Jahabar memberikan masukan kepada Koordinator Bendera Mustar Bona Ventura dan aktivis Bendera lainnya, Adian Napitupulu dan Ferdi Semaun.

Jahabar belum memastikan apakah dirinya akan menggugat anggota parlemen independen itu atau media yang bersangkutan.

“Saya tidak tahu mengapa dia mengucapkan itu. Saya belum pernah bertemu Zahrain seumur hidup,” ungkapnya.

Mengapa Bung Karno Berani ‘Ganyang Malaysia’?

Ahluwalia
INILAH.COM, Jakarta - Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengesankan posisi lemah Indonesia menghadapi Malaysia memunculkan kekecewaan banyak kalangan. Hal itu berbeda dengan Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi dan proklamator Republik Indonesia. Mengapa keduanya berbeda?
Di era SBY, kata pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi, kekuatan militer yang dimiliki Indonesia masih lemah. Ini berbeda dengan China dan Korea Utara sehingga mereka berani berlatih perang di Selat Malaka.
“Contoh kekuatan militer yang tangguh adalah seperti yang ditunjukkan China dan Korea Utara sehingga berani melakukan latihan di Selat Malaka,” paparnya. Lalu bagaimana Indonesia? “Dibawah SBY, masih lemah,” katanya.
Ini berbeda ketika Presiden Soekarno dengan jantan menyerukan ‘Ganyang Malaysia’, kekuatan militer Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Setidaknya di Asia Tenggara, saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia.
Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$2,5 miliar. Saat itu, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di belahan bumi selatan.
Kekuatan utama Indonesia saat Trikora itu adalah salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak 1.270 orang termasuk 60 perwira.
Soviet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. Bandingkan dengan kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1.600 ton. Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal dengan ‘Ganyang Malaysia’ pun berkobar !
Konfrontasi era Bung Karno itu adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada era 1962-1966.
Indonesia perkasa di laut dan di udara. Selain kekuatan laut, RI punya pesawat MiG-21 Fishbed yang merupakan salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger.
Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Sehingga Indonesia menjadi salah-satu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.
Lalu, bagaimana akhirnya? Karena Bung Karno dijatuhkan oleh Orde Baru dan Amerika Serikat di 1966, maka konfrontasi itu dibatalkan. Sejak itu pula hubungan RI-Soviet diputus, dan angkatan bersenjata RI merosot drastis karena dalam rentang kendali AS.
RI masuk orbit AS (Blok Barat) dan menjadi jinak secara militer. Inilah awal kekalahan menghadapi gertakan Malaysia! [mdr]

Cara Melumpuhkan Malaysia Tanpa Perang


news.okezone.com
JAKARTA – Tindakan Malaysia yang telah berbuat semena-mena kepada Indonesia dirasa sudah melewati batas kesabaran. Tindakan tegas pun sudah sepantasnya dilakukan pemerintah dan rakyat Indonesia.
Bagaimana tidak, Malaysia selama ini kerap bertindak di luar batas. Perlakuan kasar kepada TKI, mengklaim budaya dan sederet karya Indonesia, sering memasuki wilayah perbatasan, serta memanggil warga Indonesia dengan sebutan “Indon” menjadi contoh jika Malaysia selama ini tidak menghargai kedaulatan Indonesia.

Namun, perang ternyata bukan satu-satunya cara untuk memberikan syok terapi bagi Malaysia. Sebagai bangsa besar, Indonesia memiliki banyak cara untuk bertindak dan bersikap atas wujud protes kepada Malaysia.

Pengamat Hubungan Luar Negeri Syamsul Hadi mengatakan, saat ini terdapat dua juta warga Indonesia yang mengadu nasib di Negeri Jiran. Jika dua juta warga tersebut dipulangkan dan diberikan lapangan kerja, secara lambat laun perekonomian Malaysia akan terkena dampaknya.

“Bagaimana pun, tenaga kerja Indonesia adalah terbaik jika dibandingkan dengan negara lain. Malaysia pun mengakui itu. Karenanya, mereka kembali membuka kran agar TKI masuk sekalipun sempat ada pemulangan besar-besaran pada 2002,” tandas Syamsul saat berbincang dengan okezone, Kamis (2/9/2010).

Soal biaya pemulangan dan membuka lapangan kerja, kata dia, tidak perlu dikhawatirkan selama pemerintah serius menyikapi hal ini. Sebab, lanjutnya, saat ini ada uang sebesar Rp650 triliun yang terparkir di perbankan Indonesia. Jumlah tersebut diyakini mampu menyelesaikan persoalan TKI.

