Gempa Anak Krakatau Masih Aman

nasional.inilah.com

Headline

INILAH.COM, Cinangka - Meskipun tiga hari berturut-turut kegempaan Gunung Anak Krakatau meningkat, Pusat Vulkanlogi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan kondisi tersebut masih aman.

"Levelnya masih II atau waspada," kata Kepala PVMBG, Bandung, Surono dihubungi melalui telepon, Senin(08/11/2010).

Dia menjelaskan, kegempaan yang terjadi di Anak Krakatu tidak membahayakan masyarakat Banten maupun Lampung.

"Saya rasa Anak Krakatau tidak masalah, asalkan dengan jarak aman, radius dua kilometer, dan jangan naik ke gunungnya," katanya.

Data yang diterima, selama tiga berturut-bertut, jumlah kegempaan terus meningkat, terhitung sejak tanggal 5 sampai 7 November.

Untuk kegempaan pada Jumat (5/11) sebanyak 615 kali, kemudian Sabtu (6/11) meningkat menjadi 623 kali, dan Pada Minggu (7/11) menjadi 668 kali.

Pada Jumat (5/11/2010), secara rinci jumlah vulkanik dalam, (VA) 57 kali, vulkanik dangkal (VB) 249 kali, hembusan 108, letusan 69, dan tremor 132 kali, Sabtu VA 41 kali, VB 235 kali, hembusan 184, letusan 63, dan tremor 100 kali. Sedangkan Hari Minggu dari 668 kegempaan, rinciannya VA 50 kali, VB 226 kali, letusan 78, tremor 100 kali dan hembusan 214 kali.

Akibat Anak Krakatau mengeluarkan letusan, lubang kawah gunung tersebut di Selat Sunda saat ini sudah mencapai diameter 25-26 meter. Kemungkinan kawah itu akan berubah, seiring seringnya letusan yang dikeluarkan.

"Mungkin sekarang sudah berubah bentuk lagi kawahnya, karena sudah hampir dua pekan Anak Krakatau sering mengelurakan letusan," kata Kepala Pos Pemantau Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka , Kabupaten Serang, Anton S. Pambudi, Senin (8/11).

Untuk bisa melihat perubahan fisik, yang harus dilakukan petugas pos pemantau yaitu mendekati gunung dan melakukan pemantauan di Pulau Rakata yang jaraknya sekitar 5 kilometer.

"Di Pulau Rakata, kita dapat langsung melihat ke kawah baru yang saat ini masih mengeluarkan letusan. Kami juga belum mengetahui berapa banyak material vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung, serta perubahan bentuknya," katanya. (ant/ndr)

No comments:

Archives