Unggah-ungguh Politik dalam Pemilu


Apr 22, '09 11:35 AM
for everyone


Unggah-ungguh Politik dalam Pemilu
Fachri Ali

Lelah bermain pingpong hingga dini hari, saya putuskan memperoleh pijat refleksi Ahad sorenya. Tetapi hasrat menikmatinya sambil tertidur tak terwujud. Dua orang yang juga mendapatkan pelayanan sama di samping saya berceloteh dengan suara tinggi tentang pemilu legislatif yang baru saja berlangsung. Walau tak saya ikuti diagnosis mereka tentang peristiwa itu, karena terlebih dahulu selesai dipijat, saya menafsirkan celoteh tersebut sebagai bagian refleksi dari sebuah aksi rakyat.

Aksi apa? Tentu aksi yang menentukan nasib sebuah pemerintahan. Jika di zaman baheula aksi menentukan didikte raja (the king has spoken atau raja telah menetapkan), dalam konteks modern dan demokrasi Indonesia dewasa ini, wewenang tunggal itu telah ditanggalkan. Yang terjadi adalah the people have spoken (rakyat telah menentukan).

Dengan bersandar pada hasil pengumuman quick count berbagai lembaga survei di Tanah Air, kita melihat bukan saja Partai Demokrat yang mendominasi perolehan suara, melainkan juga ''terjungkal''-nya partai-partai lama yang pernah besar: PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Maka, mau tidak mau, terutama dengan mengacu pada hasil quick count itu, perubahan peta politik Indonesia pasca-pemilu legislatif 2009 ini adalah refleksi nyata the people have spoken tersebut.

Tetapi, apa yang menyebabkan ''kegandrungan yang mengejutkan'' dari rakyat terhadap Partai Demokrat? Analisis tentang ini tentu akan panjang. Dan kolom ini tidak dalam posisi menjawabnya dalam ekspektasi tersebut. Hanya saja, jika satu dimensi kita kuak, sedikit jawaban bisa kita peroleh. Apa itu? Saya cenderung menjawabnya: dimensi unggah-ungguh atau tata kesopanan berpolitik.

Sesuai dengan nada bunyinya, istilah unggah-ungguh ini pastilah berasal dari bahasa Jawa. Yakni sebuah konsep tentang tingkah laku yang dianggap layak tergelar pada tingkat publik --ketika seseorang atau sekelompok orang berinteraksi di luar dunia pribadi (private spher). Kata ''publik'' di sini berarti bahwa tata laku Anda (sikap badan, mimik, dan tutur kata) tidak berlangsung secara tertutup, melainkan di ruang terang benderang tatkala Anda, dengan sengaja, mengeksternalisasi diri.

Di dalam ruang semacam ini, Anda tak bisa bersembunyi, diminta atau tidak, dari struktur penilaian pihak lain. Maka, menggunakan konsep Pierre Bourdieu secara sedikit serampangan, ruang tersebut adalah the field: wadah atau wahana untuk mengartikulasikan diri agar terlihat oleh pihak lain.

Pemilu yang merupakan kontestasi politik, dengan demikian, adalahthe field, wadah resmi dan otoritatif yang memperkenankan setiap orang dan golongan merebut bongkah kekuasaan secara absah dengan aturan-aturan yang disepakati bersama. Maka, setiap orang atau golongan yang memasuki the field tersebut pasti memperhitungkan konsekuensi logisnya: tegak ''telanjang'' di hadapan penilaian khalayak, tanpa kecuali.

Dalam konteks inilah unggah-ungguh menjadi esensial. Walau hampir tak ada yang tertulis, internalisasi konsep unggah-ungguh yang berlangsung antar-generasi menstrukturkan bagaimana publik menilai sejatinya motif, cara bertindak, dan bertutur kata para tokoh atau golongan yang bertarung untuk mendapatkan kekuasaan.

Pertanyaan pokok yang menjadi standar penilaian berdasarkan konsep unggah-ungguh itu adalah: apakah sang tokoh atau golongan yang bertarung sesuai kata dengan perbuatan? Apakah sang tokoh atau golongan yang bertarung itu mendemonstrasikan hasrat berkuasa sesuai dengan kemampuan dan kemungkinan? Apakah sang tokoh atau golongan yang bertarung itu bersih dari cacat masa lampau? Apakah seorang tokoh atau golongan yang bertarung itu lebih cenderung mencerca kelemahan lawan politik untuk sekadar memperoleh dukungan rakyat --tanpa sedikit pun melihat potensi kelemahan diri sendiri?

Deretan pertanyaan lebih panjang dengan standar konsep unggah-ungguh ini tentu bisa dilakukan. Yang penting, berbeda dari masa Orde Baru, the field (wahana artikulasi para pemburu kekuasaan secara absah) pada musim-musim pemilu ''reformasi'' ini mengalami esktensifikasi. Salah satu yang paling mencolok adalah iklan media elektronik. Dengan mengumbar dana dalam jumlah fantastis --yang mungkin cukup untuk mencetak ribuan hektare sawah bagi kesejahteraan jutaan keluarga petani-- secara otomatis Anda akan punya akses ke dalam the field tersebut. Tetapi justru karena akses itu, Anda tampil lebih telanjang di hadapan publik.

Maka, bukan salah rakyat, sang penilai akhir, jika Anda tidak atau belum cukup digemari, meskipun the field yang meluas telah berada di bawah kontrol Anda. Sebab, di luar batas-batas itu semua, Anda mungkin masih dianggap menabrak pagar unggah-ungguh politik, yang menjadi standar rakyat untuk menilai kehadiran Anda. Mari kita berkaca diri.

No comments:

Archives