“Pemerintah bisa membuka lahan peternakan yang selama ini kita selalu import dari Australia. Ini pasti bisa dilakukan asalkan serius,” ujar akademisi Universitas Indonesia ini.

Selain itu, kata Syamsul, pemerintah juga bisa menarik kantor duta besar Indonesia di Malaysia untuk beberapa waktu sebagai bentuk protes. “Karena menurut saya, kerjasama dengan Malaysia tidak terlalu menguntungkan bagi Indonesia,” tukasnya.

Hal tak jauh beda dikemukakan Anggota Komisi I DPR Effendi Choirie dalam satu kesempatan. Menurut dia, jumlah wisatawan Indonesia di Malaysia lebih banyak dibandingkan jumlah wisatawan Malaysia di Indonesia. Jika warga Indonesia tidak ada yang melancong ke Negeri Jiran, secara tidak langsung akan berdampak besar bagi roda perekonomian Malaysia.

“Malaysia itu orang kaya baru. Dia sombong karena merasa lebih hebat dari Indonesia. Karena itu, kita harus tegas menyikapi persoalan ini,” pungkas politisi Partai Kebangkitan Bangsa yang kerap disapa Gus Choi tersebut.

Bukan Bendera, Ringgit Malaysia Dibakar

INILAH.COM, Tulungagung – Sentimen anti Malaysia terus meluas hingga ke daerah-daerah. Jumat (3/9), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Tulungagung, melakukan aksi serupa.
Dengan aksi teatrikal, mereka berjalan mengelilingi kota, menyerukan kebusukan Malaysia.
Aksi dimulai dari Sekretariat mereka, di Jalan Letjend Suprapto. Mereka lalu menyusuri Jalan A Yani Timur lewat depan Polres Tulungagung dan kantor Pemkab Tulungagung, Jawa Timur.
Tiga orang anggota memerankan sebagai zombie, menggambarkan ketigak tegasan pemerintah Indonesia. Mereka menilai, diplomasi Indonesia bagaikan mayat hidup, tak mampu berbuat apa-apa terhadap kesewenangan Malaysia.
Tak hanya pemerintah Indonesia, para demonstran juga mengecam perilaku Malaysia, sebagai tetangga yang jahat. Mereka sering mencuri kekayaan laut, menadah ilegal logging, hingga perdagangan manusia. Malaysis pun tak pernah menganggap Indonesia sebagai negara yang perlu diperhitungkan.
“Malaysia sudah tidak mengindahkan Indonesia sebagai negara serumpun. Mereka sudah merendahkan rakyat dan NKRI,” seru orator.
Tak hanya menyerukan sikap anti Malaysia, aksi juga diwarnai dengan aksi pembakaran uang ringgit. Di sepanjang rute yang mereka lewati, satu per satu lembar uang 10 ringgit mereka bakar.
Menurut Ketua PMII Tulungagung, Iwan Adi Kusuma, pembakaran uang sebagai simbol, bahwa sebenarnya secara ekonomi justru Malaysia yang bergantung pada Indonesia.
Sebab mayoritas tenaga kerja mereka, berasal dari Indonesia. Sehingga seharusnya Indonesia berani tegas pada mereka.
"Malaysia sebagai pengeksport minyak sawit terbesar di dunia akan merugi, jika tenaga kerja kita melakukan boikot,” ujarnya. [beritajatim.com/bar/nic]

