Showing posts with label roso daras. Show all posts
Showing posts with label roso daras. Show all posts

Arsip - Wafatnya Sukarnois Sejati… Omar Dhani

Serba Serbi Dunia Kita

Jumat, 24 Juli 2009 siang, mantan Menteri/KSAU Omar Dhani meninggal dunia di RS Angkatan Udara, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, dalam usia 85 tahun. Untuk mengenang seorang Sukarnois sejati, saya kutip sebagian wawancara Omar Dhani dengan Tempo berikut ini.
Omar Dhani
Buku “Pergunakanlah Hati, Tangan dan Pikiranku: Pledoi Omar Dani” adalah satu dari sekitar seratus buku tentang G30S. Jelas buku ini penting karena ditulis oleh salah satu pelaku utama. Setelah dibungkam selama 29 tahun, baru kali ini bekas pucuk pimpinan Angkatan Udara itu bicara. Ia baru dibebaskan dari penjara Cipinang tahun 1995 — fotonya baru belakangan ini dipajang di Markas besar AU sebagai KSAU kedua.
Daned, begitu ia disapa, lahir di Solo pada 1924. Putra KRT Reksonegoro, Asisten Wedana Gondangwinangun, Klaten, menapaki karir penerbang pada akhir 1950 di Taloa, Amerika Serikat. Tahun 1956 ia bertugas belajar di Royal Air Force Staff College di Andover, Inggris. Pulang dari Inggris, ia terlibat berbagai tugas, misalnya menumpas pemberontakan PRRI di Sumatera. Dan belum genap 38 tahun, pada 19 Januari 1962, Omar Dani menjadi Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara menggantikan Laksamana Udara Surjadi Suryadarma. Peristiwa G-30-S seperti menjungkirbalikkan karirnya yang cemerlang, ia dituduh terlibat.
Dua hari setelah merayakan ulang tahun yang ke-77, bapak lima anak ini menerima tim redaksi TEMPO. Wawancara berlangsung di rumahnya, di kawasan Kebayoran Baru yang asri, ia didampingi oleh A. Andoko, bekas deputi Men/Pangau bidang logistik. Berikut petikannya:
Bisa Anda ceritakan situasi pada tanggal 30 September 1965?
Tanggal 30 September 1965, sore jam 16.00, laporan pertama masuk dari Letkol Udara Heru Atmodjo, Asisten Direktur Intel AURI, bahwa ada gerakan di lingkungan AD yang akan menjemput jendral AD untuk dihadapkan kepada Bung Karno. Itu reaksi dari para perwira muda AD yang tidak puas terhadap keadaan AD. Lalu saya minta dia untuk mengecek kebenarannya. Kemudian jam 20.00 malam dia datang lagi.
Apa yang disampaikan Heru Atmodjo?
Saya tanya jam berapa operasi akan dilakukan. Heru menjawab (operasi bisa terjadi) jam 23.00 (30 September), bisa 01.00 atau jam 04.00 (1 Oktober 1965). Kami heran, sudah kurang 24 jam kok (operasi) itu belum dipastikan jamnya. Kemudian ada yang menanyakan daftar yang akan diculik. Disebutkan, A. Yani, Nasution, DI Panjaitan dan seterusnya. Saya pribadi berpendapat, kalau orang hendak melakukan pemberontakan, pantasnya targetnya adalah jenderal yang memegang komando, misalnya, Yani (Menpangad), Soeharto (Pangkostrad), Sarwo Edie (Komandan RPKAD), Umar Wirahadikusumah (Pangdam Jaya). Lha Nasution kan nggak pegang komando. Saya pribadi tambah merasa aneh karena Nasution dan A. Yani dalam satu paket sasaran, padahal keduanya bertentangan terus.
Apa pertimbangan di balik keluarnya perintah harian Menpang/KSAU pada tanggal 1 Oktober 1965?
