Showing posts with label amoral. Show all posts
Showing posts with label amoral. Show all posts

Duhh! Pengurus PDP Digerebek di Hotel

 clipped from inilah.com
Politik

26/12/2008 - 01:03

Duhh! Pengurus PDP Digerebek di Hotel

Kediri - DK (50), pengurus Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Jatim, tertangkap basah saat berduaan dengan seorang wanita dalam satu kamar, di Hotel Surya Pare, Kabupten Kediri, Kamis (25/12) siang.

Mantan Ketua Fraksi partai besar di DPRD Lamongan tersebut, diketahui tengah bersama dengan LS (30),yang tak lain adalah sekretaris partai yang sama dengan DK di tingkat Kecamatan Kasembon.

Ironisnya, Anggota dewan yang masih dalm proses PAW itu dipergoki oleh Zaenuri (33), warga Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Blitar yang tak lain adalah suami LS. Akibat perbuatannya, kini mereka harus berurusan dengan pihak yang berwajib.

Penangkapan keduanya dilakukan sendiri oleh Zaeuri. Bahkan, pria yang masih mengenakan celana pendek dengan kaus gambar pasangan Cagub Jatm itu sempat adu mulut dengan satpam setempat, sebelum akhirnya berhasil masuk kamar.

Saat itu, Zainuri yang juga masih mengenakan sandal jepit tak peduli. Ia langsung menerobos masuk ke kamar, lalu menggelandang LS, istrinya yang tengah berada di dalam kamar bersama DK.

Spontan, suasana hotel yang ramai karena dalam suasana Natal semakin heboh. DK berusaha menejelaskan bahwa ia bersama LS tidak ada apa-apa. Namun, Zaenuri yang dikuasahi emosi, tidak menggubris.

Meski sempat terjadi ketegangan, namun tidak sampai terjadi adu fisik. Suasana kembali tenang setelah polisi datang. Mereka bertiga langsung diamankan di Polsekta Pare.

"Pria mana yang sudi membirkan istrinya dibawa orang. Saya kenal baik dengan Pak DK karena dia adalah atasan istri saya di partai," ujar Zainuri saat ditemui wartawan di Polsekta Pare. [beritajatim.com/nng]


BERITA TERKAIT






Sent with Clipmarks

63% Remaja Indonesia Pernah Nge-seks

 clipped from inilah.com
19/12/2008 - 18:03

63% Remaja Indonesia Pernah Nge-seks

INILAH.COM, Serang - Sungguh mengejutkan apa yang diumumkan BKKBN. Berdasarkan survei, 63% remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah berhubungan seks. 21% Di antaranya melakukan aborsi.

Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M Masri Muadz, data itu merupakan hasil survai oleh sebuah lembaga survai yang mengambil sampel di 33 provinsi di Indonesia pada 2008. Angka ini naik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasar data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Ujungpandang, ditemukan sekitar 47% hingga 54% remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah.

"Perilaku seks bebas remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangat penting mengantisipasi perilaku remaja tersebut," katan Masri saat Peluncuran layanan pesan singkat elektronik (SMS) Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Serang, Banten, Jumat (19/12).

Ada beberapa faktor yang menurut Masri telah mendorong mereka melakukan hubungan seks pra nikah. Di antaranya pengaruh liberalisme dan pergaulan bebas, kemudian lingkungan dan keluarga, serta pengaruh perkembangan media massa.

Dengan prilaku buruk itu, para remaja sekarang rentan terhadap risiko gangguan kesehatan seperti penyakit HIV/AIDS, penggunaan narkoba, serta penyakit lainnya. Data Departemen Kesehatan hingga September 2008 menyebutkan, dari 15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia 54 persennya adalah remaja.

Oleh karena itu, BKKBN memandang penting keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK KRR) yang diharapkan mampu menjawab permasalahan kesehatan reproduksi remaja. PIK KRR juga dapat menjadi sarana remaja berkonsultasi mengembangkan kemauan dan kemampuan positifnya.

Menurut Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, berdasarkan laporan BKKBN Provinsi Banten, di daerah yang dipimpinnya itu sudah ada 25 titik layanan PIK KRR.

"Setiap remaja di Banten yang ingin berkonsultasi, bisa melalui SMS ke pusat konseling yang ada di 125 titik ke nomor yang telah disediakan," ujarnya. [*/ana]

Sent with Clipmarks

Free Sex ‘Putih Abu-abu’ Meluas?

 clipped from inilah.com
Citizen Journalism

25/12/2008 - 12:50

Free Sex 'Putih Abu-abu' Meluas?