Pidato Sayang Malaysia

Inilah Beda Presiden Soekarno dan SBY


INILAH.COM


INILAH.COM, Jakarta - Tak seperti Soekarno yang memilih 'Ganyang Malaysia', Presiden SBY menolak berperang dengan negeri Jiran itu. Inilah bedanya SBY dengan Soekarno.
Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 September 1963, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Perdana Menteri Malaysia saat itu Tunku Abdul Rahman dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia meledak.
Soekarno murka. Sang Proklamator itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia.
Gerakan "Ganyang Malaysia" sebenarnya disebabkan karena Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia. Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia. Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris. Konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia.
Menurut Sejarawan Universitas Indonesia Mohammad Iskandar, pidato Soekarno yang menyerukan rakyat untuk bersatu melawan penghinaan dari Malaysia telah membuat bangga rakyat Indonesia. Pidato Soekarno yang berapi-api itu semakin membuat Indonesia diakui dunia sebagai negara terpandang.
"Di mata dunia ketiga, terutama di Asia-Afrika nama Indonesia saat itu menjadi semakin tinggi," katanya saat berbincang dengan INILAH.COM di Jakarta, Kamis (2/9).
Berbeda dengan Soekarno, Presiden SBY tidak murka ketika ribuan TKI menjadi korban kekerasan Malaysia, ketika ikan-ikan di laut Indonesia dicuri Malaysia, ketika petugas Kementeria Kelautan dan Perikanan Indonesia ditangkap polisi Malaysia di perairan Indonesia. SBY memilih melanjutkan tali persaudaraan.
Dalam pidatonya, ia mengungkapkan alasan tidak mau perang karena Indonesia dan Malaysia mempunyai hubungan sejarah, budaya, dan kekerabatan yang sangat erat, dan mungkin yang paling erat dibanding negara-negara lain, dan sudah terjalin selama ratusan tahun.
SBY juga memaparkan data-data statistik jumlah pertukaran mahasiswa Indonesia dan Malaysia, jumlah wisatawan dan jumlah investasi kedua negara. Ironisnya, data yang disampaikan SBY malah memperlihatkan kekalahan Indonesia atas Malaysia.
"Jiwa Nasionalisme SBY lebih lemah dibandingkan dengan Bung Karno, ada unsur hitungan untung rugi dari apa yang disampaikan SBY," ujar Iskandar.
Menurutnya, perbedaan mendasar dari dua sikap pemimpin negara ini atas masalah yang sama yakni, Pidato "Ganyang Malaysia" Bung Karno mampu membuat rakyat Indonesia melupakan kemiskinannya dan bersatu padu melawan kehinaan. Sedang SBY, malah membuat rakyat Indonesia merasa miskin dan tidak punya wibawa.
Pilihan SBY untuk tidak melakukan konfrontasi dengan Malaysia memang pilihan yang terbaik untuk Indonesia. Tapi seharusnya, Presiden SBY dapat membuat bangsa ini punya pride di mata dunia dan tidak dicap lagi sebagai bangsa babu seperti yang sering disuarakan bangsa Malaysia. [nic]

Menlu: Kepemimpinan Indonesia di ASEAN Jadi Taruhan

INILAH.COM


INILAH.COM, Nusa Dua, Bali - Menteri Luar Negeri (Menlu), Marty Natalegawa, menegaskan posisi Indonesia sebagai negara pendiri dan negara penengah di Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menjadi satu pertaruhan besar bagi negeri ini di balik perselisihan perbatasan laut dengan Malaysia.
Namun, kata Menlu di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/8), Indonesia dalam menghadapi masalah dengan sesama negara ASEAN akan memperjuangkan dan memastikan kedaulatan yang hak daulat melalui cara tepat, yaitu diplomatik.
"Karena yang sedang dipertaruhkan bukan cuma masalah Indonesia dan Malaysia saja, tetapi lebih jauh posisi Indonesia di ASEAN. Ini taruhannya. Indonesia tidak biasa menjadi bagian dari masalah melainkan menjadi pengentas masalah," tuturnya.
Natalegawa memimpin delegasi Indonesia dalam Pertemuan Bersama Menteri Ketujuh Indonesia-Thailand, di Nusa Dua, Bali. Menteri Luar Negeri Kerajaan Thailand, Kasit Piromya, yang memimpin delegasi negarannya dalam pertemuan itu menjadi mitra bagi Natalegawa.
Pertemuan ketujuh kedua menteri luar negeri itu membahas banyak hal, yang intinya melanjutkan, meningkatkan, dan memperluas spektrum kerja sama kedua negara.
Kerja sama kedua negara dalam kiprah pembangunan di negara ketiga di ASEAN dan negara-negara lain di sekitar kawasan itu juga menjadi perhatian kedua menteri luar negeri. Kinerja dan kemungkinan kiprah dari sektor swasta di dalam kerangka kerja sama kedua negara sangat didorong.
Menurut Natalegawa, sejak ASEAN berdiri hingga kini, negara ASEAN selalu mengakui dan melihat ke Indonesia yang mampu menengahi masalah di dalam anggota-anggota ASEAN. Indonesia, dikatakan Natalegawa, memayungi negara-negara anggota lain ASEAN untuk menyelesaikan masalah.
"Jadi, kalau kita ada masalah dengan anggota lain (ASEAN) harus diselesaikan secara baik karena dunia menoleh pada kita apakah kita sama saja dengan yang lain-lain, ikut-ikutan sikut-sikutan, atau sebagai negara yang bisa menyelesaikan permasalahan secara baik," bebernya.
Menurut dia, bukti dari pengakuan eksistensi kepemimpinan Indonesia itu diberikan dari Thailand yang mengapresiasi Indonesia saat berbagai konflik internal dan bilateral terjadi pada negara kerajaan itu. Hal itu, kata dia, bermakna negara-negara ASEAN melihat ke Indonesia dalam kerangka ASEAN yang bisa memecahkan masalah.
"Kepemimpinan kita di ASEAN dimajukan menjadi 2011 dari seharusnya 2013. Masa yang sangat strategis ini jadi tantangan dan bebannya semakin berat untuk kita menunjukkan bahwa kita negara yang mampu menyelesaikan masalah," ujarnya. [ant/jib/mah]