(Andoko menjawab pertanyaan ini: Ada tiga macam pengumuman waktu itu. Pertama surat perintah harian tadi, lalu kedua pada tanggal 2 Oktober 1965 jam 14.00, saya yang buat. Pada saat itu Menpangau berada di Lanud Iswahyudi, Madiun. Beliau juga membuat konsep kelanjutan dari pengumuman pertama. Kalau dibaca keduanya sama isinya: menolak adanya Dewan Revolusi. Omar Dani dari Madiun langsung kembali ke Bogor, ketemu Bung Karno, dan menunjukkan pengumuman itu. Tanggal 3 pagi dinihari baru diumumkan).
Saya membuat statement, isinya mendukung gerakan yang antirevolusioner, atas saran Heru Atmodjo. Katanya agar rakyat tahu. Kebodohan saya mungkin, karena saya kurang ngerti politik. Tahu-tahu paginya, sekitar jam 07.00 pada 1 Oktober 1965, ada siaran dari RRI tentang gerakan yang menamakan diri G-30 S. Dan tiba-tiba Presiden Sukarno mau pulang ke istana pun tak bisa. Yang menjaganya pasukan yang ditakuti, pasukan yang tak diketahui.
Kenapa Bapak membuat pernyataan seperti itu?
Karena semalam sebelumnya, intel AURI melaporkan bahwa malam itu ada gerakan dari perwira-perwira muda AD terhadap atasannya yang didukung seluruh bawahan dan sipil dari empat angkatan. Lho untuk apa? Ternyata akan menculik jenderal-jenderal.
Bagaimana awalnya Bung Karno berada di Halim hari itu?
Pagi itu saya sedang ada di Halim Perdanakusuma, tahu-tahu Letkol Soeparto, sopir dan ajudan BK menelpon saya. Dia menelepon dari rumah saya, Wisma Angkasa. Saya bertanya, Mas lha ini ada apa. Sudahlah nanti saya ceritakan, Bapak (Bung Karno) saya bawa ke Halim, jawabnya. Saya menawarkan diri untuk menjemput, dia bilang nggak usah. Saya nggak tahu kalau dia berada di Wisma Angkasa. Terus dia kembali ke BK, lalu BK pergi ke Halim. Jadi saya nggak minta BK datang ke Halim tetapi itu merupakan keputusan BK sendiri. Kemudian, karena BK hendak datang ke Halim, saya lantas mencoba menyetop pernyataan saya yang sudah terkirim ke Markas Besar AU. Begitu BK datang, di Halim kami mengobrol. Tak lama, datang Brigjen Soepardjo, datang sendiri menghadap BK. Lha, saya tahu Brigjen Soepardjo itu salah satu orang yang mengetahui dari gerakan dalam AD tersebut. Walaupun dia lain angkatan, dia itu anak buah saya di Komando Mandala Siaga.
Soeharto dikabarkan menolak menghadap BK pada 1-4 Oktober 1965?
(Terdiam sesaat) Kalau Harto dipanggil nggak datang itu bukan keanehan lagi. Itu artinya menentang atasan, apalagi atas perintah Panglima Tertinggi. Ini artinya subordinasi. Kalau dipanggil Pangti harus datang, apapun situasinya. Jawaban Harto waktu itu karena AD sudah kehilangan banyak jenderal, jadi dia nggak mau mengambil risiko lagi. Tetapi saya pikir tetap nggak boleh. Kalau A. Yani meninggal, katanya dia terus hendak mengambil alih Panglima AD juga, padahal tidak bisa dilakukan begitu saja.
Banyak analisa yang menyebutkan bahwa Soeharto terlibat dalam G-30 September?
Kilas baliknya lebih kentara lagi. Misalnya Komando Siaga Mandala, wadahnya Koti (Komando Tertinggi). Dalam hirarki kemiliteran, waktu A Yani dijadikan Menpangad, Nasution itu sebenarnya pingin menjadi Menhankam/Pangad. Tetapi saya tahu maksudnya dia ingin berkuasa di AD. Itu sudah saya lihat gelagatnya sedari 1945. Jadi kita tahu misalnya di AURI ada peristiwa-peristiwa pengganjalan. Peristiwa Soejono 1955 di Halim Perdanakusuma, Pak Suryadarma (Panglima AU pertama) diganjal terus ketika hendak dibentuk Wakil KSAU.
