Showing posts with label menkes. Show all posts
Showing posts with label menkes. Show all posts

Pro-Kontra Kabinet Baru - NAMRU, Virus dan Kursi Menkes

23-10-2009



INILAH.COM, Jakarta – Keberadaan laboratorium kesehatan NAMRU-2 milik Angkatan Laut AS kembali mengemuka. Bukan karena pengembangan virus berbahaya, melainkan karena naiknya Endang Rahayu Sedyaningsih yang dikenal dekat dengan NAMRU sebagai Menteri Kesehatan.

Terpilihnya Endang sebagai Menteri Kesehatan menimbulkan tanda tanya bagi menteri kesehatan sebelumnya Siti Fadilah Supari. “Dia (Endang) adalah mantan pegawai NAMRU. Dia memang sekarang ini tidak mempunyai jabatan khusus sebagai peneliti biasa," ucapnya dalam wawancara di sebuah stasiun televisi.

Saat menjabat, Siti memang dikenal sangat vokal terhadap keberadaan lembaga yang secara lengkap bernama Naval Medica Research Unit 2 itu. Dia bahkan secara tegas meminta agar lembaga itu segera ditutup.

Dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR 2008 lalu, Departemen Luar Negeri, Departemen Kesehatan, dan Departemen Pertahanan dengan tegas menyatakan NAMRU-2 tidak memberikan manfaat bagi bangsa. Justru berpotensi membahayakan pertahanan negara.

Pada akhir rapat, sebagian besar anggota Komisi I DPR menyatakan kerja sama dengan lembaga itu tidak perlu dilanjutkan. Komisi I memberikan tiga pilihan kepada pemerintah. Dihentikan, dihentikan untuk dievaluasi kembali, atau dievaluasi dan dilanjutkan dengan memperjuangkan persyaratan dalam perjanjian baru.

Namun, hingga kini pemerintah belum mengumumkan secara resmi keputusan akhir tentang keberadaan NAMRU-2 dan staf asing yang sebelumnya diberi kekebalan diplomatik.

Apa yang membuat keberadaan laboratorium kesehatan milik Angkatan Laut milik AS ini dianggap ‘berbahaya’? Siti menyinyalir NAMRU melakukan hal-hal rahasia di tempat yang notabene merupakan aset Depkes.

Entah apa yang sebenarnya terjadi antara Siti dengan NAMRU. Yang jelas, NAMRU bukan barang baru. Lembaga ini bertugas meneliti penyakit menular dan penyakit tropis sejak 1968. Termasuk malaria, muntaber, AIDS, dan flu burung.

Dalam perbincangan dengan INILAH.COM, Presidium Medical Emergency Rescue Comittee (Mer-C) Joserizal Jurnalis menuding lembaga itu telah menciptakan sejumlah virus baru. Virus itu kemudian disebarkan secara massal di negara kita.

Sehingga dapat menimbulkan morbiditas (penyakit) dan mortalitas (kematian). Pada akhirnya, jika persoalan kesehatan di Indonesia sudah tak mampu diatasi, maka akan datang tawaran bantuan dari pihak luar.

Ia mencontohkan ketika masih bertugas sebagai dokter di puskesmas belasan tahun lalu. Saat itu, penyakit tuberkulosis (TB) masih menyerang sebatas paru-paru. Namun, kini penyakit TB sudah mengalami banyak varian dan menjadi penyakit non-paru, karena juga menyerang persendian.

“Penyakit itu kini bukan hanya mengenai orang miskin lagi. Tapi juga kelompok strata menengah. Ini menimbulkan kecacatan bagi si pengidap dan menyerang usia produktif. Sehingga tenaga pekerja muda bisa melemah,” paparnya.

Jurnalis secara tegas menyatakan bahwa permasalahan Departemen Kesehatan bukan sebatas persoalan kesehatan ibu dan anak, tapi juga keamanan negara. Sebab, pihak asing bisa menggunakan ‘senjata kesehatan’ demi menghancurkan sendi perekonomian Indonesia.

Pengamat intelijen Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Al Chaidar sepakat dengan hal itu. Menurut dia, setiap penetrasi sebuah negara pasti memiliki kepentingan yang sifatnya lethal (mematikan), sehingga negara itu bisa mengontrol negara yang disasarnya.