Di Bojonegoro, Dibuka Pendaftaran Ganyang Malaysia


INILAH.COM

INILAH.COM, Bojonegoro - Salah satu kelompok di Kabupaten Bojonegoro sejak Kamis (2/9) sore, membuka pendaftaran untuk relawan "Ganyang Malaysia".
Kelompok tersebut adalah Bledexs Bojonegoro yang beralamat di Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Bojonegoro. Hingga saat ini, para calon relawan sudah menghubungi ke sekretariat yang berada di Jl Gang Masjid Desa Margomulyo.
"Kami membuka pendaftaran ini sampai tanggal 2 September 2010 besok," kata Koordinator Ganyang Malaysia, Haryo Subekti.
Dijelaskan, hingga saat ini pihaknya terus menjalin koordinasi dengan koordinator yang ada di Kalimantan. "Target kita adalah 100 relawan untuk diberangkatkan ke medan perang," jelasnya.
Ditanya mengenai izin dari kepolisian atau pihak lain? Subekti menegaskan, jika sejauh ini pihaknya memang belum mengantonginya. "Kami belum izin mas, dan setelah ini akan memberitahukannya," sambungnya.
Dikatakan, jika mereka yang mendaftar nantinya akan dibekali dengan uji wawasan kebangsaan, materi ketahanan fisik sampai dengan bela diri.
"Mereka akan dikarantina disini, dan setelah siapa akan diberangkatkan ke perbatasan Kalimantan dan Serawak," lanjutnya.
Menurutnya, pihaknya tidak menjamin jika Malaysia bisa santun lagi. Sebab, pihaknya merasa terpanggil untuk memperjuangkan wibawa bangsa Indonesia ini.
"Mereka telah menginjak-injak martabat bangsa Indonesia ini. Maka, kami akan mengikuti jejak Presiden RI Pertama Soekarno, dengan "ganyang Malaysia," tegasnya. [beritajatim.com/bar]

Tempuh Jalur Diplomasi, Indonesia Bukan lemah

INILAH.COM, Nusa Dua, Bali - Menteri Luar Negeri (Menlu), Marty Natalegawa menepis anggapan sementara kalangan di dalam negeri bahwa menempuh jalur diplomasi formal untuk mengentaskan perselisihan dengan Malaysia adalah kelemahan.

INILAH.COM

"Jangan dicampuradukkan seolah dengan menempuh diplomasi itu kita lemah, justru itu menunjukkan kekuatan kita dengan argumentasi yang kuat," katanya di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/8).
Pada situasi saat ini, ia mengatakan, Indonesia-Malaysia memerlukan kebersamaan sehingga semua pihak merasakan hal sama, atau tidak ada perbedaan sama sekali. Akan tetapi, lanjut dia, semua itu harus dikanalisasi menjadi energi positif.
Thailand, kata dia, menyatakan secara terbuka peran Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan, juga Singapura beberapa hari lalu seusia penandatanganan naskah ratifikasi pertukaran tersangka pelanggar hukum. "Diplomasi bukan bentuk kelemahan, justru kekuatan argumentasi kita. Perbedaan pandangan lumrah, tapi jangan diwujudkan dengan cara yang tidak bersahabat," imbuh Marty.
Dia menjelaskan beberapa langkah yang dibebankan negara kepada kementerian yang dia pimpin. Agenda perundingan di Kota Kinabalu, Negara Bagian Sabah, Malaysia, pada 6 September nanti akan membahas masalah perbatasan kedua negara.
Sudah jadi ketetapan pemerintahan Indonesia bahwa masalah ini dimajukan perundingannya alias dipercepat, dan ditegaskan tahapan perundingannya. "Akan tetapi harap diingat, perundingan perbatasan tidak akan cepat, dengan Vietnam saja memerlukan 32 tahun. Kita selalu siap," tegas Marty.
Menurut dia, diplomasi di semua jajaran susah berjalan dan bukan cuma dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri saja. Menyinggung cara mewujudkan kedaulatan memakai asas effective occupation sebagaimana preseden peralihan kepemilikan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan kepada Malaysia pada 2004, dia menyatakan hal itu juga menjadi satu catatan penting. [jib]

