Showing posts with label jayabaya. Show all posts
Showing posts with label jayabaya. Show all posts

Jayaba - Wikipedia

Ratu Joyoboyo, also Sri Mapanji Jayabaya or Jayabhaya, reigned over the Indianized kingdom of Kediri in East Java from AD1135 to 1157. He reunified the kingdom after a split that occurred with the death of his predecessor Airlangga. He is also remembered for his just and prosperous rule, and reputed to have been an incarnation of the Hindu deity Vishnu. He is the archetypal Ratu Adil the just king who is reborn during the dark age of reversal "Jaman Edan" at the end of each cosmic cycle to restore social justice, order, and harmony in the world.

The manggala ("prologue") of the famous Kakawin Bhāratayuddha names Joyoboyo as the patron of the two poets, Mpu Sedah and Mpu Panuluh who wrote this work. Joyoboyo is also described as author of the Pralembang Joyoboyo, a prophetic book that played an important role in the Japanese occupation.

When Japan occupied the Netherlands East Indies, in the first weeks of 1942, Indonesians danced in the streets, welcoming the Japanese army as the fulfillment of the prophecy ascribed to Joyoboyo, who foretold the day when white men would one day establish their rule on Java and tyrannize the people for many years – but they would be driven out by the arrival of yellow men from the north. These yellow men, Joyoboyo had predicted, would remain for one crop cycle, and after that Java would be freed from foreign domination. To most of the Javanese, Japan was a liberator: the prophecy had been fulfilled.

The Japanese freed Indonesian nationalists from Dutch prisons and hired them as civil servants and administrators. In the waning days of 1944, however, it was clear that Japan could not win the war. The Japanese officially granted Indonesia its independence on 9 August 1945, and the commander of Japan's Southeast Asian forces appointed future President Sukarno as chairman of the preparatory committee for Indonesian independence. As one account of Indonesian history puts it, "With the minor exception that three crops had been harvested, Jayabaya's prophecy had been realized."

Many believe that the time for the arrival of a new Ratu Adil is near (as the prophecies put it, "when iron wagons could drive without horses and ships could sail through the sky"), and that he will come to rescue and reunite Indonesia after an acute crisis, ushering in the dawn of a new golden age.

Telaah Jangka Jayabaya : Perpustakaan Nasional RI

Perpustakaan Nasional RI Menggelar Telaah Jangka Jayabaya



JAKARTA – Perpustakaan Nasional RI menggelar sarasehan Bedah Jangka Jayabaya dan pagelaran wayang kulit, Rabu (18/7) bertempat di Ruang Auditorium Perpusnas, Jl. Salemba Raya 28A Jakarta. Dalam sarasehan yang mengambil tema “Dengan Telaah Jangka Jayabaya, Kita Tumbuhkembangkan Budaya Kritis Bangsa untuk Menuju Masyarakat Jujur dan Cemerlang” ini, tampil sebagai pembicara adalah Hidayat Yoedoprawiro dan Prof. Dr. H. Soetarno, DEA dengan moderator Sudarko Prawiro Yudo. Sedangkan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Sumbowo dengan cerita Jitaprasa dan Dewa Ruci yang dimainkan dalam dua sesi.

Dari jutaan koleksi Perpusnas terdapat bahan pustaka yang bersubyek tentang “Ramalan Jayabaya” dan untuk sebagian orang, ramalan tersebut dijadikan rujukan tentang kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang. “Dengan menelaah ramalan Jayabaya, kita berusaha mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada didalamnya, mempertebal jatidiri bangsa dan memanfaatkan petuah serta petunjuk yang ada didalamnya, sehingga kita menjadi bangsa yang besar dan berwibawa,” demikan diungkapkan Lilik Soelistyowati, Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka, selaku ketua penyelenggara kegiatan ini.

Kepala Perpusnas, Dady P. Rachmananta dalam sambutannya mengatakan dengan kegiatan telaah Jangka Jayabaya ini bisa membawa manfaat terhadap perbaikan kondisi bangsa. “Dengan ramalan-ramalan Jayabaya, kita bisa telaah maknanya sehingga bisa membangkitkan dan meningkatkan rasa cinta akan hasil budaya bangsa,” katanya.

Dalam sesi sarasehan, Hidayat Yudoprawiro membawakan makalah bertema “Makna Metafisika Ramalan Pralambang Jayabaya”. Dalam pemaparannya, dikatakan bahwa ramalan Jayabaya adalah pemandu gaib keselamatan dan persatuan bangsa. Ramalan Jayabaya Ranggawarsito menunjukkan datangnya kemerdekaan Indonesia tahun 1945M. Ramalan Jayabaya Sabdo Palon menunjukkan datangnya kesadaran keuniversalan semua agama yang tercakup dalam filsafat abadi Ketuhanan Yang Maha Esa yang dimulai pada tahun 2000M.

Prof. Dr. H. Soetarno, DEA , dalam pemaparannya menjelaskan bahwa ramalan Jayabaya mengandung unsur filosofis yang sangat dalam tentang masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya. Unsur filosofis tersebut perlu diterjemahkan dalam kehidupan, agar dipahami oleh generasi muda. Menurut Rektor ISI Solo ini, berdasarkan pengalaman empris, banyak Ramalan Jayabaya terjadi pada zaman sekarang ini. “Oleh sebab itu generasi harus memahami apa yang tersurat dan tersirat dari ramalan Jayabaya. Banyak nilai-nilai kebaikan yang terkandung didalamnya, seperti kemanusiaan, religius, kejujuran dan keadilan,” tambahnya.

Acara telaah Jangka Jayabaya ini berlangsung cukup meriah dan diapresiasi dengan baik oleh para peserta. Acara menjadi lebih hidup, karena diselingi dengan pagelaran wayang dan gending-gending pada masing-masing sesi. Banyak bermunculan pertanyaan dan ide-ide dari peserta terkait dengan ramalan Jayabaya terhadap upaya perbaikan kondisi bangsa.

Dengan kegiatan ini, diharapkan dapat membangkitkan rasa cinta akan hasil budaya bangsa, mampu menumbuhkan sikap kritis bagi upaya mencerdaskan bangsa serta bisa mengkomunikasikan isi ramalan Jayabaya untuk menjadi pedoman pada masa sekarang dan yang akan datang. Semoga!


Berita terkait: Kompas, Kamis, 19 Juli 2007, hlm. 12.