“Mustahil jika ada laboratorium kedokteran tanpa ada kepentingan politik di belakang itu. AS terkenal dengan kebijakan pengembangan persenjataan kimia dan biologi. Itu alat kontrol AS untuk mengontrol negara yang berpotensi bagi ekonomi AS,” paparnya.

Menurut dia, SBY harus lebih bijak dan jangan mau didikte AS. Sehingga, tidak terkesan memberi peluang bagi kepentingan kapitalistis. “Kalau Menkesnya sudah orang yang pro-AS, maka kita akan terus dimainkan dengan virus-virus yang bisa jadi produk imperialisme,” tegasnya.

Di sisi lain, pengamat intelijen Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN) Wawan Purwanto menilai keberadaan NAMRU tidak perlu dicurigai. Bahkan, justru menguntungkan negara. Dari kerja sama yang dilakukan, hasilnya bisa dibagi dua.

“Dari sampel (penelitian) itu tercipta obat dengan produk baru. Kita tidak perlu beli dengan mahal," ujarnya. Yang penting, lanjutnya, adalah pengawasan terhadap lembaga itu. “Bisa angkatan laut, bisa ke marinir, dan panglima TNI yang lakukan. Kalau kontrol bisa dilakukan dengan baik, ya bisa," imbuhnya.

Lalu, apa yang membuat pemerintah belum mengambil sikap atas keberadaan Namru? Yang jelas, Menkes baru memang berencana akan membuka kerja sama lagi dengan lembaga itu. [mdr]


Memangnya Amerika bisa nitip Menteri? Ah isu macam mana pula ini !


Inilah Kartun

Kalau Menkes Lama Nggak Ngomong lalau siapa dong kemarin yang nampak sewot di TV?


Inilah Kartun

Special - Kisah Audisi Menteri Dadakan, Endang Rahayu

Kamis, 22 Oktober 2009 - 12:16 wib
 
JAKARTA - Tak semua tahap audisi Menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II terekspos media. Buktinya, Endang Rahayu Sedyaningsih tiba-tiba diumumkan menjadi Meteri Kesehatan menggantikan Siti Fadilah Supari.
Endang pun mengaku tak menyangka akan dipanggil untuk mengikuti audisi. Dia bahkan sempat mengira telepon dari Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi pada Rabu 21 Oktober 2009, hanya dari orang iseng.

Ini dia kisah perjalanan singkat Endang menjadi pembantu SBY, seperti yang diungkapkannya saat ditemui di rumah pribadinya di Kompleks LIPI, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (22/10/2009).

Saya dikontak siang hari dan itu merupakan satu kejutan. Saat itu saya sedang rapat di Hotel Horison, Bekasi.

Saya ditelepon oleh seseorang yang nomornya tidak saya kenal, karena saya merasa bukan orang penting. Saya tidak tahu ternyata yang menelpon adalah Pak Sudi. Saya disuruh ke Cikeas untuk menjalani tes.

Saya sempat bertanya, ini serius apa salah sambung? Tapi Pak Sudi bilang ini serius. Saya langsung naik taksi karena saya sedang rapat. Supir saya tidak ada di tempat.

Saya sempat nyasar ke Cikeas karena baik saya maupun supir tidak pernah sebelumnya ke Cikeas.

Lalu saya menjalani tes dan tim dari RSPAD ternyata datang ke sana.

Berbeda dari audisi yang dilakukan para calon menteri lainnya, Endang pun tak langsung meluncur ke RSPAD usai wawancara. Dia menjalani tes kesehatan di kediaman pribadi Presiden SBY di Puri Cikes, Bogor, Jawa Barat. (lam)

Forum Indonesia Sehat Sesalkan SBY Tunduk pada AS

Kamis, 22 Oktober 2009 - 13:55 wib

JAKARTA - Kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan menuai protes dari Forum Indonesia Sehat.

Terpilihnya Endang disinyalir tak lepas dari intervensi para petinggi Amerika Serikat dan konglemerasi farmasi.

"SBY tidak mengindahkan keinginan masyarakat. Tapi lebih mendengar suara kelompok konglemerasi farmasi dan tekanan Amerika," ujar Koordinator Nasional Forum Indonesia Sehat Wahyu Andre Margono kepada okezone di Jakarta, Kamis (22/10/2009).

Keputusan SBY memilih Endang memang sempat mengejutkan publik Indonesia. Sebelumnya posisi Menkes santer dikabarkan bakal diisi Nila Juwita Moeloek. Nila pun sudah mengikuti audisi dan tes kesehatan. Namun pada saat-saat akhir sebelum pengumuman, SBY malah berpaling ke Endang.

