Jangan Takut pada Singapura! - Misteri Kematian David Hartanto



INILAH.COM, Jakarta – Sudah hampir seminggu mahasiswa Indonesia, David Hartanto Widjaja, meninggal secara tidak wajar di Singapura. Hingga kini, belum ada jawaban pasti: David bunuh diri, dibunuh, atau terjatuh tanpa sengaja?

Kesan yang muncul adalah tak terlihat sama sekali kepedulian yang tinggi dari pemerintah dan aparat untuk mengungkap misteri apa yang jadi penyebab kematiannya. Semuanya masih berbungkus misteri. Sekilah, pemerintah dan aparat sudah cukup puas dengan keterangan otoritas Singapura. Karena itu, kasus kematian David tak perlu dibawa melebar kemana-mana.

Padahal, pemerintah dan aparatur yang punya tanggung jawab seharusnya tidak boleh mempercayai begitu saja keterangan pihak Singapura. Sejujur-jujurnya Singapura, tetap saja perlu ada curiga kepada hal-hal yang dilingkupi misteri.

Indonesia sepertinya bersikap 'nrimo' . Rikuh mengatakan 'kami masih mau perlu second opinion'. Walaupun hampir semua media yang melaporkan kematian David Hartanto cukup lugas menyatakan banyak misteri yang belum terkuak, aparat tidak meresponsnya secara setimpal.

Adanya sikap 'nrimo' seperti itu justru mengundang sejumlah pertanyaan. Ada apa dengan pemerintah kita? Ada apa dalam tubuh Poliri? Apakah sikap 'nrimo' ini disebabkan oleh kekurang pekaan? Apakah Polri menganggap kematian seperti itu wajar? Mungkinkah aparat kita minder dan takut kepada Singapura?

Sejatinya, tanpa memandang asal-usul almarhum dan orang tuanya, aparat harus bergerak (cepat). Indonesia harus memperlihatkan kepada Singapura bahwa setiap warga negara Indonesia dipedulikan oleh pemerintahnya. Polri harus terbang ke Singapura untuk melakukan investigasi, mencari tahu faktor apa yang menjadi penyebab kematian warga negara Indonesia itu.

Dari segi latar belakang dan asal-usul keluarga, David memang bukan berasal dari lingkungan keluarga petinggi. Tapi yang membuat David bisa dikategorikan sebagai manusia penting bagi Indonesia, adalah karena rekam jejaknya.

Dalam usia yang masih sangat muda, rekam jejaknya sudah membuat dunia internasional mengakui kekuatan SDM Indonesia. David sudah mengharumkan nama Indonesia di forum internasional. Atas nama Indonesia dia beberapa kali menjadi juara Olimpiade Matematika.

Artinya, hal ini boleh saja ditegaskan kepada Singapura. Bahwa Indonesia punya alasan kuat mencari tahu apa yang terjadi kepada salah satu pemuda cerdas Indonesia. Indonesia prihatin dengan kejadian tersebut. Bila perlu meminta Singapura membuat pertanggungjawaban yang semestinya.

Lagi pula, keberadaan David di Universitas Nanyang Singapura itu bukan hanya karena kehebatannya di Olimpiade Matematika. Ia seorang pemegang beasiswa. Untuk mendapatkan beasisiwa tersebut, David harus memiliki kualifikasi tertentu. Selain itu ia harus lulus tes. Sehingga sisi ini semakin menunjukkan betapa besar kerugian Indonesia dari sudut potensi SDM.

Tak menjadi soal, apakah beasiswa itu diberikan oleh pemerintah Indonesia atau justru Singapura. Namun tetap saja David Hartanto adalah WNI yang memiliki kepintaran khusus. Artinya David termasuk dalam kategori anak jenius.

Latar belakang di atas, bisa dijadikan entry point oleh Polri untuk melakukan investigasi di Singapura.

Setelah proses ini ditempuh, perlu dilihat, apa reaksi Singapura. Kooperatifkah, mempersulit, atau bagaimana? Dari reaksi tersebut sudah bisa mulai menemukan apa jawaban atas teka-teki kematian almarhum.

Di tengah sulitnya mencari SDM yang berkualitas seperti almarhum David Hartanto, pemerintah dan Polri jangan hanya sibuk mengurusi persoalan-persoalan yang lingkupnya sempit.

Sibuk mengurus masalah Pemilu 2009 adalah wajar. Sibuk mengungkap kasus-kasus kriminal yang tidak memerlukan biaya besar, boleh-boleh saja. Asalkan Polri jangan terjebak dan lebih tertarik mengejar pembongkaran kasus yang dapat menaikkan pamor dan citra Polri secara instan. [I4]

KOMENTAR:Bagaimana kepedulian Dubes RI di Singapura melindungi warganya?

No comments:

Archives