Mengapa Bung Karno Berani ‘Ganyang Malaysia’?

Ahluwalia
INILAH.COM, Jakarta - Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengesankan posisi lemah Indonesia menghadapi Malaysia memunculkan kekecewaan banyak kalangan. Hal itu berbeda dengan Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi dan proklamator Republik Indonesia. Mengapa keduanya berbeda?
Di era SBY, kata pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi, kekuatan militer yang dimiliki Indonesia masih lemah. Ini berbeda dengan China dan Korea Utara sehingga mereka berani berlatih perang di Selat Malaka.
“Contoh kekuatan militer yang tangguh adalah seperti yang ditunjukkan China dan Korea Utara sehingga berani melakukan latihan di Selat Malaka,” paparnya. Lalu bagaimana Indonesia? “Dibawah SBY, masih lemah,” katanya.
Ini berbeda ketika Presiden Soekarno dengan jantan menyerukan ‘Ganyang Malaysia’, kekuatan militer Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Setidaknya di Asia Tenggara, saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia.
Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$2,5 miliar. Saat itu, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di belahan bumi selatan.
Kekuatan utama Indonesia saat Trikora itu adalah salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak 1.270 orang termasuk 60 perwira.
Soviet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. Bandingkan dengan kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1.600 ton. Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal dengan ‘Ganyang Malaysia’ pun berkobar !
Konfrontasi era Bung Karno itu adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada era 1962-1966.
Indonesia perkasa di laut dan di udara. Selain kekuatan laut, RI punya pesawat MiG-21 Fishbed yang merupakan salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger.
Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Sehingga Indonesia menjadi salah-satu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.
Lalu, bagaimana akhirnya? Karena Bung Karno dijatuhkan oleh Orde Baru dan Amerika Serikat di 1966, maka konfrontasi itu dibatalkan. Sejak itu pula hubungan RI-Soviet diputus, dan angkatan bersenjata RI merosot drastis karena dalam rentang kendali AS.
RI masuk orbit AS (Blok Barat) dan menjadi jinak secara militer. Inilah awal kekalahan menghadapi gertakan Malaysia! [mdr]

No comments:

Archives