Kontroversi pemilihan Endang semakin mencuat, lantaran alumnus Harvard University itu berstatus sebagai PNS eselon II. Endang juga dikabarkan dekat dengan pemerintah AS. Dia sempat menjadi orang kepercayaan dalam program The US Naval Medical Research Center 2 (Namru) yang sempat menggegerkan publik Indonesia.

Menkes Baru Akui Dekat dengan Namru

Jum'at, 23 Oktober 2009 - 00:28 wib


JAKARTA - Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui dirinya sebagai orang dekat dengan Namru II (The US Naval Medical Reseach Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut AS.

"Saya dekat dengan Namru. Tidak hanya itu, saya juga dekat dengan Belanda, Jepang, dan China," ujarnya saat jumpa pers usai upacara serah terima jabatan dengan Menkes KIB I, Siti Fadhilah Supari, di Auditorium, Lantai 2 Gedung Baru Departemen Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2009).

Kedekatan itu diterangkannya, merupakan kedekatan sebagai sesama peneliti yang bekerjasama. Semua itu berbasis pada profesionalitas.

Kemudian, Endang juga menegaskan akan melanjutkan kerjasama dengan Namru. Kendati project lembaga riset Amerika Serikat itu akan berakhir pada Desember mendatang.

"Kita tidak bisa bekerja sendiri, karena ini era globalisasi," ujarnya.

Kerjasama dengan AS menurutnya sangat penting dilaksanakan guna peningkatan mutu kesehatan masyarakat Indonesia di masa mendatang. Titik beratnya tidak hanya pada pembuatan vaksin penyakit menular, tetapi untuk aspek pengobatan yang lebih luas.

"Kerjasama diperlukan. Tetapi harus fair, transparan, dan seimbang di kedua belah pihak. Tentu harus menguntungkan Indonesia," pungkasnya.

The US Naval Medical Reseach Unit (Namru) merupakan unit kesehatan Angkatan Laut Amerika yang berada di Indonesia. Misinya mengadakan berbagai penelitian mengenai penyakit menular. Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat.(hri)

Ketua Komisi IX: Pelecehan Nama Dokter Tak Bisa Dibayar dengan Uang

Jumat, 23/10/2009 04:30 WIB



Jakarta
- Ketua Komisi Kesehatan DPR Ribka Tjiptaning menilai ada faktor x dibelakang pemilihan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes. Ribka menduga isu kegagalan Nila Juwita Afansa Moeloek melewati tes kesehatan hanya mengada-ada.

"Jangan-jangan memang sengaja dihapuskan untuk mengganti dengan Ibu Endang
karena tekanan yang lain. Isu ini (Nila gagal tes kesehatan) ditiupkan sengaja untuk mengganti Nila dengan Endang," kata Ribka saat dihubungi detikcom melalui telepon, Jumat (23/10/2009).

Ribka heran mengapa Nila dinyatakan tidak lolos tes kesehatan. Sepengetahuannya, Nila orang yang sehat dan energik. Ribka justru bingung mengapa SBY memilih menteri yang belum ditest.

"Masak belum ikut fit proper test dan tes kesehatan kok diambil jadi menteri, SBY melanggar persyaratan yang ditetapkannya sendiri. Saya dengar ada enam orang yang tidak lolos kesehatan kok yang tidak diambil hanya satu," keluh Ribka.

Ribka menganggap tindakan SBY sudah mempermalukan Nila. Jalan satu-satunya adalah memperjelas status Nila dan menerangkan persyaratan apa yang gagal ditempuhnya.

"Ternyata harus ada yang dikorbankan, nggak jadi menteri malah dapatnya malu.
Pelecehan nama dokter itu tidak bisa dibayar dengan uang sekalipun," kritik Ribka.

"SBY sebagai Presiden terpilih harus menjelaskan. Tidak bisa seperti sekarang
ini, kasian Ibu Nila," lanjutnya.

Jika tidak, Ribka menilai masyarakat akan menjadi bingung membaca pilihan SBY. "Aku bilang ini kabinet SBY yang akrobatik. Katanya lebih transparan harus demokratis, harus adil, tapi transparan-adilnya itu bagi siapa? " tandasnya.
(van/lrn)

Penunjukan Endang Mempermalukan Siti Fadilah dan Nila Moeloek

Kamis, 22/10/2009 11:43 WIB
Penunjukan Endang Mempermalukan Siti Fadilah dan Nila Moeloek
Mega Putra Ratya - detikNews

Jakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin sangat menyayangkan pembatalan penunjukan Nila Juwita Moeloek sebagai Menteri Kesehatan. Pembatalan itu mempermalukan Siti Fadilah Supari dan Nila.