Seks di luar nikah (free sex) tidak dibenarkan dalam norma kehidupan, baik agama maupun norma sosial. Tetapi pada kenyataannya kasus hubungan seks pra nikah makin meluas di kalangan remaja.

Bahkan dari sekian banyak kasus yang ada, free sex kebanyakan dilakukan oleh kalangan remaja, mungkin juga sudah membudaya di kalangan putih abu-abu. Hal ini merupakan bukti nyata dampak dari tingginya keinginan seks di kalangan remaja.

Dalam upaya memerangi sek bebas dikalangan putih abu-abu mahasiswi DIII Komputerisasi Perkantoran dan Kesekretariatan (KPK) Stikomp Surabaya menggelar kegiatan studi seminar dengan tema Aborsi dikalangan Putih Abu-abu untuk kalangan SMU. Tepatnya di ruang Auditorium kampus Stikomp Surabaya, Jumat (19/12) digelar.

Sebanyak 120 siswa SMU se Surabaya terlihat antusias mengikuti seminar itu. Para siswa tersebut masih mengenakan seragam putih abu-abunya. Mereka berasal dari SMU Mahardika, SMU 17 Agustus, SMU Dr Soetomo, SMK Mahardika, SMK PGRI 13, dan SMKN 1 Surabaya.

Menurut Adelia Dwinta Yuniar C, Ketua Pelaksana kegiatan ini, setidaknya dalam acara ini pihaknya bisa berbagi informasi dan sharing dengan siswi-siswi SMU tentang pengetahuan seks dan bahaya aborsi.

"Dengan harapan dapat menambah wawasan pendidikan seks dikalangan pelajar. Agar mereka juga tidak salah dan tetap berada di jalur yang benar yakni sebagai seorang pelajar yang belajar bukan main-main," katanya.

Adel panggilan akrabnya, mengatakan kegiatan ini sebenarnya merupakan bagian dari tugas kuliah pada mata kuliah konferensi dan rapat serta teknik presentasi dan pengolahan acara. "Secara tidak langsung kegiatan ini sebagai media untuk mengembangkan potensi dan keahlian mahasiswa dalam meningkatkan advantage," paparnya.

Untuk itu pemateri dalam seminar tersebut dilakukan oleh mahasiswa yakni terdapat dua orang mahasiswa Eliza Nugraheni dan Nanda Kreativianti mahasiswi DIII-KPK Stikomp Surabaya angkatan 2006.

Materi tersebut dibawakan secara bergantian. Eliza mengatakan pelaku aborsi di kalangan remaja kebanyakan dilakukan di usia 18 hingga 19 tahun sekitar 14 persen. Sedangkan bentuk aborsi itu dikatakan Elisa terdapat tiga macam yakni aborsi alamiah yang terjadi karena keguguran, kedua aborsi buatan atau sengaja yang dilakukan sebelum usia kandungan 28 minggu, sedangkan ketiga adalah aborsi terapeutik atau medis yang dilakukan di dalam kandungan melalui bantuan dokter.

Dalam penyajian materi juga diberikan gambar-gambar yang sesekali membuat para peserta ngeri. Elisa juga mengatakan alasan para remaja melakukan aborsi di antaranya karena kebanyakan mereka belum siap menjadi ibu dan merawat anak, lalu terdapat tekanan dari pihak luar seperti pacar, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Sementara Ananda melanjutkan materi itu tentang resiko dari aborsi seperti risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang terdiri dari kematian, rahim yang sobek, kerusakan leher rahim, kanker payudara, dan kanker indung telur, sedangkan resiko gangguan psikologis terdiri dari kehilangan harga diri, berteriak histeris, mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi.

"Bahkan si pelaku bisa melakukan bunuh diri, mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang, tidak bisa menikmati hubungan seksual, dan dipenuhi perasaan bersalah," katanya.

Mirna salah satu peserta dari SMU Mahardika mengatakan kalau acara seperti ini wajib diikuti karena selain menarik juga bisa menambah wawasan dalam pergaulan. "Melihat gambar-gambar tentang aborsi itu ngeri jangan sampai terjadi dech dan tidak pengen," ungkapnya.

Beberapa peserta yang hadir juga terdapat sebagian peserta laki-laki. Seperti Anto dari SMU 17 Agustus mengatakan kegiatan ini sangat menarik karena selain menambah wawasan sebagai kaum adam pihaknya mesti harus berhati-hati dalam pergaulan.

"Kita sebagai pihak yang bertanggung jawab. Jadi kalau misalnya belum siap berkeluarga mending ndak usah neko-neko deh," ucapnya di sela-sela akhir seminar.

Dian Laila, laila@stikom.edu(Surabaya)

Sent with Clipmarks