Golkar Terpesona Pidato SBY -


INILAH.COM

INILAH.COM, Jakarta - Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengatakan fraksi Golkar batal mengusung hak interpelasi setelah menyimak pidato Presiden.
"Setelah menimang pidato Presiden dan setelah kami diskusikan panjang lebar dengan ketua fraksi, kami akhirnya berada pada sebuah kesimpulan fraksi bahwa Golkar berencana untuk mengurungkan niat untuk menggulirkan hak interpelasi di DPR," ujar Priyo usai menghadiri sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (2/9).
Sebelumya, usai buka puasa bersama di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9), Presiden menyampaikan pidato mengenai sikap pemerintah terkait hubungan RI-Malaysia. Presiden menekankan bahwa pemerintah memilih jalan diplomasi untuk menyelesaikan perselisihan itu. Yaitu, mempercepat perundingan mengenai wilayah perbatasan dengan Malaysia.
Menurutnya, Presiden menyampaikan pidatonya dengan mimik muka serius. Presiden juga cukup lugas ketika berbicara kepentingan nasional. Ia juga tidak mau kompromi menyangkut masalah kedaulatan negara.
Namun, menurut Priyo yang juga Wakil Ketua DPR itu, Golkar masih menunggu respons pihak Malaysia terhadap pidato Presiden yang mengajak merundingkan batas wilayah dua negara itu. "Hari-hari ini kami menunggu respons Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak," kata Priyo.
Kendati demikian, interpelasi itu belum benar-benar tertutup. "Kalau ternyata menteri-menteri kita masih lamban menerjemahkan pidato Presiden, bisa saja nanti akan ada langkah-langkah, Insya Allah konkret," tegas Priyo. [TJ]

Pidato Presiden "Tampar" Petinggi TNI

KOMPAS.com



JAKARTA, KOMPAS.com — Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Markas Besar TNI di Cilangkap, Rabu (1/9/2010), terkait insiden penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh Polisi Diraja Malaysia, dikatakan seperti menampar wajah petinggi TNI.
Pasalnya, pidato yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut dinilai menunjukkan sikap Indonesia yang tak tegas. Pernyataan tak tegas Presiden, yang juga panglima tertinggi TNI, kontras dengan pemilihan tempat Markas TNI Cilangkap yang identik dengan ketegasan dan cerminan kekuatan.
"Pernyataan ini menampar petinggi-petinggi TNI sendiri bahwa lembeknya kepemimpinan politik di Indonesia menunjukkan lembeknya tentara Indonesia," kata pengamat militer dari Propatria Institute Hari Prihartono ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (2/9/2010). Hari mengibaratkan pidato Presiden seperti pernyataan seorang kepala keluarga yang memilih berdamai setelah para anggota keluarganya disiksa dan dilukai orang lain.
"Dan hal ini disampaikannya di tengah keluarga besarnya. Inilah konyolnya pilihan sikap SBY semalam. Makanya, banyak perwira TNI yang semalam shocked," kata Hari.
Secara bergurau, Hari mengatakan, Presiden mungkin keliru menilai bahwa Mabes TNI itu Kementerian Luar Negeri. Pasalnya, apa yang disampaikan semalam juga tak sinkron dengan identitasnya sebagai Panglima Tertinggi TNI.
"Pemimpinnya mantan tentara, yang kemudian berbicaranya mendayu-dayu seperti melantunkan lagu, kau yang memulai/ kau yang mengakhiri," sambung Hari.
Seperti diwartakan, ketika berpidato kemarin, Presiden di antaranya menegaskan bahwa kedaulatan negara dan keutuhan wilayah adalah kepentingan nasional yang sangat vital. Ditekankan Presiden bahwa pemerintah sangat memahami kepentingan itu dan bekerja sungguh-sungguh untuk menjaga dan menegakkannya.
"Namun, tidak semua permasalahan yang muncul dalam hubungan dengan negara sahabat terkait dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah," katanya.