Para jenderal dikorbankan oleh siapa?
Dua orang. Soeharto dan Nasution. Itu sudah ada rekayasa. Kok tahu-tahu muncul istilah G-30S/PKI. Sejak kapan kok terus PKI disangkutkan? Buktinya apa? Heru Atmodjo, Soejono, nggak pernah menandatangani pernyataan Dewan Revolusi. Ketika Letkol Untung jadi saksi dalam persidangan Soepardjo, hakim menanyakan siapa yang memimpin aksi G-30S, Untung langsung menyahut: saya. Keanehan yang lain soal pengumuman Dewan Revolusi 1 Oktober, bahwa pangkat di atas Letnan Kolonel harus dicopot menjadi Letkol. Brigjen Soepardjo, waktu 1 Oktober 1965 pergi ke Halim menghadap BK, memakai pangkat Brigjen.
PKI dikorbankan juga?
Oh, iya. Gambaran seperti pesta-pesta di Lubang Buaya itu isapan jempol. Kalau memang ada rekamannya, mengapa nggak dibuat film khusus dokumenter dan diputar. Itu semua rekayasa. Saya mempertanyakan, mulai kapan kok ada istilah G-30-S diembeli dengan PKI ? Tanggal 1 Oktober 1965 petang, saya sudah mendapat informasi bahwa AD menguber PKI. Itu pun yang diuber bukannya massa, tapi pasukan 454 dari Jawa Tengah. Mereka pada jam 16.00 hendak masuk ke Halim tetapi ditutup oleh Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI yang dipimpim Pak Wisnu Djajengminardo. Bung Karno ada di Halim waktu itu.
Soal dokumen Gilchrist, sejauhmana otentitasnya?
Desas-desus Dewan Jenderal sudah lama kami mendengarnya. Tidak hanya itu, (juga soal) penilaian pers luar negeri (mengenai siapa) yang akan menjadi pengganti Bung Karno. Yang steady itu empat orang. Soebandrio, Chaerul Saleh, Nasution dan DN Aidit. Dewan Jenderal (terdengar) pertama kali ketika Yani menghadap Bung Karno dan ditanyai soal itu. Yani menjelaskan (Dewan Jendral itu) untuk kepangkatan. Waktu itu saya tidak mendengar langsung melainkan dari Pak Mulyono Herlambang yang mewakili saya. Jadi, saat pembahasan Gilchrist tersebut saya tidak ada di tempat.
Dalam buku Soebandrio yang tidak jadi beredar, ada soal trio Soeharto-Ali Moertopo-Yoga Soegama yang disebut Dokumen Gilchrist sebagai our local army friends. Bagaimana pendapat Anda?
Bahwa G-30-S itu suatu rekayasa, memang begitulah. Menurut saya CIA itu sangat terlibat, dan Harto adalah tangan yang dipakai. G-30 S itu bikinan Harto.
Anda loyalis Sukarno ya?
Oh, ya. Saya Sukarnois. Saya bukan komunis. Tetapi saya juga tidak antikomunis. Kenapa? Karena kalau saya anti komunis itu berarti saya bukan demokrat. Kalau ada PKI memberontak terhadap pemerintah, lha saya akan menghantamnya.
Apa kegiatan yang rutin tiap hari saat ini?
Ngobrol-ngobrol, baca-baca buku. Yang dulu-dulu saya baca tetapi belum sempat dibaca karena ditahan, sekarang saatnya. Misalnya Di Bawah Bendera Revolusi saya sudah punya satu set. Juga Indonesia Menggugat. Yang saya cari sekarang pidato Bung Karno di forum PBB. Saya tidak pernah membaca buku-bukunya Harto, pun buku Nasution. Karena saya sudah tahu dan bergaul dengan mereka. Saya tidak menilai orang dari apa yang dikatakan tetapi dari tindakan. Dari karakternya.