"Terus terang kita cukup surprise. Saya tahu sekali Profesor Nila Moeloek itu adalah sehat. Justru yang diangkat adalah dia yang dikenal dekat dengan negara asing dan lembaga penelitian asing yang merugikan rakyat Indonesia. Saya prihatin sekali," ujar Din Syamsudin sebelum acara seminar politik "Harapan dan Tantangan Kabinet SBY 2009-2014" di auditorium utama UIN Syarif Hidayatulah, Ciputat, Tangerang, Kamis (22/10/2009).

Menurut dia, penunjukan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes telah mempermalukan dua orang sekaligus, yakni Siti Fadilah Supari sebagai menkes lama yang membantu dan sukses dan Nila Juwita Moeloek sebagai calon menkes yang telah diaudisi dan ikut tes kesehatan tapi tidak jadi dipilih. Dia menganggap cara SBY memilih kandidat menteri-menterinya cukup dramatis.

"Kita menikmati drama audisi yang dramatis dan untuk pertama kalinya ada uji kejiwaan atau psikotes. Ini baik-baik saja, tapi jangan menimbulkan kesan performa artifisial semu. Sah-sah saja, tapi ketika mengetahui menteri yang diangkat dekat dengan AS dan lembaga asing, saya kaget," kata Din.

"Itu sangat tidak elok. Saya menyayangkan cara Presiden SBY. Masih ada cara lain yang lebih elegan," tutur dia.

Di samping itu, Din Syamsudin juga meragukan Presiden SBY ke depan mampu merealisasaikan janji-janjinya seperti yang disebutkan saat pelantikan kemarin. Misalnya mengenai kekompakan dan kebersamaan.

"Saya ragu karena saya lihat selama ini, SBY masalahnya ada pada komunikasi politik. Pernyataan itu lebih bersifat supervisial," ucap Din yang saat pilpres mendukung JK ini.

Namun Din menilai pemerintahan harus diberi kans untuk bekerja lebih dulu. "Terlalu pagi kita menilai, jangan timbulkan pesismisme," pungkasnya.
(nvc/nrl)

Siti Harap Menkes Baru Pertahankan Policy Virus Indonesia di WHO

Rabu, 21/10/2009 23:51 WIB
Siti Harap Menkes Baru Pertahankan Policy Virus Indonesia di WHO
Nograhany Widhi K - detikNews

Siti Fadillah Supari
Jakarta - Indonesia dan WHO telah menjalin kesepakatan tentang pengiriman virus dengan cara baru, yang memberikan akses vaksin terhadap negara pengirim virus. Siti Fadillah Supari berharap Menteri Kesehatan yang baru, Endang Sedyaningsih, tidak mengubah kesepakatan itu.

"Saya khawatir kalau policy tentang virus yang ditandatangani WHO. Jangan sampai diubah!" kata Siti di rumah dinasnya, Jl Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2009).

Dikatakan Siti, persoalan virus sangat penting karena menyangkut ketahanan nasional. Dia berharap penggantinya mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi.

"Saya kira dia yang bisa mengerti. Saya harap dia punya jiwa nasionalis sehingga bisa meneruskan apa-apa yang bisa dicapai di WHO," kata perempuan asal Solo, Jawa Tengah itu.

Jika ternyata tidak? "Saya akan berteriak. Saya harap semua ikut mengawal," pungkasnya.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, semasa dia menjabat menkes, Siti mengakhiri pengiriman virus flu burung ke laboratorium WHO. Dia menengarai penjualan vaksin flu itu cuma menguntungkan Amerika Serikat (AS), negara-negara maju, dan akan dikembangkan menjadi senjata biologi.

Kesepakatan baru dengan WHO dicapai pada 28 Maret 2007 bahwa Indonesia akan mulai mengirimkan virus dengan cara baru untuk memberikan akses vaksin terhadap negara berkembang.

Setahun kemudian, Siti merilis buku berjudul "Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung". Buku berisi mengenai konspirasi AS dan WHO dalam mengembangkan "senjata biologis" dengan menggunakan virus flu burung.