Menggugat Pidato Pak Beye - Untuk Renungan

ROSO DARAS



Berpidato di Cilangkap, markasnya Tentara Nasional Indonesia… saya (mungkin juga Anda) mengira Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (pak Beye) akan bersikap keras dan tegas kepada Malaysia. Berharap pak Beye beridato mengobarkan perang, jelas mimpi di siang bolong. Jadi, harapan dia akan berpidato keras saja sebenarnya agak berlebihan.

Benar saja! Dengan intonasi dan gaya berpidato yang sudah cenderung membosankan itu, nyatanya memang sangat mengecewakan saya (mungkin juga Anda). Alih-alih memaklumatkan perang, bahkan untuk sekadar bersikap keras seperti laiknya seorang kepala negara yang kedaulatannya diinjak-injak negara lain pun… tidak terjadi.

Ini sebagian pidatonya:

Pertama, Indonesia dan Malaysia mempunyai hubungan sejarah, budaya dan kekerabatan yang sangat erat – dan mungkin yang paling erat dibanding negara-negara lain, dan sudah terjalin selama ratusan tahun. Kita mempunyai tanggung jawab sejarah, untuk memelihara dan melanjutkan tali persaudaraan ini.

Kedua, hubungan Indonesia dan Malaysia adalah pilar penting dalam keluarga besar ASEAN. ASEAN bisa tumbuh pesat selama empat dekade terakhir ini, antara lain karena kokohnya pondasi hubungan bilateral Indonesia – Malaysia.

Ketiga, ada sekitar (2) juta saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia – di perusahaan, di pertanian, dan di berbagai lapangan pekerjaan. Ini adalah jumlah tenaga kerja Indonesia yang terbesar di luar negeri. Tentu saja keberadaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia membawa keuntungan bersama, baik bagi Indonesia maupun Malaysia.


Sementara itu, sekitar 13,000 pelajar dan mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia, dan 6,000 mahasiswa Malaysia belajar di Indonesia. Ini merupakan asset bangsa yang harus terus kita bina bersama, dan juga modal kemitraan di masa depan.

Wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia adalah ketiga terbesar dengan jumlah 1,18 juta orang, dari total 6,3 juta wisatawan mancanegara.

Investasi Malaysia di Indonesia 5 tahun terakhir (2005-2009) adalah 285 proyek investasi, berjumlah US$ 1.2 miliar, dan investasi Indonesia di Malaysia berjumlah US$ 534 juta. Jumlah perdagangan kedua negara telah mencapai US$ 11,4 Miliar pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia – Malaysia sungguh kuat.

Baiklah saya berkomentar atas point-point yang disampaikan pak Beye.

Pertama, Indonesia dan Malaysia memang mempunyai hubungan sejarah. Sejarah yang kelam yang diawali dengan pembentukan negara boneka Malaysia oleh Inggris (Britishmade Malaysia). Proyek Malaysia dirancang oleh Perdana Menteri Inggris Harold McMilan dan Perdana Menteri Malaysia Tungku Abdul Rahman, dalam perundingan di London pada akhir Oktober 1961 dan dilanjutkan pad bulan Juli 1962.
Agreement antara Malaysia – Filipina – Indonesia juga menjadi sejarah yang tidak boleh dilupakan. Betapa Inggris dan Malaysia telah melanggar kesepakatan itu secara sepihak dengan langsung mendirikan negara boneka Malaysia. Sejak itu, berbagai pelanggaran kedaulatan negara telah dilakukan Malaysia dengan sekutunya. Berdasar data dokumen yang disusun Kempen dalam risalah Why Indonesia opposes Britishmade “Malaysia”, tahun 63 terjadi 20 pelanggaran wilayah udara dan 21 kali pelanggaran darat. Tahun 1964 Malaysia kembali melakukan 56 kali pelanggaran wilayah udara dan 14 kali melanggar wilayah darat. Atas tindakan amoral Malaysia, kita berhasil menembak jatuh dua pesawat mereka di Lundu dan Apeng, Kalimantan Barat.