rosodaras.wordpress.com

Menggugat Pidato Pak Beye - Untuk Renungan

ROSO DARAS



Berpidato di Cilangkap, markasnya Tentara Nasional Indonesia… saya (mungkin juga Anda) mengira Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (pak Beye) akan bersikap keras dan tegas kepada Malaysia. Berharap pak Beye beridato mengobarkan perang, jelas mimpi di siang bolong. Jadi, harapan dia akan berpidato keras saja sebenarnya agak berlebihan.

Benar saja! Dengan intonasi dan gaya berpidato yang sudah cenderung membosankan itu, nyatanya memang sangat mengecewakan saya (mungkin juga Anda). Alih-alih memaklumatkan perang, bahkan untuk sekadar bersikap keras seperti laiknya seorang kepala negara yang kedaulatannya diinjak-injak negara lain pun… tidak terjadi.

Ini sebagian pidatonya:

Pertama, Indonesia dan Malaysia mempunyai hubungan sejarah, budaya dan kekerabatan yang sangat erat – dan mungkin yang paling erat dibanding negara-negara lain, dan sudah terjalin selama ratusan tahun. Kita mempunyai tanggung jawab sejarah, untuk memelihara dan melanjutkan tali persaudaraan ini.

Kedua, hubungan Indonesia dan Malaysia adalah pilar penting dalam keluarga besar ASEAN. ASEAN bisa tumbuh pesat selama empat dekade terakhir ini, antara lain karena kokohnya pondasi hubungan bilateral Indonesia – Malaysia.

Ketiga, ada sekitar (2) juta saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia – di perusahaan, di pertanian, dan di berbagai lapangan pekerjaan. Ini adalah jumlah tenaga kerja Indonesia yang terbesar di luar negeri. Tentu saja keberadaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia membawa keuntungan bersama, baik bagi Indonesia maupun Malaysia.


Sementara itu, sekitar 13,000 pelajar dan mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia, dan 6,000 mahasiswa Malaysia belajar di Indonesia. Ini merupakan asset bangsa yang harus terus kita bina bersama, dan juga modal kemitraan di masa depan.

Wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia adalah ketiga terbesar dengan jumlah 1,18 juta orang, dari total 6,3 juta wisatawan mancanegara.

Investasi Malaysia di Indonesia 5 tahun terakhir (2005-2009) adalah 285 proyek investasi, berjumlah US$ 1.2 miliar, dan investasi Indonesia di Malaysia berjumlah US$ 534 juta. Jumlah perdagangan kedua negara telah mencapai US$ 11,4 Miliar pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia – Malaysia sungguh kuat.

Baiklah saya berkomentar atas point-point yang disampaikan pak Beye.

Pertama, Indonesia dan Malaysia memang mempunyai hubungan sejarah. Sejarah yang kelam yang diawali dengan pembentukan negara boneka Malaysia oleh Inggris (Britishmade Malaysia). Proyek Malaysia dirancang oleh Perdana Menteri Inggris Harold McMilan dan Perdana Menteri Malaysia Tungku Abdul Rahman, dalam perundingan di London pada akhir Oktober 1961 dan dilanjutkan pad bulan Juli 1962.
Agreement antara Malaysia – Filipina – Indonesia juga menjadi sejarah yang tidak boleh dilupakan. Betapa Inggris dan Malaysia telah melanggar kesepakatan itu secara sepihak dengan langsung mendirikan negara boneka Malaysia. Sejak itu, berbagai pelanggaran kedaulatan negara telah dilakukan Malaysia dengan sekutunya. Berdasar data dokumen yang disusun Kempen dalam risalah Why Indonesia opposes Britishmade “Malaysia”, tahun 63 terjadi 20 pelanggaran wilayah udara dan 21 kali pelanggaran darat. Tahun 1964 Malaysia kembali melakukan 56 kali pelanggaran wilayah udara dan 14 kali melanggar wilayah darat. Atas tindakan amoral Malaysia, kita berhasil menembak jatuh dua pesawat mereka di Lundu dan Apeng, Kalimantan Barat.

Itulah sebagian sejarah masa lalu hubungan kedua negara sejak negara boneka itu dibentuk hingga hari ini. Kutipan pak Beye mengenai sejarah ratusan tahun, menjadi ironi. Sebab ketika itu Malaysia sebagai negara boneka belum ada, Indonesia sebagai republik juga belum lahir. Yang ada adalah hubungan mesra antardua penjajah, Belanda dan Inggris. Itukah yang dimaksud pak Beye sejarah ratusan tahun antara Malaysia dan Indonesia? Jika menengok kembali ke belakang, ke zaman Majahapit (jika itu kita klaim sebagai Indonesia), justru Malaysia itu wilayah kita. Sejarah mana yang mau diangkat pak Beye untuk menutupi “ketakutan”nya kepada negeri jiran yang congkak itu?