Buku itu oleh banyak kalangan dianggap membongkar konspirasi WHO dan AS. Selama lebih dari 50 tahun WHO mewajibkan virus sharing, namun ternyata banyak merugikan negara-negara miskin dan berkembang pengirim sampel virus tersebut. (irw/sho

Nila Moeloek Batal Jadi Menkes, Harus Ada Penjelasan dari Istana

Kamis, 22/10/2009 13:08 WIB
Nila Moeloek Batal Jadi Menkes, Harus Ada Penjelasan dari Istana
Novi Christiastuti Adiputri - detikNews

Jakarta - Pembatalan penunjukan Nila Juwita Moeloek sebagai Menteri Kesehatan menuai komentar banyak pihak. Sebagai satu-satunya kandidat menteri yang gagal dipilih, sangat disayangkan tidak adanya penjelasan dari pihak istana.

"Paling tidak ada penjelasan dari jubir Istana, atau Sekretariat Negaralah. Kalau Presiden tidaklah, terlalu tinggi," ujar pengamat politik LIPI Lili Romli dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (22/10/2009).

Lili mengakui dirinya kaget saat mengetahui nama Menkes yang baru bukanlah Nila. Menurutnya, Nila merupakan orang yang sangat mengerti dunia kesehatan. "Saya setuju kalau Nila yang ditunjuk. Kan dulu dia mem-back up suaminya (mantan Menkes Farid Anfasa Moeloek) saat menjabat Menteri Kesehatan," ucap dia.

Menurut Lili, seharusnya ada penjelasan dari pihak Istana. Perlu dijelaskan kepada publik apa yang membuat Nila tidak lolos. Apakah kesehatan atau pengetahuan? Kalau kedua masalah itu tidak apa-apa, tapi kalau sampai ada pertimbangan politis, Lili sangat menyayangkannya.

"Kalau tidak ada pemberitahuan seperti ini kan dampak psikologisnya yang dikhawatirkan. Paling tidak yang bersangkutan diberi tahu," tuturnya.

Dikatakan dia, proses rekrutmen para menteri yang sengaja dibuat sangat terbuka dan transparan oleh SBY, mengharuskan adanya penjelasan bila ada kandidat yang tidak lolos. Kalau memang tidak ada penjelasan, mungkin untuk ke depan tidak perlu ada rekrutmen terbuka seperti ini.

"Memang ada hak prerogatif presiden, tapi proses rekrutmennya kan terbuka sekali, kalau ada yang tidak lolos pun juga harus terbuka dong. Ada penjelasan, jadi publik tahu apa tolok ukur yang lolos dan apa yang tidak," tegasnya.

Ketua Komisi IX DPR: Amerika Bisa Jadi di Balik Pemilihan Endang

Kamis, 22/10/2009 11:44 WIB
Ketua Komisi IX DPR: Amerika Bisa Jadi di Balik Pemilihan Endang
Reza Yunanto - detikNews

Endang R (Runggapres)
 
Jakarta - Penunjukan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes mengejutkan semua pihak termasuk juga Ketua Komisi IX (Komisi Kesehatan) DPR Ribka Tjiptaning. Ribka mencium dipilihnya Endang tidak lepas dari pengaruh Amerika Serikat.

"Dari mulai pemilihan presiden saja AS sudah bermain. Dengan mendadaknya pemilihan menkes ini bisa jadi itu," ujar Ribka dalam jumpa pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (22/10/2009).

Ribka heran atas penunjukan Endang karena nama yang berkembang sebelumnya Siti Fadilah Supari akan diganti Nila Juwita FA Moeloek. Namun Nila ternyata gagal masuk dalam kabinet.

"Yang mengherankan katanya ada 5-6 calon yang bermasalah. Tetapi kenapa hanya Ibu Nila saja yang diganti, tetapi yang lain tidak?" kata politisi PDIP ini.

Nila ikut dalam tes di Cikeas dan RSPAD Gatot Subroto pada akhir pekan lalu. Namun pada Rabu (21/10) pagi sebelum pemilihan nama menteri diumumkan, Endang Sedyaningsih dipanggil SBY ke Cikeas dan mengikuti rentetan tes kesehatan oleh dokter-dokter RSPAD Gatot Subroto. Malamnya, Endang yang merupakan pejabat eselon II Depkes, diumumkan Presiden SBY sebagai Menkes.