Itulah sebagian sejarah masa lalu hubungan kedua negara sejak negara boneka itu dibentuk hingga hari ini. Kutipan pak Beye mengenai sejarah ratusan tahun, menjadi ironi. Sebab ketika itu Malaysia sebagai negara boneka belum ada, Indonesia sebagai republik juga belum lahir. Yang ada adalah hubungan mesra antardua penjajah, Belanda dan Inggris. Itukah yang dimaksud pak Beye sejarah ratusan tahun antara Malaysia dan Indonesia? Jika menengok kembali ke belakang, ke zaman Majahapit (jika itu kita klaim sebagai Indonesia), justru Malaysia itu wilayah kita. Sejarah mana yang mau diangkat pak Beye untuk menutupi “ketakutan”nya kepada negeri jiran yang congkak itu?

Kedua, pak Beye mengangkat isu ASEAN. Seolah-olah, kokohnya hubungan Indonesia – Malaysia sebagai pilar penting bertahannya ASEAN. Kalau mengutip Bung Karno, persetan dengan ASEAN kalau di dalamnya terdapat negara yang punya hobby melanggar kedaulatan negara kita. Jangankan ASEAN, bahkan Bung Karno membawa keluar Indonesia dari PBB jika wadah bangsa-bangsa itu tidak mengakomodir hak-hak kita sebagai bangsa dan negara.

Berhimpun dalam wadah organisasi bangsa-bangsa, seyogianya diletakkan dalam pemahaman untuk menjalin hubungan yang menguntungkan secara ekonomi, dan bermartabat secara politik. Kita tidak boleh menjadikan alasan ASEAN sebagai pembenar anggotanya melanggar kedaulatan anggota yang lain.

Ketiga, pak Beye menjadikan dua juta TKI/TKW kita yang ada di Malaysia sebagai pembenar atas sikapnya yang tidak tegas. Padahal, pak Beye sudah tahu, bahwa eksistensi para TKI kita di sana, juga sejatinya menguntungkan Malaysia. Itu artinya, jika dua juta TKI kita tarik pulang, tentu akan berdampak merugikan pada berbagai sektor yang ada di negara itu. Seharusnya, menjadi tugas Kementerian Tenaga Kerja RI untuk menarik dua juta TKI itu dan menyalurkannya ke negara lain yang membutuhkan.

Untuk apa menyalurkan TKI ke Malaysia (yang diakui sudah membantu Malaysia), jika kemudian kita dibalas dengan pelanggaran kedaulatan negara secara semena-mena. Untuk apa mengirim TKI ke Malaysia jika hal itu hanya untuk memperlancar lidah bangsa Malaysia mengucap “indon” kepada bangsa kita. Untuk apa semua devisa yang kita dapat dari TKI kita di Malaysia jika harus kita bayar begitu mahal dengan harga diri kita sebagai bangsa? Bangsa yang jauh lebih banyak penduduknya. Bangsa yang jauh lebih luas wilayahnya. Bangsa yang jauh lebih banyak kekayaan alamnya. Bangsa yang punya sejarah merdeka karena tetesan darah pahlawannya.

Alasan dan sikap yang sama bagi para pelajar kita di sana, dan para pelajar Malaysia di sini. Pelajar Malaysia bisa berpindah ke negara lain, seperti halnya pelajar Indonesia tidak harus belajar di Malaysia. So what pak Beye?

Data-data lain yang pak Beye sajikan, ihwal kunjungan wisatawan dan investasi. Dengan mudah diklaim pak Beye sebagai sebuah jalinan hubungan yang sangat kuat. Apakah pak Beye mau mengatakan bahwa kalau tidak ada wisatawan Malaysia datang ke Indonesia maka Indonesia akan terpuruk? Apakah pak Beye mau mengatakan bahwa kalau tidak ada investasi Malaysia di Indonesia maka kita akan terpuruk? Apakah pak Beye mau mengatakan bahwa kalau tidak ada perdagangan kedua negara, maka Indonesia akan bangkrut?

Pak Beye, sekadar info saja, barangkali belum pernah membaca sejarah ini…. Ini tentang mengapa Bung Karno begitu dicintai rakyatnya. Salah satunya karena Bung Karno selalu menempelkan telinganya ke perut buminya rakyat, sehingga ia tahu betul apa yang ada dalam hati rakyatnya, untuk kemudian ia suarakan kepada dunia. Bisakah Anda? (roso daras)
-

Pidato bung karno "gayang malaysia"