Kedua, pak Beye mengangkat isu ASEAN. Seolah-olah, kokohnya hubungan Indonesia – Malaysia sebagai pilar penting bertahannya ASEAN. Kalau mengutip Bung Karno, persetan dengan ASEAN kalau di dalamnya terdapat negara yang punya hobby melanggar kedaulatan negara kita. Jangankan ASEAN, bahkan Bung Karno membawa keluar Indonesia dari PBB jika wadah bangsa-bangsa itu tidak mengakomodir hak-hak kita sebagai bangsa dan negara.

Berhimpun dalam wadah organisasi bangsa-bangsa, seyogianya diletakkan dalam pemahaman untuk menjalin hubungan yang menguntungkan secara ekonomi, dan bermartabat secara politik. Kita tidak boleh menjadikan alasan ASEAN sebagai pembenar anggotanya melanggar kedaulatan anggota yang lain.

Ketiga, pak Beye menjadikan dua juta TKI/TKW kita yang ada di Malaysia sebagai pembenar atas sikapnya yang tidak tegas. Padahal, pak Beye sudah tahu, bahwa eksistensi para TKI kita di sana, juga sejatinya menguntungkan Malaysia. Itu artinya, jika dua juta TKI kita tarik pulang, tentu akan berdampak merugikan pada berbagai sektor yang ada di negara itu. Seharusnya, menjadi tugas Kementerian Tenaga Kerja RI untuk menarik dua juta TKI itu dan menyalurkannya ke negara lain yang membutuhkan.

Untuk apa menyalurkan TKI ke Malaysia (yang diakui sudah membantu Malaysia), jika kemudian kita dibalas dengan pelanggaran kedaulatan negara secara semena-mena. Untuk apa mengirim TKI ke Malaysia jika hal itu hanya untuk memperlancar lidah bangsa Malaysia mengucap “indon” kepada bangsa kita. Untuk apa semua devisa yang kita dapat dari TKI kita di Malaysia jika harus kita bayar begitu mahal dengan harga diri kita sebagai bangsa? Bangsa yang jauh lebih banyak penduduknya. Bangsa yang jauh lebih luas wilayahnya. Bangsa yang jauh lebih banyak kekayaan alamnya. Bangsa yang punya sejarah merdeka karena tetesan darah pahlawannya.

Alasan dan sikap yang sama bagi para pelajar kita di sana, dan para pelajar Malaysia di sini. Pelajar Malaysia bisa berpindah ke negara lain, seperti halnya pelajar Indonesia tidak harus belajar di Malaysia. So what pak Beye?

Data-data lain yang pak Beye sajikan, ihwal kunjungan wisatawan dan investasi. Dengan mudah diklaim pak Beye sebagai sebuah jalinan hubungan yang sangat kuat. Apakah pak Beye mau mengatakan bahwa kalau tidak ada wisatawan Malaysia datang ke Indonesia maka Indonesia akan terpuruk? Apakah pak Beye mau mengatakan bahwa kalau tidak ada investasi Malaysia di Indonesia maka kita akan terpuruk? Apakah pak Beye mau mengatakan bahwa kalau tidak ada perdagangan kedua negara, maka Indonesia akan bangkrut?

Pak Beye, sekadar info saja, barangkali belum pernah membaca sejarah ini…. Ini tentang mengapa Bung Karno begitu dicintai rakyatnya. Salah satunya karena Bung Karno selalu menempelkan telinganya ke perut buminya rakyat, sehingga ia tahu betul apa yang ada dalam hati rakyatnya, untuk kemudian ia suarakan kepada dunia. Bisakah Anda? (roso daras)
-

Malaysia, Negeri dengan Kutukan sebagai Pelanggar Batas Wilayah

ROSO DARAS



Setiap kali hubungan RI – Malaysia memanas, laksana sekam, bara itu langsung berkobar dan membakar semangat heroisme bangsa kita untuk mengganjang negara tetangga itu. Sekalipun hati ikut terbakar emosi, tetapi blog ini berusaha menyajikan postingan yang adem-adem saja. Misalnya tentang bagaimana cara Bung Karno berdoa, atau riwayat singkat Bung Karno dalam peringatan Nuzulul Qur’an.
Apa daya, satu-dua teman terus saja mengusik dinginnya hati orang berpuasa. Mereka terus dan terus mengajak berdiskusi dengan berapi-api tentang “ulah” negeri tetangga itu. Segan rasanya meladeninya. Selain bicara dengan nada tinggi cukup menguras energi (makin membuat lapar), salah-salah bicara tinggi bisa menggelincirkan kita ke jurang amarah. Dan sejatinya, marah adalah istananya setan.
Pancingan bergunjing soal ketegangan hubungan Indonesia – Malaysia baru bisa saya redam, ketika meluncur sebuah janji, “Begini saja… coba nanti saya buka-buka catatan sejarah, siapa tahu ada informasi yang bisa memuaskan dahaga teman-teman sekalian dalam menyikapi situasi panas ini.”
Alhasil, inilah sepenggal sejarah yang berhasil saya temukan.

… saya pun mulai menuliskannya sebagai berikut:
“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” (Jasmerah), adalah petuah Bung Karno yang everlasting. Saat mengungkap ihwal Jasmerah pada pidato 17 Agustus 1966, Bung Karno bahkan harus berulang-ulang memberi tekanan ihwal pentingnya sejarah. Sampai-sampai Bung Karno menyebut sejarah sebagai hal terpenting yang harus dipelajari segenap anak bangsa.
Tahun ’20-an Bung Karno sudah mengemukakan kapan Indonesia merdeka (dan itu tepat sekali). Ia menolak disebut sebagai manusia yang memiliki kemampuan paranormal. “Itu karena saya belajar sejarah!” sanggahnya.
Lantas apa hubungannya dengan judul posting di atas? Banyak sekali hubungannya. Salah satunya adalah kebenaran ucapan Bung Karno ihwal Jasmerah tadi. Berkat sejarah kita mengetahui bahwa Malaysia, sebagai negara bonekanya Inggris, adalah laksana sebuah negara yang ditakdirkan terlahir membawa kutukan sebagai pelanggar batas wilayah.
Fakta sejarah itu diungkap oleh Oei Tjoe Tat dalam memoarnya. Sebagai pembantu presiden yang pernah mendapat mandat khusus menjalankan “silent mission” saat kita berkonftrontasi dengan Malaysia, Oei menjadi tahu banyak ihwal Malaysia, baik sejarah pembentukannya maupun dalam aksi-aksi pelanggaran batas wilayah yang telah terpatri dalam sejarah.
Deretan panjang pelanggaran batas wilayah Indonesia oleh Inggris dan Malaysia bahkan terbukukan menjadi dokumen sejarah yang disusun oleh Kempen dalam risalah “Why Indonesia opposes Britishmade “Malaysia”, Jakarta, September 1964 halaman 76 – 100. Catatan itu menyebutkan, tTahun 1963, tercatat 20 kali pelanggaran udara dan 21 kali melanggar batas wilayah darat.
Nah, di sini beda dulu dan sekarang. Dulu, si durjana pelanggar batas itu kontan mendapat respon yang semestinya, sehingga tercatat dua pesawat mereka berhasil ditembak jatuh di sekitar Lundi dan Apeng, Kalimantan Barat. Pasukan kita di lapangan, tahu bahwa untuk menembak pelanggar kedaulatan negara tidak harus lapor atasan dulu….
Masih berdasar dokumen Kempen, tahun 1964 Inggris dengan boneka Malaysia-nya melakukan pelanggaran batas wilayah sebanyak 56 kali, sementara pelanggaran di darat 14 kali. Dan itu berbuntut terjadinya pertempuran sporadis dan mengakibatkan jatuh korban di kedua belah pihak. Bahkan atas insiden ini, Menhan Inggris, James Remsden melansir informasi kepada pers pada 22 April 1964. Ia mengatakan, sejak Desember 1963 pasukan Inggris dan Gurkha yang tewas 99 orang, dan pasukan Malaysia 50 orang.
Itu artinya, soal melanggar batas wilayah, “Britishmade Malaysia” memang ahlinya. Dari dulu sampai sekarang, tidak berubah, benar-benar seperti sebuah kutukan. Yang membedakan adalah sikap (pemerintah) kita! (roso daras)

Bung Karno - Hajar Cecunguk Malayan itu!

ROSO DARAS

Untuk urusan mengganyang Malaysia, memang baru Bung Karno ahlinya…. Semua dokumen yang ada di seputar tahun 1964 – 1966, pasca Bung Karno mengobarkan Dwikora (dua komando rakyat), menunjukkan bahwa satu langkah lagi, Malaysia hancur lebur oleh gempuran Indonesia yang didukung angkatan bersenjata dan para relawan. Relawan bukan saja yang datang dari rakyat Indonesia sendiri, tetapi juga dari rakyat Malaysia yang tidak sudi dengan taktik Inggris melanggengkan penjajahannya di negeri jiran itu.
Kobaran Dwikora, diteriakkan Bung Karno pada tanggal 27 Juli 1963. Sejak itu pula, semua elemen bangsa melakukan persiapan untuk berkonfrontasi dengan Malaysia. Malaysia di sini harus kita baca sebagai boneka Inggris. Artinya, yang hendak kita lawan adalah Inggris dan semua pasukan sepersemakmuran, seperti Australia, Selandia Baru, bahkan Gurkha, pasukan dengan anggota bangsa India yang dilatih oleh Inggris.
Pasukan Malaysia sendiri sama sekali tidak masuk dalam hitungan Bung Karno. Terlebih bahwa mereka tak lebih dari “bayi” prematur yang masih harus mencari kehangatan di balik ketiak Inggris, sang bidan yang melahirkannya melalui cara-cara licik, dan mengingkari kesepakatan Maphilindo dan PBB. Simak sebagian isi pidato Bung Karno sebagai berikut:
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
Terbayangkah kita suasana heroik ketika itu? Siapa orangnya yang tidak terbakar hatinya. Siapa orangnya yang tidak ingin berbondong-bondong dengan semangat baja merata-tanahkan negeri boneka bernama Malaysia itu. (roso daras)

Bung Karno - Singa Podium

Sumber : http://rosodaras.wordpress.com/2009/10/18/singa-podium/

Ekspresi Bung Karno
Ekspresi Bung Karno2
Ekspresi Bung Karno3
Ekspresi Bung Karno4
Ekspresi Bung Karno5
Ekspresi Bung Karno6
Fotografer majalah Life (Amerika) berhasil mengabadikan Bung Karno yang tengah berpidato. Ekspresi Bung Karno sebagai sang singa podium, begitu menonjol, hasil bidikan seorang fotografer senior. Hampir dapat dipastikan, si fotografer tidak akan bekerja keras menanti momen-momen penting buat melempar shoot demi shoot sehingga didapat aneka gambar yang ekspresif.
Mengapa begitu mudah menangkap gambar yang eye catching dari seorang Sukarno? Karena Bung Karno memang orator yang sadar posisi, sadar bentuk, sadar ekspresi. Ia menggunakan tangan, mimik, body language, dan properti apa saja yang bisa menunjang performanya sebagai sang orator.
Anda tentu masih ingat. Ketika ia masih sekolah di HBS Surabaya, tinggal kos di rumah HOS Cokroaminoto, hampir setiap hari ia tenggelam dalam berbagai literatur kelas dunia. Setelah menyerap intisarinya, ia suarakan dalam bentuk pidato yang berapi-api. Di mana ia berpidato? Di kamarnya yang pengap, lembab tak berjendela.
Ia berpidato di hadapan cermin. Ia mengulangi kata demi kata manakala dirasa ekspresi wajahnya tidak pas denga kalimat yang dilontarkan. Begitulah Bung Karno berlatih dan berlatih. Jangan dikira, kepiawaian berpidato Bung Karno hanya gift semata. Selain bakat dan anugerah Tuhan, Bung Karno adalah manusia yang sadar dengan kelebihannya, lalu mengasahnya menjadi lebih bermakna. (roso daras)